https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=VoEyOXsuONY

 

JAKARTA– Lagi-lagi video penodaan Islam beredar di dunia maya. Setelah sempat hilang dari peredaran, kini video The End of Islam in Indonesia berisi pembedahan buku sesat berjudul Enam Jalan Menuju Tuhan kembali viral di media sosial, sebagaimana dibagikan pada Facebook hingga Kamis (27/11/2014). Parahnya, Darmawan M.M si penulis buku tersebut menyatakan bahwa, “Muhammad adalah Arab buta huruf dungu yang biadab.” Astaghfirullahal adziim.

Video The end of Islam in Indonesia yang berdurasi kurang dari 4 menit ini diawali dengan lagu Indonesia Raya. Tampil seorang bapak beruban naik ke podium menyampaikan isi buku yang dia tulis dengan begitu santai sambil membaca catatannya.

Dialah Apollinaris Darmawan M.M yang dengan wajah tanpa dosa memaparkan klaim bahwa dia sangat mengetahui siapa Muhammad sebenarnya. Berikut transkrip utuh yang dibuat Tim Arrahmah sesuai dengan video sesat tersebut, tanpa mengurangi dan menambahkan konten apapun. A’udzubikalimatillahi tammatin min syari maa kholaq. Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Saudara-saudari yang saya hormati, hanya karena potongan-potongan film Innoscent of Muslim di internet yg dituduh menghina Muhammad, kebiadaban Islam kembali mengguncang dunia.Cristopher Stevens, duta besar AS yang ditugaskan di Libya, pada tanggal 9 Sepetember 2012 sedang berada dalam gedung konsulat AS di Benghazi ketika gedung itu diserang oleh Muslim Libya dengan roket dan granat gedung itu dibakar serta dijarah.  (muncul lagu ‘Telah Gugur Pahlawanku’ melatarbelakangi slide pemakaman JCS dan 3 lainnya yg dtuliskan gugur dalam tugas)

Walaupun saya tahu Muhammad adalah manusia yang hina, tapi saya tidak mau menghina Muhammad. Dan agar masyarakat luas mengetahui siapa Muhammad sebenarnya, saya jelaskan secara terbuka dan beradab. Bahwa menurut al-Qur’an, Muhammad adalah Arab buta huruf dungu yang biadab.

Penjelasan itu saya tulis dalam buku berjudul “6 jalan menuju Tuhan”, dimana Muhammad saya hadirkan dalam perbandingan dengan tokoh-tokoh spiritual. Buku itu saya terbitkan sendiri pada bulan Januari 2009. Dan karena dilarang diedarkan di indonesia, pada bulan Desember 2011 saya terbitkan dalam bahasa Inggeris di AS. (ilustrasi slide “Isi Al-Qur’an hanya ocehan dungu dan biadab dari Muhammad Arab buta huruf yang mengaku nabi, tidak ada kitab dari Tuhan, Injil ditulis oleh 4 orang dan Perjanjian Lama ditulis oleh banyak orang yahudi.”)

Dengan membaca buku itu, Anda dapat membuktikan sendiri bahwa Muhammad hanyalah manusia dungu yang biadab. Dengan membaca Qur’an secara kritis, lihat surat Maryam ayat 22-27. Isi surat ini hanya dibuat-buat. Tidak ada dalam budaya yahudi perempuan melahirkan sendiri di bawah pohon kurma.

Selanjutnya lihat surat Al-Ahzab ayat 37. Pesan moral ayat ini sangat biadab, menjadi Muslimah harus mau pindah ranjang dari anak angkat ke ranjang bapak angkat dan berbagi satu penis dengan 4 wanita lain. Selama lebih dari 1400 tahun, Islam yang bersandar pada contoh hidup Muhammad yang dungu dan biadab sudah menelan banyak korban jiwa. Bukan hanya orang yang dicap kafir yang dibunuh oleh Muslim, tapi Muslim yang dibunuh oleh sesama Muslim juga tak terhitung jumlahnya. (ilustrasi pemenggalan di Saudi dan pencambukan di NAD). Kebiadaban terhadap sesama Muslim juga dipertontonkan dengan memotong tangan orang yang dituduh mencuri, mencambuk orang yang dianggap salah semata-mata karena percaya bahwa ocehan dari orang yang dungu dan biadab bernama Muhammad di dalam al-Qur’an adalah perintah Tuhan.

Perlu pendekatan baru dalam menghadapi Islam. Tidak lagi menempatkan[nya] sebagai agama, tapi sebagai pemujaan terhadap Muhammad, yang berarti juga pemujaan terhadap kebiadaban yang harus diatasi secara terbuka dan beradab.

