.

 

Para akademisi perlu mengevaluasi gagasan Harun Nasution (tentang) pembaruan studi Islam setelah 40 tahun berjalan.

“Terbukti, ide untuk memajukan studi Islam agar mengikuti teologi Mu’tazilah dan metode orientalis telah gagal memajukan studi Islam di Indonesia,” kata Dr Adian.

Sejumlah hadirin –acara bedah buku–  mengapresiasi “keberanian” Dr. Eka dalam mengkritik pemikiran Harun Nasution secara mendasar, mengingat banyak murid Harun telah menjadi guru besar di berbagai perguruan tinggi.

Harun Nasution adalah orang yang mengubah kurikulum perguruan Tinggi Islam (IAIN –kini sebagian jadi UIN— STAIN dan lainnya) se-Indonesia tahun 1980-an dari Ahlus Sunnah diubah jadi (aliran sesat) Mu’tazilah yang dia sebut rasionalis, karena Barat menyebutnya demikian, kata Harun Nasuition saat itu. Harun Nasution sendiri aqidahnya rusak, menganggap orang Nasrani sekarang pun juga akan masuk surga. ( lihat artikel Harun Nasution dan Nurcholish Madjid . Harun Nasution dan Nurcholish Madjid Dalam Kasus Penyelewengan Tauhid Berkedok Ayat Tentang Ahli Kitab). Padahal sudah jelas dalam Al-Qur’an:

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ} [البينة: 6]

6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.(QS Al-Bayyinah: 6).

Penting dicatat bahwa ide pembaruan yang saat ini selalu dikaitkan dengan ide teologi rasional Mu’tazilah itu hanya mitos belaka. Tidak lebih. 

Inilah beritanya.

***

DISC Masjid UI Selenggarakan Bedah Buku “Koreksi terhadap Dr Harun Nasution”

Jum’at, 14 Maret 2014 – 07:58 WIB

Bedah buku Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” karya Prof. Dr. H. M. Rasyidi didukung oleh Keluarga Alumni Masjid Universitas Indonesia (KALAM UI)

eramadina

Depok Islamic Study Circle (DISC)

Hidayatullah.com–Depok Islamic Study Circle (DISC) Masjid UI yang merupakan organisasi yang bernaung di bawah Bidang Pendidikan Masjid UI pada hari Jumat, 7 Maret 2014 telah menyelenggarakan peluncuran dan bedah buku Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” karya Prof. Dr. H. M. Rasyidi.

Acara yang juga didukung oleh Keluarga Alumni Masjid Universitas Indonesia (KALAM UI) ini bertajuk “Prof. Dr. H. M. Rasyidi: Ulama-Guru Besar UI Penjaga Akidah Umat”.

Dalam acara yang dilaksanakan di Aula Terapung Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia tersebut, turut hadir pula sebagai pembicara, Hidayat Achyar, S.H., pengacara murid Prof. Dr. H. M. Rasyidi, Dr. Daud Rasyid Sitorus, Lc., M.A., pakar hadits dan alumni Universitas Al-Azhar Mesir, dan Adnin Armas, M.A., direktur eksekutif INSISTS.

Sudah sejak awal 1970-an, H.M. Rasyidi menulis tentang bahaya penggunaan buku Harun Nasution yang yang memaparkan konsepsi Islam dari berbagai aspek tersebut. Harun Nasution dapat dikatakan memiliki andil besar dalam perombakan dan pembaruan studi agama di Indonesia terutama melalui bukunya, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, yang digunakan sebagai salah satu referensi penting bagi seluruh mahasiswa di IAIN (sekarang UIN) di seluruh Indonesia.

Pada awalnya, buku Harun Nasution mulai disebarkan secara luas setelah hasil rapat rektor IAIN se-Indonesia pada Agustus 1973 di Ciumbuluit, Bandung, dimana Departemen Agama RI memutuskan: buku “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” karya Prof. Dr. Harun Nasution direkomendasikan sebagai “buku yang akan bermanfaat terutama untuk mata kuliah Pengantar Agama Islam – mata kuliah konponen Institut yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa IAIN, apapun fakultas dan jurusannya.”

Mengetahui bahwa buku Harun Nasution mulai dijadikan rujukan oleh banyak mahasiswa, Prof. H.M. Rasyidi kemudian memberikan peringatan kepada Departemen Agama yang intinya mengkritik buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya.

Selama satu tahun lebih peringatan Prof. Rasyidi tidak digubris. Pak Rasyidi, yang juga Menteri Agama RI pertama, akhirnya mengambil jalan untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat Islam Indonesia dengan menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun tersebut. Maka pada tahun 1977, lahirlah buku Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” karya Prof. Dr. H. M. Rasyidi.

