oleh : Syamsul Muhammad

  • Manji terang-tarangan mengaku sebagai seorang lesbian. “Sebagaimana anda ketahui, saya adalah seorang lesbian dan saya tidak meminta persetujuan kaum Muslim atas orientasi seksual saya. Saya hanya meminta persetujuan dari dua entitas saja: Sang Pencipta dan nurani saya,” jawab Manji saat ditanya pendapat dia tentang LGBT (lesbian, gay, bisexual dan transgender/transexual).
  • Irshad Manji adalah pegiat feminisme yang juga merupakan wanita penikmat hubungan sejenis. Ia salah seorang tokoh yang memusuhi Islam dan pro dengan paham lesbianisme, liberalisme dan feminisme.

Pemikiran liberalis yang tidak terbatas lagi membuat seluruh umat manusia di muka bumi ini kacau tanpa baratutan. Fakta kekacauan tersebut, kita bisa melihat di seluruh media massa. Dari kasus free sex atau sex bebas yang dilakukan anak SD sampai orang tua, sampai budaya yang tidak bermoral lagi. Sehingga menjadikan kekacauan tatanan Negara saat ini.

Feminis yang dibanga-bangakan barat sebagai simbol kualitas terbaik seorang perempun, ternyata nihil belaka. Ternyata dampak dari faham feminisme menambah keruh suasana kaum wanita. Dahulu wanita pada saat Islam mengusai dunia (baca: khilafa Rasyidin), sangat dimuliakan dihormati terbukti dalam sejarah Islam, kasus-kasus tentang wanita hampir tidak ada. Tetapi bagaimana saat ini? Pemahaman feminisme yang dianggap dapat menyelesaikan masalah, malah membuat masalah baru yang tidak terkontrol lagi. Rusaknya pergaulan, dan lain-lain.

Lesbian atau Homoseksual (liwath) merupakan perbuatan asusila yang sangat terkutuk dan menunjukkan pelakunya seorang yang mengalami penyimpangan psikologis dan tidak normal. Berbicara tentang homoseksual di negara-negara maju, maka kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Di negara-negara tersebut kegiatannya sudah dilegalkan. Sehingga berefek malapetaka yaitu seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth As.

Bedasarkan realita diatas, kita sebagai bangsa Indonesia dan warga masyarakat Yogyakarta wajib menolak hal-hal seperti diatas sebab akan menghancurkan tatanan budaya yang sudah ditanamkan para Sultan-Sultan keraton.

Tetapi ada yang menjadi masalah saat ini, Irshad Manji seorang tokoh liberalis, feminis dan lesbianis akan datang ke Yogyakarta untuk menyebarkan ide-ide sasaatnya hari Rabu pagi tanggal 9 Mei. Di pacasarjana UGM dan UIN Sunan Kalijaga. Ini sangat berbahaya sebab pemikiran-pemirannya antara lain:

Biografi Singkat dan Pengakuan Lesbianis

Irshad Manji adalah seorang feminis kelahiran Uganda 1968 silam dari seorang ayah berkebangsaan India dan ibu berkebangsaan Mesir. Saat berusia empat tahun keluarganya berpindah ke Kanada. Ia kini berkewarganegaraan Kanada. Ia menyelesaikan pendidikannya diUniversity of British Columbia. Pada usia 14 tahun ia pernah dikeluarkan dari madrasah gara-gara pemikiran nylenehnya. Selama 20 tahun, Manji mempelajari Islam secara otodidak. Sejumlah buku liberal telah dikarangnya, seperti The Trouble with Islam Today, dan yang terbaru Allah, Liberty and Love.

Akhir bulan April 2008 lalu, Irshad Manji berkunjung ke Jakarta untuk meluncurkan terjemahan buku The Trouble with Islam Today. Edisi bahasa Indonesianya berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Pada 15 Juli 2008, situs Jaringan Islam Liberal (JIL) mempublikasikan hasil wawancara dengan Manji. Wawancara itu diberi judul, “Irshad Manji: Saya Seorang Pluralis, Bukan Relativis.”

Melalui wawancara tersebut, dapat diketahui bagaimana pemikiran Manji tentang Islam. Bahkan soal penyimpangan orientasi seksual dirinya pun ia beberkan. Manji terang-tarangan mengaku sebagai seorang lesbian. “Sebagaimana anda ketahui, saya adalah seorang lesbian dan saya tidak meminta persetujuan kaum Muslim atas orientasi seksual saya. Saya hanya meminta persetujuan dari dua entitas saja: Sang Pencipta dan nurani saya,” jawab Manji saat ditanya pendapat dia tentang LGBT (lesbian, gay, bisexual dan transgender/transexual).

