Oleh KH. Abdul Hamid Baidlowi

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem Rembang Jawa Tengah

  1. III.        BAHAYA SYI’AH II

Kepercayaan Syi’ah Terhadap Imam-imam Mereka yang Melampaui Batas.

Syi’ah Imamiah Istna Asyariyah Ja’fariyah berkepercayaan bahwa imam-imam mereka mengetahui hal-hal ghaib lagi pula maksum. Imam-imam mereka mempunyai derajat lebih tinggi daripada Nabi dan utusan Allah, mereka tidak mati atas kehendak sendiri. Golongan Syi’ah menempat-kan martabat para imam setaraf dengan derajat ketuhanan sebagaimana mereka katakan: bahwa para imam mengetahui hal-hal yang sudah terjadi dan segala yang akan terjadi, mengetahui segala isi surga dan neraka dan tidak ada sesuatu-pun yang samar atas mereka. Kebohongan dan kedustaan atas nama Allah membuat orang yang berakal sehat dan berjiwa bersih, berdiri bulu romanya di saat menukil ucapan mereka. Tetapi peserta halaqoh akan menemukan semuanya itu di dalam buku induk karangan tokoh Syi’ah yang paling mereka percayai. Berikut ini saya akan nukilkan keyakinan dan pendapat-pendapat meraka dari kitab-kitab tokoh Syi’ah agar peserta halaqoh mengetahui secara dengan jelas.

  1. Dari Mufaddol bin Umar dari Abdillah AS, Amirul Mukminin berkata “aku adalah penyalur antara surga dan neraka. Aku adalah Agung antara haq dan batil. Akulah pemilik tongkat Musa dan setempelnya. Dan telah mengakui diriku semua malaikat dan ruh serta Rasul-rasul, sebagaimana mereka melakukan pengakuan itu kepada Nabi Muhammad SAW. Telah dipikulkan amanat kepadaku seperti yang dipikulkan kepadanya, yaitu amanat Tuhan. Dan sesungguhnya Rasulullah pernah dipanggil lalu serta dia diajak bicara dan akupun diajak bicara, sehingga aku mengucapkan sesuai apa yang diucapkannya. Aku telah diberi beberapa pemberian yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelum aku. Aku mengetahui kematian dan bencana serta selirih silsilah keturunan dan kata-kata pemutus, sehingga apa yang terlebih dahulu daripada aku tidak luput dari diriku. Dan tiada sesuatu yang jauh dariku dapat terlepas dari pengetahuanku. Aku memberi kabar gembira dengan izin Allah yang telah menempat-kannya pada diriku dengan ilmu-Nya” (Al Kaafi Fil Usul halaman 196-197, juz 1 cetakan Teheran).
  2. Ia berkata “Sungguh aku benar-benar mengetahui segala yang ada  di langit dan di bumi dan segala yang ada di surga dan neraka dan apa yang terjadi serta sedang dan akan terjadi” (Al Kafi Fil Usul, juz 1, halaman 261, cetakan Teheran).
  3. Ia berkata “Allah Tuhan Yang Maha Barokah dan Maha Tinggi memiliki dua ilmu. Satu ilmu yang ditampakkan kepada Malaikat-Nya, para Nabi-Nya para Rasul-Nya, sesungguhnya kami juga mempunyai dua ilmu yang dikhususkan untuk dzat-Nya. Bila mana ada sesuatu yang terlintas pada Allah, kami pun diberitahu hal tersebut” (Al- Usul Minal Kafi, juz 1 halaman 255).
  4. Dari Abdillah ia berkata “Allah telah menciptakan Ulul Azmi diantara Rasul-rasul-Nya, dan mereka dikaruniai kelebihan ilmu dan kami mewarisi mereka dan kelebihan mereka dan kami dilebihkan di atas ilmu mereka dan diajarkan kepeda Rasulullah SAW. Apa yang mereka tidak ketahui, dan diajarkan kepada kami ilmu Rasulullah dan ilmu utusan-utusan Allah” (Bashoirud Darojad, juz 5 halaman 248 dan Fusul Muhimmah, halaman 156).
  5. Dari Abdullah ia berkata “sesungguhnya dunia ini milik imam dan akhirat pun milik imam. Dia meletakkan di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa saja yang dikehenda-ki” (Usul Al-Kaafi juz 1, halaman 450, cetakan Teheran).
  6. Mirza Muhammad Hadi Al-Khurozani mengatakan “Telah bersabda Nabi SAW. Sungguh surga untuk orang yang mencintai Ali sekalipun ia durhaka kepada Rasulullah, neraka diciptakan untuk orang yang membenci Ali walaupun ia taat kepada Rasuluullah” (Risalatul Islam wal Mu’jizat, halaman 276).
  7. Qulaimi mengatakan “Para imam Syi’ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya bisa mati atas kehendak sendiri. Meriwayatkan dari Abi Basir dari Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bahwa ia berkata seorang yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari durinya sendiri dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untuk makhluk-Nya” (Al-Kaafi Fil Usul, jaz 1, halaman 285, cetakan Teheran).

