Mengherankan! Puan Baca Puisi “Hak Rakyat Untuk Dilayani”, Dinilai Hantam Diri Sendiri

  • Peringatan Rasulullah terhadap Pemimpin yang Bodoh (di bagian bawah)

     

Silakan simak ini.

***

Baca Puisi “Hak Rakyat Untuk Dilayani”

Mbak Puan Silakan Baca Komen Netizen

 
 


Apakah rakyat sudah mendapat keinginannya? Sudahkah Negara dan Pemerintah menjalankan tugasnya? Melayani rakyat dengan sebaik-baiknya,” kata Puan saat membaca pada bait kedua.  Ketua DPR Puan Maharani saat membacakan puisi. (Foto: Instagram Puan Maharani)

Ketua DPRPuan Maharani pamer kepiawaiannya menulis dan mem baca puisi. Puisi yang ditulis dan dibacakannya itu, berjudul “Haknya Rakyat Merdeka untuk Dilayani”.

Sebenarnya, Puan membaca puisi itu dilakukan saat mengikuti acara Festival Puisi Ombudsman RI, Selasa (27/10). Namun, Puan baru mempostingnya di Instagramnya, kemarin.

Durasi video pembacaan puisi Puan itu 1 menit 59 detik. Puan yang mengenakan baju hitam berdiri membelakangi background dinding dengan logo DPR, serta dua bendera merah putih di sebelah kiri dan 2 bendera DPR di sebelah kanan.

Dalam video itu, Puan mengawali puisinya dengan memekikkan kata “merdeka” sebanyak tiga kali, sembari mengangkat tangan seolah menggelorakan semangat. “Kini 75 tahun Indonesia sudah merdeka,” Puan membacakan bait pertama puisinya.

Lalu, Puan mempertanyakan peran pemerintah memberikan harapan kemerdekaan yang diidamkan rakyat. Dia meminta, pada Ombusdman ikut menjadi pengawas yang menjalankan tugas dan wewenangnya dengan berbagai asas. 

Baca Juga : KPK, Maunya Rakyat Itu Tangkap Harun Masiku

“Kepatutan, keadilan, nondiskriminasi, tidak memihak, akuntabilitas, keseimbangan, keterbukaan, dan kerahasiaan. Sang pengawas berdiri mandiri untuk memastikan rakyat mendapatkan pelayanan,” ungkapnya.

Ketua DPP PDIP itu mengatakan, hak rakyat itu untuk dilayani pemerintah. Pejabat tidak boleh jumawa. Jabatan sebagai penyelenggara negara harus di gunakan untuk melayani rakyat. Seperti padi yang semakin merunduk, maka semakin berisi.

“Begitulah harusnya sikap para punggawa negeri. Melayani, melayani, dan melayani. Dengan melayani, kita jaga NKRI,” tegasnya.

Hingga semalam, postingan Puan itu sudah ditonton lebih dari 49 ribu kali. Ada sekitar 640 komentar netizen menanggapi postingan Puan. Isinya juga macam-macam. Ada yang nyerang. Ada yang memuji.

Akun instagram @izharnabawi11, curiga merdeka yang dimaksud Puan itu untuk kepentingan kelompoknya. “Merdeka buat siapa Bu!! Buat anggota DPR, lah kita masyarakat kena dampaknya,” komennya. “Merdeka untuk para investor tentunya mas broo,” timpal @dimas_gilang25. 

“Merdeka itu untuk rakyat tingkat atas,” sambar @ divasafiraagustina_1 memperjelas. “Dewan pekerjaan rumah,” ledek @kovleck_rick.

Pernyataan Puan tentang merdeka tidak dirasakan @selowmelowlow. “Bukan merdeka, Bu. Merana, merana, merana,” sedihnya. “Bingung tapi merdeka,” terang @wianda_aprilia6. “karya siapa Bu,” kata @hndr.adi. “Ucapan Anda ama kelakuan beda jauh. Ngaca,” geramnya.

Selain nyinyiran, masih ada warganet yang mendukung sepak terjang putri Megawati itu. “Teruslah bekerja untuk negeri ini Ibu. Semangat. Abaikan orang-orang setiap saat nyinyir karena mereka memang sudah diciptakan hanya untuk nyinyir dan tidak pernah diajarkan untuk patuh dan menghormati pemerintahan yang sah. Semangat Bu Puan,” beber @rodi_baduar_saragih. “Semoga orang-orang yang membenci Bu Puan dimaafkan Allah SWT,” doa @dewi_sre. “Tetap semangat ibu Puan,” harap @rayudana.

