Dedengkot Liberal Pembela Aliran Sesat Syiah dan Ahmadiyah serta kemaksiatan Valentine’s Day meninggal dunia di Rumah Sakit Serdang, Selangor, Malaysia pada Hari Ahad (18/9/2022). Jenazah dedengkot liberal penerus Harun Nasution di IAIN-UIN Jakarta ini direncanakan akan dikuburkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa 20/9 2022.

Pentolan pengusung faham liberalisme agama di perguruan tinggi Islam terutama IAIN-UIN Jakarta ini ternyata adalah dedengkot yang membela aliran sesat Ahmadiyah dan Syiah. Faham yang diusungnya, liberalisme agama itu sendiri termasuk faham yang difatwakan haram oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam fatwa MUI.

Fatwa MUI itu dapat disimak di sini:
Fatwa MUI Tentang Haramnya Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005

Tentang

PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional

MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M :

Posted on 19 September 2021

by Nahimunkar.org .

Adapun mengenai pembelaan Azra terhadap aliran sesat Syiah, silakan simak sorotan
Zulkarnain El Madury seorang da’i yang berkecimpung di Muhammadiyah berikut ini.

***

Antara Sesatnya Metafisika Profesor Kadirun Yahya dan Jahilnya Profesor Azyumardi Azra tentang Syiah

Posted on 20 Juli 2022

by Nahimunkar.org

 

  • Adalah sebuah landasan amoral kalangan intelektual muslim yang berobsesi sebagai nabi nabi Pluralisme, sambil menuangkan wacana pluralis kaum oreintalis yang menohok Islam menurut retorika ilmiah, kendati standarnya di buat buat.
  • Lontaran Azyumardi Azra pada artikelnya tentang Syiah,  standarnya juga masih ulasan ulasan paranormal yang berisi mistis, mereka-reka berdasarkan jangkauan yang lemah menatap “syiah” . Hal itu terkesan pada tulisannya yang menyamakan banyaknya persamaan yang sebenarnya tidak sama, dan sebuah kesamaan yang dipaksakan, dengan teori penyeragaman pluralisme dalam menempatkan kata “kebenaran”.

(Posting ulang)  

Memahami Predikat Profesor

Bicara sisipan “Profesor” pada kalangan ahli, belum tentu ahli dalam bidang bidang tertentu. Terkadang “professor” hanya sebuah kebesaran belaka yang tidak memiliki dukungan moral intelektual memadai. Terkadang pula Mereka baru sebatas bisa berbicara agama hanya dari cuplikan cuplikan majalah atau buku buku tertentu, tidak berdasarkan observasi menyeluruh menurut standar disiplin ilmuwan.

“Ironinya mereka tak pernah menyadari kealpaannya tentang banyak hal, karena tersandung pada ketenaran namanya dan disiplin ilmu di bidangnya. Sedangkan dalam konsep konsep tertentu bersikap serabutan menelaah ilmu.

Pernah seorang Profesor Ir. pertanian. Amin Aziz, yang komisaris Bank Mumalat, penulis buku “Power Of al Fatihah” , membuat bukunya Best Seller, terkenal di Gramedia, karena di kalangan pembacanya  dikenal sebagai orang yang mampu menyingkap rahasia Alfatihah. Namun dari hasil sebuah penelitian mendalam, bukunya itu lebih bersifat aktualisasi ilmu ilmu pertanian belaka, hanya sedikit saja berbicara literatur alfatihan, sehingga tak mampu memberikan definisi ilmu Al-Quran secara benar kepada para pembaca.

Lain Amin Aziz, ada model Kadirun Yahya yang hidup di jaman Bung Karno, konon katanya termasuk salah seorang guru Bung Karno dalam bidang eksakta dan metafisika, dan popularitasnya cukup menonjol di kalangan dukun dan Thoriqah, dikenal pula dengan pahamnya “Islam ayah” karena buku bukunya yang melanggengkan antara kekuatan setan dan kekuatan Tuhan. Pak Profesor Kadirun Yahya ini menggali ilmu ilmu persenyawaan antara Tuhan dan Setan menurut dunia matematik metafisika, hingga di zamannya berdiri Universitas Metafisika, dan salah seorang tokoh Thoriqah Naqsanbandiyah. Pada satu pandangan gilanya disebutkan  [ Setan X Dedemit X Gondoruwo x Malaikat = Tuhan].

Itu diantara model model Profesor yang reaktif pada hasil intimidasi pemikirannya sendiri, memaksa diri dalam hal hal yang diluar jangkauannya sehingga menghasilkan kesimpulan kesimpulan yang diluar nalar manusia normal.