Orang-orang Syi’ah telah melampaui batas dalam memuji dan menyanjung, merangkai khurafat menyalin dusta kebohongan kemudian dialamatkan kepada imam-imam mereka. Bahwa imam-imam mereka berkata “kami telah diciptakan oleh Allah dari cahaya keagungan-Nya dan badan kami, beserta ruh-ruh Syi’ah kami diciptakan dari tanah istimewa di bawah Al-Arsy, adalah jasad-jasad Syi’ah dan para Nabi diciptakan dari tanah yang kurang dari semula, sedang manusia selain Syi’ah telah diciptakan Allah dari tanah untuk menjadi kayu bakar di neraka”. Demikianlah dongeng palsu yang telah dikatakan oleh mereka oleh tokoh utama mereka Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kaafi yang konon kabarnya telah diberi ijazah imam mereka yang ghaib dan direstui dengan ucapan “Sungguh cukup kitab Syi’ah kami ini” dan karena syahadah yang ghaib itulah kitab tersebut dinamakan Al-Kaafi (Al-Kaafi, juz 1, halaman 389-390).

Demikianlah i’tikad Syi’ah terhadap imamnya yang terhimpun dalam kitab-kitab mereka yang merupakan kumpulan literatur yang sah dan yang utama, benar dan yang baik. Apakah ada kemusyrikan dan kekafiran yang lebih berat daripada kepalsuan dan kebohongan keyakinan semacam itu. Patutkah orang yang percaya pada dongeng-dongeng tersebut dikategorikan sebagai muslim dan ahlul kiblat? Sungguh Allah maha suci dari semua klaim dan tuduhan itu.

Allah SWT. Menegaskan dalam kitab suci-Nya bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui barang ghaib walaupun ia seorang Rasul, berbeda dengan Syi’ah yang mengatakan bahwa para imam mereka mengetahui hal-hal ghaib.

1.

@è% žw ÞOn=÷ètƒ `tB ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur |=ø‹tóø9$# žwÎ) ª!$# 4

Artinya:

“Tidak ada siapapun di langit dan di bumi yang mengetahui hal ghaib kecuali Allah” (Surat Annaml ayat 65).

2.

¼çny‰YÏãur ßxÏ?$xÿtB É=ø‹tóø9$# Ÿw !$ygßJn=÷ètƒ žwÎ) uqèd 4 Þ

Artinya:

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri” ( Surat Al-An’am ayat : 59).

3.

ãNÎ=»tã É=ø‹tóø9$# Ÿxsù ãÎgôàム4’n?tã ÿ¾ÏmÎ7øŠxî #´‰tnr& ÇËÏÈ žwÎ) Ç`tB 4Ó|Ós?ö‘$# `ÏB 5Aqߙ§‘ ÇËÐÈ

Artinya:

“(Dia adalah Tuhan) yang mengatahui barang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan pada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali pada siapa yang Dia kehendaki dari rasul” (surat Jin, ayat 26-27).

4.

