Ibn Sirrin berkata, “Dulu mereka (para ulama) tidak pernah bertanya tentang sanad. Namun ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata, ‘Sebutkan pada kami rijaal kalian’. Apabila ia melihat rijaal tersebut dari kalangan Ahlus-Sunnah, maka diterima haditsnya, dan jika dari kalangan ahli-bid’ah, maka tidak diterima” (Muqaddimah Shahih Muslim 1/27)

Cukup dari qoul tabi’in di atas kita tahu bahwa sanad yang didapat dengan cara mangkul (istilah di firqah Islam Jamaah bikinan Nur Hasan Ubaidah, red nm) dimaksudkan untuk menghindari fitnah dan bukan untuk mengesahkan amalan.

Kemudian setelah hadits-hadits Rasul selesai dibukukan oleh para ulama (Bukhori, Muslim, dll) berikut pembukuan syarah haditsnya (Ibn Hajar, Nawawi, dll)…

Dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Khathab radliyallaahu ‘anhu ia berkata, “Ikatlah ilmu dengan kitab (maksudnya dengan ditulis).” (Al-Mustadrak no.359 dan no.360)

Maka pemeliharaan sanad bukan lagi keharusan sebab ilmu sudah terikat sehingga pintu fitnah telah tertutup.

Sementara syarat shahihnya sanad itu berat dimana kondisi perowi harus diperhatikan.

Salah satu kriteria penilaian perowi yakni dari kejujurannya dalam bertutur kata. Karena jika kita menerapkan kaidah para ahli hadits, maka bila seorang perowi ketahuan pernah berdusta sekali saja bukan pada hadits Nabi akan tetapi dusta pada perkara yang lain, maka perowi ini dihukumi muttaham bil kadzib (tertuduh dusta), dan periwayatannya tertolak atau tidak diterima.

Lantas bagaimana jika perowi terkait tergabung dalam jama’ah yang imamnya menganjurkan berdusta dalam perjuangannya (CAI th.2000 hlm.119)..?

>>> Zaman meriwayatkan hadits telah berlalu. Pentingnya ilmu sanad pada masa itu adalah untuk menjernihkan hadits-hadits Rasuulullaah shallAllaahu ‘alayhi wa sallam dari berbagai upaya pemalsuan yang disandarkan kepada beliau shallAllaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah para ulama membukukan hadits-hadits dalam kitab-kitab seperti Shahih al-Bukhari dan Muslim, kitab-kitab Sunan, kitab-kitab Jami’, Musnad, Mu’jam, dan yang lainnya—setelah berlalunya zaman riwayat tersebut—sanad sudah tidak terlalu urgen dibandingkan zaman riwayat.

>>> Ya, para ulama ada yang masih memiliki sanad periwayatan sampai kepada kitab-kitab hadits tersebut, namun hanya sekadar memelihara sanad, tanpa memerhatikan keadaan seorang perawi apakah dia tepercaya atau tidak. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Shalah rahiimahullaah. Beliau rahiimahullaah berkata, “Pada masa ini sudah tidak mungkin mengetahui hadits yang sahih dengan hanya bersandar kepada sanad, karena tidak satu pun sanad tersebut melainkan engkau mendapati perawinya—yang dijadikan sandaran dalam kitab tersebut—tidak memenuhi syarat disahihkannya sebuah hadits, baik hafalan maupun ketelitian. Oleh karena itu, cara untuk mengenal hadits sahih dan hasan adalah dengan bersandar kepada ucapan para imam hadits dalam karya mereka yang masyhur, yang dijadikan rujukan dan selamat dari perubahan. Jadi, tujuan inti adanya sanad—yang telah keluar dari jalur riwayat tersebut—sekadar menjaga adanya sanad tersebut yang merupakan kekhususan umat ini.”
(Muqaddamah Ibnu Shalah, bersama Taqyid wal Idhah, Al-Iraqi hlm. 24)

Bukti Bukti Kesesatan Jamaah LDII

>>> Para ulama menjaga sanad untuk memelihara kemurnian dua wahyu, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan untuk meyakini bahwa yang belajar agama tanpa memiliki sanad berarti ilmunya tidak sah atau Islamnya tidak sah. Tidak semua kaum muslimin sejak zaman dahulu memiliki sanad yang bersambung sampai kepada Rasuulullaah shallAllaahu ‘alayhi wa sallam.

Di zaman sekarang ini, sanad bukan lagi ukuran dalam mencari ilmu. Karena telah panjangnya sanad dan banyak sekali di dalamnya perawi yang majhul dari segi keadilan[1] dan kedhabitannya[2].

