Oleh: *Yusuf Blegur

 


Ilustrasi. “Polisi Pribumi Penyembah Kolonial Belanda, Mereka Memperlakukan Bangsanya Sendiri Seperti Pesakitan Pendosa Tak Termaafkan. 

Dulu Dan Sekarang Sama Saja, Cuma Bedanya Penyebutan Wae ,” ujar akun @Razzz___N7678 yang mengunggah foto di Twitter.

 

Gelombang dan arus besar ketidakpastian sebagai suatu negara bangsa, tak pernah surut dan memudar hingga kini.
Terus menyeret sembari
menggerus identitas dan karakter nasional.
Semangat dan keyakinan Pancasila tenggelam di kedalaman lautan kapitalis yang global.
Cita-cita proklamasi berbalut UUD 1945 dan NKRI, semakin hanyut dan perlahan lenyap ditelan kerak bumi nusantara.

Negara sudah lama merdeka, tapi maknanya tak pernah terasa dan menjadi fakta.
Penjajah memang sempat hengkang, namun terlanjur suka dan kembali ingin terus berkuasa.
Pribumi bumiputera semakin terlena, menyambut hangat dengan perasaan suka dan bangga meski hidup sengsara dan menderita.
Mencintai orang asing dengan jamuan sumber daya alam berlimpah, sembari membangun konflik memusuhi, melukai bahkan sanggup membunuh saudaranya sendiri.

Harta dan jabatan terus diburu menjadi kebutuhan utama.
Keringat, air mata dan darah menjadi alat tukar yang murah laksana cinderamata.
Persatuan dan kesatuan hanya sekedar kedok dari ambisi pribadi dan kelompok.
Negara yang dibajak penguasa, telah lama hadir sebagai kekuatan baru kolonialisme dan imperialisme bagi rakyatnya sendiri.

Saat propaganda nasionalisme seiring sejalan dengan kokohnya oligarki dan maraknya KKN.
Tak ada lagi patriotisme, yang ada hanya strategi liberalisasi dan sekulerisasi guna merampok negara dan penaklukan kesadaran sekaligus gerakan perlawanan.
Menjadi bangsa religius namun tanpa spiritual, menggandrungi agama tapi tak Bertuhan.
Indonesia tercinta begitu komitmen dan konsisten, secara nasional berkonsensus ria menjaga kemunafikan bangsa.

*Mantan Presidium GMNI

suaranasional.com, 10/05/2022ByIbnu Maksum

***

 

Polisi Pribumi Penyembah Kolonial Belanda, Mereka Memperlakukan Bangsanya Sendiri seperti Pesakitan Pendosa Tak Termaafkan

Posted on 25 April 2022

by Nahimunkar.org

Netizen mengunggah foto zaman penjajahan Belanda dimana polisi pribumi memperlakukan bangsanya sendiri dengan nista.

 
 

“Polisi Pribumi Penyembah Kolonial Belanda, Mereka Memperlakukan Bangsanya Sendiri Seperti Pesakitan Pendosa Tak Termaafkan. 

 
 

Dulu Dan Sekarang Sama Saja, Cuma Bedanya Penyebutan Wae ,” ujar akun @Razzz___N7678 yang mengunggah foto di Twitter.

 
 

Dalam foto yang diunggah tampak wajah bengis polisi kacung Belanda itu.

Polisi Pribumi Penyembah Kolonial Belanda, Mereka Memperlakukan Bangsanya Sendiri Seperti Pesakitan Pendosa Tak Termaafkan. 

Dulu Dan Sekarang Sama Saja, Cuma Bedanya Penyebutan Wae  pic.twitter.com/RJb3pzUsrn

—  Razzz (@Razzz___N7678) April 24, 2022

 
 

[PORTAL-ISLAM.ID] Senin, 25 April 2022 SOSIAL MEDIA

***

Akan Datang Zaman, Ada Pemimpin Sufaha’ Mengutamakan Orang-orang Jahat Dicitrakan sebagi Orang Baik

Akan Datang Zaman, Ada Pemimpin Sufaha’ Mengutamakan Orang-orang Jahat Dicitrakan sebagi Orang Baik

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ سُفَهَاءُ يُقَدِّمُونَ شِرَارَ النَّاسِ، وَيَظْهَرُونَ بِخِيَارِهِمْ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ، فَلَا يَكُونَنَّ عَرِيفًا وَلَا شُرْطِيًّا وَلَا جَابِيًا وَلَا خَازِنًا» . رواه أبو يعلى وابن حبان في صحيحه، وقال الهيثمي: رجاله رجال الصحيح خلا عبد الرحمن بن مسعود وهو ثقة اهـ. وحسنه الألباني.

“Akan datang suatu masa kepada umat manusia, pemimpinnya adalah Sufaha, lebih mengutamakan orang – orang jahat sebagai pembantunya namun mereka mencitrakannya sebagai orang-orang baik. Mereka selalu mengakhirkan shalat. Barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi penasehatnya, polisinya, pemungut pajaknya dan bendaharanya.”

(Hadits Riwayat Abu ya’la dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan berkata Haitami: para rijalnya shahih, dan di hasankan oleh Al Bani).

 
 

Penjaga Keamanan Yang Tidak Taat Kepada Allah subhanahu wa ta’ala .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

  
 

سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ“.

“Akan datang di akhir zaman adanya petugas keamanan yang di pagi hari di bawah kemurkaan Allah, dan sore harinya di bawah kebencian Allah. Hati-hatilah kamu menjadi bagian dari mereka.”

(HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 7616. Imam Al Munawi mengatakan: shahih. Lihat _At Taisir bi Syarh Al Jaami’ Ash Shaghiir,_2/192).

  
 

Membenci Arab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

  
 

يا سلمان لا تبغضنى فتفارق دينك. قلت يارسول الله كيف ابغضك وبك هدانا الله. قال تبغض العرب فتبغضني

“Wahai Salman. Janganlah kamu membenciku. Hal itu akan berdampak engkau akan terlepas dari Agamamu. Salman bertanya : Bagaimana aku membencimu. Padahal kami mendapat Hidayah karena keberadaanmu ? Engkau membenci Arab maka engkau telah membenciku.”

(HR. At Tirmidzi No. 3927, katanya: Hasan. Ahmad No. 23731, Al Hakim dalam _Al Mustadrak_ No. 6995, katanya : shahih. Sebagian Ulama yang lain menilai hadits ini doif).

 (nahimunkar.org)