.

  • Kalangan Syi’ah ekstrim pada masa dulu adalah kalangan yang memperbincangkan dan mencela Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah serta (mencela) kalangan yang berseteru dengan Ali radhiallahu ‘anhu.

Adapun Syi’ah ekstrim pada masa kini adalah kalangan yang mengkafirkan para sahabat tersebut dan menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Maka ini merupakan murni kesesatan”. (Mizan al I’tidal; 1/5-6).

  • Dengan demikian para ulama terlebih khusus Imam Bukhari masih meriwayatkan dari ulama yang tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ahan) tentunya selama mereka jujur, hafal, wara’ dan amanah. Hal ini mencerminkan sikap para ulama kita yang mau mengambil kebenaran dari mana saja datangnya selama sesuai dengan kaidah-kaidah kebenaran.

 

Inilah berita dan penjelasannya

***

 

Pakar Syi’ah: Melegitimasi Syi’ah dengan Perowi Bukhari, Ciri Syi’ah

Surakarta, An-Najah.net–  Ada pertanyaan yang cukup menarik perhatian peserta kajian, “Kenapa Syi’ah Bukan Islam?” yang diadakan di gedung al-Irsyad Surakarta kemarin ahad (2/2). Dalam pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada Habib Zain al-Kaff, pakar Syi’ah dari Jawa Timur. Seorang peserta menanyakan, “Jika Syi’ah sesat, kenapa imam Bukhari meriwayatkan dari perowi Syi’ah.”?

Pertanyaan yang dibacakan langsung oleh Habib Zain ini, tentu membuat hadirin terhenyak. Sebab, pertanyaan dan isu perowi Syi’ah di hadits Bukhori sudah sering disebut-sebut oleh beberapa orang yang tertuduh Syi’ah. Terutama di Solo, yang sempat heboh dengan isu klarifikasi seorang tokoh yang dituduh Syi’ah.

Selain itu, peserta ingin tahu bagaimana jawaban kalangan Habib yang diwakili oleh Habib Zain al-Kaff. Setelah membaca pertanyaan ini, Habib Zain tersenyum, seraya melihat ke arah hadirin. “Ini pertanyaan bersumber dari orang Syi’ah.” Jawab Habib Zain dengan suara yang jelas.

Tentu saja jawaban beliau ini disambut dengan antusias oleh para peserta kajian. Bahkan sebagian peserta tertawa dan yang laiinya tersenyum cerah.

Petinggi NU Jawa Timur ini menjelaskan lebih lanjut. “Perlu dipahami apa yang dimaksud oleh ulama dahulu tentang tasyayyu’. Mustahil imam Bukhari meriwayatkan dari orang yang beliau sendiri menganggap kafir  madzhabnya. Yaitu orang Syi’ah Rofidhah. Rofidhah oleh imam Bukhari dianggap telah keluar dari Islam. Mana mungkin musuh meriwayatkan dari musuh.”

Pada sesi lain, saat menjelaskan sekte Zaidiyah, yang dianggap paling ringan kebid’ahannya, Habib menegaskan, seringan-ringannya penyimpangan Zaidiyah, para ulama telah memasukkannya dalam jajaran aliran sesat.

Sebenarnya, beberapa pengamat aliran sesat di Indonesia telah menjelaskan syubhat perowi Bukhari ini. Ustadz Anung al-Hamat, peneliti aliran sesat dari Ma’had Ali Al-Islam Bekasi telah menulis bantahan atas syubhat ini. Lihat link ini ! * (Akrom) Publikasi: Senin, 2 Rabiul Akhir 1435 H / 3 Februari 2014 13:29

***

Bukhari Meriwayatkan dari Perawi Syi’ah?


By : Daulat F. Yanuar

Bumisyam – Pada tanggal 1 September 2013 ketika penulis menjadi salah satu narasumber dalam acara bedah buku di Masjid Baitul Makmur Solo Baru Jateng, ada salah satu peserta bedah buku yang mengajukan pertanyaan; Apakah Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari kalangan Syi’ah? Dan beberapa hari kemudian penulis mendapat SMS mengajukan pertanyaan yang hampir sama permasalahannya yaitu benarkah di antara para perawi Imam Bukhari ada kalangan Syi’ah? Rupanya permasalahan ini perlu mendapat tanggapan dan inilah latar belakang perlunya permasalahan ini diangkat sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh khalayak pembaca.

Jika yang dimaksud dengan perawi syi’ah di sini adalah perawi yang mencela, membenci dan mengkafirkan Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang ada dalam statemen-statemen mereka dalam buku-bukunya, maka perawi tersebut harus ditolak dan perawi tersebut tidak akan didapatkan baik dalam Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim.

Ibn Hajar berkata; “(perawi) yang kesyi’ah-syi’ahan menurut pemahaman ulama terdahulu adalah meyakini Ali bin Abi Thalib lebih utama dibandingkan dengan Utsman bin Affan, dalam peperangannya Ali adalah yang benar dan lawannya yang keliru dengan tetap meyakini kekhilafahan Abu bakar dan Umar. Atau dari mereka ada yang meyakini bahwa Ali adalah sosok yang terbaik sesudah Rasulullah saw. Jika keyakinan tersebut berangkat dari sikap seorang perawi yang wara’, agamis, jujur dan mujtahid maka riwayatnya tidak ditolak. Terlebih perawi tersebut tidak mengajak kepada bid’ahnya. Adapun definisi tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ahan) dalam versi ulama generasi akhir adalah murni penolakan terhadap para khalifah; Abu Bakar, Umar dan Utsman. Maka periwayatannya tidak bisa diterima’. (Tahdzib at Tahdzib 1/18).