Sudah saatnya penduduk dunia dari rakyat kecil hingga kepala pemerintahan dan sekjen PBB berani mengatakan “hentikan segala kedunguan dan kebiadaban Islam. Mari kita hapus Islam dari muka bumi agar kita dapat membangun masyarakat yang cerdas dan beradab.”

Kepada Anda yang masih ingin mempertahankan Islam, saya sarankan jangan lagi menempuh cara-cara yang biadab. Anda harus berani berdiskusi secara terbuka dan beradab. Saya siap menyampaikan apa yang saya ketahui semua tentang Muhammad. Silakan diatur waktu dan tempatnya. Saya pasti hadir dan sambil menunggu saya ucapkan banyak terima kasih.

(ilustrasi slide siswa dan guru menghadap ke dinding berelief peta Indonesia dengan bertuliskan “mari kita membangun diri dengan berkiblat ke diri sendiri sambil mencintai negeri sendiri sebagai tanah suci pemberian Tuhan.” Informasi lebih lanjut kunjungi http://sixwaytowardgod.blogspot.com)

Maasyaa Allah laa hawla wala quwwata illa billah, sedemikian beraninya manusia bernama Darmawan M.M. menghina Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam yang ma’sum. Semoga tidak ada Ummat Islam yang mengikuti ajaran baru yang sesat dan menyesatkan ini. Tidak ada cara lain untuk menjadikan dunia ini indah, kecuali dengan mengembalikannya kepada tatanan Islam yang telah Allah turunkan tata caranya dalam Al-Qur’an dan dicontohkan dalam sunnah Rasululloh shalallahu ‘alayhi wasallam.

Pandangan picik penulis buku tersebut telah melupakan bagaimana baiknya akhlak Nabi Muhammad sehingga beliau digelari al-amin, manusia terpuji yang jujur dan terpercaya. Demikian lah jika hati sudah diliputi kesombongan menerima kebenaran dan akal dipenuhi dengan prasangka kejahilan (dzonnal jahiliyyah), maka tak ada firman Allah yang dapat menjadi hidayah baginya. Mari kita tunggu, apa yang akan Allah taqdirkan berikutnya kepada si penulis. Apakah Darmawan M.M. akan bertaubat atau dia akan terus menjadi antek AS dalam menggencarkan misi penghancuran citra Islam di mata dunia? Wallahua’lam bish showab. (adibahasan/arrahmah.com) Adiba Hasan Kamis, 4 Safar 1436 H / 27 November 2014 08:40

***

Petunjuk dari Allah Ta’ala:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (١٧٦)

dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS Al-A’raf/ 7:176).

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩)

dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raf/7: 179)

Orang yang jelas-jelas menghina Islam hukumannya adalah hukum bunuh.

Dalam kitab Bulughul Maram dan syarahnya, Subulus Salam pada bab qitalul jani wa qotlul murtad dikemukakan hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasaai, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no 3665,

3795 حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مُوسَى الْخُتَّلِيُّ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَنِيُّ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ عُثْمَانَ الشَّحَّامِ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَشْتُمُهُ فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ فَلَطَّخَتْ مَا هُنَاكَ بِالدَّمِ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا كَانَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَأَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ وَلِي مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا حَتَّى قَتَلْتُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ *. (أبو داود).

Dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya ada seorang laki-laki buta yang mempunyai ummu walad (budak wanita yang melahirkan anak dari tuannya) yang biasa mencaci Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan merendahkannya. Laki-laki tersebut telah mencegahnya, namun ia (ummu walad) tidak mau berhenti. Laki-laki itu juga telah melarangnya, namun tetap saja tidak mau. Hingga pada satu malam, ummu walad itu kembali mencaci dan merendahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Laki-laki itu lalu mengambil pedang dan meletakkan di perut budaknya, dan kemudian ia menekannya hingga membunuhnya. Akibatnya, keluarlah dua orang janin dari antara kedua kakinya. Darahnya menodai tempat tidurnya. Di pagi harinya, peristiwa itu disebutkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan orang-orang dan bersabda : “Aku bersumpah dengan nama Allah agar laki-laki yang melakukan perbuatan itu berdiri sekarang juga di hadapanku”. Lalu, laki-laki buta itu berdiri dan berjalan melewati orang-orang dengan gemetar hingga kemudian duduk di hadapan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata : “Wahai Rasulullah, akulah pembunuhnya. Wanita itu biasa mencaci dan merendahkanmu. Aku sudah mencegahnya, namun ia tidak mau berhenti. Dan aku pun telah melarangnya, namun tetap saja tidak mau. Aku mempunyai anak darinya yang sangat cantik laksana dua buah mutiara. Wanita itu adalah teman hidupku. Namun kemarin, ia kembali mencaci dan merendahkanmu. Kemudian aku pun mengambil pedang lalu aku letakkan di perutnya dan aku tekan hingga aku membunuhnya”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Saksikanlah bahwa darah wanita itu hadar / sia-sia” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4361, An-Nasaa’iy no. 4070, dan yang lainnya; shahih].
Darahnya itu hadar, maksudnya darah perempuan yang mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sia-sia, tak boleh ada balasan atas pembunuhnya dan tak boleh dikenakan diyat/ tebusan darah. Jadi darahnya halal alias halal dibunuh.
Juga ada hadits,