Meneghina Nabi Muhammad Saw., Luth As, dan Lecehkan Al-Quran

Dalam bukunya (edisi Indonesia), Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini,” Dalam buku ini, bisa ditemukan nada-nada penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan keraguan terhadap al-Quran:

Irshad Manji, menyandarkan keraguannya terhadap al-Quran pada pendapat Christoph Luxenberg (seorang pendeta Kristen asal Lebanon yang menyembunyikan nama aslinya). Kata Manji: ”Jika al-Quran dipengaruhi budaya Yahudi-Kristen – yang sejalan dengan klaim bahwa al-Quran meneruskan wahyu-wahyu sebelumnya – maka bahasa Aramaik mungkin telah diterjemahkan oleh manusia ke dalam bahasa Arab. Atau, salah diterjemahkan dalam kasus hur, dan tak ada yang tahu berapa banyak lagi kata yang diterjemahkan secara kurang tepat. Bagaimana jika semua ayat salah dipahami?” (hal. 96).

Sedangkan penghinaan terhadap Nabi Muhamamd Saw., sebagaimana pernyataannya:

”Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Quran.” (hal. 96-97).

Sedangkan penghinaannya kepada Nabi Luth As, dalam bentuk penafsirannya yang tidak berdasar adalah:

“ bahwa pengharaman nikah sejenis adalah bentuk kebodohan umat Islam generasi sekarang karena ia hanya memahami doktrin agamanya secara given, taken for granted, tanpa ada pembacaan ulang secara kritis atas doktrin tersebut. Si penulis kemudian mengaku bersikap kritis dan curiga terhadap motif Nabi Luth dalam mengharamkan homoseksual, sebagaimana diceritakan dalam al-Quran surat al-A’raf :80-84 dan Hud :77-82). Semua itu, katanya, tidak lepas dari faktor kepentingan Luth itu sendiri, yang gagal menikahkan anaknya dengan dua laki-laki, yang kebetulan homoseks.

Selanjutnya ia mengatakan: “Karena keinginan untuk menikahkan putrinya tidak kesampaian, tentu Luth amat kecewa. Luth kemudian menganggap kedua laki-laki tadi tidak normal. Istri Luth bisa memahami keadaan laki-laki tersebut dan berusaha menyadarkan Luth. Tapi, oleh Luth, malah dianggap istri yang melawan suami dan dianggap mendukung kedua laki-laki yang dinilai Luth tidak normal. Kenapa Luth menilai buruk terhadap kedua laki-laki yang kebetulan homo tersebut? Sejauh yang saya tahu, al-Quran tidak memberi jawaban yang jelas. Tetapi kebencian Luth terhadap kaum homo disamping karena faktor kecewa karena tidak berhasil menikahkan kedua putrinya juga karena anggapan Luth yang salah terhadap kaum homo.” (hal. 39).

Cercaan terhadap Nabi Luth dan al-Quran terus dilanjutkan: “Luth yang mengecam orientasi seksual sesama jenis mengajak orang-orang di kampungnya untuk tidak mencintai sesama jenis. Tetapi ajakan Luth ini tak digubris mereka. Berangkat dari kekecewaan inilah kemudian kisah bencana alam itu direkayasa. Istri Luth, seperti cerita al-Quran, ikut jadi korban. Dalam al-Quran maupun Injil, homoseksual dianggap sebagai faktor utama penyebab dihancurkannya kaum Luth, tapi ini perlu dikritisi… saya menilai bencana alam tersebut ya bencana alam biasa sebagaimana gempa yang terjadi di beberapa wilayah sekarang. Namun karena pola pikir masyarakat dulu sangat tradisional dan mistis lantas bencana alam tadi dihubung-hubungkan dengan kaum Luth…. ini tidak rasional dan terkesan mengada-ada. Masa’, hanya faktor ada orang yang homo, kemudian terjadi bencana alam. Sementara kita lihat sekarang, di Belanda dan Belgia misalnya, banyak orang homo nikah formal… tapi kok tidak ada bencana apa-apa.”(hal. 41-42).

Mendukung Ahmadiyah yang di Hukum sesat MUI

Soal aliran sesat Ahmadiyah, jelas ia membelanya. Manji menuding kelompok yang ingin membubarkan alirasn sesat dan menyimpang Ahmadiyah sebagai bentuk kesombongan.

Melarang mereka adalah suatu bentuk kesombongan kalangan Muslim mainstream yang mengambil alih peran Tuhan. Jika kita meyakini ada kebenaran final dan hanya Tuhan yang berhak menghukum orang yang tidak beriman atau memberi pahala pada mereka yang beriman, lalu siapakah kita ini sehingga menganggap orang lain tidak beriman?“, katanya dalam bedah bukuAllah, Liberty & Love.