Komisi Fatwa di Arab Saudi, Al-Lajnah Al-Da’imah Lil Buhuth Al-’Ilmiyyah Wal Ifta’ ditanya oleh seseorang yang menjadikan ijazah/sanad sebagai tolak ukur mencari hadits dan ilmu,

هل بقي أحد من العلماء الذين يصلون بإسنادهم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى كتب أئمة الإسلام؟ دلونا على أسمائهم وعناوينهم حتى نستطيع في طلب الحديث والعلم إليهم?

“Apakah masih ada dari para ulama yang bersambung isnad mereka sampai dengan Rasuulullaah shallAllaahu ’alayhi wa sallam dan kepada kitab-kitab para imam Islam? Sebutkanlah kepada kami nama-nama mereka dan alamat-alamat mereka sehingga kami dapat mencari hadits dan ilmu dari mereka?!”.

Lajnah menjawab dalam fatwanya (4/371) no. 3816,

يوجد عند بعض العلماء أسانيد تصلهم بدواوين السنة، لكن ليست لها قيمة؛ لطول السند، وجهالة الكثير من الرواة عدالة وضبطا. وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

“Masih terdapat disisi sebagian ulama sanad-sanad yang menyambungkan mereka dengan kitab-kitab sunnah, akan tetapi yang demikian sudah tidak ada nilainya lagi, karena panjangnya sanad dan banyak di dalamnya perawi majhul dari segi keadilan dan kedhabitannya. Wabillahitawfiq, sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, dan kepada Keluarga dan Shahabatnya”.

Fatwa itu ditandatangani oleh para ulama ahli hadits Arab Saudi dalam komisi fatwa, diantaranya,
1. Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahullahu [3] (anggota)
2. Syaikh Abdullah bin Ghudayyan rahimahullahu [4] (anggota)
3. Syaikh Abdurrazaq Afifi rahimahullahu [5] (anggota)
4. Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu [6] (ketua)

Fatwa ini sama sekali bukan menafikan kebiasaan para ulama hadits yang masih mempertahankan tradisi salaf terdahulu dalam memberi dan menerima periwayatan (sanad/ijazah). Sebab para ulama diatas juga memilikinya. Hanya saja, dizaman sekarang ini hal tersebut bukan lagi ukuran karena telah panjangnya sanad sedangkan kitab-kitab hadits telah dibukukan dan mutawatir di tangan umat Islam.

ldii

Catatan kaki:

[1] Keadilan para perowinya yaitu Muslim, berakal, baligh, taqwa, tidak suka berdusta, bukan orang fasiq, dan lain-lain.

[2] Hafalannya kuat, tidak sering salah, dan lain-lain.

[3] Beliau adalah Abdullah bin Hasan bin Muhammad bin Hasan bin Abdullah Qu’ud. Anggota komisi fatwa dan Hai’ah Kibar Ulama Saudi. Imam dan Khotib di salah satu mesjid besar di Riyadh. Meninggal pada 9 Ramadhan 1426 H (13 Oktober 2005 M) di kota Riyadh.
Biografi beliau disebutkan oleh Syaikh Athoulloh dalam Kitab Syaikh Abdullah bin Qu’ud Hayatuhu wa Da’watuhu.

[4] Beliau adalah Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan. Ulama Anggota Majelis Fatwa Arab Saudi dan Haiah Kibar Ulama. Beliau wafat pada Selasa, 18 Jumadil Akhir 1431 H (1 Juni 2010 M).

[5] Beliau adalah Abdurrazaq bin Afifi bin Athiyah bin Abdul Barr bin Syarifuddin. Syaikhnya para Masya’ikh dan anggota ulama besar Arab Saudi, salah satu rekan dan murid dari Syaikh Abdul Dhohir Abu Samah dari Mesir, Beliau wafat pada Kamis pagi, 25 Rabiul Awwal 1415 H (1 September 1994 M).
Lihat biografi beliau dalam risalah Ithaf an-Nubala bi Siroh Al-Allamah Abdurrazaq Afifi, atau dalam Siroh Hayat Syaikh Abdurrazaq Afifi karya Syaikh Muhammad bin Ahmad pengajar di Darul Hadits Mekkah.

[6] Beliau adalah Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Abdurrahman ibn Muhammad ibn Abdullah Al-Baaz. Mufti besar Arab Saudi setelah Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh. Beliau wafat di kota Thaif, beberapa saat sebelum shubuh, Kamis 27 Muharram 1420 H (18 April 1999 M).
Kitab yang menyebutkan biografi beliau sangat banyak, diantara yang paling bagus adalah tulisannya Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan.

/ محمد أيوب via fb HAJ

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.945 kali, 1 untuk hari ini)