Meninggalnya Ulama Kemudian Belum Terlihat Pengganti yang Menyamainya

 

Meninggalnya Ulama kemudian belum terlihat pengganti yang menyamainya, sama dengan hilangnya ilmu Islam.

Hari demi hari dikhawatirkan ilmu Islam semakin hilang lantaran wafatnya para ulama. (Ulama atau kyai NU yang meninggal di masa pandemi ini saja hampir 600 kyai, menurut berita. Berarti betapa banyak ilmu yang hilang ikut dikubur). Padahal beramal tanpa ilmu itu kalau toh benar, misalnya, hanya kebetulan benar. Bukan berarti benar. Amal yang benar haruslah yang berlandaskan ilmu, yaitu dalil ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan duga2, bukan juga sekedar ikut-ikutan.

Tidak jarang khatib2 jum’at pun mengkhutbahkan hadits2 yang sejatinya palsu (maudhu’) dengan tenangnya seolah itu hadits shahih. Mungkin karena memang tidak punya ilmu, mungkin juga tadinya belajar ke guru yang begitu juga. Jadinya Umat terjerumuskan (walau niatnya tidak begitu, tapi karena kebodohan).

Itu lah bahayanya ketika umat ini dipimpin orang2 yang tidak berilmu. Sayangnya, seakan sudah menjadi hal biasa. Padahal itu sejatinya adalah wabah yang sangat berbahaya pula. Tapi kalau dibilangi, malah mereka mangar2 mencak2 dengan berbagai dalih.

Begitulah.

Celakanya, ketika amaliyah tanpa dalil atau bahkan bertentangan dengan dalil, namun sudah banyak dilakukan orang, kemudian diingatkan oleh pihak yang peduli mengingatkannya disertai dalil yang shahih, maka dalil itupun ditentang sejadi-jadinya. Imma dengan mencari-carikan dalil untuk membantahnya, wa imma dengan mencari dalih2 lain sekenanya (sak kecekele). Hingga seakan apa yang dilakukan banyak orang itulah agama. Maka dibela mati-matian.

Jadinya terbalik. Mestinya, beragama itu mengikuti dalil, namun dibalik menjadi: orang yang kelas (level) sebenarnya dia memiliki dalil namun justru dalilnya ditinggalkan, pilih ikut kelakuan dan apa yang dilakukan orang banyak. Hmmm….

(nahimunkar.org)

***

Ngakunya Ahli Sunnah tapi kok Nekat Melestarikan Bid’ah

Posted on 1 Agustus 2020

by Nahimunkar.org


Ngakunya Ahli Sunnah tapi kok Nekat Melestarikan Bid’ah

 
 

Silakan simak ini.

https://www.nahimunkar.org/macam-inikah-ketuhanan-yang-berkebudayaan/

 
 

Macam Inikah ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’?

Posted on 25 Juni 2020

by Nahimunkar.org

  •  
     

    Macam Inikah ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’?


      
     

    Lagi Ramai Umat Islam Menolak RUU HIP, Muncul di Medsos soal Tahlilan, Macam Inikah ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’?


      
     

    Umat Islam Indonesia sedang ramai memprotes RUU HIP, karena sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan Ketuhanan Yang Berkebudayaan di RUU HIP. Protes keras Umat Islam Itu karena RUU tersebut ditengarai memberi peluang bangkitnya komunis PKI musuh agama dan telah 4 kali memberntak RI dan membantai Umat Islam dan tantara. Nah, sasaran akhir RUU HIP itu adalah mendudukkan agama (Islam) sebagai budaya. Itu telah dikembangkan di sekolah dan perguruan tinggi Islam oleh kementerian Agama, disebut dengan multikulturalisme. Menurut multikulturalisme ini, tidak boleh ada kultur yang mengaku hanya kulturnya sendirilah yang benar. Bila mengaku hanya kulturnya sendiri yang benar, maka disebut sebagai sumber konflik, hingga disebut sebagai musuh Bersama. Nah, Ketika Islam itu mengaku bahwa hanya Islam lah yang benar (lihat QS Ali ‘Imran ayat 19 dan ayat 85), maka (bila RUU HIP itu disahkan jadi Undang Undang) jadinya Islam (yang sudah didudukkan sebagai kultur alias budaya itu) dinilai sebagai sumber konflik, jadi Islam menjadi musuh Bersama, musuh dari semuanya yang bukan Islam ataupun yang ngaku Islam namun benci Islam (munafik). Dan itu sudah disediakan perangkatnya, yaitu BPIP yang ketuanya pernah bilang, musuh terbesar Pancasila adalah agama. Dan Kemenag juga sudah membuat buku multikulturalisme bahkan diajarkan di sekolah2 dan perguruan tinggi Islam, dan sudah ditatarkan ke guru2 PAI (Pendidikan Agama Islam).


