Oleh KH. Abdul Hamid Baidlowi

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem Rembang Jawa Tengah

 

  • Para peserta halaqoh yang saya hormati, upaya baja kelompok Syi’ah untuk memecah belah umat Islam, dan menjauhkan Islam dari ajaran-ajaran yang benar dengan mengganti ide-ide keji yang telah direncanakan dan ditata rapi masih terus dilakukan sampai akhir abad ini. Tak luput dari Nahdlatul Ulama yang Ahlussunnah wal Jamaah, berusaha dirobek-robek aqidah keimanannya dengan berbagai cara.
  • Sementara, hanya sedikit dari kita yang menyadarinya. Dan lebih sedikit lagi dari kita yang dengan nyata melakukan upaya penanggulangannya.
  • Untuk itu pada kesempatan ini saya sampaikan salut dan bangga atas kejelian dan keberanian IPNU Cabang Jombang dalam upaya menyelamatkan ajaran Islam dari racun-racun ajaran Syi’ah. Semoga langkah IPNU Jombang ini mampu jadi teladan dalam memerangi ajaran Syi’ah.
  • Untuk itulah dalam kesempatan ini saya Insya Allah akan menyampaikan pokok-pokok  masalah yang berkaitan dengan bahanya ajaran-ajaran Syi’ah yang sesat dan menyesatkan, upaya-upaya yang telah mereka lakukan untuk merobek-robek aqidah keimanan Jamaah Nahdlatul Ulama.
  •  Khumaini mengatakan “Sesungguhnya Al-Imam mempunyai kedudukan yang mulia dan derajat yang agung dan kekuasaan yang alamiah di mana semua unsur alam tunduk pada imam dan telah menjadi ketetapan kami, bahwa imam-imam kami itu mempunyai kedudukan pangkat yang tiada dapat dicapai oleh malaikat yang dekat dengan Allah maupun utusan Allah” (Al Hukumatul Islamiyah halaman 52).
  • Di sini kembali Khumaini menghina Rasulullah SAW. dengan meletakkan derajat Nabi di bawah imam-imam Syi’ah maupun derajat  para malaikat yang dekat dengan Allah SWT. Dan paling tinggi Khumaini meletakkan derajat Nabi SAW. di urutan yang ke empat belas. Sedangkan Arswendo Atmowiloto yang meletakkan Nabi Muhammad SAW. Pada urutan ke sebelas tokoh-tokoh  populer dunia itu saja mengakibatkan tabloitnya dibredel. Apalagi kitab-kitab Khumaini dan tokoh-tokoh Syi’ah lainnya yang sudah jelas menghina Nabi SAW. Oleh karena itu saya menghimbau pemerintah melalui Menteri Agama supaya dengan tegas melarang kitab-kitab Syi’ah yang menyesatkan itu beredar di Indonesia.

***

بسم الله الرحمن الرحيم

السَّلام عَليكم ورَحمة الله وبَرَكاته

الحَمد للهِ رَبّ العالمَين , والصّلاَة والسَّلام عَلى سَيّدِنا مُحمّد المرسَلين , وَ على آله وَأصحابِه أجْمعين , أمّا بعدُ:

 I. MUQODDIMAH

Pada awal makalah saya ini, marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan segenap rahmat dan karunia-Nya  kepada kita. Shalawat Salam semoga tetap tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Yang membawa petunjuk dan rahmat bagi seluruh ummat manusia. Semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan kepada para keluarga, shahabat beliau yang suci dan berbakti.

Peserta halaqoh yang saya hormati, sudah kita pahami bersama bahwa sejak awal perkembangan-nya Islam mendapat reaksi keras dari pihak-pihak yang dengki karenanya. Diawali dari reaksi kedengkian kaum kafirin dan musyrikin terutama kaum Yahudi yang menetap di dataran Arab, diteruskan kaum Majusi. Tujuan reaksi mereka adalah untuk membendung arus perluasan ajaran Islam. Meskipun kenyataan menunjukkan bahwa segala upaya mereka mengalami kegagalan, mereka tak pernah putus semangat untuk mewujudkan sikap dengkinya kepada Islam.

Adalah Abdullah bin Saba’ seorang keturunan Yahudi beserta kelompoknya yang pertama kali mengubah taktik dan siasat dengan berpura-pura memeluk Islam tetapi hatinya sangat membenci dan ingkar terhadap kebenaran. Mereka menggunakan istilah-istilah Islam sebagai kedok untuk kepentingan-kepetingan tertentu. Dengan demikian mereka tidak kesulitan dalam usaha menjerumuskan putra-putri Islam, terutama mereka yang masih dangkal pengetahuannya tentang aqidah Islam dan ajaran-ajarannya yang murni dan benar.

