MUI: Sial betul negeri ini jika dana masyarakat dipakai untuk menjerumuskan para pemuda penerus bangsa ke dalam dunia perzinahan. DPR RI atau Presiden harus memanggil Menkes mempertanggungjawabkan dana APBN yg dipakainya serta prosedur yang dipakai apa sudah sesuai dengan mekanisme pengeluaran belanja negara.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menilai, program tersebut bertentangan dengan program penutupan lokalisasi di Jatim. Karena itu, Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori menolak dengan tegas kegiatan pekan kondom nasional tersebut.

“Kami susah payah menutup lokalisasi agar tidak ada praktik seks bebas, sementara pekan kondom seakan-akan melegalkan seks bebas asal memakai kondom,” katanya, Senin (2/12/2013).

Secara terpisah, berbagai tokoh mengecam Pekan Kondom Nasional yang digelar pada 1-7 Desember di 12 kota besar di Indonesia. Pekan Kondom Nasional dinilai sebagai cara untuk melegalkan seks bebas.

Inilah beritanya.

***

Mahasiswa di Yogyakarta Gelar Aksi Kecam Pekan Kondom Nasional

Yogyakarta, (Analisa). Puluhan Mahasiswa di Yogyakarta menggelar aksi mengecam Pekan Kondom Nasional yang digelar pada 1-7 Desember di 12 kota besar di Indonesia. Pekan Kondom Nasional dinilai sebagai cara untuk melegalkan seks bebas.

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Yogyakarta menggelar aksi unjukrasa di perempatan kantor Pos Besar Yogyakarta, Minggu(1/12). Aksi digelar, bersamaan dengan aksi peringatan Hari AIDS yang dilakukan ratusan pemuda di kawasan yang sama.

Dengan mengenakan topeng Menkes, mereka menggelar aksi teatrikal, yang menggambarkan Menkes membagi-bagikan kondom kepada warga.

Ketua FSLDK Yogyakarta, Jamhari mengatakan, program pembagian kondom hanya akan menyebabkan seks bebas. Apalagi kondom ini, dibagi-bagikan juga di kalangan kampus. Program bagi-bagi kondom, menurut para mahasiswa menggunakan duit Rp 25 Miliar. Hal ini dinilai sangat tidak bermanfaat.

“Kami sangat menentang program Kemenkes ini. Duit sebesar itu, lebih baik untuk pendidikan atau untuk membantu korban bencana gunung Sinabung, dari pada buat bagi-bagi kondom,” katanya. (dtc) Kategori berita:NasionalArtikel dimuat pada: 02 Dec 2013, 01:51:00 WIB

***

MUI: Pekan Kondom Nasional Menyakiti Umat Islam

JAKARTA — Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnaen geram mendengar program terbaru Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi pada 1-7 Desember 2013, yakni membagi-bagikan kondom gratis kepada para pemuda yang belum menikah.

Pembagian kondom gratis bertajuk Pekan Kondom Nasional itu digelar dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia. Selain untuk memberikan edukasi, program kegiatan ini juga akan memberikan kondom secara gratis pada anak muda.

Menurutnya, program tersebut meresahkan dan menyakiti hati umat Islam karena tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Ia menyebut program tersebut justru menjurus pada pembolehan melakukan perzinahan.

Tengku mengatakan, Menkes memang banyak melakukan program kontroversial, yang tidak sesuai dengan pandangan umat Islam. Sebelumnya, Menkes sengaja menantang umat Islam, yaitu dengan membuat gerakan menolak sertifikasi obat halal dan membuat gerakan menghapuskan khitan atas wanita. “Padahal itu merupakan hak umat Islam,” ujarnya, Senin (2/12).

Menurut Tengku, program membagi-bagikan kondom adalah niat terselubung yakni membolehkan pemuda melakukan perzinahan. “Bagaimana tidak? Orang yang tidak beristeri diberi kondom. Bukankah ini sama dengan memberikan alat untuk berzina?” ujarnya geram.

Ditegaskan Tengku, sial betul negeri ini jika dana masyarakat dipakai untuk menjerumuskan para pemuda penerus bangsa ke dalam dunia perzinahan. Ia berujar, DPR RI atau Presiden harus memanggil Menkes mempertanggungjawabkan dana APBN yg dipakainya serta prosedur yang dipakai apa sudah sesuai dengan mekanisme pengeluaran belanja negara.