3796 حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْجَرَّاحِ عَنْ جَرِيرٍ عَنْ مُغِيرَةَ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا *. (أبو داود).

Diriwayatkan dari As-Sya’bi dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita Yahudi telah memaki/ menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencelanya, maka seorang lelaki mencekiknya hingga mati, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membatalkan darahnya. (HR Abu Dawud, menurut Al-Albani dalam Irwaul Ghalil hadits no 1251 ini isnadnya shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim).
Itu artinya halal dibunuh.

Sejarah tahapan menyikapi orang kafir

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan suruhan memerangi orang kafir, bersikap keras, dan membenci mereka telah jelas nashnya (teksnya). Meskipun demikian, orang JIL seperti Ulil Abshar Abdalla sengaja ingin menyembunyikannya. Di samping jelasnya ayat-ayat tersebut, para ulama telah menjelaskan pula tentang sejarah tahapan sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta sahabatnya dalam menghadapi orang-orang kafir. Di antaranya Ibnul Qayyim menjelaskan, yang intinya sebagai berikut:
Pasal : Urutan petunjuk dalam melawan kuffar dan munafik sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangkitkan sampai meninggal dunia.
“Pertama kali yang diwahyukan Allah kepadanya ialah supaya beliau membaca,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)

dengan atas nama rabb yang telah menciptakan. Itulah awal nubuwwahnya. Dia memerintah supaya beliau membaca dengan nama diri-Nya dan belum diperintahkan pada saat itu untuk bertabligh (menyampaikan).
Kemudian turun ayat,

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ(1) قُمْ فَأَنْذِرْ(2)

Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan ! (QS Al-Muddattsir: 1-2).
Beliau diangkat menjadi Nabi dengan firman-Nya اقرأ dan menjadi Rasul dengan firman-Nya ياايهاالمدثر.
Kemudian perintah memberi peringatan kepada kaum kerabatnya yang dekat, kemudian kepada kaumnya, lalu lingkungan sekelilingnya dari bangsa Arab, kemudian kepada Arab Qatibah, kemudian kepada seluruh alam dunia.
Beliau menjalankan da’wah setelah pengangkatnnya sebagai Nabi dan Rasul selama kurang lebih sepuluh tahun tanpa peperangan, dan diperintahkan untuk menahan, sabar, dan memaafkan. Kemudian baru diizinkan untuk berhijrah dan diizinkan pula untuk menyerang, kemudian diperintahkan berperang melawan orang yang menyerangnya. Kemudian diperintahkan untuk berperang melawan musyrikiin sehingga dien ini semua milik Allah.

Kaum kafir yang hidup berdampingan dengan beliau setelah turunnya perintah jihad ini menjadi tiga golongan:

  1. Ahlus Sulhi (perdamaian) dan Hudnah (gencatan senjata).
  2. Ahlul Harbi (yang harus diperangi)
  3. Ahludz Dzimmah (yang di bawah kekuasaan pemerintah Islam).

Dan memerintah kepada Ahlus Sulhi untuk menyempurnakan perjanjiannya. Beliaupun diperintahkan untuk menepatinya selama mereka istiqamah/ konsisten atas perjanjian. Jika ditakutkan di antara mereka ada yang berkhianat, maka perjanjian ditinggalkan. Dan tidak memerangi mereka sampai mereka melanggar perjanjian. Dan memang beliau diperintah untuk memerangi orang yang melanggar perjanjian…”.[3]

(Dikutip dari buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Menangkal Bahaya JIL dan FLA terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2004).

===
[1] Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, Lisanul Mizan, juz 2, halaman 142.
[2] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Fat-hul Bari, juz 13, halaman 346.
[3] Lihat Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’aad fii Hudaa Khairil ‘Ibaad, 2/81 seperti dikutip Dr Sayyid Muhammad Nuh, Manhaj Rassulullah, terjemahan Abu Miqdad Muhammad, Majlis Ta’lim Radio Dakta Bekasi, cetakan pertama, 1998, hal 138-139.

(nahimunkar.com)