Kini, setelah lebih dari 35 tahun berlalu, peringatan dan nasehat Prof. Rasyidi menjadi kenyataan. Buku Harun Nasution telah menjadi pembuka masuknya arus sekularisasi dan liberalisasi yang marak di dalam arena studi Islam. Hal inilah yang kemudian mendorong DISC Masjid UI untuk menerbitkan kembali karya Prof. Dr. H. M. Rasyidi, Ulama sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia. DISC Masjid UI berharap, penerbitan kembali buku Pak Rasyidi dapat membentengi umat Islam khususnya mahasiswa Muslim dari arus liberalisme dan pluralisme agama serta turut berperan dalam penyebarluasan khazanah pemikiran Islam di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Depok Islamic Study Circle (DISC) Masjid UI merupakan organisasi di bawah naungan bidang pendidikan Masjid UI yang mengkaji pemikiran dan peradaban Islam. Dalam Program Strategis Mesjid UI dirumuskan bahwa DISC dimaksudkan untuk melaksanakan program strategis di bidang pendidikan. Disebutkan lebih lanjut bahwa DISC merupakan forum cerdik-pandai muslim warga UI yang akan menjadi laboratorium kajian Islam bagi berbagai disiplin ilmu untuk mencari titik temu struktur, metode, tujuan, dan manfaat ilmu, teknologi dan seni dengan risalah Islam.*/M. Irfan Islami, Koordinator DISC Masjid UI

Rep: Administrator

Editor: Cholis Akbar/hidayatullah.com

***

Setelah 40 Tahun, Kekeliruan Prof Harun Nasution Diungkap di Padang

Sabtu, 21 September 2013 – 12:13 WIB

Hidayatullah.com–Setelah berlalu 40 tahun, kekeliruan pemikiran teologi Prof Dr Harun Nasution kembali diungkap. Hal itu terungkap dalam acara bedah buku berjudul “Restorasi Teologi: Meluruskan Pemikiran Harun Nasution” (Bandung: Nuansa Aulia, 2013), di IAIN Imam Bonjol, Padang, Rabu (18/09/2013).  Buku itu adalah buah karya Dr. Eka Putra Wirman, dosen fakultas Ushuluddin IAIN Padang.

Yang bertindak sebagai pembedah adalah Prof. Dr. Duski Samad, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Padang  yang juga mantan murid Harun Nasution di Pasca Sarjana UIN Jakarta dan Dr. Adian Husaini, Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam, Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Hadir juga dalam acara tersebut, sejumlah professor  yang pernah menjadi murid Nasution dan beberapa dosen serta mahasiswa IAIN Padang.

Acara dibuka olehRektor IAIN Padang  yang diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Syafruddin M.Ag.

Melalui kajiannya terhadap kitab Hasyiah, karya Syeikh Muhammad Abduh, Dr. Eka membuktikan bahwa kesimpulan Harun Nasution tentang teologi Muhammad Abduh adalah keliru.

Melalui bukunya, Muhammad Abduhdan Teologi Rasional Mu’tazilah (UI Press, 1987), Harun Nasution menyimpulkan bahwa Muhammad Abduh adalah penganut teologi Mu’tazilah. Bahkan, dalam pernyataannya yang lain, Harun Nasution menyatakan, bahwa Muhammad Abduh lebih Mu’tazilah ketimbang Mu’tazilah.

Buku Harun Nasution tersebut merupakan intisari disertasi doktornya di Mc Gill University Canada tahun 1968 yang berjudul“The Place of Reason in Abduh’s  Theology: Its Impact on His Theological  System and Views”.

Kesimpulan itulah yang dibuktikan kekeliruannya oleh Dr. Eka.

Hasil kajian terhadap kitab Hasyiah dan RisalahTauhid, menunjuk kan dengan jelas, bahwa Syeikh Muhammad Abduh bukanlah penganut Mu’tazilah, tetapi penganut Ahlus Sunnah dan pembela Imam Asy’ari.

Bahkan, berulang kali, dalam kitabnya, Syeikh Muhammad Abduh menyebut logika-logika Mu’tazilah sebagai “dangkal”, “tidak filosofis”, dan “bodoh” (man laaaqlalahum).

“Bagaimana mungkin Harun Nasution bisa menyimpulkan hal yang 180 derajat bertentangan dengan fakta isi Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh?” kata Eka, yang menyelesaikan Doktornya tahun 2003 di Qarawiyin University,  Maroko.

Pada kesempatanitu, Dr. Adian Husaini menyatakan, bahwa temuan Dr. Eka Putra Wirman menyangkut Harun Nasution itu merupakan temuan penting, karena selama berpuluh tahun gagasan pembaruan studi Islam Harun Nasution didasarkan atas klaim keunggulan Mu’tazilah atas Ahlus Sunnah.