Reporter : Rosita Budi Suryaningsih
Redaktur : Karta Raharja Ucu

Senin, 02 Desember 2013, 13:57 WIB REPUBLIKA.CO.ID,

 ***

MUI Jatim Tolak Pekan Kondom Nasional

SURABAYA— Pekan Kondom Nasional yang digagas Kementerian Kesehatan dan diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional  sejak 1-7 Desember mendatang menuai penolakan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menilai, program tersebut bertentangan dengan program penutupan lokalisasi di Jatim. Karena itu, Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori menolak dengan tegas kegiatan pekan kondom nasional tersebut.

“Kami susah payah menutup lokalisasi agar tidak ada praktik seks bebas, sementara pekan kondom seakan-akan melegalkan seks bebas asal memakai kondom,” katanya, Senin (2/12/2013).

Ia menambahkan, jika memang tujuan untuk mencegah HIV/AIDS, bukan dengan membagikan kondom gratis kepada masyarakat. Justru kegiatan ini membuat mereka cenderung melakukan seks bebas dengan alasan sudah aman karena memakai kondom.

”Seharusnya, kegiatan yang dilakukan bersifat edukasi. Seperti memberikan penyuluhan soal reproduksi dan pendidikan seks bagi masyarakat. Bukan kampanye penggunaan kondom,” katanya.

Selain itu, kata dia, untuk mencegah penularan HIV/AIDS, yang harus dilakukan adalah membuat peraturan yang ketat untuk mencegah seks bebas. Sebab, sumber penyakit HIV/AIDS adalah pergaulan bebas.

Sebagai bentuk penolakan, MUI Jatim akan membuat surat edaran kepada MUI kabupaten/kota, menolak pembagian kondom. Pihaknya juga akan mengirim surat serupa kepada instansi terkait.

Editor : Farid Assifa

  • Penulis :Kontributor Surabaya, Achmad Faizal Senin, 2 Desember 2013 | 19:00 WIB, KOMPAS.com

 ***

 Menag juga protes Pekan Kondom Nasional

Pembagian kondom dalam rangka Pekan Kondom Nasional (PKN) guna mecegah penularan HIV/AIDS dirasa kurang tepat. Pembagian kondom dirasa salah sasaran dan melanggar etika.

Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, penyebaran kondom gratis jangan sampai menajdi gerakan yang disalahtafsirkan. Nantinya penafsiran di masyarakat luas dipahami bahwa berhubungan seksual itu bebas jika menggunakan kondom.

“Mereka akan berpikir hubungan seksual akan bebas penyakit jika menggunakan kondom. Padahalkan bukan itu maksud tujuanya,” kata SDA saat ditemui di Kantor Kemenag di Jakarta, Senin, 2 Desember 2013.

Menurut dia, saat ini yang paling penting ditanamkan dalam masyarakat ialah pencegahan HIV dengan kesadaran individual. Hal ini dikarenakan, berhubungan seks bebas akan berpotensi melanggar agama dan kaidah moral secara umum serta berpotensi tersebar dan terjangkitya HIV.

“Ini bukan melihat siapa yang dibagikan pembagian kondom tersebut ditujukan untuk siapa?,” kata dia.

SDA memaparan, siapa yang menggunakan kondom ialah mereka yang biasa melakukan hubungan seks diluar pernikan. Jika mereka sudah menjadi pasangan yang sah maka mereka tidak akan menggunakan kondom. “Seolah-olah in menjadi penghalalan dari sisi agama,” tegasnya.

Ayu Rachmaningtyas, Selasa,  3 Desember 2013  −  05:49 WIB Sindonews.com –

***

Muhammadiyah Kecam Pekan Kondom Nasional, Dan Anggap Menkes Kehilangan Akal

Pengurus Muhammadiyah Depok mengecam kegiatan Pekan Kondom Nasional yang digagas Kementerian Kesehatan dan dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) serta salah satu produsen kondom.

“Saya menilai ini sudah kehilangan akal, mau inovasi tapi karena akalnya tidak ada ya seperti itu, karena dia (menkes maksudnya) mau menaggulangi HIV AIDS tetapi kan tidak seperti itu caranya, seharusnya dengan pendekatan moral, seperti yang dilakukan Muhammadiyah, dalam mendidik mengedepankan moral,  akhlak yang mulia,” kata Ketua Muhamdiyah Kota Depok, Farkhan kepada depoknews.com, Senin (2/12/13).

Farkhan juga menilai pekan kondom nasional disamping kegiatan kebablasan juga hanya menghamburkan uang.

“Kegiatan ini saya kira hanya membuang anggaran atau biaya namun efeknya justru negatif, atau mungkin ini proyek dari pihak tertentu,” tambahnya.

