Ilustrasi

.

  • Jadi sebetulnya, Syi’ah orang dulu itu pembelaan terhadap Ali dari orang-orang yang menzaliminya, bukan untuk memusuhi Abu Bakar dan Umar. Di situ letak perbedaannya dengan Syi’ah zaman sekarang. Maka saya tidak melihat, bahwa Syaikh bin Baz & Syaikh Utsaimin itu kemudian menganjurkan kita untuk berukhuwah dengan orang-orang Syi’ah. Sama sekali tidak. Karena beliau dalam masalah wala’ dan bara’ jelas. Bahwa terhadap Ahli Bid’ah itu kita tidak boleh bermesra-mesraan dengan mereka.

Tegas terhadap Syi’ah Rafidhah bahwa itu ajaran menyimpang dan sesat adalah bagian dari sikap para ulama Islam dalam kitab-kitab mereka, semisal Imam Al-Barbahari dalam kitabnya, Syarh al-Sunnah:

“Barangsiapa beriman terhadap akidah raj’ah dan menyatakan: Ali bin Abi Thalib masih hidup dan akan kembali sebelum hari kiamat; begitu juga Muhammad bin Ali dan Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far. (dan meyakini) mereka berbicara tentang imamah, dan mereka mengetahui ilmu ghaib, maka berhati-hatilah terhadap mereka, karena mereka adalah kuffar (orang-orang kafir) terhadap Allah yang Maha Agung.” (Syarh al-Sunnah: 59)

Sejumlah ulama Islam generasi awal juga telah memiliki aqwal perihal sesat dan kafirnya ajaran Syi’ah Rafidhah ini. Silahkan baca: Beda Ust Muzakir & Ulama Islam Soal Kafirnya Syi’ah.

Namun di zaman yang Syi’ah mulai memperlihatkan kedengkiannya terhadap kau muslimin di seluruh dunia sekarang ini, ada sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada sunnah tidak mau menyesatkan Sekte Syi’ah. Bahkan ia cenderung membela Syi’ah dan rezim pendukungnya seperti Iran dan Basyar Asad di Suriah.

Lebih parah lagi, supaya Syi’ah tidak dimusuhi, pihak ini mencomot perkataan dan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, dengan mengatakan, “mereka membela orang-orang yang masih membuka kran ukhuwah dengan Syi’ah.

Menjawab syubhat di atas, voa-islam.com menanyakannya kpd Ustadz DR. Mu’inuddinillah Basri yang pernah bermulazaman dengan para ulama di atas. “jadi apakah benar fatwa-fatwa beliau itu konteksnya seperti itu?” kalimat pertanyaan yang kami tujukan kepada beliau.

Beliau menjawab: Saya tahu Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin. Mereka itu sebetulnya membedakan antara Al-Hukmu ‘Ala al-A’yan wa al-Hukmu ‘Ala al-fikroh. Itu sebetulnya. Jadi tegaskan yang namanya Syi’ah ketika kriterianya rafidhah itu demikian demikian, itu dhalal itu kafir. Itu jelas, sharih. Adapun Syi’ah Zaidiyah di lapangan tidak ada. Adanya di Yaman. Itu tidak kafir. Kemudian kalau syi’ah demikian apakah  juga disebut orang Syi’ah dalam arti menunjukkan Syi’ah apakah kafir? Belum tentu, perlu rincian. Karena apa? Ternyata ada Syurai’ yang menyanjung Abu Bakar dan Umar. Dia Syi’ah. Tapi ternyata berbeda perkembanganya Syi’ah dulu dengan Syi’ah sekarang.

Syi’ah dulu itu hanya pembelaan kepada Ali.Karena Ali memang ada musuhnya dari kalangan munafikin. Jadi memang, sesuai catatan sejarah memang ada yang membenci Ali. Seperti saatAli bin Abi Thalib diminta Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tetap berada di Madinah.Kemudian orang-orang munafikin ngomong: Ali, engkau disuruh ke Madinah, kan karena Nabi tidak ingin kau temani. Kemudian Ali dihibur oleh NabiShallallah ‘Alaihi Wasallam, “alaa tardho an takuna minni kamanzilati harun min musa illa anna laa nabiyya min ba’di”(tidakkah kamu ridha kedudukanmu terhadapku seperti kedudukan Harun dari Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku).

 Jadi sebetulnya, Syi’ah orang dulu itu pembelaan terhadap Ali dari orang-orang yang menzaliminya, bukan untuk memusuhi Abu Bakar dan Umar. Di situ letak perbedaannya dengan Syi’ah zaman sekarang. Maka saya tidak melihat, bahwa Syaikh bin Baz & Syaikh Utsaimin itu kemudian menganjurkan kita untuk berukhuwah dengan orang-orang Syi’ah. Sama sekali tidak. Karena beliau dalam masalah wala’ dan bara’ jelas. Bahwa terhadap Ahli Bid’ah itu kita tidak boleh bermesra-mesraan dengan mereka. Karena yang namanya ukhuwah atas dasar aqidah bagaiman dengan ahli bid’ah? “

. . . Jadi sebetulnya, Syi’ah orang dulu itu pembelaan terhadap Ali dari orang-orang yang menzaliminya, bukan untuk memusuhi Abu Bakar dan Umar. . .

Kemudian Dr. Mu’in menjelaskan tentang tahkim para ulama terhadap pengikut Syi’ah. Mereka membedakan antara tokoh dengan atba’ (pengikut)-nya. Semisal Syaikh Salman Al-Audah, Safar Hawali, dan ‘Aidh Al-Qorni; mereka mengatakan kalau para tokohnya (syiah, red nm) adalah ahlul kufri, sedangkan atba’nya tidak dikafirkan, karena kebanyakan korban kebodohan dan tertipu.

Ini berlaku terhadap kelompok sesat lainnya, mereka dihukumi sesat lagi kufur secara umum. Terhadap a’yan (personalnya) maka dibedakan. “Mereka tidak bisa kita kafirkan keseluruhan,” kata Ustadz menjabat ketua Tanfidziyah Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS) ini.

Kemudian beliau mencontohkan, “ada orang yang ngaji dengan saya, bertahun-tahun. Marah, gara-gara saya menyinggung Ahmadiyah karena sebelum dijelaskan secara detail, ternyata dia ngomong, ‘saya & keluarga saya Ahmadiyah’. Tapi saya tidak pernah tahu dan tidak pernah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu seorang nabi. Dia seorang mujaddid saja.”

“Jadi dia tidak tahu kan? Apa kayak gini kita kafirkan?” lanjut Ustadz pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Ibnu Abbas, di Klaten, Jawa Tengah ini.

Bahwa sikap tegas para ulama terhadap kelompok sesat tidak diikuti dengan mengafirkan setiap individu (personal) pengikutnya. Kemudian beliau menyebutkan contoh, “Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, “Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka ia telah kafir,” tapi beliau tidak berani mengkafirkan seorang mu’tazilah dan beliau masih mau bermakmum di belakangnya.” Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com] Kamis, 10 Safar 1435 H / 12 Desember 2013 16:12 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.458 kali, 1 untuk hari ini)