Bedasarkan realita diatas, Irshad Manji adalah pegiat feminisme yang juga merupakan wanita penikmat hubungan sejenis. Ia salah seorang tokoh yang memusuhi Islam dan pro dengan paham lesbianisme, liberalisme dan feminisme. Di dalam bukunya yang berjudul the Trouble with Islam, ia menyetujui hubungan sesama jenis yang dalam Islam harus ditentang. Dalam kesempatan ini, ia akan meluncurkan buku terbarunya, Allah, Liberty & Lovedalam edisi bahasa Indonesia dan akan di kaji di UIN dan UGM besok Rabu Jam 8.00 WIB tanggal 9,5,2012./ arief hidayat  

*data diambil dari bebarap buku Irshad Manji, Web, dan blong yang terpercaya.

http://ldk-sunankalijaga.blogspot.com/2012/05/menggugat-pemikiran-sesat-irshad-manji.html

***

Akhirnya, UGM Batalkan Diskusi Irshad Manji

SLEMAN (KRjogja.com) – Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya membatalkan acara diskusi buku karya Irshad Manji bertajuk ‘Agama, Kebebasan dan keberanian Moral’, Rabu (9/5/2012) sesuai perintah Rektor demi kepeningan masyarkat.

Direktur Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Hartono mengungkapkan, sejak semalam telah resmi membatalkan diskusi yang digagas Center for Religius and Cross Cultural Studies (CRCS) tersebut. Pembatalan ini terkait adanya kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan masyarakat.

“Atas perintah rektor, sejak semalam sudah resmi saya batalkan. Pertimbangannya macam-macam terutama ada gerakan-gerakan menentang yang diwaspadai sejak hari Minggu (6/5) lalu,” ujarnya kepada KRjogja.com, Rabu (9/5).

Pihaknya juga mengaku telah melakukan koordinasi dengan mantan rektor UGM dan sesepuh UGM yang concern di bidang keagamaan, Prof. Mursyidi. Termasuk melakukan pantauan di lapangan dan diketahui bahwa ternyata gerakan-gerakan di lingkungan mahasiswa yang menentang acara ini cukup banyak.
Terakhir, lanjutnya, gerakan yang terpantau adalah di Fisipol UGM dan banyak pula gerakan lain yang mencoba membatalkan seperti Himpunan Mahasiswa Pascasarjana dan Himpunan Mahasiswa Islam Pascasarjana.
“Semalam beberapa ormas juga mendatangi kami diantaranya FPI, HTI dan MMI yang mengatakan sudah mengkoordinir anggotanya. Ada sekitar 50-an orang yang menemui saya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, kami membatalkan kegiatan tersebut,” katanya.

Alasan mendasar lain, kata Prof Hartono untuk membatalkan diskusi tersebut adalah karena nilai atau pemikiran yang tertuang dalam buku karya Irshad, dikhawatirkan dapat berdampak besar bagi masyarakat. “Dari sisi akademis, sebenarnya pendapat yang dituangkan Irshad bisa dibilang wajar. Tetapi kita juga harus berfikir jauh akan dampaknya di masyarakat,” tuturnya.

Prof Hartono menambahkan reaksi keras dari masyarakat yang menolak kedatangan Irshad tersebut juga menunjukkan bahwa belum saatnya Indonesia bisa menjalankan sistem demokrasi yang murni. Atau dengan kata lain, demokrasi di Indonesia belum bisa diterapkan dengan lugas.

“Ketika sebuah pemikiran tertentu ternyata belum bisa dihayati masyarakat secara menyeluruh sebagai bagian demokrasi, maka ini justru akan kontraproduktif. Sebagai kampus pro rakyat, UGM berfikir untuk menyelamatkan yang lebih besar yakni nilai-nilai masyarakat yang universal,” ungkapnya.
Terkait image buruk yang akan melekat pada UGM atas peristiwa ini, diakui tidak menimbulkan kekhawatiran yang besar. UGM mengaku tetap membuka diri akan penyelenggaraan kegiatan tertentu dengan berpegang pada perkembangan masyarakat.

“Memang pasti akan ada image di UGM, tapi kami tidak khawatir. Kalaupun akan ada kegiatan sejenis lagi kita akan lihat dan perhatikan perkembangan masyarakat dulu apakah mereka sudah siap, seluruhnya mengenyam pendidikan baik dan bisa berfikir logika,” tegasnya.

Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Suryo Purwono menambahkan, secara akademik sebenarnya ini bukan merupakan diskusi yang memiliki masalah. Namun, pihaknya tetap harus menimbang seberapa manfaat dan dampak yang akan ditimbulkan.