    Salah satu judul buku Kemenag ini adalah“Panduan Integrasi Nilai Multikultur Dalam Pendidikan Agama Islam Pada SMA dan SMK.” (lihat Multikulturalisme Sama Bahayanya dengan Pluralisme https://www.nahimunkar.org/multikulturalisme-sama-bahayanya-dengan-pluralisme/)


    Oleh karena itu, penggantian sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan Ketuhanan Yang Berkebudayaan di RUU HIP itu adalah untuk menghancurkan Islam, menjadikan Islam sama dengan budaya, maka kalau tetap mengaku bahwa hanya Islamlah yang benar, tinggal disebut sebagai sumber konflik, lalu dijadikan sebagai musuh bersama. Lihat artikel selengkapnya di sini: https://www.nahimunkar.org/ruu-hip-jadikan-islam-sebagai-musuh-bersama/?


      
     

    Di tengah ramainya kasus RUU HIP yang arahnya untuk menghancurkan Islam itu ternyata muncul di media social ‘kalam kyai soal tahlilan’. Ada yang mengaitkan dengan kasus yang sedang ramai, ‘Ketuhanan yang berkebudayaan’. Karena satu sisi sang kyai mengakui, di kitab rujukan, I’anatut Thalibin, upacara tahlilan itu disebut bid’ah munkarah. Orang yang memeranginya akan mendapat pahala.


    Lalu komentar kyai yang mengutip kitab tersebut: tapi persoalannya ini sudah menjadi budaya. Sudah menjadi adat. Jika diperangi maka kita yang akan dimusuhi oleh orang-orang.


    Demikian postingan yang memberi keterangan bahwa itu ucapan KH Muhamad Idrus Ramli – pendekar Aswaja.


    Postingan itu disertai ungkapan: Mungkin ini ya maksudnya ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’… Ketuhanan yang tunduk pada budaya!


      
     

    Silakan simak ini.


    ***


      
     

    Ketuhanan yang Berkebudayaan?

     

    Muhammad Abduh


    Kemarin pukul 07.20


    Mungkin ini ya maksudnya ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’… Ketuhanan yang tunduk pada budaya!


      
     

    ***


    Postingan itu rupanya telah didahului adanya video yang beredar. Ini URL-nya:


    https://www.youtube.com/watch?v=5lKqShQP0bI&fbclid=IwAR09eEI-8OOCAcbhwAEW3g-GQS91lXDZjVmXYSPLhpgtJgry7mLp4-97sLw


    Adapun kitab I’anatut Thalibin yang menyebut bid’ah munkarah mengenai tahlilan itu silakan simak di sini: https://www.nahimunkar.org/tahlilan-dalam-pandangan-nu-muhammadiyah-persis-al-irsyad-wali-songo-ulama-salaf-dan-4-mazhab-ii/?


    Terjemahan kalimat yang telah digaris bawahi di dalam Kitab I’anatut Thalibin :


  1. Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bid’ah Mungkar, yang bagi orang (ulil amri) yang melarangnya akan diberi pahala.


  2. Dan apa yang telah menjadi kebiasaan, ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya, adalah Bid’ah yang dibenci.


  3. Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bid’ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.


  4. Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit, karena telah disyari’atkan tentang keburukannya, dan perkara itu adalah Bid’ah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, dari Jarir ibnu Abdullah, berkata : “Kami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahah”


  5. Dan dibenci menyelenggarakan makanan pada hari pertama, ketiga, dan sesudah seminggu dst.
    https://www.nahimunkar.org/tahlilan-dalam-pandangan-nu-muhammadiyah-persis-al-irsyad-wali-songo-ulama-salaf-dan-4-mazhab-ii/?


(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 247 kali, 1 untuk hari ini)