Imam Dzahabi berkata; “Bid’ah itu ada dua jenis; bid’ah kecil seperti ekstrimnya tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ahan) atau bisa juga kesyi’ah-syi’ahan yang tidak ekstrim.   Maka hal ini banyak terjadi pada kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in, akan tetapi mereka tetap merupakan sosok yang agamis, wara’ dan jujur. Jika hadits mereka ditolak maka akan banyak yang hilang dari hadits-hadits nabi saw dan tentunya ini merupakan kerusakan yang besar.

Kemudian yang kedua adalah bid’ah yang besar seperti menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar secara total, bersikap ekstrim dan melaknat keduanya. Maka periwayatannya tidak bisa menjadi hujjah dan tidak ada kemuliaan bagi mereka. Kalangan ini menjadikan dusta sebagai syi’arnya dan taqiyah serta kemunafikan sebagai selimutnya. Bagaimana bisa keadaan mereka yang seperti ini bisa diterima. Jelas tidak bisa. Kalangan Syi’ah ekstrim pada masa dulu adalah kalangan yang memperbincangkan dan mencela Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah serta (mencela) kalangan yang berseteru dengan Ali radhiallahu ‘anhu.

Adapun Syi’ah ekstrim pada masa kini adalah kalangan yang mengkafirkan para sahabat tersebut dan menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Maka ini merupakan murni kesesatan”. (Mizan al I’tidal; 1/5-6). Selain menyebutkannya dalam Mizan al I’tidal, Imam Dzahabi menyebutkannya agak panjang lebar dalam bukunya yang lain yaitu Siyar A’lam an Nubala.

Jika yang dimaksud perawi syi’ah itu adalah kalangan yang mengutamakan Ali atas Utsman atau atas Abu Bakar dan Umar –radhiallahu ‘anhu- sekalipun tanpa mencela serta tetap menerima kekhilafan mereka dan tidak mengkafirkan mereka, maka akan ditemukan hadits mereka dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Periwayatan mereka diterima selama mereka dikenal dengan sosok yang jujur, hafal dan amanah. Ibn Hajar sendiri sudah menyusun dan menyebutkan nama-nama perawi Bukhari yang tertuduh Syi’ah dalam kitabnya ‘al Hadyu as Sari Muqaddimah Fath al Baari’. Sebuah buku sebagai pengantar dalam memahami Syarh Shahih Bukhari.

Begitu juga dengan para penulis kontemporer yang telah menulis buku tentang konsep Bukhari dan Muslim dalam berinteraksi dengan para perawi syi’ah.   Di antara judul buku yang bisa dijadikan referensi adalah;

a. Konsep Imam Bukhari Dalam Periwayatannya Dari Ahli Bid’ah Dalam Bukunya Al Jami’ as Shahih; Syi’ah Sebagai Sampel. Karya Karimah Sudani. Diterbitkan oleh Maktabah ar Rusyd Riyad.

b. Konsep Bukhari-Muslim Dalam Periwayatannya Dari Kalangan Syi’ah, Universitas Alu al Bait, 2000.

c. Konsep Mengkritik Menurut Ahli Hadits karya Muhammad al Umari, Dar an Nafais, Amman, 2000. Judul buku yang sama bisa juga dilihat dalam buku karya Akram al Umari.

Dengan demikian para ulama terlebih khusus Imam Bukhari masih meriwayatkan dari ulama yang tasyayyu’ tentunya selama mereka jujur, hafal, wara’ dan amanah. Hal ini mencerminkan sikap para ulama kita yang mau mengambil kebenaran dari mana saja datangnya selama sesuai dengan kaidah-kaidah kebenaran.

Untuk memperkuat pernyataan ini bisa dilihat sosok yang bernama Ubaidullah bin Musa bin Badzam (w 219H). Dalam mengomentari kondisi beliau, Imam Dzahabi berkata; Beliau Tsiqah, salah seorang tokoh meskipun di atas tasyayyu’ dan kebid’ahanya”. Ibn Hajar berkata; Beliau tsiqah dan sosok yang tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ahan). Dalam pernyataan lainnya; Termasuk pembesar di antara guru-guru Bukhari. Beliau mendengar dari sebagian ulama yang belum dikeluarkan oleh Bukhari. Abu Hafs Umar bin Syahin dikenal dengan sosok yang sangat ketat dan teliti dalam memberikan penilaian, beliau menyatakan; “(Ubaidullah bin Musa) adalah sosok yang tsiqah”.

Ibn mandah sendiri memasukan Ubaidullah dalam jajaran perawi Bukhari dalam bukunya Tasmiyatul Masyayikh Rawa ‘Anhum al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al Bukhari Fi Kitabihi al Jami’ as Shahih.  Hal ini bisa dilihat dalam manuskrip Idaarah al Makhthuthaat wal maktabaat di kementrian wakaf Kuwait dengan no 1530. Demikian juga al Kalabadzi menyebutkannya dalam bukunya Rijal Shahih al Bukhari dan Ibn Thahir dalam bukunya al Jam’u Baina Rijaal as Shahiihain. (ul)

Oleh: Anung Al Hamat

Ketua MIUMI DKI dan Mahasiswa Program Doktor Universitas Ibn Khaldun Bogor

Sum,ber: bumisyam.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.496 kali, 1 untuk hari ini)