Mereka memproklamirkan diri dengan membentuk golongan tersendiri di dalam tubuh kaum muslimin dengan maksud menciptakan suasana disintegrasi dengan memasukkan kebatilan-kebatilan dalam ajaran agama Islam. Mereka menanamkan diri sebagai kelompok Syi’ah yang memihak kepada Ali bin Abi Thalib untuk sekedar dijadikan tameng pelindung kebusukannya. Padahal Ali sendiri tidak pernah memberi restu dan dukungan terhadap tingkah mereka. Bahkan saat menjadi Khalifah, beliau sangat mengecam dan mengancam tingkah laku tersebut.

Para peserta halaqoh yang saya hormati, upaya baja kelompok Syi’ah untuk memecah belah umat Islam, dan menjauhkan Islam dari ajaran-ajaran yang benar dengan mengganti ide-ide keji yang telah direncanakan dan ditata rapi masih terus dilakukan sampai akhir abad ini. Tak luput dari Nahdlatul Ulama yang Ahlussunnah wal Jamaah, berusaha dirobek-robek aqidah keimanannya dengan berbagai cara. Sementara, hanya sedikit dari kita yang menyadarinya. Dan lebih sedikit lagi dari kita yang dengan nyata melakukan upaya penanggulangannya. Untuk itu pada kesempatan ini saya sampaikan salut dan bangga atas kejelian dan keberanian IPNU Cabang Jombang dalam upaya menyelamatkan ajaran Islam dari racun-racun ajaran Syi’ah. Semoga langkah IPNU Jombang ini mampu jadi teladan dalam memerangi ajaran Syi’ah.

Untuk itulah dalam kesempatan ini saya Insya Allah akan menyampaikan pokok-pokok  masalah yang berkaitan dengan bahanya ajaran-ajaran Syi’ah yang sesat dan menyesatkan, upaya-upaya yang telah mereka lakukan untuk merobek-robek aqidah keimanan Jamaah Nahdlatul Ulama di penghujung abad ini sekaligus secara implicit Insya Allah saya sisipkan siasat untuk menghadapi bahaya Syi’ah. Semoga Allah SWT. Memberikan kekuatan kepada saya untuk semua.

 

II.BAHAYA SYI’AH I

Keyakinan Syi’ah dan Pernyataan Mereka Tentang Kekafiran Istri-istri Nabi Muhammad SAW dan Para Shahabatnya.

Baik, saya nukilkan untuk para peserta halaqoh pernyataan sebagian tokoh Syi’ah dari kitab–kitab induk mereka, sambil memohon ampun kehadirat Allah Azza wajalla sekedar untuk maksud memberikan bukti untuk kesesatan dan kedustaan golongan Syi’ah.

  1. Al-Majlisi dalam kitabnya Hayatul Qulub  juz dua, halaman 700 cetakan Teheran, mengatakan “Sungguh al-‘Iayyasy dengan sanad yang muktabar dari Asshodiq as. Bahwa Aisyah dan Hafsoh (istri-istri Nabi) kedua dilaknat Allah, begitu pula kedua ayahnya, karena kedua wanita tersebut telah membunuh Nabi Muhammad saw. dengan racun yang diminumkan beliau.
  2. Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam kitabnya Haqqul Yaqin mengatakan, “kepercayaan kami tentang tabarru’ (lepas diri) adalah bahwa kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Ustman, Muawwiyah, serta empat wanita yaitu Aisyah, Hafsoh, Hindun, Ummu Hakam, serta semua pengikut dan golongan mereka. Mereka adalah makhluk Allah yang paling jahat di atas permukakan bumi. Sesungguhnya tidak sempurna iman seseorang terhadap Allah kecuali ia melepaskan diri dari musuh-musuh-Nya.
  3. Al-Kulaini dalam kitabnya Arroudhoh Minal Kaafi juz 8, halaman 245, mengatakan “para shahabat setelah Nabi wafat kesemuanya murtad kecuali tiga orang yaitu Al-Miqdad Ibnul Aswad, Abu Dzar    Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi”.
  4. Ahli hadits golongan Syi’ah Husain bin Abdus Shomad Al-Amini dalam kitabnya Al-Ahya ila Wusulil Ahbar  halaman 164 cetakan Qum Iran, mengatakan “kami mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulnya dengan cara membenci dan mencaci para shahabat-shahabat Nabi”.
  5. Bahkan golongan Syi’ah mengkafirkan siapapun yang tidak se-ide dengan mereka dan yang tidak membenarkan kepercayaan mereka serta siapapun yang tidak tunduk kepada mereka walaupun mereka sujud sampai patah batang lehernya. Demikian keterangan Ibnu Babawayh dalam kitab Al-Khisol juz 1, halaman 41 dan Al-Kaafi juz 1, halaman 437.
  6. Al-Kulaini dalam kitabnya Al Kaafi juz 1 halaman 181-187, mengatakan bahwa barang siapa mengingkari imam-imam Syi’ah (yang dua belas) berarti mengingkari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Demikian kepercayaan golongan Syi’ah sejak awal tumbuhnya yang dipelopori Abdullah bin Saba’ hingga kini yaitu suatu kepercayaan dan keyakinan yang sudah diatur, diolah, dimasak, digodog oleh golongan Yahudi. Kemudian keyakinan itu dijadikan agama oleh golongan Syi’ah, suatu agama yang penuh dengan caci maki. Itupun mereka belum puas. Mereka dengan gila dan membabi buta mengkafirkan dan memurtadkan istri-istri Nabi SAW dan hampir seluruh shahabat Nabi. Kesesatan golongan Syi’ah lebih tidak terkendali lagi dengan mengatakan bahwa umat Islam yang cinta kepada para shahabat Nabi kafir hukumnya.