“Klaim Harun Nasution itu pun keliru, karena selama ratusan tahun umat Islam mencapai kejayaannya justru dengan berpijak atas teologi Ahlus Sunnah,” papar Dr. Adian yang memaparkan sejumlah tulisan Harun Nasution tentang keunggulan Mu’tazilah.

Lebih jauh, Adian juga mengajak para akademisi untuk mengevaluasi gagasan pembaruan studi Islam setelah 40 tahun berjalan.

“Terbukti, ide untuk memajukan studi Islam agar mengikuti teologi Mu’tazilah dan metode orientalis telah gagal memajukan studi Islam di Indonesia,” kata Dr Adian.

Prof. Dr. Duski Samad menyatakan, bahwa dalam dunia akademis, tradisi kritik perlu ditumbuhkan. Sebagai mantan murid Harun, ia menunjukkan berbagai fakta tentang kesalehan pribadi Harun. Sejumlah hadirin juga mengapresiasi “keberanian” Dr. Eka dalam mengkritik pemikiran Harun Nasution secara mendasar, mengingat banyak murid Harun telah menjadi guru besar di berbagai perguruan tinggi.

 Adian mengusulkan agar dilakukan muzakarah para pakar untuk mengkaji temuan Dr. Eka, agar tercapai pemahaman yang lebih komprehensif dan aplikatif.*

baca juga: baca juga: Harun Nasution, Mu’tazilah dan Mitos Pembaruan

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar/hidayatullah.com

***

Harun Nasution, Mu’tazilah dan Mitos Pembaruan

Kamis, 14 Februari 2013 – 09:25 WIB

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

HARUN Nasution (1919-1998) dikenal sebagai pemikir rasional Indonesia, yang mengklaim dirinya sebagai neo-Mu’tazilah. Klaim ini membawa kepada pengakuan lain bahwa ia merupakan pengikut yang absah dari gerakan pembaruan Abad Pertengahan Mu’tazilah.

Klaimnya ini dia buktikan dengan thesis doktronya di McGill University, Montreal, Canada, tahun 1968 dengan judul The Place of Reason in Abduh’s Thology, Its Impact on his Theological System and Views. Disertasi ini kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), cet. I, 1987).

Harun mengkritik bahwa runtuhnya teknologi dan ekonomi dunia Muslim sebagiannya disebabkan karena mereka menganut paham teologi Asy’ariyyah. Karena dalam pandangan Harun, teologi Asy’ariyyah adalah fatalistik. (Lihat, Fauzan Saleh, Modern Trends in Islamic Theological Discourse in 20th Century Indonesia: A Critical Study (Leiden: E. J. Brill, 2001), hlm. 198-200).

Dalam tulisannya “The Mu’tazila and Rational Philosophy”, Harun menyatakan, “The doctrines of dynamism, human freedom and accountability, rationalism and naturalism taught by the Mu’tazila contributed significantly to the development of philosophy and the religious and secular sciences during the Classical Period of Islamic civilization.” (Lihat, Harun Nasution, “The Mu’tazila and Rational Philosophy”, dalam Richard C. Martin, Mark R. Woodward, and Dwi S. Atmaja, Defenders of Reason in Islam: Mutazilism from Medieval School to Modern Symbol (Oxford: Oneworld, 1997), hlm. 191-192).

Dalam tulisannya di atas, Harun mengklaim bahwa kontribusi Mu’tazilah dalam peradaban Islam klasik begitu signifikan, utamanya pada perkembangan filsafat, agama dan ilmu-ilmu sekular (alam). Klaim Harun tentu saja ini sangat berlebihan. Seolah-olah tidak ada kontribusi dari pemikir dan intelektual lain, khususnya para ulama kalangan Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʻah. Padahal, kontribusi pemikiran yang sangat fenomenal sampai hari ini bukan milik Mu’tazilah, tetapi milik Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Harun mungkin lupa di Baghdad Mu’tazilah juga tidak memberikan kontribusi apa-apa di abad ke-5.

Sepertinya sama dengan kelompok Syi’ah, Mu’tazilah tidak begitu besar kontribusinya kepada peradaban Islam. Di abad ke-5 juga, misalnya, kelompok Bāṭiniyyah-Taʻlīmiyyah justru merusak tradisi keilmuan. Ini kemudian yang membuat Ḥujjat al-Islām, Imam Abū Ḥāmid al-Ghazālī (w. 505 H/1111 M) bangkit mengkritik dan ‘menguliti’ borok-borok Mu’tazilah. Ketika itu sekte Syiah Bāṭiniyyah tidak memiliki basis keilmuan dan epistemologi yang jelas. (Lihat, Imam al-Ghazālī, Faḍā’iḥ al-Bāṭiniyyah, taḥqīq: Dr. ‘Abd al-Raḥmān Badawī (Kairo: al-Dār al-Qawmiyyah, 1383 H/1964).

