KUALA LUMPUR, MALAYSIA (voa-islam.com) – Seorang Menteri Malaysia telah mendesak warga Melayu untuk memboikot bisnis warga Cina demi memaksa mereka menurunkan harga barang sesuai dengan penurunan harga minyak, The Malaysia Insider melaporkan hari Senin (2/2/2015)

Menteri Industri berbasis Pertanian dan Agro Malaysia, Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob dalam sebuah postingan Facebook mengatakan konsumen Melayu memiliki peran dalam membantu pemerintah untuk memerangi pencatut dengan menggunakan kekuatan kolektif mereka untuk menurunkan harga barang.

“Maafkan saya karena berbagi pandangan saya, tetapi disamping Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Konsumerisme, yang menggunakan Undang-undang Pengawasan Harga dan UU Anti-Pencatutan untuk manindak terhadap para pedagang yang menaikkan harga mereka tanpa pandang bulu, kekuatan terbesar terletak pada konsumen.

“Mayoritas konsumen orang Melayu, orang Cina minoritas, jika Melayu memboikot bisnis mereka, mereka pasti tidak akan punya pilihan selain untuk menurunkan harga mereka,” katanya dalam sebuah posting Facebook.

Ismail, yang merupakan mantan menteri perdagangan dan konsumerisme dalam negeri, membenarkan kepada The Insider Malaysia bahwa pernyataan itu dibuat oleh dia di akun Facebook-nya.

Postingan itu telah dibagikan berkali-kali oleh pengguna Facebook lainnya dan beberapa juga mengucapkan selamat kepadanya karena “berani” dalam pernyataannya.

Dia juga menunjuk mata rantai Old Town White Coffee milik OldTown Bhd, mengatakan Ketua DAP Perak Datuk ngeh Khoo Ham yang memiliki saham di perusahaan tersebut.

“Orang Melayu masih menolak untuk memboikot (Old Town White Coffee) apa lagi ketika pemiliknya dikatakan keluarga DAP ngeh Perak yang dikenal anti-Islam.

“Selama orang Melayu tidak berubah, orang Cina akan mengambil kesempatan untuk menindas Melayu,” kata Ismail.

Ismail mengatakan kepada The Insider Malaysia bahwa pernyataannya diarahkan pada bisnis orang Cina yang katanya “enggan” untuk menurunkan harga mereka.

“Saya mengacu pada para pedagang Cina yang enggan untuk mengurangi harga barang meski harga bensin telah turun.

“Yang ingin saya tekankan adalah untuk orang-orang untuk tidak hanya bergantung pada pemerintah untuk memastikan harga barang turun karena sebagai konsumen, mereka dapat menggunakan kekuasaan mereka untuk menekan bisnis,” katanya.

Dalam postinganya, Ismail menganngap para konsumen Melayu terus berlanggangn outlet-outlet Cina “meskipun sertifikasi halal mereka patut dicurigai” dan meskipun beberapa outlet ini telah diambil tindakan terhadap mereka.

“Bayangkan, banyak restoran Cina yang tidak memiliki logo ‘halal’ dan mereka telah digerebek beberapa kali dan ditangkap karena sertifikasi halal mereka patut dicurigai, (tapi) orang Melayu terus mengerumuni restoran ini, ketika ada ribuan restoran Melayu yang benar-benar ‘halal’, “ia mengatakan.

Dia kemudian mengutip Old Town White Coffee sebagai contoh dan mengklaim bahwa itu milik keluarga Ngeh  yang katanya adalah “anti-Islam”.

Selain Ismail, menteri lain yang telah bersikeras bahwa pedagang harus menurunkan barang karena harga minyak telah turun adalah Wakil Menteri Keuangan Datuk Ahmad Maslan dan Menteri Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Konsumerisme baru Datuk Seri Haslan Malek, tapi Ismail adalah yang pertama untuk meminta boikot warga Melayu terhadap bisnis warga Cina. (st/tmi)

(nahimunkar.com)