Jenazah Daoed Joesoef di rumah duka. (Foto: dok. Agritama Prasetyanto)/kprnc

18 Tahun Idap Sakit Jantung

Kabar meninggalnya Daoed Joesoef Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1978-1983 ini didapatkan dari Wakil Ketua Yayasan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Clara Joewono pada Rabu (24/1) dinihari, seperti yang dikutip dari laman Kompas.com, Rabu (24/1/2018).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Soeharto, Daoed Joesoef meninggal pada usia 91 tahun. Keluarga menuturkan, mendiang Daoed meninggal karena penyakit jantung yang diidapnya selama 18 tahun.

“Sakit jantung, sudah dipasang ring sejak umur 73 tahun,” kata Bambang Pharmasetiawan, menantu dari mendiang Daoed di rumah duka, Jalan Bangka VII Dalam, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (24/1/2018), tulis berita.lewatmana.com

Daoed Joesoef  mengusulkan agar sekolah tidak lagi mengajarkan pendidikan agama, tapi Istana agar merayakan natal

Gagasan Daoed yang cukup menggegerkan adalah ketika ia mengusulkan agar sekolah tidak lagi mengajarkan pendidikan agama. Pasalnya pengajaran agama bukan menjadi urusan pemerintah, melainkan urusan pribadi, hak prerogatif keluarga dan tugas dari komunitas agama yang bersangkutan.

Hujatan dan kritikan terhadap Daoed Joesoef pun mengalir deras, salah satunya datang dari mantan Menteri Agama Prof HM Rasjidi. Ia menuturkan bahwa umat Islam tidak akan menyerahkan pendidikan agama kepada mereka yang tidak percaya agama, sama halnya seperti harta yang tidak boleh dipercayakan kepada pendusta.

“Bahkan lebih dari itu, harta benda bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan amanat keyakinan dan iman kita bagi anak-anak kita,” demikian kata Rasjidi dalam buku Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional.

Tudingan yang ditujukan kepada Daoed Joesoef yang dilahirkan di Medan pada 8 Agustus 1926 pun semakin menjadi. Karena di antaranya, Daoed juga pernah mengeluarkan usulan agar Istana turut merayakan Natal.

Berikut ini kutipan dari sebuah media online. Silakan simak.

***

Mengenang Sosok Daoed Joesoef, Tokoh Pengagung Islam yang Malah Dituding Anti-Islam

Penulis Niken Olivia

Berita duka datang dari dunia pendidikan Indonesia, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef, meninggal dunia pada Selasa (23/1) malam, tepatnya pukul 23.55 WIB. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan.

Kabar terkait berpulangnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1978-1983 ini didapatkan dari Wakil Ketua Yayasan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Clara Joewono pada Rabu (24/1) dinihari, seperti yang dikutip dari laman Kompas.com, Rabu (24/1/2018).

Daoed Joesoef, sosok di antara deretan menteri Orde Baru yang paling melekat di dalam kenangan para pelajar dan mahasiswa di era 1970-an lantaran merasa sebagai ‘korban’ kebijakannya. Menjabat sebagai Menteri Pendidikan antara tahun 1978-1983, ia memperpanjang masa belajar selama enam bulan.

Tahun ajaran baru di Indonesia dimulai setiap Januari. Aturan tersebut telah berlaku sejak puluhan negara ini meraih kemerdekaan. Namun Daoed Joesoef mengeluarkan kebijakan dengan mengubah tahun ajaran baru menjadi Juni. Dan aturan tersebut berlaku hingga saat ini, dilansir Detik.com.

Nama Daoed Joesoef tak hanya lekat dalam ingatan para pelajar, namun juga bagi sebagian besar kalangan umat Islam. Sosok yang pernah aktif dan menjadi salah seorang petinggi di lembaga kajian CSIS ini dianggap kerap kali mengeluarkan kebijakan yang dianggap penuh dengan kontroversi.

Salah satunya dirasakan oleh kaum Islam di pengujung 1970-an, di mana mereka tidak lagi mendapatkan jatah libur sekolah sebulan lamanya selama Ramadan seperti yang dirasakan para pelajar di era sebelumnya. Pasalnya begitu Daoed menjabat sebagai menteri, kebijakan libur tersebut pun berubah.

Menurutnya, di bulan yang penuh berkah seperti Ramadan, tidak seharusnya kegiatan belajar dan mengajar yang dianggap sebagai ibadah dihentikan. Sama halnya seperti kebijakan pemerintah yang memaksa tempat hiburan dan warung makan ditutup selama bulan Ramadan.

“Padahal, kalau kita melihat orang makan, sebenarnya justru menjadi ujian keimanan. Ramadan adalah bulan penuh ibadah, belajar pun bagian dari ibadah. Tapi kenapa justru sekolah harus libur,” dalih Daoed kala itu, dikutip dari Detik.com, Rabu (24/1/2018).

Dan ternyata bukan hanya masalah sekolah masuk selama Ramadan, Daoed juga pernah mengeluarkan usulan agar Istana turut merayakan Natal, sama halnya ketika merayakan hari-hari besar keagamaan Islam, seperti misalnya Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun Soeharto menolak usulan tersebut.

Cara Daoed bersikap sebagai menteri, yaitu di mana ia menolak mengucapkan salam secara Islam saat menyampaikan sambutan juga menuai kontroversi. Ia berdalih, sebagai pejabat publik di negara yang majemuk, dan bukan negara yang berdasarkan agama, hal itu patut dilakukan.

“Aku berpidato sebagai menteri dari Negara Republik Indonesia yang adalah negara kebangsaan yang serbamajemuk, multicultural, multiagama, dan kepercayaan, multisuku da nasal-usul, dan lain-lain, bukan negara agama dan pasti bukan negara Islam,” demikian bunyi tulisannya dalam buku Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran, 2006.

Gagasan Daoed yang cukup menggegerkan adalah ketika ia mengusulkan agar sekolah tidak lagi mengajarkan pendidikan agama. Pasalnya pengajaran agama bukan menjadi urusan pemerintah, melainkan urusan pribadi, hak prerogatif keluarga dan tugas dari komunitas agama yang bersangkutan.

Hujatan dan kritikan terhadap Daoed Joesoef pun mengalir deras, salah satunya datang dari mantan Menteri Pendidikan Prof HM Rasjidi. Ia menuturkan bahwa umat Islam tidak akan menyerahkan pendidikan agama kepada mereka yang tidak percaya agama, sama halnya seperti harta yang tidak boleh dipercayakan kepada pendusta.

“Bahkan lebih dari itu, harta benda bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan amanat keyakinan dan iman kita bagi anak-anak kita,” demikian kata Rasjidi dalam buku Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional.

Tudingan yang ditujukan kepada Daoed Joesoef yang dilahirkan di Medan pada 8 Agustus 1926 pun semakin menjadi. Bahkan hingga keislamannya diragukan hanya karena namanya yang dinilai sebagai perpaduan dua nabi, yaitu Daud dan Yusuf. Ia dituding melecehkan Islam karena nama tersebut.

“Saya bilang, siapa yang melecehkan, saya justru mengembalikan kemuliaan Islam,” tuturnya dalam buku tersebut./ http://www.suratkabar.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 4.040 kali, 1 untuk hari ini)