@è% Hw ãAqè%r& óOä3s9 “ωZÏã ßûÉî!#t“yz «!$# Iwur ãNn=ôãr& |=ø‹tóø9$# Iwur ãAqè%r& öNä3s9 ’ÎoTÎ) î7n=tB (

Artinya:

“Katakanlah Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakanmu bahwa aku adalah malaikat” (Surat Al-An’am, ayat 50).

5.

@è% Hw à7Î=øBr& ÓŤøÿuZÏ9 $YèøÿtR Ÿwur #…ŽŸÑ žwÎ) $tB uä!$x© ª!$# 4 öqs9ur àMZä. ãNn=ôãr& |=ø‹tóø9$# ßN÷ŽsYò6tGó™]w z`ÏB Ύöy‚ø9$# , $tBur zÓÍ_¡¡tB âäþq¡9$# 4 ÷bÎ) O$tRr& žwÎ) ֍ƒÉ‹tR ׎Ï±o0ur 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÊÑÑÈ

Artinya:

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya Aku mengetahui yang ghaib, tentulah Aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Surat Al-A’rof, ayat 188).

 

 

 

 

6.

¨bÎ) ©!$# ¼çny‰YÏã ãNù=Ïæ Ïptã$¡¡9$# Ú^Íi”t\ãƒur y]ø‹tóø9$# ÞOn=÷ètƒur $tB ’Îû ÏQ%tnö‘F{$# ( $tBur “Í‘ô‰s? Ó§øÿtR #sŒ$¨B Ü=Å¡ò6s? #Y‰xî ( $tBur “Í‘ô‰s? 6§øÿtR Äd“r’Î/ <Úö‘r& ßNqßJs? 4 ¨bÎ) ©!$# íOŠÎ=tæ 7ŽÎ6yz ÇÌÍÈ

Artinya:

“Sesungguhnya hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat dan Dialah yang menurunkan dan mengatahui apa yang ada di rahim dan tiada seorang pun yang bisa mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Surat Luqman, ayat 34).

7.

$¯RÎ)ur ß`ósuZs9 ¾ÄÓôvéU àM‹ÏJçRur ß`øtwUur tbqèO͑ºuqø9$# ÇËÌÈ

Artinya:

“Dan sesungguhnya benar-benar Kamilah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami pulalah yang mewarisi” (Surat Al-Hijr, ayat 23).

8.

$tBur tb$Ÿ2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xs•B 3

 

 

 

Artinya:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah  sebagai ketetapan yang tertentu waktunya” (Surat Ali Imron, ayat 145).

Demikianlah aqidah Ahlussunah wal Jamaah bersih lagi suci bukan seperti aqidah Syi’ah yang penuh noda dan bergelimang dosa.

 

  1. IV.          BAHAYA SYI’AH III

Keyakinan Golongan Syi’ah tentang Ketidak Aslian Al-Quran.

Sebagaimana termuat di dalam kitab-kitab induk mereka sebagai berikut:

  1. Abu Abdillah berkata “Al-Quran yang dibawa kepada Muhammad SAW. Adalah 17000 ayat (Al-Kaafi Fil Usul juz 2 halaman 634 cetakan Teheran Iran).
  2. Dari padanya pula pada pihak kami ada mushaf Fatimah as. Apakah mereka tahu mushaf Fatimah itu isinya tiga kali lipat dibanding dengan Al-Quran kalian ini (Al-Kaafi Fil Usul juz 1 halaman 407 cetakan Teheran Iran). Demi Allah tidak satu pun huruf dari Al-Quran tersebut terdapat dalam Qur’an kalian.
  3. Dari Jabir bin Abu Ja’far sa. Ia berkata “Saya bertanya mengapa Ali bin Abi Tholib dinamakan Amirul Mukminin. Jawabnya Allah yang menyamakan demikian”. Begitulah yang telah diturunkan di dalam kitabnya yaitu firman-Nya

وإذ أخَذ منْ بني آدمَ منْ ظهُورهِم ذريتهم وأشهدهم على أنفسِهم ألستُ بربّكم وإنّ محمّدًا رَسُولي وإنّ عَلِيًّا أميْر المؤمنِين. (الكافي كتاب الحجة ص 437 / ج 1)

  1. Diriwayatkan pula ia bekata Jibril turun membawa ayat ini kepada    Muhammad dengan bunyi sebagai berikut:

وإنْ كنتم فى رَيبٍ ممّا نزّلنا عَلى عبْدِنا فى عَلِيّ فأتوا بسُورة مِنْ مِثله (الكافي كتاب الحجة ص 417 / ج 1).