Ide rasionalitas Mu’tazilah yang terkenal mungkin dalam al-jadal (etik-berdebat) untuk melawan musuh-musuh Islam ketika itu. Itu pun tidak berlangsung lama. Belakangan, doktrin Mu’tazilah yang menonjol malah ide khalq Al-Qur’ān (baca: kemakhlukan Al-Qur’ān, tidak qadīm). Dan ternyata, doktrin ini merupakan adopsi dari pemikiran Yahudi dan Kristen. Tidak murni ide Mu’tazilah. Makanya ide ini lebih banyak “merusak” daripada “memperbaiki”, yang dalam sejarah dicatat sebagai fitnah khalq al-Qur’ān. (Lihat, Dr. Aḥmad Ḥijāzī al-Saqā, al-Mu’tazilah: Qirā’ah fī Makhṭūṭāt al-Baḥr al-Mayyit (Kairo: Dār al-Burūj, cet. I, 2003), hlm. 91, 135). Dan Imam Aḥmad ibn Ḥanbal yang menjadi eksponen ulama’ Sunni, yang merasakan getirnya fitnah khalq al-Qur’ān, sampai hari ini lebih terkenal dari sekte dan para pemikir Mu’tazilah sendiri.

Ternyata, kebebasan berpikir (ḥurriyyah) yang didengung-dengungkan oleh kaum Mu’tazilah tidak banyak memberikan kontribusi pada peradaban Islam. Kontribusi mereka hanya pada konsep nalar-bebas, selebihnya adalah politis. Malah, menurut Dr. ‘Imārah, konsep kebebasan manusia – dalam berpikir – (al-ḥurriyyah al-insāniyyah) justru problematik. (Lihat, Dr. Muḥammad ‘Imārah, al-Mu’tazilah wa Musykilat al-Ḥurriyyah al-Insāniyyah (Kairo: Dār al-Syurūq, cet. II, 1408 H/1988 M). Dan sampai hari ini ide-ide kebebasan yang kembali diusung oleh kaum modernis dan posmodernis semakin dipertanyakan. Karena modernis maupun posmodernis bias Baratnya begitu kenal. Ide modernisasi yang satu-atap dengan rasionalisasi, sebagaimana banyak disuarakan di awal 1970-an, menjadi wacana yang tak kunjung membumi.

Syeikh Muḥammad ‘Abduh sendiri, yang diklaim oleh Harun Nasution sebagai pelaku rasionalitas Mu’tazilah, tidak seluruhnya berpikir rasional. Justru aliran pemikiran Sunni lebih kelihatan dalam pemikiran Muḥammad Abduh. Jika pun konsep pembaruan yang diusung oleh Abduh merupakan bentuk “dinamisme”, itu bukan mutlak milik Mu’tazilah. Itu sebabnya pembaruan yang dilakukan di Al-Azhar oleh Abduh tidak dikaitkan dengan konsep rasionalitas Mu’tazilah. Lebih dari itu, para mujaddid dalam Islam mayoritas Sunni. Jadi, ruh dinamisme dalam Sunni juga besar. Di sini tampaknya proyek tajdīd tidak serta-merta menjadi milik pendaku rasionalitas (al-‘aqlāniyyah).

Deretan pemikir dan mujaddid pasca Imam al-Ghazālī, adalah Sunni. Sebut saja, misalnya, Imam Ibn Taimiyyah, Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Imam al-Suyūṭī, Imam al-Syāṭibī, bahkan sampai al-Dihlawī, adalah Sunni. Paramuḥaddits, fuqahā’, bahkan mufassir juga mayoritas dari Sunni. Sekali lagi, apa yang ditawarkan oleh Harun tentang teologi Mu’tazilah, yang memang ingin disebarkan di perguruan tinggi melalui pengenalan lewat buku Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah sejak 1987 sejatinya tidak membumi. Bisa saja malah elitis sehingga idenya terlalu mengawang dan lupa turun ke bumi.

Untuk itu penting dicatat bahwa: kaum Sunni sendiri bukan para pemikir jumud. Mereka juga berpikir, rasional, dan pastinya menafsirkan realita umat melalui keilmuan mereka. Rasionalitas juga milik kaum Sunni. Itu sebabnya di tangan kaum Sunni pergerakan intelektualitas begitu dinamis dan diakui ampuh. Karena untuk berpikir rasional tidak harus menjadi Mu’tazilah.

Maka penting dicatat bahwa ide pembaruan yang saat ini selalu dikaitkan dengan ide teologi rasional Mu’tazilah hanya mitos belaka. Tidak lebih. Wallāhu aʻlamu bi al-Ṣawāb! 

Penulis adalah guru ngaji di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara dan pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sumatera Utara
Rep: –

Editor: Cholis Akbar/hidayatullah.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 10.565 kali, 2 untuk hari ini)