Mustasyar PBNU KH. Maimoen Zubair wafat di Makkah, Selasa (6/8/2019). Kabar wafatnya salah satu kyai NU dari Sarang Rembang Jawa Tengah tersebut dengan cepat menyebar melalui berbagai media dan grup-grup whatsAap.

Dikhawatirkan muncul pernyataan yang berlebihan, bahkan menyangkut aqidah Islam.

Ada yang memberitakan: … pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi Bantul Kiai Kuswaidi Syafi’i menyebut bahwa Kiai Maimoen adalah jimatnya Indonesia.

“Salah satu jimatnya Indonesia itu KH. Maemoen Zubair, telah berpulang ke rahmatullah di tanah suci Makkah. Sangat pilu hati ini mendengar beritanya,” tegas Kiai Kuswaidi melalui akun Facebooknya, kutip bangkitmedia.com 06/08/2019.

Ungkapan ‘jimatnya Indonesia’ itu bila ditinjau dari syari’at Islam maka ada persoalan serius. Karena dalam hadits ditegaskan:

 

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa menggantungkan tamimah/jimat maka ia telah berbuat syirik.” (HR Ahmad, tsabit – kuat)

 

Apa itu jimat.  

Jimat adalah segala sesuatu yang diyakini menjadi sebab datangnya manfaat atau hilangnya kesulitan, namun bukan merupakan sebab yang dibolehkan oleh syari’at (baik secara syar’i atau qodari) (At-Tamhid lisyarhi Kitabi at-Tauhid karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu asy-Syaikh). Secara syar’i berarti ditunjukkan oleh dalil yang benar (Al-Qur’an atau Hadits shahih) sedangkan secara qodari berarti terbukti secara ilmiah. Jadi, benda yang dijadikan jimat tidak musti yang bernuansa mistis dan ngeri, namun sebuah gelas dapat menjadi jimat jika diyakini menjadi sebab dapat menyembuhkan penyakit. Contoh jimat yang tersebar meluas di Indonesia antara lain: jimat penglaris, rajah, susuk, dan lain-lain./ buletin.muslim.or.id/ jimat menurut Islam

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan tentang jimat:

Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَ التَّمَائِمَا وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, tiwalah (Jimat atau semacamnya yang dipakai untuk menumbuhkan rasa cinta seorang wanita kepada lelaki atau sebaliknya, semacam pellet), itu termasuk perbuatan syirik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, dan beliau menshahihkannya)

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan, demikian juga Abu Ya’la dan Al-Hakim serta ia menshahihkannya dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَلا أَتَمَّ اللهُ لَهُ وَمَنْ قَدْ أَرَكَ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلا وَدَعَ اللهُ لَهُ

“Barangsiapa menggantungkan tamimah, maka Allah tidak akan menyempurnakan baginya (urusan)nya dan barangsiapa menggantungkan wad’ah (Sesuatu yang dikeluarkan dari laut, semacam rumah kerang yang berwarna putih, dipakai untuk tolak bala’) maka Allah tidak akan menentramkannya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkannya melalui jalan lain dari ‘Uqbah bin ‘Amir dengan lafadz:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa menggantungkan tamimah/jimat maka ia telah berbuat syirik.”

Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak. Sedang tamimah itu maknanya adalah sesuatu yang digantungkan pada anak-anak atau orang lain dengan tujuan menolak bahaya mata hasad, gangguan jin, penyakit, atau semacamnya. Sebagian orang menyebutkannya hirzan/penangkal, sebagian lagi menamainya jami’ah (Di masyarakat kita lebih dikenal dengan jimat).

Adapun tentang tamimah/jimat, maka tidak ada sedikit pun dari hadits-hadits yang mengecualikan dari keharamannya. Sehingga, wajib mengharamkan semua jenis jimat/tamimah, dalam rangka mengamalkan dalil-dalil yang bersifat umum.

Keterangan lebih lengkap soal jimat ada di sini https://www.nahimunkar.org/heboh-jimat-di-celana-dalam-peserta-tes-cpns/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.945 kali, 1 untuk hari ini)