Kiai Kanjeng menyuguhkan medley lagu Ave Maria dan Sholawat Nabi dinyanyikan bergantian oleh Kyai Kanjeng dan ibu-ibu gereja di Gereja Katholik Pugeran Yogyakarta Agustus 2007/ foto dok-istimewa

Ada budayawan yang sering bicara agama. Sering juga nongol di acara aliran sesat syiah, nyanyi dengan ibu-ibu aktivis  gereja di gereja, bahkan lebih dari itu menyanyikan shalawat (shalawatan) di gereja. Lhah…shalawat itu ibadah kok dinyanyikan, bersama wanita-wanita aktivis  gereja di gereja lagi.

Sebaliknya, budayawan itu pernah melakukan pelayanan di Mesjid Cut Meutia, Jakarta Pusat, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2006, dalam sebuah acara bertajuk Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku, setelah shalat tarawih. Pada saat itu budayawan dan gurpnya ini memadukan (medley) antara lagu Malam Kudus (yang biasa dinyanyikan umat Nasrani dalam rangka peringatan Natal) dengan Shalawat:‘Sholatullah salamullah, ‘ala thoha Rasulillah, sholatullah salamullah, ’ala yaasin Habibillah.’

Di tahun 2007, sekitar pekan kedua bulan Agustus, dalam rangka ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran (Jogjakarta), salah satu acaranya adalah menampilkan pementasan Kiai Kanjeng pimpinan Cak Nun. Selain pementasan Kiai Kanjeng, juga ada dialog antar agama (Katholik, Islam, Budha, Hindu, Kejawen).

Ketika itu, sekitar sepertiga dari peserta yang menghadiri ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran itu, adalah wanita berjilbab. Tidak ada yang bisa memastikan apakah mereka benar-benar Muslimah berjilbab, atau hanya sekumpulan perempuan yang sengaja mengenakan jilbab. Sebelum Kiai Kanjeng mentas, terlebih dulu ada pementasan dari ibu-ibu aktivis Gereja Pugeran menyanyikan lagu persembahan gerejawi.

Kiai Kanjeng dalam penampilannya malam itu, tidak hanya membawakan karya-karyanya seperti biasa, tetapi juga mengiringi para ibu-ibu aktivis Gereja Katholik Pugeran Yogyakarta yang kala itu membawakan lagu-lagu gerejawi. Belum cukup sampai di situ, sebagai pamungkas penampilanya Kiai Kanjeng menyuguhkan medleylagu Ave Maria dan Sholawat Nabi dinyanyikan bergantian oleh Kyai Kanjeng dan ibu-ibu gereja.

Dikabarkan,  Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya pernah melibatkan tiga biarawati dari Gereja Albertus Agung Jetis (Yogyakarta) dalam pementasan keseniannya. (lihat Emha Ainun Nadjib: Shalawatan di Gereja, Tengkar di Korban Lumpur Lapindo Posted on 28 Mei 2009 by Nahimunkar.com ).

Rupanya karena kiprahnya yang sebegitunya, dan juga sering bicara menyangkut agama itu mengakibatkan kadang ada yang bertanya, (main) musik itu apa hukumnya, halal ataukah haram.

Menghadapi pertanyaan seperti itu, ada videonya yang tampaknya ia seperti tersengat, langsung berkata keras, namun kelihatannya tidak menjawab pertanyaan itu dengan baik. Jawaban yang baik seharusnya, hukumnya menurut Islam adalah begini, dalilnya ini… dan seterusnya. Namun belum terdengar jawaban yang begitu darinya.

Emha Ainun Nadjib Ditanya tentang Musik (Itu Halal atau Haram), Jawabannya kok Begini

https://www.facebook.com/iwan.p.naufal/videos/10208402298374700/

Ada lagi video yang beredar, budayawan itu ditanya tentang (main) musik itu ada hadits dalam Kitab Shahih bukhari  (tentang haramnya main alat musik).

