HUKUM MEMPERCAYAI PAWANG HUJAN 

Kata para ulama, dukun dan tukang sihir itu adalah THAGHUT dan PARA PENDUSTA. Allah Ta’âlâ berfirman :

 

{هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنزلُ الشَّيَاطِينُ، تَنزلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ، يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ}

 

“Maukah Aku beritakan kepada kalian, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak berbuat jahat/buruk (para dukun dan tukang sihir). Syaitan-syaitan tersebut menyampaikan berita yang mereka dengar (dengan mencuri berita dari langit, kepada para dukun dan tukang sihir), dan kebanyakan mereka adalah para pendusta” (QS asy-Syu’araa’: 221-223).

 

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa para pendusta dalam ayat di atas adalah DUKUN dan yang semisal dg mereka.

Mendatangi pawang hujan sama hukumnya dg mendatangi dukun. Hukumnya diperinci sbb :

 


Mendatangi dan bertanya kpd mereka (dukun) TANPA MEMBENARKANNYA, maka ini hukumnya dosa yang sangat besar dan tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. (bukan artinya tdk perlu sholat, krn sholat itu kewajiban yg tdk boleh ditanggalkan.) = KUFUR ASHGHAR

 


Mendatangi mereka (dukun) dan MEMBENARKAN mereka maka ini adalah KAFIR. Wal’iyadzubillah. = KUFUR AKBAR

Apabila yang dilakukan dukun itu terjadi dan nyata spt yang diklaim. Maka jangan tertipu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang al-kuhhaan (para dukun), beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang tidak ada artinya”.

 

Salah seorang sahabat berkata, “Sesungguhnya para dukun tersebut TERKADANG MENYAMPAIKAN KEPADA KAMI SUATU (BERITA) YANG (kemudian ternyata) BENAR.

 

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat (berita) yang benar itu adalah yang dicuri (dari berita di langit) oleh jin (syaitan), lalu dimasukkannya ke telinga teman dekatnya (yaitu dukun dan tukang sihir), yang kemudian mereka mencampuradukkan berita tersebut dengan seratus kedustaan” (Muttafaq alaihi)

 

Wallâhu a’lam.

@abinyasalma

 

______

 

WAG & Channel Telegram *Al-Wasathiyah Wal I’tidål*

 

alwasathiyah.com, 19 MAY 2017 UMMUFARAH

https://www.nahimunkar.org/memprihatinkan-rentetan-kemusyrikan-perdukunan-hingga-pawang-hujan-seakan-dikampanyekan/

Mari kita simak artikel singkat berikut ini.

***

Asyari Usman: Bani Cebong Sudah Tidak Lagi Menghuni Kolam, Sudah Pindah ke Langit Yang Ada AC nya

 

Remote AC Langit Dipegang Mbak Rara 

 

Kadrun memang kaum yang ketinggalan zaman. Masih tetap menghuni padang pasir. 

 

Sebaliknya, Bani Cebong tidak lagi bermukim di kolam butek seperti yang selama ini sering disentilkan oleh Kadrun. 

 

Kaum Cebong sejak dua minggu ini tinggal di langit yang tinggi. Langitnya memiliki pengatur suhu alias AC. Remote AC langit itu dipegang oleh mbak Rara.

 

FYI, mbak Rara membawa sejumlah pemuka Bani Cebong naik ke langit untuk melihat langsung sitem AC langit. Mereka naik lewat pintu langit di atas Mandalika.

 

Berbagai laporan menyebutkan para pemuka Bani Cebong itu tak mau turun lagi ke Bumi. Mereka terkagum-kagum melihat Remote AC langit yang dipegang mbak Rara.

 

(By Asyari Usman)

Berikut penjelasan Cloud engineering, yg punya remot AC besar Langit…

Salam Santun 🙏 pic.twitter.com/t7gz1wZfEd

👑 KIПG VΛDЦKΛ 🇮🇩🇵🇸 (@KING__VADUKA) March 24, 2022

portal-islam.id, Sabtu, 26 Maret 2022 Asyari Usman, CATATAN

***

Menolak hujan dengan meminta bantuan paranormal adalah kemusyrikan yang tidak terampuni dosanya, bila mati dalam keadaan belum bertobat.

 
 

Menolak hujan dengan meminta bantuan paranormal adalah tindakan yang tidak hanya bertentangan dengan sunnah Rasul, tapi juga kemusyrikan yang tidak terampuni dosanya.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu dia membenarkan apa-apa yang dikatakan maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar” (An-Nisaa’: 48).

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (Al-Maa-idah: 72).

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisaa’: 116).

“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka (adalah) ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al-Hajj: 31). Wallahu a’lamu bis-shawab. [taz, wid/sripo, dbs]/ .voa-islam.com

Tobatnya Pelaku Syirik Akbar Diterima

Diantara anggapan yang tidak benar terkait syirik akbar adalah anggapan bahwa pelaku syirik akbar tidak akan diterima taubatnya oleh Allah. Anggapan ini tidak benar berdasarkan firma Allah:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah akan senantiasa menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di tenggorakan (belum dicabut nyawanya)” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, & Tirmidzi, Hasan)/ buletin.muslim.or.id

 

***

Dikhawatirkan, Kemusyrikan dan Dukun Masih Merajalela karena Ada Pentolan Pengusungnya

Posted on 20 Januari 2020

by Nahimunkar.org

  •  


Ilustrasi yang satu ruwatan dengan sesajen kemusyrikan, yang satunya sujud di kuburan/ foto dok ist net/nm (Untuk mengetahui contoh kemusyrikannya, silakan simak di link ini: https://www.nahimunkar.org/contoh-perbuatan-kemusyrikan-ruwatan-dan-nyembah-kubur/ )

Dalam sejarah kelam kemusyrikan zaman jahiliyah di Arab, ternyata ada pentolan yang mengusung kemusyrikan, hingga Ka’bah Baitullah (Rumah Allah) di Makkah dikitari 360 patung berhala. Pengusung awalnya adalah ‘Amr bin Luhay Al-Khuzai عمرو بن لحي penguasa kunci Ka’bah. (Sejarahnya dapat dilihat di antaranya di buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Ummat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. https://www.nahimunkar.org/nabi-nabi-palsu-dan-para-penyesat-umat/ ).

Pada hari kedua puluh Ramadhan tahun 8 Hijriyah, Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah Al-Mukarramah) terjadi, hingga 360 berhala di sekitar Ka’bah itu barulah dijungkir-jungkirkan dengan disodoki pakai busur oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alhamdulillah.

 

Kemusyrikan di tanah suci Makkah itu telah dihapus dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana kemusyrikan di zaman2 sebelumnya pun dihapus oleh para utusan Allah Ta’ala, agar manusia dan jin hanya menyembah Allah saja tanpa menyekutukanNya (tanpa disertai kemusyrikan), namun hingga kini kemusyrikan masih ada, dan bahkan masih merajalela. Walaupun di negeri yang jumlah ummat Islamnya terbesar di dunia sekalipun; ternyata kemusyrikan dengan aneka macamnya masih merajalela. Itu semua karena memang ada pentolan-pentolan yang sengaja mengusungnya, sebagaimana sejarah kelam jahiliyah tersebut ada pula pentolan pengusung kemusyrikannya.

https://www.nahimunkar.org/viral-nametag-petugas-pawang-hujan-saat-kunjungan-jokowi-ke-riau/

(nahimunkar.org)