Oleh: Fadh Ahmad Arifan

(Pendidik di MA Muhammadiyah 2, kota Malang)

meme

Bulan Mei kali ini Pro dan Kontra tentang “Islam nusantara” masih terus bergulir. Penulis dan Pendakwah muda, Felix Y. Siauw turut berkomentar, “Dulu walisongo, para kyai, asatidz, meng-Islamkan nusantara, keren. Sekarang kita sekarang malah sibuk me-nusantarakan Islam, hadeh..” kata Ustadz Felix di fanpage pribadinya.

Di Tubuh NU, wacana Islam nusantara menuai kritik dan resistensi. Contoh, Pesantren Sidogiri menyatakan lewat akun twitternya, “Tidak ada istilah Islam Nusantara. Islam untuk semua”.

KH Hasym Muzadi juga tidak setuju dengan Islam Nusantara. “Islam rahmatan lilalamin (rahmat bagi seluruh alam) itu lebih otentik karena tercantum dalam Alquran sehingga tidak salah lagi,” kata mantan Ketua Umum PBNU itu (Dakwahmuslim.com, 22 Mei 2015).

Di saat sebagian umat Islam Indonesia berpolemik mengenai Islam Nusantara alias beragama dengan bercita rasa Nusantara. Justru di kalangan Kristen tidak mengenal wacana “Kristen Nusantara”. Adhianto Prasetyo, seorang Jemaat Kristiani di Jakarta ketika ditanya oleh teman facebook saya, sebut saja Mas Septian AW, “maaf ini cuman sekedar nanya, kalau Kristen Nusantara ada nggak?”. Merespon pertanyaan itu, Adhianto menyatakan bahwa kalau pertanyaannya adalah Nusantara yang sekarang menjadi Indonesia, jelas tidak ada. Karena misi pendeta (baca: kristenisasi) yang masuk ke Indonesia memang menjangkau suku-suku yg ada di Nusantara.

Lebih lanjut Adhianto menjelaskan “Di Kristen nggak ada cita rasa Nusantara… tetapi di Kristen ada gerakan Oikoumene Indonesia, yaitu gerakan yang mempersatukan gereja-gereja (selain Katholik) dari beragam latar belakang tradisi, etnik dan aliran sehingga gereja-gereja mendirikan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) dan kini menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada 25 Mei 1950.”

Begitu pula seorang teman facebook saya di Bogor, Fransiska Rina milansi, dia bercerita bahwa di dalam agamanya tidak dikenal istilah “Kristen Nusantara”. Yang ada hanyalah tradisi misa 17 Agustus. Perayaan tersebut dimaksudkan untuk menghargai suku-suku di Indonesia. Jemaat kristiani bergantian memakai nuansa budaya suku-suku yang ada di Indonesia untuk dekorasi dan kostumnya.

Akhirnya pembaca bisa melihat di agama lain arahnya bukan menusantarakan agama Kristen, tetapi mengusung persatuan elemen-elemen gereja. Kalau perlu Mengkristenkan umat seperti yang pernah dilakukan Kiai Sadrach (1835-1924 M). Ironisnya, di tengah umat Islam malah digulirkan wacana “Islam nusantara”. Selain prematur, juga tidak jelas sumbangsihnya untuk memperkuat eksistensi agama Islam. Wallahu’allam bishowwab

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.609 kali, 3 untuk hari ini)