Masih Banyak yang Meninggal di Luar Pengadilan

Kajian dan diskusi FUI Yogyakarta bersama Ust. Mu’inudinillah Basri dan Ust. Mustofa B. Nahrawardaya Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ahad (3/4 2016). Tema: “Isu Radikalisme dan Terorisme adalah Alat untuk Menghancurkan Islam “. / foto
Habib Adnan Al Afghanilany

Peristiwa meninggalnya Siyono, menurut Mustofa, dapat menjadi momentum bagi seluruh warga untuk bersuara dan memberikan koreksi ketika isu tentang terorisme tidak diselesaikan secara proporsional oleh aparat kepolisian. “Ini tabir pembuka. Masih banyak yang meninggal di luar pengadilan,” kata dia dalam tabligh akbar di Masjid Jogokaryan, Yogyakarta, Ahad (3/4 2016).

Dalam kesempatan itu terkumpul dana Rp16.633.000. Dana tersebut akan diserahkan langsung kepada keluarga Siyono melalui Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah.

Inilah beritanya.

***

Berempati, Ormas Muslim DIY Galang Dana untuk Keluarga Siyono

Yogyakarta, CNN Indonesia — Masyarakat menaruh perhatian besar pada kasus Siyono (34), terduga teroris yang meninggal saat proses penyelidikan oleh kepolisian. Ratusan umat muslim dari berbagai organisasi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, hari ini menggelar penggalangan dana untuk keluarga Siyono.

Pembina Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY Puji Hartono menyatakan bahwa sebagai sesama umat Islam pihaknya ikut berempati dengan keluarga Siyono. “Salah satu yang bisa kami lakukan adalah menyiapkan dana,” kata Puji seusai penggalangan dana di Masjid Jogokaryan, Yogyakarta, Minggu (3/4).

Dalam penggalangan dana yang dilakukan di sela-sela doa bersama dan diskusi tentang terorisme dan radikalisme tersebut terkumpul dana Rp16.633.000. Dana tersebut akan diserahkan langsung kepada keluarga Siyono melalui Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah.

“Mudah-mudahan dana yang terkumpul ini bisa membantu keluarga Siyono, istrinya, dan anak-anaknya,” kata dia.

Peneliti Terorisme dari PP Muhammadiyah Mustofa B Nahrawardaya dalam kesempatan itu mengatakan organisasi Islam sudah sewajarnya mendukung dan mengadvokasi sesama umat Islam yang terindikasi mendapat perlakuan tidak adil.

Dukungan yang diberikan Muhaamdiyah serta ormas umat Islam lainnya untuk keluarga Siyono, menurut Mustofa, tidak dapat diartikan sebagai bentuk keberpihakan terhadap terorisme.

“Ini soal kemanusiaan. Dia mati bukan di pengadilan, jadi belum jelas dia teroris atau bukan. Siapapun dia entah Siyono atau lainnya kalau ada indikasi pelanggaran HAM kami akan bela,” kata dia.

Peristiwa meninggalnya Siyono, menurut Mustofa, dapat menjadi momentum bagi seluruh warga untuk bersuara dan memberikan koreksi ketika isu tentang terorisme tidak diselesaikan secara proporsional oleh aparat kepolisian. “Ini tabir pembuka. Masih banyak yang meninggal di luar pengadilan,” kata dia.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY serta Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda (KOKAM) Muhammadiyah itu juga sekaligus mengawal penyelenggaraan autopsi jasad terduga teroris Siyono (34) oleh Tim dokter forensik dari Muhammadiyah di tempat pemakaman Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Di sela acara diskusi dan penggalangan dana, panitia memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan proses autopsi.

Terduga teroris Siyono, warga Dukuh, Desa Pogung, Kabupaten Klaten setelah ditangkap oleh Densus 88 Mabes Polri dikabarkan meninggal dunia di Jakarta, Jumat (11/3). Pihak keluarga, terutama istri Siyono, Suratmi meminta keadilan terkait dengan meninggalnya suaminya.

Komnas HAM yang dikoodinator oleh Siane Indriani melakukan investigasi atas meninggalnya Siyono, kemudian meminta bantuan PP Muhammadiyah untuk melakukan autopsi.

Sumber: cnnindonesia.com/Basuki Rahmat, Minggu, 03/04/2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.540 kali, 1 untuk hari ini)