Previous Post
Tweet about this on TwitterEmail this to someoneShare on Facebook
Read on Mobile

Menghapus Klenik dari Keraton, Dapatkah?

by , Okt 11th, 2015

Kebo bule dinamai Kyai Slamet di Keraton Solo Jawa Tengah diarak setiap malam tanggl 1 Suro (1 Muharram), tai kebonya jadi rebutan orang, diangga punya berkah. Keyakinan menyimpang itu tampaknya belum terberantas./ foto mslmdlynet

Gusti Puger (pelaksana tugas (plt) dari Pakubuwono XIII) menegaskan, Keraton Surakarta merupakan kerajaan Islam yang mengajarkan ajaran Islam. Bukan mengajarkan ajaran klenik yang menyesatkan umat Islam. Ia menekankan, Keraton Surakarta sudah membangun masjid Agung sebagai tempat untuk memohon kepada Allah SWT supaya tidak menyimpang atau musyrik.

Klenik iku mung arep ngapusi (Klenik itu hanya untuk menipu),” pungkasnya.

Demikian akhir dari wawancara muslimdaily.net dengan pelaksana tugas Keraton Solo Jawa Tengah.

Ketika pihak Keraton masih mengadakan arak-arakan pusaka/ senjata dan melepas ke jalanan kebo bule Kyai Slamet yang kotorannya diperebutkan orang-orang tiap malam satu Suro (1 Muharram) tahun baru Hijriyah; apakah bisa kepercayaan klenik yang menyimpang itu diberantas?  Justru kepercayaan salah itu tampaknya bersumber dari upacara dengan aneka ubo rampe tetek bengeknya itu.

Pihak Keraton bagaimanapun pasti harus memikul tanggung jawab atas tumbuh dan masih mengakarnya kepercayaan yang menyimpang berupa meyakini adanya berkah dari tai kebo yang dikeramatkan itu. Tampaknya tidak cukup dengan apa yang dikilahi sebagaimana termuat dalam hasil wawancara sebuah media berikut ini.

***

Meluruskan Makna Kirab Pusaka 1 Suro Keraton Surakarta

By Abdul Wahid

keraton surakarta

SOLO, Muslimdaily.net – Matahari memancarkan sinarnya dengan terang benderang di siang ini. Angin musim kemarau yang kering menambah panas suasana. Di bawah rimbunnya pepohonan di halaman Keraton Surakarta, tim Muslimdaily menyusuri sudut demi sudut bangunan megah Keraton Surakarta yang berhias patung berwarna putih khas Eropa. Salah satu sudut tembok menampilkan lukisan raja-raja Keraton Surakarta mulai dari raja yang pertama hingga yang terakhir.

Di usianya yang menginjak 271 tahun, kini Keraton Surakarta seakan mati suri ditengah masyarakat Surakarta yang telah mengalami modernisasi. Namun, sebagai pusat kebudayaan Jawa. Keraton Surakarta masih memiliki taji di masyarakat. Khususnya dikalangan umat Islam. Hal ini terlihat dari membludaknya masyarakat yang menonton Kirab Pusaka pada malam 1 Sura yang diperingati sebagai tahun baru Jawa.

Awalnya, Kirab Pusaka yang telah dilaksanakan sejak berdirinya Keraton Surakarta ini dilakukan dengan mengitari wilayah Baluwarti bagian dalam. Terhitung sejak tahun 1972, oleh Pakubuwono XII Kirab Pusaka mulai dilakukan dengan mengitari wilayah Baluwarti bagian luar. Sebagai upaya untuk mengingat kembali sejarah lahirnya acara Kirab Pusaka 1 Suro, akhirnya tim Muslimdaily menemui raja Keraton Surakarta. Saat ini tapuk kekuasaan Keraton Surakarta dipegang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger. Ia diangkat oleh Sentana Ndalem Keraton Surakarta sebagai pelaksana tugas (plt) dari Pakubuwono XIII yang dinilai tidak sanggup lagi menjalankan kewajiban sebagai raja.

Ketika dijumpai di kompleks Sitinggil Keraton Surakarta, wajah sang raja tampak ceria dengan seutas senyuman yang mengembang dari wajahnya. Gusti Puger, demikian dia biasa disapa, menjelaskan bahwa Keraton Surakarta yang memiliki predikat sebagai salah satu kerajaan Islam di Nusantara sangat mengapresiasi perintah Allah SWT yang artinya “Aku tidak akan memberikan kepada kaum atau kelompok atau individu siapapun kalau kamu tidak melakukan usaha apapun”. Maka, pihak Keraton Surakarta membuat senjata sebagai usaha untuk menjaga dan mengamankan keraton dari musuh. Setelah membuat senjata, pihak Keraton Surakarta juga melakukan perawatan rutin agar senjata untuk tidak rusak.

“Pusaka itu senjata. Punya sejarah tertentu,” ungkapnya pada Jumat, (10/02/2015) siang.