  1. Dari Abi Bashir dari Abi Abdillah sa. Tentang fiman Allah yang berbunyi:

ومَنْ يطع الله ورسُوله في ولاية عَليّ والأئمّة بعدها فقَدْ فاز فَوزًا عَظيْمًا (الكافى كتاب الحجة ص 414 /ج1)

Inilah keyakinan Syi’ah tehadap Al-Quran, satu keyakinan kafir lagi keluar dari Islam laksana keluarnya anak panah dari busurnya. Seklumit dari yang banyak ini bisa saudara temukan di kitab-kitab induk mereka yang terkenal yaitu Al-Kaafi karya Alkulaini, tafsir Al-Qumi, Al-Ijtihad karya Thibrisi, Bhashoirud Darojat karya Shafar, Hayatul Qulub karya Majlisi, tafsir Al-Burhan karya Al-Bahroni, tafsir Assofi karya Muhsin Al-Kashi, Fashlul Khitab Fi Istbat Tahrifi Kitabi Robbil Arbab karya Mirza Taqiyyunuri Thibrizi, Al-Anwar An-Nu’maniyah karya Ni’matullah Al-Jazairi, Kasful Asror karya Khumaini dan lain sebagainya. Tidak satu-pun kitab dari kitab-kitab induk Syi’ah yang menjadi pegangan mereka terlepas dari keyakinan yang merupakan identitas mereka. Mereka kaitkan keyakinan semacam itu kepada para imam mereka yang ma’sum, anggapan yang penuh kepalsuan dan penuh kebohongan serta mengada-ada atas nama Allah dan auliya’-Nya. Para imam tersebut sebenarnya bersih dari kebohongan dan tipu daya yang mereka lakukan.

Peserta halaqoh yang terhormat, sesungguhnya keaslian Al-Quran tidak hanya sekedar impian seluruh umat Islam menyatakan bahwa Al-Quran yang beredar adalah sesuai dengan Al-Quran ketika diturunkan baik huruf, kalimat, titik serta harokat tidak yang dibuang atau diubah dari susunan aslinya. Dalil-dalil yang menunjukkan terjaganya Al-Quran dari segala bentuk kepalsuan tidak hanya bgerupa dalil naqli tetapi dibuktikan juga dengan memakai dalil aqli. Bahkan secara rasional kedua dalil itu tidak mungkin diragukan kebenarannya.

Andaikan al-Quran yang terpelihara itu hanya berada di tangan imam maka apa guna pemeliharaannya, sebab dengan meninggalnya seorang imam maka kelestarian dan kemurnian Al-Quran tentu tidak dapat dipertahankan lagi. Argumen seperti itu tidak bisa dijadikan pegangan bagi sebuah aqidah. Begitu pula untuk kepentingan ibadah dan mua’malah serta egar-hukum lainnya. Al-Quran merupakan dasar ajaran Islam dan landasan berpijak, apabila Al-Quran telah mengalami pengubahan atau pembuangan sebagian ayat-ayatnya maka Islam sudah kehilangan asas yang pokok. Dan semua ummat Islam tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukan. Hal tersebut lantaran mereka telah kehilangan pegangan yang menjadi pegangan hidupnya dan praktis syariat Islam pun menjadi terhambat karena tidak adanya dustur atau undang-undang sehingga Al-Quran sudah kehilangan fungsinya bagi umat manusia setelah Nabi Muhammad SAW. Wafat karena Al-Quran yang asli selalu dalam tangan imam Mahdi yang sampai sekarang belum dapat diketahui kapan datangnya.