“Secara akademik ini memang bermanfaat bagi beberapa orang tertentu. Tetapi bagi kalangan luas, ini mungkin tidak ada manfaatnya. Jadi kita tidak hanya melihat secara akademik saja tetapi secara keseluruhan. Belum lagi kalau ada orang-orang luar yg memanfaatkan, itulah pertimbangan kami,” imbuhnya. (Aie) Tomi Sujatmiko | Rabu, 9 Mei 2012 | 11:55 WIB

http://krjogja.com/read/127957/akhirnya-ugm-batalkan-diskusi-irshad-manji.kr

***

Diserang Massa Saat Diskusi di Yogya, Irshad Manji Sempat Histeris

Yogyakarta Diskusi Irshad Manji di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) diserang ratusan orang. Penulis buku “Allah, Liberty, dan Love” itu sempat histeris.

Informasi di lokasi, diskusi mulai digelar sekitar pukul 19.00 WIB, Rabu (9/5/2012). Tak berapa lama, dari luar ratusan orang datang dengan mengendarai sepeda motor. Sebagian besar mengenakan pakaian hitam-hitam dengan penutup kepala dan helm.

Perwakilan panitia keluar dan bernegosiasi dengan massa. Namun negosiasi buntu. Massa ngotot diskusi harus bubar. Mereka langsung menerobos masuk ke ruang diskusi yang berada di bagian belakang kantor penerbit yang beralamat di Jalan Pura Sorowajan Banguntapan, Yogyakarta itu.

“Sempat terlihat ada yang melempar batu ke arah ruangan diskusi,” kata salah satu saksi mata, Andri.
Meski tidak menyerang langsung secara fisik, peserta diskusi langsung berhamburan. Irshad Manji histeris. Semuanya berlarian keluar.

Saat ini, sekitar pukul 21.00 WIB, lokasi diskusi sudah steril. Baik peserta maupun massa tidak terlihat lagi. Polisi sudah membarikade jalan tersebut dan menggelar olah TKP. Sejumlah warga terlihat menyaksikan kegiatan itu.

Di lokasi, beberapa lembaran kertas yang mengatasnamakan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) tersebar. Dalam selebaran itu tertulis yang intinya, siapapun yang melindungi Irshad Manji akan berhadapan dengan umat Islam dan MMI.

Belum diperoleh kepastian nasib Irshad Manji. Manajemen LKiS juga tidak terlihat.
Bagus Kurniawan – detikNews Rabu, 09/05/2012 21:07 WIB

***

Diskusi Irshad Manji di Yogya Diserang, 6 Orang Terluka

Jakarta Diskusi buku Irshad Manji di penerbit LKiS Yogyakarta diserang oleh sekelompok orang. Sedikitnya enam orang mengalami luka dalam insiden itu.

Setelah ditolak di Universitas Gadjah Mada, Irshad Manji malam ini tetap melanjutkan bedah buku karyanya, “Allah, LIberty, and Love”, di Kota Gudeg. Malam ini, Rabu (9/5/2012), diskusi itu digelar di penerbit LKiS, di Jl Pura 1 Sorowajan Baru, Plumbon.

Sejak siang, beberapa ancaman agar diskusi itu dibatalkan sudah diterima oleh pihak panitia dari massa. Akan tetapi, karena menganggap massa tak punya otoritas melarang, diskusi itu tetap berlangsung.

Dihadiri sekitar 50 orang, diskusi itu dimulai pada pukul 19.00 WIB. Menurut seorang panitia, Thaksin, awalnya diskusi berlangsung aman-aman saja. Selama kurang lebih 40 menit, para peserta dapat menyimak diskusi dengan tenang.

Tiba-tiba, muncul pekik takbir dari sejumlah orang di luar. Tak lama kemudian, sekelompok orang-orang merangsek ke dalam ruangan diskusi. Mereka membubarkan paksa diskusi itu. Suasana sangat menegangkan.
Tak cuma berteriak-teriak, massa juga melakukan pemukulan terhadap sejumlah peserta diskusi yang tunggang langgang menyelamatkan diri. Setidaknya enam orang menderita luka-luka. Ada yang dilarikan ke rumah sakit.

“Di antara yang luka itu ada asisten Irshad Manji,” kata Thaksin.

Irshad Manji sendiri selamat dan sudah dibawa ke lokasi yang aman. Saat ini, polisi sudah berada di lokasi. Bekas-bekas serangan masih berceceran di sana-sini. Ditemukan sejumlah selebaran atas nama MMI yang mengecam kedatangan Manji.

“Panitia sekarang sudah meminta peserta pulang,” ucap Thaksin.

(irw/try) Irwan Nugroho – detikNews Rabu, 09/05/2012 20:35 WIB

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 1.054 kali, 1 untuk hari ini)