Nusron Wahid berkata di acara ILC di TV One hari Selasa 14 Oktober 2014 yang dipandu oleh Karni Ilyas, Nusron mengatakan, “Kita orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia.” Artinya kenegaraan harus diutamakan dari pada keimanan.

Komentar/tanggapan terhadap statement Nurson Wahid yang JAHIL MUROKKAB/JAHIL KWADRAT sebagai berikut:

Yang benar adalah Kita (ummat Islam) orang Islam yang tinggal di Indonesia. Karena Indonesia adalah bagian daripada Bumi Allah Ta’ala, bahkan bagian kecil dari Alam Semesta Jagad Raya ini, dan kita tidak mempunyai saham di-dalam penciptaannya.

FirmanNya, “Katakanlah, “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki ( kekuasaan ) seberat zarrah pun dilangit dan dibumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam penciptaan langit dan bumi dan se-kali2 tidak ada di-antara mereka yg menjadi pembantu bagi-Nya.” [QS. Saba: 22]

Berikutnya kenapa yang benar adalah kita ummat Islam adalah orang Islam yang tinggal di Indonesia adalah Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam yang mengatakan, bahwa sejak dilahirkan kedunia kita semua yg namanya “MANUSIA” adalah ISLAM. Bahkan sebelum kelahiran kita ke dunia yang fana ini, kita sudah ber”JANJI/SAKSI” di hadapan Rabbul Alamin, bahwa kita semua yg namanya MANUSIA adalah ISLAM.

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Rabbmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”. [QS. al A’raf: 172]

“Maka hadapkanlah dirimu dg lurus kpd Agama ( ISLAM ), fitrah ( Agama ) Allah yg telah Dia ciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahaan bagi ciptaan Allah, itulah agama yg lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “. [QS. Ar-Rum: 30]

Al-Khaththabi berkata, “Setiap anak yang dilahirkan pada asal penciptaannya di atas fitrah, yaitu tabiat yang lurus dan perilaku yang selalu siap menerima kebenaran. Sekiranya dibiarkan begitu saja, niscaya fitrah itu akan tetap tumbuh. Karena kebenaran agama ini dibenarkan oleh akal, melencengnya banyak orang karena buruknya taqlid dan rusaknya lingkungan, sekiranya ia lepas dan selamat dari hal itu, niscaya ia tidak memiliki keyakinan melainkan keyakinan Islam.” [Al-Baghawi, Ma’alim At-Tanzil, tahqiq; M. Abdullah An-Namir, Cet IV, 1417, Dar Thaybah, Riyadh]

Dalam hadits diriwayatkan, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhum berkata, telah bersabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani atau Majusi, bagaikan binatang yang melahirkan binatang, apakah engkau temui yang cacat hidungnya (berbeda dengan induknya) ?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar berkata, “Perkataan yang masyhur bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah Islam”. [Fathul Bari, 3/248]

Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “(Makna) itulah yang dikenal di kalangan salaf. Dan telah sepakat ulama tafsir bahwa yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah Islam.”

Semua para Nabi dan para Rasul yang pernah diturunkan di-permukaan bumi ini ber-Agama Islam, hanya syariat-syariatnya yang berbeda-beda.

Wa laqad ba’atsnaa fii kulli ummatir rasuulan ani’budullaaha waj tanibut taa-ghuutha/para Nabi dan para Rasul diutus ONLY untuk/khusus buat kaumnya saja.” [QS. 16: 36]

Qul yaa ayyuhan naasi innii rasuulul-laahi ilaikum jamii’an.” [QS. 7: 158] 

Sedangkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam DIUTUS/DIPERUNTUKAN BUAT/UNTUK SELURUH UMMAT MANUSIA.

Bahkan…….

Wa maa arsalnaaka illaa rahmatallil’aalamiin.” [QS. Al-Anbiya: 107]
Bahkan SEBAGAI RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM/RAHMATAN LIL’ALAMIN.

Persaksian kitab-kitab suci sebelumnya terhadap kedatangan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Allah Subhana wa Ta’ala menjadi saksi, ketika Allah Ta’ala mengambil perjanjian dari para Nabi dan Rasul, kalau Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diutus dan para NABI/RASUL tersebut dalam keadaan hidup, niscaya MEREKA semuanya akan sungguh-sungguh beriman kepadanya, menolongnya, dan mengikuti syariat yang dibawa olehnya. Lihat QS. 3: 81 dan Tafsir Ath-Thabari 3/32.

Bahwa pada suatu hari, beliau shallallahu alaihi wa sallam melihat di tangan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma ada selembar kertas (waraqah) dari Taurat, dan ‘Umar telah mengagumi apa yang ada di-dalamnya, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam marah dengan kemarahan yang keras, dan beliau berkata, “Apa (apaan) ini! Sedangkan aku ada di belakang kalian. Sungguh telah aku bawakan dia (Al-Qur`an sebagai pengganti Taurat ) dengan keadaan putih lagi suci…. Demi Allah seandainya Musa hidup ( sekarang ini ) pasti dia tidak ada kelonggarannya kecuali dia harus mengikutiku.” [HR. Imam Ahmad dalam musnadnya 3/387, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ad-Darimi 1/115-116 dengan lebih lengkap]

Dalam hadits ini terdapat pengertian sebagai berikut :