Peserta halaqoh yang terhormat, demikianlah sikap dan perilaku golongan Syi’ah yang sadis terhadap istri-istri Nabi dan para shahabatnya. Mereka sudah tidak mempedulikan nash-nash Al-Quran, dan tidak menghiraukan sunnah Nabi SAW. Mereka mencoba menghancurkan agama Islam dengan menghancurkan generasi pertama setelah Nabi, bahkan berkeinginan memporak-porandakan Islam secara total. Mereka berselimut kebatilan, kebohongan dan kedustaan bukan dengan kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Jika kita mau berfikir bahwa tiga shahabat Nabi yang tidak murtad yang sebagaimana tokoh mereka, sungguh ini merupakan tuduhan yang palsu dan sekaligus penghinaan kepada Nabi SAW. Bagaimana mereka tidak menghina padahal selama kurang lebih dua pulah tiga tahun Nabi berdakwah dan berjuang, maha guru manakah yang mengungguli Nabi. Sungguh kalimat-kalimat kufur telah berhamburan dari mulut mereka.

Wal ‘Iyadzu billah…….. !

Sekarang giliran saya sampaikan penghinaan dan tuduhan palsu Khumaini (tokoh Iran yang menjadi kebanggaan Gus-Dur) terhadap Nabi SAW. Para shahabat Nabi dan Al-Quran. Untuk lebih jelasnya Insya Allah akan saya sampaikan kepada peserta halaqoh, warga NU dan kaum muslimin pada umumnya kepercayaan Khumaini terhadap hal tersebut di atas.

  1. Khumaini dalam kitab Kasful Asror  juz 4, halaman 114, mengatakan  “Himmah para shahabat Nabi SAW tiada lain kecuali dunia yang mereka cari dan kekuasaan yang menjadi ambisi mereka, bukan Islam dan Al-Quran tujuan mereka. Merekalah yang menjadikan Al-Quran semata-mata sebagai alat buruk mereka. Mereka dengan mudah membuang dan mengubah ayat-ayat Al-Quran kemudian menghapus dari pandangan manusia untuk selama-lamanya. Sehingga kehinaan Al-Quran dan kaum muslimin berkepanjangan sampai hari kiamat. Tuduhan perubahan kitab Taurat dan Injil kepada orang Yahudi dan Kristen sesungguhnya menjadi ketetapan atas mereka”. Demikianlah Khumaini dengan lantang mengatakan kepercayaanya bahwa shahabat itu adalah jahat dan durhaka, bertujuan hanya mencari dunia serta rakus lagi pula haus kekuasaan, mereka mengubah Al-Quran dan membuang ayat-ayatnya yang mengakibatkan hilangnya Al-Quran yang asli dari pandangan manusia. Bahwa Khumaini dengan tegas membela orang Yahudi dan Nasrani dengan mengatakan bukan kitab Taurat dan Injil yang diubah justru Al-Quran yang telah diubah oleh shahabat Nabi.

