• Dibeli dengan harga US$ 91,2 juta atau sekitar Rp 820 miliar
  • Didisain mirip ‘’Gedung Putih Berjalan’’.
  • Antara lain berisi kamar tidur utama
  • Hanya Presiden dengan 50 orangnya yang dapat mencicipi kenikmatan naik pesawat tersebut.
  • Sungguh tidak wajar.

HM Cholil Badhawi

Ketua Dewan Pembina Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia

Mantan Wakil Ketua DPA RI

Agustus 2013 nanti, pesawat kepresidenan pesanan Republik Indonesia akan tiba di Tanah Air. Pesawat RI 1 berjenis Boeing Bussiness Jet (BBJ) 2 Green Aircraft itu dibeli dengan harga US$ 91,2 juta atau sekitar Rp 820 miliar, dengan rincian: US$ 58,6 juta untuk badan pesawat, US$ 27 juta untuk interior kabin, US $4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$ 1,1 juta untuk biaya administrasi.

Merujuk pada situs Boeing.com, pesawat BBJ2 itu didisain untuk keperluan VIP (very important person). Konfigurasinya mewah, antara lain berisi kamar tidur utama, toilet yang dilengkapi shower, ruang konferensi, ruang makan, dan ruang tamu.

Kementrian Sekretaris Negara berdalih, pesawat seperti itulah yang dibutuhkan Presiden RI dengan pertimbangan keamanan, operasional, dan ekonomi.

Menurut Kemensesneg, pembelian BBJ2 lebih menghemat jika dibanding harus menyewa pesawat setiap presiden memerlukan ke luar kota atau negeri. Alasannya, pada tahun 2010 misalnya, akumulasi biaya sewa pesawat mencapai Rp 180 miliar, atau Rp 900 miliar dalam lima tahun.

Bahwa seorang Kepala Negara sebesar Republika Indonesia yang terdiri 17.508 pulau (berdasar laporan pada Konferensi PBB tahun  1987) dengan penduduk sekitar 220 juta, butuh pesawat kepresidenan, masih wajar. Bisa diterima. Tapi pertimbangan lain dalam merealisasikan kewajaran itu sungguh tidak wajar.

Mari kita lihat negara jiran sesama pengguna pesawat Boeing. Jepang memiliki dua pesawat Boeing 747-400 produksi tahun 1990. Namun, tak hanya perdana menteri, kaisar, dan keluarganya yang menggunakan.
Pesawat itu juga dipakai untuk mengangkut pasukan penjaga perdamaian, misalnya yang pernah dikirim ke Irak. Juga didesain untuk mengevakuasi warga Jepang di negara lain yang sedang mengalami kekacauan politik atau bencana.

Di Malaysia, Perdana Menteri dan keluarga kerajaan bepergian menggunakan BBJ M53-01. Pesawat yang dioperasikan Angkatan Udara Kerajaan Malaysia ini dibeli tahun 2003 dari Malaysia Airlines.

Lihatlah, kedua negara yang jauh lebih makmur dari Indonesia itu, membeli pesawat kepresidenan dengan tetap memperhatikan kebutuhan rakyatnya. Sedangkan kita, kenapa harus membeli Boeing langsung ke pabriknya, padahal banyak pesawat Boeing milik maskapai nasional yang bisa dimodifikasi. Terlebih kita punya industri dirgantara sendiri. Dan hanya Presiden dengan 50 orangnya yang dapat mencicipi kenikmatan naik pesawat tersebut.

Saya curiga, pembelian pesawat kepresidenan ini merupakan buah kongkalikong dengan Kaum Kapitalis Amerika. Mengenai persekongkolan ini, silakan telusuri dari sikap pemerintah maupun pribadi presiden kita selama ini terhadap Amerika Serikat. Juga sepak terjang Dino Patti Jalal,  Dubes Indonesia di AS.

Dari segi spesifikasi untuk mendukung fungsinya, BBJ 2 Green Aircraft agaknya merujuk pada pesawat kepersidenan Amerika, Air Force One, yang didisain mirip ‘’Gedung Putih Berjalan’’.

Pesawat Boeing 747-200B yang dikontrol tiga kru di kokpit itu mampu menempuh perjalanan hingga 12.700 kilometer tanpa henti dengan keamanan dan kenyamanan prima. Konon, dari dalam pesawat, Presiden AS bisa berkomunikasi dengan kapten kapal selam AS maupun astronot di luar angkasa.