Pekan Kondom Nasional dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga 7 Desember 2013 sebagai rangkaian peringatan Hari AIDS se-Dunia di Indonesia dengan membagikan kondom gratis. suaranews.com, Written By Suara Berita on 2 Desember 2013 | 19.30

 ***

 03 Desember 2013 | 05:37 wib

Pemerintah Diminta Batalkan Pekan Kondom Nasional

 

JAKARTA, suaramerdeka.com –  Muslimat Nahdlatul Ulama meminta pemerintah membatalkan Pekan Kondom Nasional yang dicanangkan Menteri Kesehatan dan dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) serta salah satu produsen kondom.

Ketuaa Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, meminta keputusan tersebut segera dicabut. Menurut Khofifah, jika kegiatan itu diteruskan akan menjadi bencana baru bagi negeri yang ber-Pancasila, bertuhan, dan beragama ini.

Seperti diketahui, Pekan Kondom Nasional dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga 7 Desember 2013 sebagai rangkaian peringatan Hari AIDS se-Dunia di Indonesia yang salah satu kegiatannya adalah pembagian kondom gratis kepada masyarakat.

“Jika ada pembagian kondom di jalan atau di tempat keramaian umum, lalu diterima oleh para remaja, bisa dibayangkan, remaja usia belasan tahun yang punya kecenderungan coba-coba, bisa saja terdorong melakukan seks bebas, setelah mendapat kondom yang dibagi gratis secara terbuka,” katanya.

Karena itu, kata Khofifah, kegiatan itu tidak dapat dibiarkan, dan kebijakan Menteri Kesehatan untuk menggelar acara seperti itu harus ditinjau ulang. “Menko Kesra dan Presiden RI saya harapkan mencabut Pekan Kondom Nasional,” kata Khofifah.

Muslimat NU juga menyatakan pemerintah perlu meminta maaf kepada masyarakat luas karena telah mengambil keputusan yang membahayakan bagi masyarakat luas.

Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menolak kegiatan Pekan Kondom Nasional dan pembagian kondom gratis tersebut.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Muhammad Sulton Fatoni mengatakan, upaya mencegah meluasnya pengidap AIDS merupakan upaya mulia, namun untuk mencegah agar penularan yang salah satunya melalui hubungan seksual itu bukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis yang sangat mungkin disalahgunakan untuk perzinahan.

( rpk / CN39 )

***

Soal Pekan Kondom, Politisi PKS Tuding Menkes Tak Tahu Agama

JAKARTA  – Anggota Komisi VIII DPR, Raihan Iskandar, menilai program Pekan Kondom Nasional yang dicanangkan pemerintah sebagai hal aneh. Menurutnya, pemerintah justru telah gagal membangun karakter pemuda-pemudi Indonesia karena melegalkan kondom melalui program itu.

“Jelas-jelas program ini tidak memberantas akar permasalahannya, malah memfasilitasi tumbuh suburnya akar permasalahan tersebut. Solusinya ada pada pendidikan karakter dan agama,” kata Raihan melalui rilisnya, Senin (2/12).

Dikatakannya, pesan tersembunyi dari program kondomisasi adalah melegalkan free sex. Lebih jelasnya, jika tidak mau hamil karena berhubungan seks, maka kondom adalah solusinya. Akhirnya, dengan kondom maka anak bangsa bisa leluasa berhubungan seks bebas.

“Yang mengerikan adalah ketika adanya kampanye kondomisasi ini, pemuda yang sebelumnya tidak terlintas di pikirannya untuk berhubungan seks dengan pacarnya, bisa jadi kemudian terlintas di pikirannya untuk mencoba kondom. Ini namanya lebih besar mudharat dari pada manfaatnya. Sudah manfaatnya belum tentu dapat (mencegah penularan HIV-red), mudharatnya sudah hampir pasti, yaitu makin merebaknya praktik free sex,” tegas politisi PKS itu.

Dikatakannya, selama ini masyarakat sudah cukup tenggang rasa dengan para korban AIDS. Tapi, katanya, hak itu sebaiknya tidak digeneralisasi seolah-olah semua anggota masyarakat terancam oleh HIV.

Raihan juga menganggap iklan pekan kondom nasional ini juga berpotensi melanggar UU Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Khususnya Pasal 4 yang menyebut  setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit.

“Ini Menteri Kesehatan seperti tidak paham agama. Kemenkes sepertinya tidak memiliki visi yang jelas dan tepat dalam memberantas perilaku free sex ini. Seharusnya kesehatan itu tidak hanya kesehatan fisik, namun juga kesehatan jiwa. Seimbang,” tegasnya. (fas/jpnn) Senin, 02 Desember 2013 , 21:55:00

(nahimunkar.com)

(Dibaca 744 kali, 1 untuk hari ini)