Retorika Profesor Azyumardi Azra

Demikian halnya dengan Azyumardi Azra, ketika menyatakan  Syiah bagian dari Islam, ikhtilaf layaknya para imam imam fiqih , Pandangan Prof .DR. Azyumardi Azra Mengenai Syiah : “antara Syiah dengan ahlu Sunnah, lebih banyak persamaannya ketimbang perbedaannya. Sedikit perbedaan hanya menyangkut hal yang tidak prinsipil. Misalnya, mengenai imamah (kepemimpinan) mau pun dalam hal fiqhiyah, perbedaan dalam hal furu’iyah (ranting), bukan pokok.”

Dapat dipastikan gaya artikel singkat tersebut memberikan jawaban kalau Profesor  Azyumardi Azra tak ada bedanya dengan professor professor yang telah disebutkan sebelumnya, lontaran pendapatnya itu hanya sebuah kendaraan mengungkap suara dirinya dan dalam rangka meningkatkan rating popularitasnya , bukan dari sebuah hasil penelitian mendalam terhadap Syiah.

Dari ucapan tersebut nyata sekali terdapat  pada tulisannya referensi yang minim dengan fakta fakta ilmiah tentang syiah sebagaimana banyak buku buku hasil penelitian para pakar yang melahirkan tulisan tulisan berskala ilmiah, dengan referensi up date dari kalangan Syiah sendiri.

Misalnya “buku Penyimpangan Syiah” oleh Majelis ulama lebih ilmiah dan faktual, menonjolkan pembedahan kitab kitab syiah yang menjadi rujukan mayoritas Syiah. Buku buku itu digunakan MUI, untuk meyakinkan umat dan responden bahwa Syiah memang sebuah keyakinan tersendiri dalam i’tiqadnya, bukan bagian dari Islam.

Landasan landasan yang bersifat prematur diajukan sebagai pijakan artikel Azyumardi Azra adalah sangat bernuansa pembelaan terhadap Syiah, condong menempatkan Syiah dekat dengan Islam [Taqrib]. Padahal stigmasi ulama ulama masa lalu yang berkutat di bidang ushuluddin , yang lebih dekat dengan peradaban Islam, dan lebih dekat ventalasi zaman keemasan, justru beranggapan tak ada di kalangan rofidhoh [Syiah]  itu yang disebut Islam.

Bisa disebut sangat tergesa gesa Azyumardi Azra membuat kesimpulan adanya kesamaan aqidah dan ubudiyah Sunni dan Syiah. Padahal dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh dari munculnya syiah itu sendiri, sejarah menuturkan dengan pasti, bahwa Syiah sejak berdirinya diawali dengan “ghuluw” atau mitos dan kultus pada sifat sifat uluhiyah yang disangkakan  ada pada diri Ali.

Kalau disebut ” umumnya syiah tidak yakin hal itu“, tentu bisa disangkal dengan kata, “pada umumnya Syiah hidup dalam keyakinan seperti itu“. Melindas dan ,menebas kitab kitab yang  isinya adalah komuditas ketuhanan Syiah, seolah adanya sama dengan tidak adanya, justru Azyumardi Azra berada pada kegamangan diri, tidak mau berdiri sebagai subyek yang tidak pluralis, dan tidak bisa menerima kenyataan kalau syiah sebenarnya tersesat. Terlebih bila diasaskan pada pluralism, nilai “B” bisa menjadi “A” , dan yang “baik” bisa menjadi “jelek” dan juga sebaliknya. Sesuai dengan disiplin mistis pluralis yang meletakkan mizan keadilan berpikir secara paradox, artinya “Islam yang benar bisa menjadi salah dan sebaliknya “. Adalah sebuah landasan amoral kalangan intelektual muslim yang berobsesi sebagai nabi nabi Pluralisme, sambil menuangkan wacana pluralis kaum oreintalis yang menohok Islam menurut retorika ilmiah, kendati standarnya di buat buat.

Sedangkan lontaran Azyumardi Azra pada artikel tersebut,  standarnya juga masih ulasan ulasan paranormal yang berisi mistis, mereka reka berdasarkan jangkauan yang lemah menatap “syiah” . Hal itu terkesan pada tulisannya yang menyamakan banyaknya persamaan yang sebenarnya tidak sama, dan sebuah kesamaan yang dipaksakan, dengan teori penyeragaman pluralisme dalam menempatkan kata “kebenaran”.

Published on Thursday, 06 March 2014 11:50

Written by Zulkarnain El Madury

http://koepasorg/

Posted on 6 Maret 2014

by Nahimunkar.org

***

Kalau ada yang berkilah bahwa ada syiah yang tidak sesat

Syiah sudah jelas menodai agama, bahkan telah terbukti secara hukum, pentolan syiah Sampang Tajul Muluk menodai agama hingga divonis hukuman penjara (4 tahun) sampai ke tingkat MA (Mahkamah Agung).