Lho, untuk seorang pemimpin sebuah Negara Superpower dan ‘’Polisi Dunia’’, Air Force-1 sangat masuk akal. Tapi kalau Indonesia hendak mensejajarkan diri dengan Amerika, ya masih jauh lah. Kita ini masih sekelas dengan Vietnam, Kongo, Kamboja.

Dalih keamanan, semakin mencerminkan sifat paranoid presiden. Usai dua bom meleduk di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat pagi (17/7/09), SBY dalam pidatonya menebar cerita bahwa dirinya dijadikan target penembakan. Ia pun menunjukkan foto dirinya dijadikan target latihan nembak.

Padahal, foto itu ternyata foto jadul hasil bidikan intelijen. Kata Permadi, dulu Presiden Soekarno mendapat ancaman dan percobaan pembunuhan sampai 23 kali, tapi tak pernah mengeluhkannya.
Sifat paranoid juga tecermin dari penggantian kaca belakang antipeluru empat mobil dinas kepresidenan yaitu Mercedes Benz s600 L W221. Mobil tersebut biasa digunakan Presiden dan Wapres beserta istri masing-masing. Anggaran pengadaan kaca antipeluru itu Rp 704.657.525 diambil dari APBN-DIPA Sekretariat Presiden tahun anggaran 2011. Dengan demikian, harga satu kaca antipeluru untuk bagian belakang mobil presiden ini sekitar Rp 176.164.381,25 (www.setneg.go.id).
Secara politis, pembelian pesawat kepresiden itu justru kian menggerus popularits SBY. Sebab, gaya hidup presiden salama ini sudah cukup hedonis. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberi pengarahan pada Rapat Pimpinan TNI dan Polri di Gedung Balai Samudra Indonesia, Jakarta, Jumat (21/1/2011), mengemukakan keluhannya bahwa sudah tahun ke-6 atau ke-7 gaji Pesiden belum naik.

Padahal, Presiden selama ini sudah bermandi rupiah. Gaji pokok plus tunjangan kepala negara Rp Rp 62,7 juta per bulan. Di luar itu, Presiden masih memiliki dana taktis sebesar Rp 2 miliar per bulan.

Menurut The Economist, gaji SBY 28 kali lipat dari pendapatan per kapita (GNP = Gross National Product) rakyat Indonesia. Sangat senjang dibanding gaji PM Cina yang sekitar 2,5 kali GNP penduduknya, atau bahkan gaji PM India yang hanya sekitar dua kali GNP rakyatnya.
Belum lagi fasilitas kenegaraan presiden yang massif. Seperti diungkap Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), total anggaran untuk Istana Presiden tahun 2010 mencapai Rp 203,8 miliar. Misalnya Rp 42 miliar hanya untuk pos anggaran baju baru Presiden dan mebeler istana. Juga Rp 60 miliar untuk renovasi gedung Setneg. Sedang perjalanan Presiden SBY menghabiskan anggaran 2010 sebesar Rp 179 Milyar lebih.

Disetujuinya pembelian pesawat oleh DPR, tampaknya untuk mengimbangi cap hedonisme pada politisi Senayan. Mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas,  dalam pidato kebudayaan di Pasar Seni Cikini, pejabat Indonesia terjangkiti penyakit hedonisme. Terbukti misalnya, sekadar renovasi Ruang Rapat Banggar DPR menelan lebih Rp 20 Milyar sebelum disemprit rakyat. Satu toilet pun dihargai jutaan rupiah.
Niscaya menangis sedih para Founding Fathers Republik Indonesia bila menyaksikan hedonisme pemimpin negeri yang mereka wariskan saat ini. Majalah Tempo Edisi 14 Juli 2008 mengungkapkan, dulu Menteri Penerangan M Natsir cuma berkendara mobil DeSoto kusam. Pada 1956, Natsir ditawari sebuah mobil sedan mewah buatan AS, namun ia menolak.

Setelah melepas jabatan sebagai Perdana Menteri, Natsir menanggalkan mobil dinasnya di Istana Kepresidenan. Ia lalu pulang ke rumah dengan membonceng motor sopirnya.

Dengan kebersahajaan hidupnya, nama Natsir harum seantero dunia. PM Jepang Takeo Fukuda menilai, Natsir bukan saja seorang pemimpin dunia Islam, tapi juga pemimpin dunia internasional. Bagi Fukuda, berita wafatnya Natsir “lebih dahsyat daripada jatuhnya gelegar bom di Hiroshima’’. Shodiq Ramadhan | Selasa, 28 Februari 2012 | 15:59:16 WIB suara islam online

(nahimunkar.com)

(Dibaca 141 kali, 1 untuk hari ini)