Surabaya – Ratusan suporter fanatik bonek kembali melancarkan aksi yang mengkhawatirkan bagi warga yang tak berdosa. Pada hari Kamis (5/5/2016), malam, mereka pun tampak berjaga-jaga di pntu tol akses jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura itu untuk mencari kendaraan ber Plat N.

Beberapa mobil pun tampak dirusak dan aksi mencekam ini pada akhirnya membuat aparat Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjung Perak untuk datang dan kemudian menjaga sekitar lokasi. Pada saat merusak beberapa mobil yang disweeping itu, nampak seorang pengemudi wanita yang samapi nangis histeris karena mobilnya sudah dirusak oleh bonek dan dirinya pun dibawa oleh aparat untuk ditenangkan kondisinya.

Seperti saat berbicara dengan wartawan, Kapolresta Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Arnapi mengatakan bahwa kami meminta mereka untuk segera menghentikan aksi dan menghalu mereka dari Suramadu. Beberapa aksi dari bonek pun sempat terekam kamera dan berikut ini adalah Video Bonek Saat Lakukan Sweeping Kendaraan Plat N Di Suramadu : https://www.vidio.com/watch/338135-video-aksi-sweeping-suporter-bola-di-jembatan-suramadu

(Rini Masriyah – Harianindo.com)  – 06/05/2016 571

***

Tidak Boleh Berbuat Kerusakan

Pembahasan Hadits Arba’in An Nawawiyah

Oleh Drs. St. Mukhlis Denros

Tidak Boleh Berbuat Kerusakan

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سعْدُ بْنِ سِنَانِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلَّمَ قَالَ : لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

[حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَالدَّارُقُطْنِي وَغَيْرُهُمَا مُسْنَداً، وَرَوَاهُ مَالِك فِي الْمُوَطَّأ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضاً]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan Al Khudri radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak boleh melakukan perbuatan (mudharat) yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain“

(Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Daruqutni serta selainnya dengan sanad yang bersambung, juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattho’ secara mursal dari Amr bin Yahya dari bapaknya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, dia tidak menyebutkan Abu Sa’id. Akan tetapi dia memiliki jalan-jalan yang menguatkan sebagiannya atas sebagian yang lain).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:

  1. Larangan melakukan sesuatau yang berbahaya.
  2. termasuk sesuatu yang diharamkan adalah sesuatu yang berbahaya seperti rokok, mengendarai kendaraan dengan ceroboh.

Pembahasan:

Allah telah menjadikan bumi ini indah, tertata rapi sesuai dengan ukurannya sehingga keindahan dan kenikmatan dunia membuat manusia terlena. Namun selama perjalanan hidup manusia sebanyak itu pula kerusakan dan kehancuran yang mereka pamerkan sehingga wajar dikala Allah  akan menciptakan Adam di muka bumi, para malaikat tidak menghendaki keberadaan makhluk baru itu karena makhluk ini sejak dahulu sebelum Adam hidupnya selalu membuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Malaikat menghendaki agar khalifah yang akan diciptakan itu seperti mereka yang taat dan patuh serta selalu bertasbih kepada Allah, tapi Allah lebih mengetahui makhluk yang akan direncanakan hadir ini;  ” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” !” [Al Baqarah 2;30]

Khalifah yang dimaksud Allah rupanya memiliki kelebihan yang luar biasa dibandingkan malaikat, dia adalah makhluk yang diberi ilmu sehingga mampu mengelola dunia ini dengan baik;“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” [Al Baqarah 2;31]

Dari ayat diatas tergambar bahwa, kehadiran manusia di dunia ini mungkin membuat kerusakan dengan alasannya sendiri yang tidak terbaca oleh malaikat, demikian pula mereka akan menumpahkan darah tapi dengan aturan yang memang dibolehkan untuk itu, selain itu adalah penyimpangan, yang akibatnya akan dirasakan oleh manusia itu sendiri sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Ruum 30;41“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [Ar Ruum 30;41]

Secara tersurat dinyatakan bahwa; kerusakan yang terjadi di darat dan di laut akibat ulah usaha manusia, atas kerusakan itu sunnatullahnya akan terjadi berbagai bencana, bencana itu dalam rangka untuk menyadarkan manusia, agar kembali ke jalan benar dan bertaubat.