Menurut artis seni peran senior, Niniek L Karim, puisi Puan memiliki inti pesan tentang peran Ombudsman. Puan ini ingin Ombudsman jadi lembaga pengawas yang berdiri mandiri, untuk memastikan rakyat mendapatkan pelayanan yang merupakan haknya.

“Melayani, melayani, melayani. Itulah pesan ketua DPR kepada semua pelayan publik masyarakat Indonesia yang diawasi oleh Ombudsman Republik Indonesia,” ucap Niniek.

Berbeda dengan Niniek, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurniasyah menilai puisi Puan biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. “Puisi Puan sebenarnya normatif karena pesan untuk Ombudsman,” tandas Dedi saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

Puan lupa DPR adalah perwakilan rakyat yang paling mengemuka. Sebelum aspirasi rakyat sampai ke telinga Presiden, seharusnya Puan adalah orang pertama yang mendengar suara rakyat. “Sejauh ini puisi tersebut seolah menghakimi Puan sendiri,” sebutnya. [UMM]

  • RMco.id Rakyat Merdeka – Sabtu, 31 Oktober 2020, 07:08 WIB

***

Peringatan Rasulullah terhadap Pemimpin yang Bodoh


Ilustrasi Alquran sebagai pedoman kita yang dibawa Rasulullah

Waspada dengan pemimpin yang bodoh. Pemimpin yang enggan memerintah dengan petunjuk dari Rasulullah Salallahu’alihi wassalam. Ini merupakan salah satu tanda kiamat telah dekat.

Dari Jabir ibn Abdillah radiallahu’an, meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. berkata kepada Ka’ab ibn ‘Ajrah: “Semoga Allah melindunginya dari kepemimpinan orang bodoh, wahai Ka’ab. ” Ka’ab lantas bertanya, ” Apakah yang dimaksud kepemimpinan orang-orang bodoh, wahai Rasulullah ? ”

Nabi menjawab, ” Sepeninggalku nanti, akan muncul para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula mengambil sunnah-sunnahku.

Barangsiapa membenarkan kedustaan mereka serta mendukung kezaliman mereka, maka mereka itu bukan termasuk golonganku dan aku pun bukan bagian dari mereka.

Mereka tidak akan dapat mendekati telagaku. Barangsiapa tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak mendukung kezaliman mereka, maka mereka termasuk golonganku dan aku pun merupakan bagian dari mereka, dan mereka akan mendapatkan bagian dari telagaku.

Wahai Ka’ab ibn ‘Ajrah, puasa adalah perisai, sedekah dapat menghapus kesalahan, dan shalat merupakan kedekatan atau petunjuk.

Wahai Ka’ab ibn ‘Ajrah, daging yang tumbuh dari barang haram tidak akan masuk surga, dan neraka lebih utama untuknya. Wahai Ka’ab ibn ‘Ajrah, manusia ada dua, ada yang menyerahkan jiwanya (kepada Allah) dan ada yang membiarkannya atau membinasakannya. ” Demikian Rasulullah dalam Hadis Riwayat Ahmad dan Bazzar.

Dalam hadits lain, Nabi bersabda, ” Hari Kiamat belum akan terjadi sampai nanti kabilah-kabilah dikuasai oleh orang munafk dari kalangan mereka. (HR. Thabrani)

Apabila para penguasa, pemimpin, dan pejabat publik seperti ini, maka masyarakat akan rusak. Pembohong dianggap benar, orang jujur dianggap pendusta, pengkhianat dipercaya, orang yang bisa dipercaya malah dianggap pengkhianat, orang bodoh akan berbicara, dan orang pintar diam saja.

Asy-Sya’bi berkata, ” Hari Kiamat belum akan terjadi sampai ilmu dianggap kebodohan dan kebodohan dianggap sebagai ilmu. ”

Semua ini adalah kenyataan yang akan terjadi pada Akhir Zaman.

Abdullah ibn Amr r.a. meriwayatkan, bahwa Nabi s.a.w. bersabda, ” tanda-tanda Hari Kiamat adalah disingkirkannya orang-orang baik dan diangkatnya orang-orang jahat. ” (HR. Hakim dalam al-Mutadrak). (fin)

FAJAR.CO.ID– Hikma Islam, 26 Juli 2020 17:54. Editor: Hamsah umar

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 533 kali, 1 untuk hari ini)