Pelaku dan pasangan homo hukumannya bunuh

Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan menghukum banci maka mereka diasingkan.

Dalam hadits-hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir banci, demikian pula Umar bin Khatthab pun mengusir banci. Pengusiran pun diperintahkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga banci-banci diasingkan ke Naqi’ satu tempat di pinggiran Madinah, mereka tidak boleh bergaul dengan masyarakat.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ وَأَخْرِجُوا فُلَانًا وَفُلَانًا يَعْنِي الْمُخَنَّثِينَ (رواه أبو داود,قال الشيخ الألباني : صحيح)

(ABUDAUD – 4282) : Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melaknat kaum laki-laki yang menyerupai wanita dan kaum wanita yang menyerupai laki-laki.” Beliau bersabda: “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian, dan keluarkanlah si fulan dan si fulan -yaitu para banci-.” (HR Abu Dawud, kata Syaikh Al-Albani, Shahih).

Dalam riwayat lain,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلَانًا وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلَانًا

Dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang meniru wanita (banci) dan wanita yang meniru laki-laki, beliau bersabda: “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluarkan fulan, dan Umar juga mengeluarkan fulan. (HR Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ahmad, – 2016, dishahihkan Al-Albani)

Rasulullah memerintahkan untuk menghukum orang banci lalu diasingkan ke Naqi’:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِمُخَنَّثٍ قَدْ خَضَّبَ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ بِالْحِنَّاءِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ هَذَا فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَتَشَبَّهُ بِالنِّسَاءِ فَأَمَرَ بِهِ فَنُفِيَ إِلَى النَّقِيعِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَقْتُلُهُ فَقَالَ إِنِّي نُهِيتُ عَنْ قَتْلِ الْمُصَلِّينَ

قَالَ أَبُو أُسَامَةَ وَالنَّقِيعُ نَاحِيَةٌ عَنْ الْمَدِينَةِ وَلَيْسَ بِالْبَقِيعِ

تحقيق الألباني : صحيح ، المشكاة ( 4481 / التحقيق الثاني )

Dari Abu Hurairah berkata, “Pernah didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seorang banci yang mewarnai kuku tangan dan kakinya dengan inai. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya: “Ada apa dengan orang ini?” para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, orang ini menyerupai wanita.” Beliau kemudian memerintahkan agar orang tersebut dihukum, maka orang itu diasingkan ke suatu tempat yang bernama Naqi’. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita membunuhnya saja?” beliau menjawab: “Aku dilarang untuk membunuh orang yang shalat.” Abu Usamah berkata, “Naqi’ adalah sebuah tempat di pinggiran Kota Madinah, dan bukan Baqi’.” (HR Abu Daud, 4280)

Berlandaskan hadits-hadits tentang pengusiran (pengasingan) orang banci, Imam Ibnu Taimiyyah mengutip pernyataan Imam As-Syafi’I dan Ahmad menyebutkan bahwa pengasingan (orang dibuang/ diasingkan atau diisolir tidak boleh bergaul dengan masyarakat karena kesalahannya) itu dalam sunnah datang pada dua tempat. Yang satu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata mengenai orang yang zina ketika tidak muhshon (belum pernah nikah):

{ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ }

Dijilid (dicambuk) seratus kali dan dibuang/ diasingkan setahun.

Yang kedua, pengusiran (pengasingan) orang-orang banci, (berdasarkan hadits-hadits yang shahih seperti tersebut di atas). (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, juz 3 halaman 362)

Pelaku dan pasangan homo hukumannya bunuh

Diusirnya itu karena sikap kebanciannya. Apabila mereka melakukan keburukan lain misalnya homosex maka sudah ada hukumnya pula, yakni dibunuh.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ وَمَنْ وَجَدْتُمُوهُ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ فَاقْتُلُوهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ } .رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ إلَّا أَنَّ فِيهِ اخْتِلَافًا )

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi saw bersabda: “Siapa-siapa yang kamu dapati dia mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual, laki-laki bersetubuh dengan laki-laki), maka bunuhlah yang berbuat (homo) dan yang dibuati (pasangan berbuat itu); dan barangsiapa kamu dapati dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuhlah binatang itu.” (HR Ahmad dan Empat (imam perawi), dan para periwayatnya orang-orang yang terpercaya, tetapi ada perselisihan di dalamnya).

Dalam Kitab Subulus Salam dijelaskan, dalam hadis itu ada dua masalah. Pertama, mengenai orang yang mengerjakan (homoseks) pekerjaan kaum Luth, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perbuatan dosa besar. Tentang hukumnya ada beberapa pendapat: Pertama, bahwa ia dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan (dianalogikan) dengan zina karena sama-sama memasukkan barang haram ke kemaluan yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dan jama’ah dari kaum salaf dan khalaf, demikian pula Imam Syafi’i. Yang kedua, Pelaku homo dan yang dihomo itu dibunuh semua baik keduanya itu muhshon (sudah pernah nikah dan bersetubuh) atau ghoiru muhshon (belum pernah nikah) karena hadits tersebut. Itu menurut pendapat pendukung dan qaul qadim As-Syafi’i.