 

V. SANKSI HUKUM

  1. Barangsiapa mencaci-maki dan memberi aib kepada Nabi atau memberi nilai kurang kepada pribadi Nabi, nasab Nabi, agama Nabi, atau perangai Nabi dari perangai-perangai Nabi atau orang yang menyindir kepada Nabi atau yang menyerupakan kepada Nabi dengan sesuatu dengan maksud mencerca kepada Nabi atau menghina Nabi atau mengecilkan keberadaan Nabi atau merendahkan keberadaan Nabi maka orang tersebut sama mencaci maki dan hukuman bagi orang yang mencaci maki Nabi adalah dibunuh. Demikian menurut ijma’ ulama sejak zaman shahabat sampai seterusnya. Demikian keterangan Qodhi Iyadh dalam kitabnya Assifa’.
  2. Barangsiapa meremehklan Al-Quran dan mushaf atau sesuatu dari Al-Quran atau mencaci maki Al-Quran atau mushaf atau menentangnya atau menentang satu huruf atau satu ayat dari Al-Quran atau mendustakan dengan sesuatu yang sudah jelas hukumnya atau pemberitaan dari Al-Quran atau yang menetapkan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Al-Quran atau orang yang tidak menetapkan sesuatiu yang tidak ditetapkan Al-Quran, yang semua itu dilakukan atas dasar pengetahuannya atau siapa saja yang ragu akan sesuatu dari Al-Quran maka menurut ijma’ ulama hukumnya adalah orang kafir.
  3. Siapa yang mencaci maki keluarga Nabi, istri Nabi, shahabat Nabi dan menjatuhkan martabat mereka hukumnya adalah haram dan dilaknat.

 

VI. KESIMPULAN

  1. Bahwa Syi’ah Rofidhoh Imamiyyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah adalah satu kelompok Islam yang menggunakan Islam sebagai perisai dengan segala daya upaya untuk menghancurkan Islam secara total.
  2. Ajaran Syi’ah tentang imamiyah sangat membahayakan karena berkaitan dengan kepemimpinan negara.
  3. NU dengan aqidah Ahlussunah wal Jamaah harus bersih dari orang yang pola pemikirannya sama atau menyerupai pola pemikiran Syi’ah yang ekstrim.
  4. Pemikiran-pemikiran prinsip yang telah disampaikan oleh Gus-Dur dan Said Aqil Siradj dalam beberapa hal ada persamaan dengan Syi’ah.
  5. Pendekatan-pendekatan antara Syi’ah dan Ahlussunah adalah penipuan yang pada hakikatnya akan menjerumuskan orang pada lingkaran Syi’ah.

 

VII. HIMBAUAN

Kepada seluruh ulama Ahlussunah wal Jamaah, generasi muda NU, pemerintah, ABRI, dan umat Islam Indonesia pada umumnya untuk mewaspadai gerakan Syi’ah yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam.

Demikianlah peserta halaqoh yang terhormat pokok-pokok permasalahannya yang perlu kita pecahkan bersama dalam menyiasati bahaya Syi’ah di kalangan Nahdlatul Ulama di penghujung abad ke dua puluh ini.

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

 

Lasem, 1 Shafar 1417 H

17   Juni 1996 M

 

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah

Lasem Rembang Jawa Tengah

 

KH. Abdul Hamid Baidlowi

(Disadur dari:

JUDUL BUKU

Kritik terhadap Gus Dur dan  Sa’id Aqil

& Menyiasati Bahaya Syi’ah di Kalangan Nahdlatul Ulama di Penghujung Abad ini

 

PENULIS

KH. Abdul Hamid Baidlowi

 

PENERBIT :

Pondok Pesantren Al-Wahdah Sumber Girang Lasem Rembang Jawa Tengah)

Sumber: ribathdeha.files.wordpress.com/…/format-buku-kritik-terhadap-gus-d.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 954 kali, 1 untuk hari ini)