Ust Abdul Somad. Foto/suaraislamco

Silakan simak ini.

***

Antara Ust. Abdul Somad,  MA, Masalah Istiwaa’, Aqidah Asy’ariyyah, Mu’tazilah, & Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf) – (1/3)

 

Alhamdulillah

Artikel ini semata-mata ingin mengungkapkan fakta yang sesungguhnya tentang model aqidah Asy’ariyyah yang diusung oleh Ust. Somad hafizhahullah, bahwasanya pendapat UstSomad justru bertentangan dengan tokoh-tokoh Asya’iroh terdahulu, termasuk Imam Abul Hasan al- Asy’ary yang dinisbatkan kepadanya aqidah takwil secara keliru oleh Ust. Somad. Pendapat Ust. Somad dalam masalah Istiwaa’, berseberangan dengan prinsip Rasulullah dan para Sahabatnya, tidak sesuai dengan pendapat as-Salaf as-Shalih, pendapat Imam mazhab yang empat, dan imam- imam ahlussunnah lainnya. Di samping itu, artike ini juga berharap agar para pembaca tidak mengikuti kesalahan seorang figur yang keliru dalam masalah aqidah. Karena kekeliruan dalam masalah aqidah, sangatlah fatal, terlebih jika itu menyangkut aqidah kita tentang Allah.

Alhamdulillah

Artikel ini telah dibaca, di-muraja’ah, dan diberi masukan oleh: Ust. Dr. Firanda Andirja, MA.

Penulis: Abu Ziyān Johan Saputra Halim, M.HI. Pimred alhujjah.com, Pengasuh kanal dakwah Telegram: @kristaliman

MUKADDIMAH

Keyakinan bahwa Allah itu Maha Tinggi dan berada di atas, sejatinya merupakan keyakinan yang telah terpatri dalam fitrah kaum muslimin secara umum. Ungkapan-ungkapan mereka yang biasa kita dengar semisal;

Kita serahkan pada Yang di Atas”…, “Kalau Yang di Atas telah berkehendak”…., dan lain-lain yang semisal,

adalah bukti bahwa sebenarnya hati kita tidak bisa memungkiri keberadaan Allah di atas segenap makhluk. Di samping juga mereka—ketika berdoa dan berharap kepada Allah—kedua tangan serta kepala mereka menengadah ke atas, tidak ke samping, dan tidak ke bawah.

Kita tidak pernah mendengar ungkapan kaum muslimin yang menyatakan; “Kita serahkan saja pada yang tidak di bawah dan tidak di atas”..., atau “Kita serahkan pada Dzat yang ada di mana-mana”… Sungguh kita tidak pernah mendengar yang demikian terucap oleh lisan mereka.

Namun sungguh sangat disayangkan, sebagian tokoh yang mengaku bermadzhab Asy’ary dan memperjuangkan madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ary justru berseberangan dengan keyakinan kaum muslimin tersebut, sekaligus juga berseberangan dengan aqidah Imam Abul Hasan al-Asy’ary, khususnya dalam masalah Sifat Allah, “Istiwaa‘” yaitu; Keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya dan di atas segenap makhluk-Nya tanpa tasybih dan takyif.

* * *

Pada satu kesempatan, sebagaimana yang terekam dalam video pada tautan ini; https://youtu.be/iLrYf59yzcwUst. H. Abdul Somad, Lc., MA., –hafizhahullah— ditanya; “Di mana keberadaan Allah itu Pak Ustadz…??”. Jawaban Ust. Somad hafizhahullah yang terurai kemudian, begitu jelas menggambarkan peta aqidah beliau dalam masalah Nama-Nama dan Sifat-Sifat​ Allah.

Mengawali jawabannya, Ust. Somad hafizhahullah membagi pemahaman orang terkait pertanyaan besar tersebut menjadi dua kelompok. Pertama; kelompok manusia yang mengatakan Allah itu berada di bumi bersama makhluk-Nya. Kedua; kelompok manusia yang menganggap Allah itu di atas, “duduk di atas kursi” (menit: 0.42).

Demikian klasifikasi beliau. Kita sepakat bahwa kedua kelompok tersebut adalah kelompok yang sesat.

Selanjutnya, Ust. Somad hafizhahullah mulai mengomentari anggapan batil kedua kelompok tersebut yang berujung pada kesimpulan bahwa ada kelompok ketiga yang paling benar dalam menyikapi pertanyaan “Di mana Allah..??”—menurut Ust. Somad hafizhahullah—. Yaitu kelompok Asy’ariyyah (Abul Hasan al-Asy’ary) yang mengatakan; “Allah itu ada tanpa tempat. Tidak berada di atas ‘Arsy-Nya, dan makna Istawaa adalah Istaulaa, yaitu berkuasa.”

Entahlah, apa yang menyebabkan Ust. Somad hafizhahullah tidak menyebutkan aqidah  kelompok yang keempat dalam masalah ini, kelompok yang justru dihuni oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabatnya, juga para imam-imam Salaf yang lebih dulu masa hidupnya dibanding Abul Hasan al-Asy’ary rahimahullah.

Padahal jika merujuk kepada perkataan Abul Hasan al-Asy’ary rahimahullah dalam kitabnya, tegas sekali beliau menyebut bahwa takwilan Istaulaa adalah pendapat menyimpang sekte Mu’tazilah, sebagaimana akan Anda temukan nukilan ilmiahnya dalam tulisan ini.

Nantinya, dalam tulisan ini juga Anda akan menemukan beberapa nukilan ilmiah dari ucapan Abul Hasan al-Asy’ary dan pemuka Madzhab Asy’ariyyah terdahulu (mutaqaddimin) yang justru bertolak belakang 180 derajat dari apa yang diklaim oleh Ust. Somad hafizhahullah. Karena Abul Hasan al-Asy’ary dan al-Baqillani, yang merupakan tokoh salaf di kalangan Asya’iroh, justru menetapkan Allah itu berada di atas ‘Arsy-Nya.

Ust. Somad juga menukil dalam video tersebut ungkapan dari Imam at-Thahawi yang disalahartikan oleh beliau. Padahal jika merujuk ke sumber aslinya (al-‘Aqidah at-Thahawiyyah), ternyata maksud Imam at-Thahawi jauh berbeda dengan apa yang diinginkan oleh Ust. Somad. Imam at-Thahawi justru menetapkan Allah itu di atas. Anda akan membaca bukti ilmiahnya dalam tulisan ini—Insya Allah—.

Selain itu, Ust. Somad juga menukil sebuah riwayat yang konon pernah diucapkan oleh Sayyidina ‘Ali radhiallahu’anhu. Namun sayang ternyata riwayat ini palsu, tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahan dan validitasnya.

Ust. Somad hafizhahullah juga menyangka bahwa menetapkan sifat istiwaa’ bagi Allah berarti melazimkan tasybih (penyerupaan) antara Allah dengan makhluk yang tengah duduk di atas kursi, sehingga firman Allah yang menegaskan diri-Nya ber-istiwaa’ haruslah ditakwil menjadi Istaulaa (berkuasa). Padahal dalam kitab al-Jawahir al-Kalamiyyah, kitab karya Syaikh Thahir al-Jazairi yang lazim menjadi buku pegangan aqidah Asy’ariyyah di Pondok-Pondok Pesantren nusantara, dengan tegas menyebut bahwa penetapan keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya  tanpa takyif adalah Madzhabnya Salaf, sementara takwil Istiwaa’ menjadi Istaulaa adalah Madzhabnya Khalaf (orang-orang belakangan, setelah generasi salaf). Dan berpegang dengan Madzhab Salaf dalam masalah ini—kata Syaikh Thahir—lebih selamat.

* * *

Baiklah, mari sejenak merunut kalimat demi kalimat yang diucapkan Ust. Somad hafizhahullah dalam video tersebut. Dengan mengharap pertolongan Allah, selanjutnya saya akan berusaha memberikan sedikit tanggapan dan catatan berdasarkan dalil-dalil syar’i dan penjelasan ulama Salaf terhadap beberapa kejanggalan ucapan beliau dalam video tersebut.

[Ini kutipan dari bagian awal dari 3 artikel bersambung yang menyoroti aqidah Ust Abdul Somad Antara Ust. Abdul Somad,  MA, Masalah Istiwaa’, Aqidah Asy’ariyyah, Mu’tazilah, & Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf) – (1/3)]

 

Selengkapnya silakan simak di link 3 seri berikut :

1.

https://www.nahimunkar.org/antara-ust-abdul-somad-ma-masalah-istiwaa-aqidah-asyariyyah-mutazilah-imam-abul-hasan-al-asyary-pro-nabi-sahabat-serta-imam-imam-salaf/

2.

https://www.nahimunkar.org/antara-ust-abdul-somad-ma-masalah-istiwaa-aqidah-asyariyyah-mutazilah-imam-abul-hasan-al-asyary-pro-nabi-sahabat-serta-imam-imam-salaf-2-3/

3.

https://www.nahimunkar.org/antara-ust-abdul-somad-ma-masalah-istiwaa-aqidah-asyariyyah-mutazilah-imam-abul-hasan-al-asyary-pro-nabi-sahabat-serta-imam-imam-salaf-3-3-selesa/

 

(nahimunkar.org)