Orang yang menyatakan ada Syi’ah yang tidak sesat akan menyatakan adanya Syi’ah mu’tadilah (lurus).

“Kalau saya langsung tanya, di mana Syi’ah Mu’tadilah, (di) Sukoharjo, Karang Anyar, tunjukkan tempatnya, atau ente,” tegas Ustadz Eman Badru Tamam, Lc, Mudir Ma’had Tahfidzul Qur’an Isy Karima Karangpandan Karanganyar Solo  menjawab Syubhat tersebut.

 

JAKARTA – Syi’ah sering memunculkan syubuhat-syubuhat untuk mengelabuhi umat Islam. Salah satunya, jargon bahwa tidak semua syi’ah sesat sebagaimana tidak semua Ahlussunnah benar.

“Ini bahaya sekali, yang menyampaikan ini ustadz besar,” tutur Ustadz Eman Badru Tamam, Lc, Mudir Ma’had Tahfidzul Qur’an Isy Karima, pada acara Silaturahmi dan Sarasehan Pimpinan Yayasan dan Mudir Ma’had Aly Bersama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Propinsi Jawa Tengah, Surakarta, Jawa Tengah, Ahad (24/05/2015) kemarin.

Ustadz Badru menilai perkataan tersebut sebagai muqadimah untuk menyatakan bahwa dirinya sebagai Syiah. “Lihat saja suatu saat, dia akan mengatakan saya Syi’ah. Tapi bukankah tidak semua Syi’ah sesat,” tuturnya.

Orang yang menyatakan ada Syi’ah yang tidak sesat akan menyatakan adanya Syi’ah mu’tadilah (lurus). “Kalau saya langsung tanya, di mana Syi’ah Mu’tadilah, Sukoharjo, Karang Anyar, tunjukkan tempatnya, atau ente,” tegas Ustadz yang sedang diuji dengan penyakit komplikasi ini menjawab Syubhat tersebut.

Ustadz muda yang penuh kharisma ini mengingatkan umat Islam Solo bahwa Syi’ah Solo itu sangat cerdik sembunyikan jati dirinya. “Syiah Solo bekerjanya sangat rapi. Mereka tidak banyak bicara, tapi mereka banyak bekerja keras dan cerdas,” tuturnya.

Sementara umat Islam Solo, menurut Ustadz berkunyah Abu Harits ini, cenderung mengedepankan cara-cara provokasi untuk menghadapinya.

“Kurang cerdas, jadi lebih banyak memprovokasi kaum muslimin untuk membenci suatu lembaga, suatu kelompok, daripada melakukan kerja-kerja cerdas mengimbangi apa yang mereka lakukan,” tuturnya.

Beliau memberikan pesan kepada umat Islam Solo dalam menghadapi Syi’ah di kota Surakarta ini. “Kita harus bekerja keras dan berpikir cerdas,”tutur beliau menirukan nasehat Ustad Syuhada’ Bahri, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pusat. [PurWD/voa-islam.com] (voa-islam.com) Senin, 8 Sya’ban 1436 H / 25 Mei 2015 22:15 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.396 kali, 1 untuk hari ini)