Saya kaget tidak bisa berfikir, kok ada petinggi MUI,ICMI ikut klenik mas kanjeng, dan bilang dia pilihan Allah  dengan karomah bisa nggandakan uang.

Inna lillahi.

Karamah itu dari Allah,  tidak bisa untuk andalan sewaktu waktu, seperti mukjizat. Nabi musa tidak bisa mengandalkan tongkatnya. Beliau mendapatkan mukjizat dari tongkatnya dalam kondisi kejepit dan dengan wahyu Allah . Beliau tidak bisa mengandalkan dengan mengatakan; tenang, aku punya tongkat yang bisa aku gunakan untuk belah lautan. Beliau hanya mengatakan; bersamaku Rabbku, Dia akan menunjuki aku. Beliau belah lautan setelah Allah  berfirman, pukulkan tongkatmu ke lautan.

Jadi kalau ada yang mengandalkan punya karomah nyeleneh itu istidraj dari jin.

Inilah pentingnya belajar aqidah dari guru yang terpercaya dengan rujukan dalil yang terpercaya. Dan harus belajar walaupun seorang doktor dan tokoh, dan hati hati cari guru jangan sampai dukun jadi guru.

Mu’inudinillah Basri

***

Tulisan tersebut tampaknya menanggapi ini.

***

Pertaruhkan Nama ICMI dan MUI, Marwah Daud Ibrahim Jadi Pengikut Dimas Kanjeng

JAKARTA (Panjimas.com) – Marwah Daud mengamini dirinya merupakan santri dari Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sejak 2011 dia sudah bergabung dengan Dimas Kanjeng, dan kini menjadi Ketua Yayasan.

Marwah menuturkan, sebelum bergabung dengan Dimas Kanjeng, dia mempelajari dahulu mengenai sepak terjang padepokan itu. Demikian juga, Marwah berdoa memohon petunjuk.

“Saya pelajari 1 tahun, saya juga istikharah,” jelas Marwah, Selasa (27/9/2016).

Bagi Marwah, bukan keputusan mudah akhirnya bergabung dengan Dimas Kanjeng yang kini disangka kasus pembunuhan dua santrinya.

“Saya rasional sekali, saya pertaruhkan nama besar organisasi ada ICMI, MUI, saya di kerukunan Warga Sulsel, asosiasi penerima beasiswa Habibie, saya juga lulusan Amerika. Kemudian keluarga saya, anak saya. Yang saya takut kalau saya meninggal kemudian bagaimana. Jadi saya pelajari benar,” urai dia.

Jadi keputusan matang diambil Marwah. Dia tak begitu saja bergabung dengan Dimas Kanjeng dari Probolinggo yang dikenal bisa menggandakan uang.

“Saya kemudian dipertemukan dengan beliau, orangnya humble, masih muda, usia 40-an tahun. Dan saya diperlihatkan karomahnya,” tutur dia.

Hanya santrinya yang diperlihatkan kemampuan Dimas Kanjeng soal mengambil uang itu. Di YouTube sudah beredar bagaimana Dimas Kanjeng mengambil uang dari balik badannya.

“Saya istikharah dan pelajari, kemudian ternyata yang namanya Sunan Bonang itu bisa mengubah daun menjadi emas. Dan ini adalah karomah yang diberikan Allah kepada orang yang dipilihnya,” tegasnya.

Dimas Kanjeng sendiri menurut Marwah tak sembarangan dan asal saja menunjukkan karomahnya. Jadi Marwah menilai, sosok Dimas Kanjeng dipilih Tuhan dengan karomah.

“Di zaman nabi Sulaiman juga ada manusia suci yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis,” sambung dia.

“Jadi yang di YouTube, saya melihat langsung. Kemudian saya tanya tokoh agama, mereka mengatakan itu ada jin ada tuyul,” lanjutnya.

Namun hasil istikharah, Marwah yakin dengan sosok Dimas Kanjeng. Dia pun kerap hadir pada pengajian, shalawat, khataman Alquran dan lainnya. Marwah punya cita-cita uang yang didapatkan dari Dimas lewat kemampuannya digunakan membiayai pendidikan anak Indonesia dan kalangan tidak mampu.

“Dan saya berpikir ini mungkin jalannya membantu orang lain. Beliau sendiri tidak bisa mempergunakan uangnya, kalau digunakan sendiri akan sakit,” bebernya.

Bagaimana dengan proses hukum dan tuduhan pada Dimas? “Itu kami serahkan kepada hukum. Tapi tolong jaga nama baiknya, perlakukan dengan baik,” tutup Marwah yang kenal Dimas Kanjeng dari temannya. [AW/detik]

Sumber: panjimas.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.974 kali, 1 untuk hari ini)