Kalau ada yang berkilah seperti Muhyiddin Junaidi orang MUI bahwa ada syiah yang tidak sesat (di Indonesia ini) maka tentu menimbulkan rekasi Umat Islam, dan pantas dianggap bahwa dia itu membela syiah. Karena ternyata pentolan syiah Jalaluddin Rakhmat dan konco-konconya sampai membela Syiah Sampang lewat media Katolik, Kompas TV Senin malam (16/9 2013). Juga haddad Alwi yang penyanyi dan ditengarai sebagai penyebar nyanyian Ya Thaiba yang ghuluw (melampaui batas) ala syiah itu mengunjungi orang syiah Sampang. Dalam kunjungannya ke pengungsian Syiah di Sampang, 29/9/2012, ia (Haddad Alwi) mengatakan, “Nggak ada orang mau masuk surga tidak diuji, Rasulullah tidak jauh dari kita, dan jangan ragu Rasullulah tidak sayang sama kita. Penderitaan Rasullulah lebih berat ujiannya daripada ujian kita.”

Dari fakta-fakta itu, Syiah di Indonesia adalah yang seperti syiahnya Tajul Muluk yang telah terbukti secara hukum, menodai agama. Kalau tidak, kenapa yang sudah jelas (bahwa syiah itu menodai agama) masih pula dibela?

Syiah Menodai Agama, Mengingkari Otentisitas Al-Qur’an.

Telah terbukti, Tajul Muluk Pentolan Syiah Sampang divonis penjara 4 tahun karena menodai agama Islam (menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi), melanggar pasal 156A KUHP.

Syiah jelas-jelas menodai agama (Islam) itu sudah tidak kurang data dan fakta. Di antaranya.

  1. Fatwa MUI Jawa Timur tentang sesatnya Syiah lihat di siniFatwa MUI Jawa Timurtentang Kesesatan Ajaran Syi’ah
  2. MUI Pusat menilai fatwa MUI Jawa Timur itu sah. Lihat ini MUI Pusat mensahkan dan mendukung Fatwa MUI Jatimtentang kesesatan syiah.
  3. Tajul Muluk pentolan syiah dari Sampang telah divonis 4 tahun penjara karena terbukti  melanggar pasal 156a tentang penodan agama, karena Tajul Muluk menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi. Vonis Pengadilan itu sampai diketok palu oleh tiga jenis pengadilan yakni Pengadilan Negeri Sampang dengan Nomor 69/Pid.B/2012/PN.SPG pada Juli 2012 lalu memvonis Tajul  Muluk hukuman penjara 2 tahun karena menodai agama, melanggar pasal 156a. Lalu Tajul Muluk naik banding ke pengadilan Tinggi Surabaya, divonis 4 tahun penjara karena terbukti menodai agama. Putusan PT Surabaya yang tertuang dalam surat bernomor 481/Pid/2012/PT.Sby pada 21 September 2012 itu memutuskan terdakwa Tajul Muluk alias Ali Murtadha terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perbuatan yang bersifat penodaan agama. Kemudian ia mengajukan kasasi dan putusannya, kasasi ditolak MA, maka tetap Tajul Muluk wajib menjalani hukuman 4 tahun penjara. Keputusan itu tertuang dalam petikan putusan MA dengan Nomor 1787 K/ Pid/2012 yang dikirim oleh MA ke Pengadilan Negeri (PN) Sampang tertanggal 9 Januari 2013. Hal itu diungkapkan oleh Humas PN Sampang Shihabuddin saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madura terkait kasasi Tajul Muluk ke MA, kemarin (16/1 2013). Jadi jelas-jelas syiah telah terbukti sesat bahkan menodai agama (Islam).  Lihat ini https://www.nahimunkar.org/kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-muluk-sampang
  4. Apabila masih ada yang berkilah bahwa itu hanya Tajul Muluk saja, sedang syiah yang lainnya di Indonesia ini tidak begitu, maka coba lihat bagaimana Jalaluddin Rakhmat dengan konco-konconya dari Ijabi bahkan didukung pula oleh penghalal homseks Musdah Mulia membela syiah sampang dengan “menyerang” MUI dalam dialog di tv kompas Senin malam (16/9 2013).
  5.  Dr. Haidar Bagir  seorang syiah yang dikenal dari penerbit Mizan juga melontarkan tuduhan seputar adanya TAHRIF Al Qur’an (perubahan teks  dari aslinya). Itu dia tuangkan dalam tulisan opini di Republika, edisi 27 Januari 2012, Dr. Haidar Bagir menulis artikel berjudul, “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat“. Artikel ini merupakan jawaban atas tanggapan yang diberikan oleh Hamid Fahmi Salim, MA dan Prof. Dr. Muhammad Baharun yang mengkritik tulisan Haidar Bagir di media yang sama, pada edisi-edisi sebelumnya. https://www.nahimunkar.org/haidar-bagir-dan-tuduhan-tahrif-al-quran/

Jadi syiah itu secara bukti hukum telah menodi agama, menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi, hingga pentolan syiah Tajul Muuk divonis Mahkamah Agung 4 tahun penjara. Dan itu bukan hanya syiah Sampang pimpinan Tajul Muluk saja yang menodai agama, tetapi juga lain-lainnya, dengan bukti pembelaan-pembelaan dari syiah IJABI, Jalaluddin Rakhmat, Haidar Baqir, Haddad Alwi dan lainnya itu tadi. Di samping itu, kenyataan adanya berbagai gejolak baik secara nasionl maupun internasional dunia Islam telah menimbulkan banyak korban jiwa bahkan lenyapnya aqidah Islamiyah.

Tentang menyimpangnya syiah secara hukum, berita singkat berikut ini cukup penting untuk disimak:

 

SNH Advocacy Centre: Mahkamah Agung Telah Putuskan Syiah Menyimpang

Posted on Okt 30th, 2015

by nahimunkarcom

Pimpinan Syiah Sampang Tajul Muluk saat menjalani persidangan pasal penodaan agama

DIREKTUR Eksekutif SNH Advocacy Center, Sylviani Abdul Hamid menilai Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Walikota Bogor sudah tepat dan benar sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sylviani mengingatkan kepada para pejabat agar tidak lupa ingatan dan keluar dari konteks hukum di mana Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa ajaran syiah menyimpang dari agama Islam sebagaimana tertuang dalam Putusan Mahkamah Agung No.1787 K/Pid/2012 dengan terpidana Tajul Muluk yang merupakan salah seorang petinggi Syiah.

“Kasus Tajul Muluk jelas terbukti ajaran Syiah menyimpang dari Islam dan merupakan penodaan terhadap Agama Islam sebagaimana disebutkan dalam Pasal 156 huruf a KUHP. Kasusnya tersebut sudah inkracht van gewijsde, artinya sudah berkekuatan hukum tetap,” ujar Sylvi kepada Islampos, Kamis (29/10).

Sylvi mensinyalir adanya desakan dari kelompok internasional yang mendorong oknum Wantipres dan Komnas HAM serta organisasi-organisasi yang mengecam terbitnya Surat Edaran Walikota Bogor.

“Mengapa sigap sekali respon atas Surat Edaran Walikota Bogor tentang pelarangan asyura oleh kalangan istana dan Komnas HAM, jelas masyarakat sudah tahu itu, Syiah inikan skupnya bukan lokal, akan tetapi internasional. Syiah ini gerakan internasional,” sambung Sylvi.

Sylvi mengingatkan bahwa Indonesia adalah Negara hukum, maka segala tindakan harus sesuai dengan hukum.

“Kita harus hormati Putusan Mahkamah Agung sebagai panglima tertinggi. Ketika Mahkamah Agung telah menetapkan dalam putusannya Syiah ini merupakan penyimpangan dan penodaan terhadap agama Islam sebagai agama yang diakui di Indonesia, maka pemerintah harus patuh atas putusan itu,” tutup Sylvi. [rn/Islampos]

Sumber : islampos.com – Kamis 15 Muharram 1437 / 29 October 2015 (nahimunkarcom)

***

Perjuangan Islam seberapapun dicatat sebagai amal kebaikan

Dalam pertemuan di kereta dengan Dr Hamid Fahmi Zarkasyi putra dan penerus Kyai Imam Zarkasyi ini, saya sendiri terilhami oleh cerita dari anak-anak Al-Irsyad tersebut di atas mengenai Ahmad Dahlan dan Syekh Ahmad Surkati. Walau saya bukan apa-apa, tetapi ternyata, keturunan Ulama dan pejuang Islam, ketika mereka berjuang untuk Islam pula, tampaknya diberkahi Allah. Dan itu memang untuk siapapun, kalau berjuang untuk Islam itu tidak disia-siakan, tetap dicatat sebagai pahala kebaikan di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana ditegaskan dalam QS At-Taubah: 120.

مَا كَانَ لِأَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ وَمَنۡ حَوۡلَهُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ وَلَا يَرۡغَبُواْ بِأَنفُسِهِمۡ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَطَ‍ُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٢٠ [سورة التوبة,١٢٠]

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik “[At Tawbah:120]

(nahimunkar.org)