Sumber Foto : www.adhinbusro.com/Ilustrasi


Orang Muslim berpedoman kepada Al-Qur’an kitab suci. Secara kenegaraan, meyakini isi kitab suci Al-Qur’an itu dijamin oleh konstitusi, undang-undang tertinggi di negeri ini, tercantum dalam Pasal 29 Ayat 1-2 UUD 1945

1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya

Jaminan itu apa artinya, ketika ada orang yang menyiarkan faham atas nama Islam namun bertentangan dengan ayat suci Al-Qur’an yang diyakini sebagai pedoman agamanya, tetapi tidak diapa-apakan? Apakah berarti jaminan itu justru bagi yang menyelewengkan kandungan ayat suci? Tentu saja tidak. Apalagi sudah ada pasal tentang penodaan agama.

  • Pasal 156a KUHP menyatakan :
    “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun (5 tahun) barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan :

a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

  • Pasal 4 UU Pencegahan Penodaan Agama menyatakan :
    “Pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sebagai berikut :
    Pasal 156a Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun (5 tahun) barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan :

a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.”

Menyalah gunakan agama (contohnya kasus menyebarkan pemahaman bolehnya memilih pemimpin kafir bagi orang Islam , padahal jelas dilarang dalam kitab suci Al-Quran) itu jelas melanggar pasal 156a tersebut. Makanya Kyai Ahmad Cholil Ridwan dari MUI pun langsung membeberkan sebuah dalil yang diambil dari QS. Ali Imran, ayat 28, yang jadi dasar untuk umat Islam memilih pemimpin dari umat Islam sendiri, bukan dari golongan kafir. “Begini ya, untuk apa ada ayat yang berfirman :

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil dari orang-orang kafir jadi seorang auliya (pemimpin) dengan meninggalkan orang mukmin’” (QS Ali ‘Imran: 28).

Sudah jelaskan jika ayat ini ada pengharaman bagi kita pilih pimpinan orang kafir, apalagi Indonesia mayorits adalah muslim” tegas Kyai Cholil. https://www.nahimunkar.org/inilah-pernyataan-ustad-maulana-menurut-mui-sangat-menyesatkan/

Mestinya KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) memberikan sanksi kepada penceramah di televisi dan semacamnya yang bilang bolehnya orang Muslim memilih pemimpin kafir. Dan polisi seharusnya menangkapnya, karena telah menodai agama (Islam) lewat dakwahnya di tv, lantaran telah menyebarkan faham yang menyeleweng dari ayat suci Al-Qur’an alias menyalahgunakan. Kemudian seharusnya diproses ke pengadilan dengan tuduhan penodaan agama, melanggar pasal 156a KUHP.

Anehnya di negeri ini, yang terjadi justru sebaliknya. Da’i yang menjawab pertanyaan dengan mengemukakan tidak bolehnya orang Muslim memilih orang kair sebagai pemimpin, justru diberi sanksi oleh KPI.

Miris, Ceramah “Haram Memilih Pemimpin Kafir” di TV One Kena Sanksi KPI

Posted on Agu 26th, 2016 by nahimunkar.com

Sungguh miris kondisi Indonesia saat ini. Baru saja kita memperingati 71 tahun kemerdekaan dimana para ulama dan santri dengan pekik takbir ALLAHU AKBAR mengusir penjajah. Para pendiri bangsa ini juga sadar kemerdekaan yang diraih “Atas berkat rahmat Allah”. Namun, saat ini menyampaikan ayat-ayat Allah langsung dituduh SARA dan dijatuhi sangsi. Sebaliknya, seminar-seminar PKI malah difasilitasi. Sangat miris! https://www.nahimunkar.org/miris-ceramah-haram-memilih-pemimpin-kafir-tv-one-kena-sanksi-kpi/

Ketika menyakiti orang mukmin yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya maka pada hakekatnya sama dengan menyakiti Yang Memiliki Perintah tersebut. Maka ancaman laknat lah yang telah tersedia, dan telah ditegaskan dalam Al-Qur’an.

{ إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا } [الأحزاب: 57، 58]

(57). Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (58). Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata [Al Ahzab,57-58]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 804 kali, 1 untuk hari ini)