Bismillah. Kawan, semua ini adalah kitab-kitab warisan ulama madzhab Syafi’iyyah dalam bidang fiqh tarekat sayyidina Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang ada di perpustakaan kampus kami, LIPIA. Ini baru satu dari sekian puluh blok perpustakaan kampus. Difoto saat saya masih mahasiswa semester 7 Syari’ah.

Blok ini adalah blok yang paling rutin saya pribadi kunjungi. Sangat bahagia melihat ini semua, sampai sering saya minta sama Allah dalam hati kelak moga bisa menghidupkan sedikit dari warisan mereka.

Bagian paling atas rak ini pernah saya kobok satu persatu walau belum semua. Bermodal naik kursi perpus, saya lihat kitab-kitab kuno itu. Terbayang kemudian bagaimana ulama kita menulis, lalu para kyai bahkan terbayang kakekku dari Mbah Jaiz, juga ayahnya Ki Abdul Mukti, dan ayahnya lagi, yaitu Ki Sengari (nama asli: Asy’ary) mendikte murid-murid mereka kitab-kitab semacam ini dengan metode ngaji bandongan.

Maret 2013 itu, Nyantrend belum ada, melainkan saya baru memulai mengajar Durusul Lughah atau Ushul Fiqh untuk beberapa mahasiswa UI di Depok.

Kini, alhamdulillah, kitab-kitab Syafi’iyyah menjadi salah satu menu santapan dengan porsi dikonsentrasikan. Bermula dari matan kecil Matan Abu Syuja’, merambah ke Kifayatul Akhyar. Untuk memperkaya pendalaman madzhab, alhamdulillah Allah mudahkan dan luangkan saya untuk menyeruput kitab-kitab penting madzhab seperti Raudhah ath-Thalibin karya an-Nawawy, Hasyiat al-Bayjury karya al-Bayjury dari al-Azhar Mesir, al-Iqna’ karya asy-Syirbiny, Nihayatul Mathlab karya al-Juwainy penulis al-Waraqat, al-Hawy al-Kabiir karya al-Mawardy, al-Bayaan karya al-Imrany. Kesemua ini keutamaan dari Allah dan siapalah saya melainkan masih dalam tahap belajar dasar. Diinginkan dari ini, teman-teman mengambil faedah semangat dan spirit menuntut ilmu. Ayo lebihkan waktu untuk berpetualang dalam ilmu dibandingkan tersandung di hal-hal tidak bermanfaat.

Tidak lupa, kitab al-Umm karya asy-Syafi’i adalah puncaknya madzhab.

Dan ketika kamu punya harapan, jangan pernah kubur ia hidup-hidup hanya karena modalmu sedikit. Tanam ia dengan lembut dan sirami ia dengan percikan doa tertulus, maka Allah akan menjawab dan merealisasikannya di waktu tertepat, meski bukan tercepat.

أحسن الله إليكم

Hasan Al-Jaizy/4 Maret 2013 ·

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.196 kali, 1 untuk hari ini)