Ada beberapa bentuk kerusakan telah, sedang dan akan terjadi di dunia ini diantaranya;

1.Kerusakan Aqidah

Sejak diciptakan hingga hadirnya Nabi Adam di dunia ini, Allah telah memberikan bekal ilmu dan iman kepadanya, yaitu iman yang hanya menjadikan Allah sebagai Ilah dan tidak boleh menserikatkannya, iman yang bersih  dari noda syirik dan fasiq akan merusakan pahala manusia karena segala sesuatu amal dan akhlak manusia didasari oleh aqidah yang baik.

Kalau aqidah telah dinodai maka amal ibadah seseorang tidak bermakna sama sekali bagi manusia, itulah sebabnya Lukman Al Hakim meletakkan pendirikan awal bagi anaknya adalah penanaman aqidah sebagaimana yang diterangkan oleh firman Allah;“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.[ Lukman 31;31].

Bentuk kerusakan aqidah itu diantaranya melakukan perbuatan yang mengandung syirik umpamanya perdukunan dan hal-hal mistis lainnya.

2.Kerusakan Ibadah

Ibadah akan rusak apabila tidak memiliki tiga sandaran yaitu Niat yang salah, beribadah niatnya tidak ikhlas, bukan karena dimotivasi oleh Allah tapi oleh yang lain. Cara ibadah yang dilakukan juga harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah bukan yang berasal dari adat yang tidak sesuai dengan syariat sehingga dinyatakan oleh beliau bahwa segala cara ibadah yang bukan berasal dari Rasul disebut dengan bid’ah, bid’ah itu sesat dan segala yang sesat itu masuk neraka. Tujuan ibadah juga harus karena mencari ridha  Allah bukan karena mengharapkan ridha orang lain. Allah berfirman; Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. [Al Bayyinah 98;5]

3.Kerusakan Hukum

Hukum yang tidak memakai syariat islam berarti hukum jahiliyyah yang tidak sesuai dengan asfek keadilan. Kerusakan hukum sering terjadi dikarenakan para hakim mempermainkan hukum, keadilan hanya untuk orang-orang besar sementara rakyat kecil seolah-olah tidak berhak menerima keadilan, suatu ketika Nabi melihat wanita Yahudi yang sedang dirajam, kemudian beliau bertanya,”Kenapa begitu?”, mereka menjawab,”Wanita itu telah berzina, hukuman yang tepat baginya adalah rajam”.

Dikesempatan lain terdengar pula kabar ada wanita Yahudi berzina tapi tidak dirajam, Rasulullah bertanya kepada mereka,”Kenapa yang kemaren kalian tegakkan hukum, dan sekarang kalian biarkan saja”, maka dijawablah oleh Yahudi,”Yang kemaren dirajam itu adalah wanita dari golongan rendahan, sedangkan yang ini orang terpandang”, mendengar itu Nabi Muhammad mengatakan,”Celakalah kalian yang menegakkan hukum kepada orang-orang rendahan tapi tidak kalian tegakkan hukum kepada orang-orang terpandang”.

Allah berfirman;“ dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).”[An Najm 53;31].

4.Kerusakan Akhlak

Kerusakan akhlak nampak dikala tidak ada lagi akhlak yang mulia kepada orangtua, guru dan tetangga sehingga hidup  berdasarkan gaya yang berdasarkan dari orang lain yang cendrung kebarat-baratan, sehingga ukuran baik dan buruk bukan lagi akhlakul karimah tapi apa saja yang datang dari barat.

Padahal Barat bukanlah memakai akhlak, yang mereka gunakan adalah moral dan etika yang tidak sama dengan akhlak. Moral berasal dari bahasa Latin, yang aratinya ”adat kebiasaan seseorang dalam hidupnya”. Istilah ini serasi  dengan Etika, yang berasal dari bahaya Yunani. Moral adalah kesanggupan orang untuk memilih perbuatan baik dari perbuatan yang buruk. Baik dan buruk ini menurut pandangan manusia, yang dirumuskan oleh manusia berdasarkan kesepakatan.