Peserta halaqoh yang terhormat, adakah sesuatu keraguan bahwa apa yang dikatakan Khumaini itu adalah kesesatan dan kekafiran yang nyata. Dan orang macam Khumaini inilah yang menjadi idola Gus-Dur tanpa malu memberikan gelar kepada Khumaini waliyullah terbesar abad ini. Padahal Allah SWT sebagaimana difirmankan di dalam Al-Quran sebagai berikut:

Iwr&أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ  [يونس/62، 63]

Artinya:

“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah mereka adalah orang-orang yang tidak takut dalam memperjuangkan dalam membela agama Allah SWT. Dan mereka adalah orang-orang yang tidak sedih dihadapan Allah SWT. (siapa) yaitu orang-orang yang beriman dengan sempurna dan bertaqwa kepada Allah SWT.”

Ketika terjadi dialog di Genggong, Gus-Dur ditanya oleh K.H. Bashori Alwi, “Apa alasan Gus-Dur mengatakan Khumaini waliyullah terbesar abad ini?  “Gus Dur mengelak dan tidak mengakui serta mengatakan itu salah kutip wartawan (Gus-Dur mengelak rupa-rupanya dalam melaksanakan ajaran taqiyah dari Syi’ah). Kemudian K.H. Bashori Alwi mengejar dengan bantahan, “Itu bukan masalah salah kutip wartawan tetapi saya mendengar langsung dari Gus-Dur”. Dalam keadaan terjepit Gus-Dur terpaksa menjawab, “yang saya maksudkan Khumaini waliyullah terbesar abad ini adalah Khumaini melawan kedloliman Syah Iran.” Jadi pengertian Gus-Dur mengenai waliyullah bertentangan dengan penjelasan Allah SWT. Dalam firman-Nya sebagaimana tersebut di atas. Dengan demikian Gus-Dur dikhawatirkan terlibat dengan (mengadakan, red nm) sarekat-Nya Allah SWT. Dan yang sependapat dengan Gus-Dur dalam hal tersebut dikhawatirkan menjadi orang musyrik khofi (samar).

Apa yang mendorong Gus-Dur memberi gelar seperti itu? Bukankah itu berarti Gus-Dur telah mengembangkan Syi’ah dengan melalui figur Khumaini yang keyakinannya sesat. Bukan dengan pemberian gelar tersebut agar maksud tersembunyi agar warga NU dan umat Islam mencintai Khumaini yang kemudian diharapkan mereka tersesat masuk ke dalam Syi’ah. Lingkaran setan mana yang telah menjerumuskan Gus-Dur sehingga ia bertindak seperti itu.

  1. Selanjutnya Khumaini tidak segan menuduh Nabi Muhammad SAW dengan tuduhan yang penuh degan kebohongan dan kepalsuan sebagai berikut:

“Dan telah menjadi kenyataan bahwa jika Nabi Muhammad SAW. Benar menyampaikan perintah mengenai imamah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. dan berupaya untuk hal itu niscaya tidak timbul semua perselisihan, pertentangan, peperangan di negara-negara Islam, dan tidak akan timbul dalam pokok agama maupun cabangnya.” (Kasful Asror halaman 55). Di sini  Khumaini dengan tegas menuduh Nabi SAW adalah sumber perpecahan, pebedaan, pertentangan dan peperangan di kalangan umat Islam.

Peserta halaqoh yang terhormat, betapa kejamnya Khumaini dan demikianlah lagu irama orang-orang Syi’ah. Jika Khumaini menuduh Nabi SAW dengan penuh kebohongan maka Said Aqil pun pernah menuduh Nabi SAW dengan penuh kepalsuan. Dengan bukti ucapan Said Aqil bahwa Nabi Muhammad SAW. di dalam meredam kesukuan (qobilah) tidak tuntas. Sungguh ini merupakan penghinaan yang kejam Said Aqil terhadap Nabi Muhammad SAW. yang jelas-jelas bertentangan dengan nash Al-Qur’an:

( وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣)

Artinya:

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya, demikain Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”  (Surat Ali Imron ayat 103).

Di sini jelas bahwa ucapan Sa’id Aqil di atas bertentangan dengan nash Al-Quran yang shorih karenanya ucapan tersebut kufur hukumnya. Hal itu sama dengan pada saat Said Aqil menvonis Nabi “Kalau itu (Hadist Turmudzi) shohih dan memang 73 golongan terjadi persis jelas Rosulullah salah” (Aula, April 1996, hal. 73). Pantaskah itu diucapkan oleh seorang muslim? Pantaskah ucapan itu dilontarkan oleh orang yang konon kabarnya lulusan Ummul Quro (Mekkah) yang merupakan kota pusat lahirnya Islam pertama kali?