Budayawan itu menjawabnya bukan dengan dalil, tetapi malah dia umpamakan sambel yang unsur-unsurnya cabe, bawang, garam dan sebagainya. Musik juga terdiri dari berbagai unsur, ada nada dan seterusnya.

Dalam hal nada itu kemudian budayawan itu mempertanyakan, apakah nada itu mau diharamkan?

Lalu sampai dia kemukakan tentang hubungan suami istri, kalau tanpa nada maka (diuraikan dengan gaya budayawan itu, dan walaupun dia katakan bahwa acara ini di bulan puasa Ramadhan).

Lhah, menjawab pertanyaan kok muter-muter begitu. Yang namanya dalil berupa hadits, ya dijawab dengan dalil pula mestinya. Dan kalau dia menolak haditsnya itu karena lemah dan sebagainya ya harus ditunjukkan bukti-bukti lemahnya secara ilmu hadits, bukan ditolak begitu saja dengan dikatakannya sebagai lemah begitu saja. Apalagi ditambah dengan nada sombongnya bahwa yang mengharamkan musik itu ketika dia ini main musik dan mereka tidak mau datang untuk melarangnya kan malah salah (berdosa). Dia (pemain musik ini) tampak mau mengemukakan dalil man roa minkum munkaron… namun rupanya belum tentu hafal, atau ada sebab lain wallahu a’lam.

Sampai dia mengibaratkan sambal segala itu, walau tidak nyambung, namun intinya, dia menolak bila main musik itu disebut atau dihukumi haram.

Dari peristiwa tersebut (videonya beredar), kalau caranya begitu, yaitu sudah ada dalil haramnya, lalu ditolak dengan mengqiyaskan sesuatu, lalu sesuatu itu diuraikan unsur-unsurnya, bahwa masing-masing unsur itu ternyata halal, maka sampai khamr yang sudah jelas haram pun kalau diuraikan unsur-unsurnya berupa anggur, gula dan sebagainya yang masing-masing halal, ya akan dikilahi bahwa ternyata halal. Tetapi apakah bisa cara itu dipakai? Maka benarlah kaidah:

لَا قِيَاسَ مَعَ النَّصِّ

Tidak ada qiyas sama sekali beserta nash (teks dalil yang jelas). Maksudnya, kalau sudah ada dalil yang jelas (ayat ataupun hadits) maka tidak boleh ada qiyas. Apalagi untuk membantahnya.

Bagaimanapun, seharusnya siapapun itu musti mendudukkan diri sesuai kapasitasnya. Sehingga tidak mempertontonkan diri kepada umum yang mengakibatkan jatuhnya diri sendiri lantaran tidak mendudukkan diri sesuai kapasitasnya.

Untuk masalah fatwa agama, apalagi menyangkut halal haram, maka semestinya ulama lah yang bicara. Sebagaimana dalam masaah mani musik ini, sudah banyak ulama yang bicara hukumnya. Di antaranya berikut ini.

Fatwa tentang Haramnya Musik

وقد دلت السنة الصريحة الصحيحة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على تحريم سماع آلات الموسيقى .

روى البخاري تعليقاً أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : (لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَالْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ . . .) . والحديث وصله الطبراني والبيهقي .

والمراد بـ (الحر) الزنى .

والمعازف هي آلات الموسيقى .

والحديث يدل على تحريم آلات الموسيقى من وجهين :

الأول : قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (يستحلون) فإنه صريح في أن الأشياء المذكورة محرمة، فيستحلها أولئك القوم .

الثاني : قرن المعازف مع المقطوع حرمته وهو الزنا والخمر ، ولو لم تكن محرمة لما قرنها معها .

انظر : السلسلة الصحيحة للألباني حديث رقم (91) . فتاوى الإسلام سؤال وجواب بإشراف : الشيخ محمد صالح المنجدالمصدر :www.islam-qa.com سؤال رقم 12647(

Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik. Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (alat-alat musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَ al-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam يَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu.

(Fatawa Islam, Soal dan Jawabjuz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber: www.islam-qa.com, soal nomor12647).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.327 kali, 1 untuk hari ini)