Pertama: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam heran adanya orang yang mulai mencari petunjuk kepada selain Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan beliau masih hidup. Termasuk tuntutan iman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah meyakini bahwa petunjuk itu adanya hanyalah pada keduanya (Al-Qur’an dan As-Sunnah).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya beliaushallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah mendengar tentangku (diutusnya aku) seorangpun dari umat ini, baik ia seorang Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dan belum beriman dengan apa yang aku bawa (Syari’at Islam) melainkan ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim]

Bahkan Allah Ta’ala katakan di-dlm firmanNya, bahwa nanti di-yaumil akhir Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan ummatnya/Ummat Islam, akan menjadi SAKSI (dengan alQuran dan Sunnah) bagi seluruh ummat manusia yang pernah di-lahirkan ke-Dunia yg Fana ini. Dimana ummat2 sebelumnya mengingkari para Nabi dan Para Rasul yang diutus buat/untuk mereka.

Berikutnya kesimpulan Nusron Wahid “Kenegaraan harus diutamakan dari pada keimanan.”

Seharusnya “Keimanan harus diutamakan/didahulukan, tanpa mengabaikan Kenegaraan.”

Karena tanpa keimanan tidak ada yang namanya kenegaraan. Karena kemerdekaan di Republik Indonesia ini direbut dengan keimanan.

Nusron Wahid ini “GAGAP SEJARAH”, kalau sejarah dunia okaylah. Tetapi ini Sejarah Kebangsaan, terlebih lagi sejarah Kemerdekaan yang direbut dengan pengorbanan kebanyakan JIWA dan RAGA kaum Muslimin. Khususnya yang mengobarkan Kemerdekaan adalah para Ulama (KH. Hasyim Asy’ari/pendiri NU, KH. Ahmad Dahlan/Pendiri Muhammdiyah/ Tokoh2 Masyumi, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Pattimura, Jendral Soedirman (beliau sebelumnya pernah mengecap pendidikan pesantren), termasuk Bung Tomo, Cut Nyak Dien, dan sebagainya. Umumnya mereka 90% dari kalangan ummat Islam. Dengan semboyan “Lebih Baik Mati Berkalang Tanah, Drpd Hidup Berkalang Bangkai, Merdeka Atau Mati….,” karena seperti kata Nabi, “Kehormatan dan harga diri seorang Muslim, lebih MULIA daripada KA’BAH yang MULIA.” [HR. At-Tirmidzi no. 2032]

Bahkan hilangnya NYAWA SEORANG MUSLIM, di-sisi Allah Ta’ala, lebih baik dunia/alam semesta jagad raya ini lenyap/menumpahkan darah seorang Muslim, lebih baik DUNIA beserta ISInya LENYAP. Simak hadits dalam Shahih Sunan An-Nasai VII/82.

Lalu bagaimana bisa diharapkan calon pemimpin bangsa seperti Nusron Wahid ini Gagap Sejarah.

Nusron Wahid ini mengidolakan Ir. Soekarno/proklamator, tetapi tidak mengerti apa yg dikatakan Ir.Soekarno sebagai berikut: Perdebatan penentuan hari kemerdekaan RI antara kalangan junior (Sukarni/Tokoh Kiri) dengan kalangan senior (Ir. Soekarno) tak terhindarkan lagi, yang digambarkan oleh Lasmidjah Hardi dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984: 61), “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno.
“Mengapa justru diambil tanggal 17, tidak sekarang saja, tanggal 16?” tanya Sukarni.
“Saya seorang yang percaya pada hal-hal yg bersifat karomah. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua sedang berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Kedua Alquran diturunkan tanggal 17 Ramadan, saat turunnya petunjuk bagi umat manusia. Ketiga, orang Islam salat 17 rakaat. Oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” jawab Bung Karno.

Ramadhan tentu bukan bulan biasa. Banyak dalil yang menjelaskan keutamaan Ramadhan dibandingkan bulan2 lainnya.

Yang berarti KENEGARAAN tersebut direbut oleh KEIMANAN, tanpa adanya keimanan tidak ada yang namanya KENEGARAAN (berarti keimanan harus diutamakan).

Wallahu’alam.
Rachmat Ramdan
***

Di dalam kubur ditanyakan apa agamamu, bukan apa bangsa atau negaramu.

Di dalam kubur tidak ada pertanyaan, kamu bangsa apa. Yang ada adalah pertanyaan: apa agamamu. Itu dapat dibaca dalam hadits HR. Abu Daud No. 4127.
Sesuatu yang sampai orangnya sudah mati pun masih ditanyakan (apa agamamu?) Itu berarti yang lebih penting. Oleh karena itu, sejak masih hidup, telah Allah nasihati, bahkan para khathib pun menasihati setiap Jumu’ah dengan ayat:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران: 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Sebaliknya, sikap lebih mementingkan dunia itu sendiri sudah dikecam oleh Allah Ta’ala dan diancam siksa yang sangat dahsyat, tenpatnya adalah neraka:

فَأَمَّا مَنْ طَغَى(37)وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا(38)فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى(39)

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at/ 79: 37, 38, 39).
Silakan, kalau ayat ancaman neraka itu dianggap lebih rendah dibanding ayat konstitusi, maka kelak akan dirasakan pula: kebenaran ayat suci itu atau ayat konstitusi.

(nahimunkar.com/edt. br)

(Dibaca 15.519 kali, 1 untuk hari ini)