Kantor PM Ismail Haniyah hancur lebur oleh serangan udara penjajah zionis Yahudi

Serangan penjajah zionis Yahudi pada hari keempat, Sabtu kemarin (17 Nov 2012), menargetkan “simbol-simbol pemerintahan” Hamas di Jalur Gaza. Pesawat tempur Israel membombardir kantor Perdana Mentri Hammas, Ismail Haniyah, di desa An-Nashr, sebelah utara Gaza. Stasiun TV Al-Jazera melaporkan langsung dari Gaza bahwa kantor pemerintahan PM Hamas, Ismail Haniyah, hancur total oleh serangan tersebut. (arrhmah)

***

Ahad: 24 warga Palestina gugur, termasuk 11 anak-anak, akibat serangan Zionis Yahudi di Gaza

Tentara Zionis Yahudi meningkatkan serangannya ke Jalur Gaza, pada Ahad (18/11/2012) 24 warga Palestina, termasuk anak-anak tak berdosa dari keluarga yang sama syahid akibat serangan udara.

Menurut laporan IMEMC, tentara Yahudi juga membom sebuah klinik di Gaza yang menyebabkan kerusakan parah, juga membom rumah sakit lokal Al-Karama dan beberapa rumah di sekitarnya yang terletak di utara Gaza.

Sebuah rumah di kamp pengungsian Jabaliya juga dihantam rudal, menewaskan 11 anggota keluarga, sebagian besar yang terbunuh adalah anak-anak kecil. Sementara setidaknya 10 lainnya menderita luka-luka, sebagian dalam kondisi parah. (arrhmah)

***

Menunggu Sikap Tegas Para Pemimpin Dunia Islam terhadap Israel

Zionis-Israel mengulangi kembali petualangan militernya di Gaza. Agresi militer Zionis-Israel ke Gaza sekarang ini, tujuannya ingin menguji seberapa besar ancaman Hamas terhadap keamanan negeri Zionis itu. Adakah Hamas sebagai sebagai sebuah entitas politik dan militer sudah benar-benar menjadi ancaman bagi negeri Zionis?

Zionis-Israel tahun 2008, sudah melakukan agresi militer ke Gaza, yang menewaskan penduduk Gaza, dan ribuan lainnya yang mengalami luka-luka. Menghancurkan seluruh infrastruktur wilayah Gaza. Tetapi, Zionis-Israel sesudah tiga puluh hari berperang yang sangat melelahkan itu, tak berhasil menggulung Hamas.

Padahal, waktu itu (2008), kondisi Gaza sangatlah lemah, karena sejak kemenangan pemilu Hamas di tahun 2006, Zionis-Israel melakukan embargo terhadap Gaza. Wilayah yang luas hanya 40 km persegi itu, siang malam dihujani peluru dari udara dan darat. Bahkan, Zionis-Israel melanggar konvensi Jenewa, dan menggunakan bom curah (cluster) menyerang Gaza.

Desember 2008, Perdana Menteri Israel, Olmert secara sepihak mengumumkan gencatan senjata. Tanpa berhasil mengakhiri pemerintahan Hamas yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Haniyah. Perang yang berlangsung sangat dahsyat itu, secara psychologis telah menimbulkan kebanggaan bagi gerakan Hamas, yang sangat sedikit kehilangan pasukannya. Justeru yang banyak menjadi korban kejahatan Zionis-Israel, rakyat sipil, seperti perempuan, anak-anak dan orang tua.

Sekarang, Zionis-Israel ingin menguji kekuatan militer Hamas, yang sudah dianggap menjadi ancaman secara serius dibandingkan dengan Iran atau Hesbullah di Lebanon.

Hamas semakin kuat dan memiliki persenjataan yang semakin canggih. Rudal yang dibuat oleh Hamas sudah mampu menjangkau ke dalam wilayah Israel, bukan hanya Tel Aviv, tetapi wilayah-wilalyah  lainnya. Inilah yang membuat Zionis-Israel semakin tertekan. Disamping itu, jumlah senjata yang mengalir ke Gaza semakin banyak, dan kemampuan pasukan yang dibangun Hamas, semakin profesional.

Kekhawatiran Zionis-Israel terhadap Hamas terus meningkat, dan bersamaan dengan terjadinya perubahan politik, dan negara-negara Arab yang dahulunya menjadi sekutu Israel, sekarang berubah memusuhi negara Zionis itu. Tetapi, ketakutan Zionis, terkait semakin banyak senjata yang mengalir ke wilayah yang sangat sempit, yang sudah diblokade oleh Zionis.

Duta Besar Amerika Serikat di Libya, J.Christhoper Steven, salah satu misinya ke Libya dengan sejumlah anggota CIA, ingin mendapatkan informasi yang layak, terkait dengan hilangnya ribuan rudal darat ke udara yang menjadi milik pemerintahan Libya. Ada kemungkinan senjata yang canggih itu, sudah menyebar sampai ke Gaza.

Karena itu, Hamas sudah tidak gentar lagi menghadapi perang yang dilancarkan oleh Zionis-Israel, dan Hamas menolak berbagai upaya pendekatan gencatan senjata. Ini menunjukkan kemampuan Hamas dan pejuang Palestina lainnya, yang semakin meningkat menghadapi Zionis-Israel.

Situasi yang berkecamuk ini, mendorong Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, Presiden Mesir Mohammad Mursi, Perdana Qatar Sheikh Thani, dan Kepala Biro Politik Hamas Khaled Misy’al, melakukan pertemuan di Kairo, membahas situasi Gaza yang nampaknya mendorong ke perang terbuka, Sabtu. Sementara itu, Presiden TurkiAbdullah Gul menggambarkan serangan Israel di Jalur Gaza sebagai “Langkah berdarah Netanyahu menjelang pemilu di Israel”, ujar Gul.

Gul mengatakan, berbicara kepada wartawan saat mengunjungi Kantor Gubernur di provinsi Turki utara Kastamonu terletak di Laut Hitam pada hari Jumat, bahwa “Serangan terjadi sebelum pemilu Israel” pada bulan Januari,sebagai investasi berdarah di pemilu. Netanyahu ingin menunjukkan kepada rakyat Israel, bahwa pemerintahan serius dalam melindungi negara dari ancaman keamanan oleh Hamas.

“Pembantaian di Gaza pada tahun 2008, di mana sedikitnya 1400 orang tewas juga terjadi sebelum pemilu Israel,” kata Presiden Turki. Dia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk campur tangan dan tidak membiarkanperang baru dan berdarah terjadi di Gaza.

Timur Tengah terjadi komplikasi antara agresi militer Zionis-Israel dan konflik yang sekarang di Suriah. Semua ini membawa melapetaka yang sangat serius bagi keamanan negara-negara Arab. Tentu, yang dibutuhkan sikap tegas para pemimpin Arab dan Dunia Islam menghadapi Zionis-Israel, tanpa kompromi, dan memberikan dukungan kepada Hamas dan para pejuang Palestina lainnya. Wallalhu a’lam. (voa-islam.com) Ahad, 18 Nov 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 543 kali, 1 untuk hari ini)