Masalah kedua tentang mendatangi/ menyetubuhi binatang, hadits itu menunjukkan haramnya, dan hukuman atas pelakunya adalah hukum bunuh. Demikianlah pendapat akhir dari dua pendapat Imam As-Syafi’i. Ia mengatakan, kalau hadits itu shahih, aku berpendapat padanya (demikian). Dan diriwayatkan dari Al-Qasim, dan As-Syafi’I berpendapat dalam satu pendapatnya bahwa pelaku yang menyetubuhi binatang itu wajib dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan dengan zina..(Subulus Salam, juz 4, hal 25).

 Dari ayat-ayat, hadits-hadits dan pendapat-pendapat itu jelas bahwa homoseks ataupun lesbian adalah dosa besar. Bahkan pelaku dan pasangannya di dalam hadits dijelaskan agar dibunuh. Maka tindakan dosa besar itu wajib dihindari, dan pelaku-pelakunya perlu dijatuhi hukuman.

Ada “siluman” penyebar penyakit masyarakat?

Ketika orang-orang banci seharusnya diusir dari masyarakat karena sikap kebanciannya namun justru mereka itu selama belasan tahun akhir-akhir ini diangkat-angkat dengan aneka acara dan dihargai, maka otomatis akan menyinggung perasaan kaum Muslimin yang ajarannya sama dengan diinjak-injak. Disepelekan sejadi-jadinya. Bahkan lebih disepelekan dan diinjak-injak lagi perasaan Ummat Islam ketika justru banci-banci itu digabung dengan yang tukang penyelewengan sex yakni homosex dan lesbian; yang mereka itu seharusnya menurut ajaran Islam adalah dibunuh. Karena merusak tatanan masyarakat dan membahayakan kehidupan.

Dengan demikian, apabila ada pihak-pihak yang marah atau bahkan sampai mengamuk ketika ada penyelenggaraan acara-acara yang menjunjung para banci, homosex, dan lesbian; maka bukan salah Ummat Islam yang marah, karena memang seharusnya marah. Ekspressi kemarahan itu misalnya sampai merusak sesuatu, sebenarnya tidak begitu berarti bila dibanding kerusakan yang ditimbulkan oleh para banci, pelaku homosex dan lesbian yang merusak tatanan hidup dan membahayakan kehidupan; apalagi malah dijunjung dengan penyelenggaraan acara. Ini jelas-jelas merusak tatanan hidup dan membahayakan kehidupan.

Hanya saja bukan berarti tulisan ini membenarkan pengrusakan ataupun tindakan tanpa prosedur yang benar. Oleh karena itu, sewajarnya apapun yang berbau menghargai para banci atau waria apalagi para pelaku homosex dan lesbian mesti tidak boleh diadakan. Apabila sesuatu sudah diketahui seharusnya tidak boleh ada namun tiba-tiba diadakan dan bahkan diizinkan, maka secara perhitungan, bukan salah orang-orang yang berreaksi atas adanya itu. Namun tentu saja adalah salah orang-orang yang mengadakan dan mengizinkannya. Para bancinya pun mungkin hanya jadi korban, sehingga kalau lagi sial, mungkin jelas jadi korban dari “siluman” yang menjunjungnya (sebagai alat kepentingan tertentu, kemungkinan) dan sekaligus jadi korban dari para orang-orang yang terpicu hingga ngamuk. Dan yang lebih buruk dari itu adalah pihak-pihak “siluman” yang justru memelihara kasus ini sebagai komoditi tersendiri untuk kepentingan-kepentingan busuknya. Hanya orang-orang yang busuk saja yang piaraannya barang-barang busuk. Hidup satu kali saja mengumpulkan bekal untuk ke neraka dengan menabung pakai cara memelihara tingkah-tingkah busuk yang telah dilaknat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sadarlah wahai manusia, kalau masih sayang-sayang kepada diri sendiri. Bahwa hidup ini bakal mati. Sedang mati itu hanya berbekal lakon masing-masing ketika masa hidupnya. Bila lakonnya baik, dilandasi iman dalam Islam, sedang amalnya itu ikhlas untuk Allah Ta’ala, maka dijanjikan surga. Sebaliknya, kalau lakonnya buruk, tidak beriman, apalagi justru membantah Islam, membenci, menghalangi dengan aneka cara; maka begitu mati sudah pasti akan menerima siksanya, sedang di akherat kelak masuk neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung dari hal yang demikian.

Kenapa mereka tidak jera ya? Justru selama belasan tahun terakhir ini tingkah-tingkah buruk itu tampak semakin bermunculan di mana-mana. Adakah “siluman” yang sengaja menyebarkan penyakit masyarakat ini demi kepentingan jahatnya? Betapa jahatnya, kalau begitu!

Ilustrasi: Kedatangan puluhan waria ini mengaku untuk mengajukan wakilnya untuk bergabung dalam kabinet Jokowi-JK. “Kami ajukan menteri satu orang dari perwakilan waria,” ujar Mami Yuli seperti dikutipTribunnews, Kamis (18/9/2014).

*Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede adalah penulis buku Sumber-sumber Penghancur Akhlaq Islam.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.652 kali, 1 untuk hari ini)