Moral tidak menghunjam dalam dada pengikutnya, sebab sifatnya sementara dan lokal, hanya berlaku dalam satu wilayah tertentu, maka sifatnyapun relatif menurut situasi, kondisi dan tempat saja. Dalam pandangan moral, yang lebih diutamakan adalah toleransi antara sesama manusia dan saling tenggang rasa. Seseorang bisa melepaskan moralnya untuk menghargai moral orang lain dalam pergaulan, takut orang lain tersinggung atas moralnya, sebab ada pertentangan antara moralnya dengan moral orang lain.

Akhlaq adalah sejumlah kumpulan prilaku berdasarkan teladan Rasulullah Saw dimasa hidupnya, didalam kehidupan sehari-hari yang dituntun oleh Risalah Nubuwah [Kenabian] dalam Al Ahzab 33;21 Allah berfirman,” Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Artinya segala prilaku atau akhlak yang tidak mencontoh kehidupan Rasulullah maka telah merusak akhlak yang mulia. Kita boleh mencontoh akhlak siapapun kalau yang kita contoh itu mereka juga mencontoh akhlak Rasulullah  Dalam sebuah haditspun Rasulullah menyabdakan, ”Aku diutus kemuka bumi ini tiada lain untuk menyempurnakan akhlak manusia”.

5.Kerusakan Manusia

Kepribadian manusia akan rusak kalau terjadi kehidupan yang tidak serasi dalam masyarakat karena menjauhkan diri dari nilai-nilai islam sehingga  ukhuwah  tidak terujud, bila ukhuwah tidak terujud maka saling rusak akan terjadi dalam kehidupan kita. Agar ukhuwah terjaga dengan baik maka masing-masing muslim tidak mengolok-olok sebagai mana firman Allah memperingatkan;”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”[Al Hujurat 49;11]

6.Kerusakan Tanaman

Isi bumi ini akan indah kalau ekosistemnya terjaga dengan baik, tanaman hidup dengan subur dengan hasil panen selain memenuhi kebutuhan manusia juga mendatang kesehatan bagi yang menikmatinya, kemodern selalu mempercepat segala sesuatu sehingga hasil panen dapat dipetik dalam waktu hanya dua atau tiga bulan, buahpun berbentuk besar dan menggiurkan padahal semua itu dapat mendatangkan kerusakan di alam karena pupuk yang digunakan mengandung zat yang dapat membunuh zat hara dan merusak kesehatan para petani.

Kerusakan lain yang terjadi adalah penebangan hutan sembarangan sehingga membuat hutan gundul yang mengakibatkan longsor dan banjir, ujungnya bencana dan malapetaka yang dirasakan manusia, padahal Allah memperingatkan ummat ini;“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” [Al A’raf 7;56].

Demikian banyaknya bentuk kerusakan yang terjadi di dunia ini yang akan menyengsarakan kehidupan manusia padahal tugas manusia sebagai khalifah adalah membuat kebaikan di dunia ini untuk kesejahteraan penduduknya hingga anak cucu, tapi ketika nilai-nilai Ilahiyah sudah diabaikan maka pasti manusia berbuat sekehendak hatinya maka tentu saja kerusakan terjadi yang akibatnya manusia juga merasakannya sebagaimana sekelumit kejadian besar dibawah ini;“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr, Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka Karena kekafiran mereka. dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan Hanya kepada orang-orang yang sangat kafir” [Saba’ 34:15-17]

Itulah contoh kerusakan yang pernah terjadi adalah hancurnya negeri Saba’ yang digambarkan dalam Al Qur’an hanya berawal karena penduduknya lalai menjaga bendungan yang mengairi sawah mereka sehingga sekian lama akhirnya bendungan itu jebol yang menenggelamkan seluruh pertanian, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 20032010]*/ulamapewaris.blogspot.co.id – RABU, 20 NOVEMBER 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.676 kali, 1 untuk hari ini)