Dan juga firman Allah surat Al-Ahzab ayat 6:

ÓÉ<¨Z9$# النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

     Artinya:

“Nabi itu (sebenarnya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (orang-orang mukmin)”.

Kemudian surat Al-Ahzab ayat 32:

 يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ

Artinya:

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidak sama dengan wanita lain”.

Inilah ayat-ayat yang membuktikan kesucian para istri Nabi SAW. Dan satu lagi hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori “pada saat Nabi masuk di kamar Saidah Aisyah, Nabi mengucapkan Assalamu’alaikum ahlal baiti warohmatullah kemudian dijawab Saidah Aisyah Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh”.

Tuduhan-tuduhan golongan Syi’ah yang keji terhadap para Shahabat Nabi sangatlah bertentangan dengan nash al-Qur’an antara lain:

  1. Surat Ali Imron 191:

 الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

 Artinya:

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan kami tidaklah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”.

  1. Surat As-Sajdah ayat 16:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (١٦)

Artinya:

“Lambung mereka jauh dari tempat mereka berbaring, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan penuh harap dan mereka menafaqohkan sebagian rezki mereka yang kami berikan kepada mereka”.

  1. Surat Al-Hadid ayat 10:

لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (١٠)

Artinya:

“Tidak sama diantara kamu orang-orang yang menafaqohkan hartanya dan berperang sebelum menaklukkan (Makkah) derajat mereka lebih tinggi dari orang yang menafaqohkan harta mereka dan berperang sesudah itu (penaklukan Makkah). Allah menjanjikan masing-masing diri mereka pahala yang baik dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

  1. Surat Al-Anfal ayat 74:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (٧٤)

Artinya:

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dan memberikan tempat tinggal dan pertolongan (kepada orang-orang yang hijrah) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia”.

  1. Surat At-taubah ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١٠٠)

Artinya:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.

 

  1. Khumaini mengatakan “Sesungguhnya Al-Imam mempunyai kedudukan yang mulia dan derajat yang agung dan kekuasaan yang alamiah di mana semua unsur alam tunduk pada imam dan telah menjadi ketetapan kami, bahwa imam-imam kami itu mempunyai kedudukan pangkat yang tiada dapat dicapai oleh malaikat yang dekat dengan Allah maupun utusan Allah” (Al Hukumatul Islamiyah halaman 52).

Di sini kembali Khumaini menghina Rasulullah SAW. dengan meletakkan derajat Nabi di bawah imam-imam Syi’ah maupun derajat  para malaikat yang dekat dengan Allah SWT. Dan paling tinggi Khumaini meletakkan derajat Nabi SAW. di urutan yang ke empat belas. Sedangkan Arswendo Atmowiloto yang meletakkan Nabi Muhammad SAW. Pada urutan ke sebelas tokoh-tokoh  populer dunia itu saja mengakibatkan tabloitnya dibredel. Apalagi kitab-kitab Khumaini dan tokoh-tokoh Syi’ah lainnya yang sudah jelas menghina Nabi SAW. Oleh karena itu saya menghimbau pemerintah melalui Menteri Agama supaya dengan tegas melarang kitab-kitab Syi’ah yang menyesatkan itu beredar di Indonesia. Meskipun dalam hal ini Gus-Dur tidak sama dengan saya. Sebab dalam acara Bistek 93 (Dialog Buku), Gus-Dur meminta berusaha agar peredaran buku-buku dan kitab-kitab Syi’ah tidak perlu disensor oleh pemerintah. Lebih jauh Gus-Dur dalam dialog tersebut mempersilahkan warga NU untuk masuk Syi’ah, sehingga harian Terbit 15 Februari 1993 membuat judul Gus-Dur menyeberang ke Sy’iah. Innaalillahi wainnaa ilaihi roojiun. Melalui majalah Aula (April 1996, halaman 26) Gus-Dur membantah dengan pertanyaan “Syi’ah mana yang saya kembangkan?” Dan sekarang saya jawab yang dikembangkan oleh Gus-Dur adalah Syi’ah Imamiyah Istna Asyariyah Ja’fariyah (Syi’ah Iran). Inilah sekedar jawaban saya.

Demikian sebagian kepeloporan Gus-Dur dalam mengembangkan Syi’ah di kalangan NU, sehingga wajar bila Gus-Dur dan Said Aqil saya katakan sebagai pelopor pengembangan Syi’ah di akhir abad kedua puluh ini.

  1. (Bersambung, insya Allah: BAHAYA SYI’AH II)

Ilustrasi alistiba dan pelajarnulamongan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.152 kali, 1 untuk hari ini)