Gusti Puger menjelaskan, Kirab Pusaka yang dilaksanakan oleh Keraton Surakarta tiap 1 Suro bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa berkat izin Allah SWT dengan sarana pusaka, Keraton Surakarta bisa menjaga dan mengamankan kerajaan dari terjangan musuh. Namun, ia tidak memungkiri bila ada sebagian masyarakat awam yang salah dalam mengartikan acara Kirab Pusaka. Menurutnya, masyarakat harus memahami Kirab Pusaka ini agar tidak terjadi penyimpangan tauhid dalam pemaknaan Kirab Pusaka. Saat ini, senjata atau oleh pihak keraton disebut pusaka telah berubah menjadi benda seni. Dengan kata lain, adanya Kirab Pusaka memberikan rasa bangga bagi masyarakat Jawa yang telah menciptakan seni tinggi.

“Karena banyak orang yang tidak paham makna Kirab Pusaka. Akhirnya pusaka ini tidak lurus,” jelasnya.

Ketika disingung mengenai peran kerbau albino atau kebo Bule ikut dikirab dalam acara Kirab Pusaka, ia menjelaskan bahwa kerbau adalah simbol Keraton Surakarta yang merupakan kerajaan Agraris. Menurutnya, Kebo Bule yang semuanya diberi nama Kyai Slamet dahulu merupakan alat untuk membajak sawah. Walau pada saat ini posisi kerbau sudah digantikan dengan mesin pembajak sawah.

“Kerbau ini sebagai alat pembajak sawah. Kerbau ini namanya Slamet supaya kita selalu menyampaikan rasa syukur kepada Allah atas hasil panen. Maka kita ikutkan dalam Kirab Pusaka,” bebernya.

“Kita bukan mengkultuskan Kebo Kyai Slamet. Allah memberikan sesuatu dan harus diusahakan. Kita juga harus menyampaikan ucap syukur biar kerbau ini tetap digunakan,” lanjutnya.

Kebo Kyai Slamet yang ikut dalam Kirab Pusaka ini menurut Gusti Puger dalam falsafah Jawa memiliki pemaknaan yang sangat mendalam. Pertama, agar orang ingat tentang alat membajak sawah yaitu kerbau. Kedua, ojo cedak kebo gupak (jangan mendekat dengan kerbau kotor) dengan kata lain jangan mendekat ke kerbau yang kotor biar tidak ikut kotor. Ketiga, Ojo bodho longga longgo koyo kebo (jangan bertindak bodoh seperti kerbau), falsafah ini mengandung arti bahwa manusia jangan berbuat bodoh seperti kerbau.

“Bila menyembelih kerbau, kepala kerbau itu harus dipotong dan dikubur. Karena kepala kerbau itu simbol kebodohan mas,” jelasnya.

Selain itu, masih menurut Gusti Puger, kebo juga memiliki falsafah yang lain yaitu, Kebo kabotan sunggu(Kerbau terlalu berat membawa tanduk) yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi jangan merasa berat bila diberi keturunan atau anak banyak. Karena anak itu adalah karunia Allah. Dan, Kebo nyusu gudel (Kerbau (dewasa) minum susu kepada kerbau muda) yang diterjemahkan jadi orang tua harus malu dengan anaknya bila tidak mendekat dengan ilmu.

Telepon seluler yang dipegang oleh Gusti Puger sempat berdering dengan nyaring saat Gusti Puger akan menjelaskan tentang masyarakat yang mengambil kotoran kebo Kyai Slamet. Proses wawancara timMuslimdaily dengan Gusti Puger terpaksa dihentikan sementara untuk mempersilahkan Gusti Puger menerima telepon. Kemudian Gusti Puger melanjutkan tuturannya tentang masyarakat awam yang salah dalam memaknai mengambil kotoran kebo Kyai Slamet. Sebenarnya, mengambil kotoran kebo Kyai Slamet saat Kirab Pusaka itu tidak masalah. Asal kotoran kerbau itu diambil oleh masyarakat dan digunakan sebagai pupuk organik pada tanaman mereka.

“Bahwa itu boleh ambil telek (kotoran) kebo untuk dicampur dengan bahan lain agar dijadikan pupuk organik,” jelasnya sambil tersemyum.

Diakhir perjumpaannya, Gusti Puger menegaskan, Keraton Surakarta merupakan kerajaan Islam yang mengajarkan ajaran Islam. Bukan mengajarkan ajaran klenik yang menyesatkan umat Islam. Ia menekankan, Keraton Surakarta sudah membangun masjid Agung sebagai tempat untuk memohon kepada Allah SWT supaya tidak menyimpang atau musyrik.

Klenik iku mung arep ngapusi (Klenik itu hanya untuk menipu),” pungkasnya.

Published On: Sat, Oct 3rd, 2015 / muslimdaily.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.602 kali, 1 untuk hari ini)
Next Post

Related Post

Menghapus Klenik dari Keraton, Dapatkah?
Kebo bule dinamai Kyai Slamet di Keraton Solo Jawa Tengah diarak setiap malam tanggl 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *