Kadang orang dapat terjatuh kepada mengingkari kemungkaran yang samar atau bahkan hanya dituduh mungkar, namun justru membiarkan kemungkaran yang sangat besar.
Dalam hal kemungkaran, yang sejatinya setiap kemungkaran hendaknya diubah (dicegah, diberantas), bila ada yang jelas-jelas mungkar, maka harus lebih didahulukan untuk diberantas ketimbang yang hanya diduga mengandung kemungkaran atau belum tentu memang mungkar.
Kemungkaran yang dapat mengakibatkan membahayakan aqidah atau merusak aqidah, tentu bagaimanapun tidak boleh didiamkan. Karena kemungkaran yang tingkatnya tidak merusak aqidah, hanya maksiat, pun tidak boleh didiamkan/ dibiarkan. Lantas ketika ada yang berupaya untuk mengingkari kemungkaran yang membahayakan aqidah itu, kini kadang timbul keanehan. Ada sebagian orang atau kelompok yang justru lebih menyoroti “kesalahan” pengingkar kemungkaran yang sangat berbahaya itu, sambil diam terhadap kemungkaran yang sangat berbahaya itu.
Ketika seperti itu, dan kenyataannya pengingkar kemungkaran itu tidak mengakibatkan resiko bahaya terhadap Umat Islam atas pengingkarannya, namun justru disalahkan oleh sebagain orang sambil membiarkan kemungkaran yang amat bahaya itu, apakah sikap seperti itu adil? Padahal Umat tidak terkena bahaya akibat pengingkaran itu, sedangkan tanpa pengingkaran itu justru Umat Islam kemungkinan akan terkena bahaya akibat kemungkaran yang membahayakan aqidah itu.
Seandainya mengandung bahaya tetapi hanya beresiko terhadap diri pengingkarnya, dan tidak berbahaya bagi Umat Islam, sedang pengingkarnya pun berani menanggung resikonya; apakah bukan berarti justru dia telah berani mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan aqidah Umat?
Sama-sama bersikap, pengingkar kemungkaran yang membahayakan aqidah Umat, insya Allah akan mendapatkan manfaat. Demikian pula Umat. Sementara itu, pencelanya, belum tentu mendapatkan manfaat, atau boleh jadi lebih dari itu.
Mereka dapat terjebak dalam sikap mengingkari kemungkaran yang samar (belum tentu mungkar), sambil membiarkan kemungkaran yang sangat besar. Namun anehnya, dari lahn qaulnya dapat dibaca justru mereka menganggap diri merekalah yang benar.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 438 kali, 1 untuk hari ini)