Penggusuran di Rawajati Kalibata Jakarta Selatan, Kamis pagi (1/9 2016)/ foto infonitas


Merasa digusur paksa secara zalim dan tidak sah, warga Rawajati Pancoran Jakarta Selatan akan mengajukan gugatan ke PTUN.

Pekan depan insya Allah kami ajukan gugatan ke PTUN Jakarta Selatan didampingi oleh satu lembaga bantuan hukum yang dipimpin Pak Hasibuan, kata Hari Susanto (45 tahun) warga Rawajati Barat, menjelang Jum’atan (2 September 2016) di lokasi pnggusuran Rawajati Barat, samping Kalibata City dekat stasiun kereta Duren Kalibata Jakarta Selatan.

Kenapa Susanto menyebut penggusuran itu zalim dan tidak sah, karena kemarin waktu akan digusur (Kamis pagi 1 September 2016) pihaknya menantang pihak penggusur: Mana tunjukkan bukti sah bahwa kami harus digusur karena menempati tanah pemerintah. Tunjukkan! Kalau memang ada bukti, maka Bapak-bapak tidak usah berpayah-payah menggusur dengan mengerahkan 650 satpol PP lengkap dengan seragam pakai helm dan alat tameng; tetapi kami sendiri yang akan membongkarnya.

Lanjut Susanto, kami ini menempati tanah yang sah dan ada suratnya, warisan dari Moh Zen yang kakek moyang kami itu mewarisi dari orang tuanya, Sarpiah yang meninggal tahun 1926, ujarnya sambil menunjukkan di antara berkas yang dibuat oleh Ketua BPN (Badan Pertanahan Nasional) Soni Harsono 1995.

Jadi kami digusur ini jelas diperlakukan secara zalim, tidak ada dasarnya, tandasnya. Sehingga kemarin sebelum penggusuran, pagi-pagi saya minta bukti surat tugas dan bukti sahnya bahwa kami harus digusur, ternyata tidak ada. Bahkan Pak Lurah Rawajati dan Pak Camat Pancoran kami cari-cari juga tidak ada. Namun sudah dikerahkan tenaga penggusur dengan 650 satpol PP pakai seragam tersebut dengan alat berat 2 beco, jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Susanto, pihaknya akan mengajukan gugatan ke PTUN dan sudah disanggupi oleh Pak Hasibuan.

Lebih ngenasnya lagi, menurut Susanto ini, bahwa pihaknya yang jelas memiliki hak tanah dan bersurat merupakan warisan dari kakek moyangnya secara turun temurun dari tahun 1926, tahu-tahu digusur. Sedang di sebelahnya, apartemen Kalibata City Podomoro itu diyakini oleh kakek Susanto bernama H Kosim (waktu masih hidup) tidak punya hak dan tidak punya surat, tetapi kini tidak digusur. Yang digusur justru rakyat yang memiliki tanah secara sah.

Kenapa Podomoro diyakini oleh H Kosim tidak punya hak, karena sebenarnya tanah itu dulu disewa PT Sepatu Bata selama 70 tahun dari pihak keluarga Moh Zen. Kemudian setelah berakhir, beralih ke Podomoro tanpa berunding dengan pihak pemilik tanah yakni para pewaris Moh Zen. Jadi ironis, yang tidak punya hak dibiarkan, sedang yag punya hak yakni rakyat-rakyat kecil digusur paksa, ujarnya dengan sedih.

***

Dipukuli, Hingga kemarin sore belum sadar

korban penggusuran

Sudah rumahnya digusur, orangnya jadi korban tak sadarkan diri karena dipukuli/ foto wrtkt

Pak Edi yang  rajin shalat berjamaah ke masjid Rawajati Barat dengan membawa cucunya umur 5 tahun, tadi pagi bilang, adiknya yang  jadi korban dipukuli pakai balok (?) oleh orang-orang berseragam, masih di rumahsakit, sampai kemarin sore belum sadar. Namun Pak Edi belum sempat menengokinya, karena dia dan 9 keluarganya masih dalam keadaan “berantakan” di trotoar samping pagar Kalibata City Jakarta Selatan.

Pak Edi adalah wong Jowo yang  mengaku menyesal kemarin ikut milih mereka yang  tak tahunya kini bikin sengsara.

Rumah Pak Edi banyak disorot kamera karena tampak penampung airnya tinggi warna oren yang  di foto2 tampak ambruk dikeruk alat berat. Sedang anaknya lelaki muda berkacamata yang suka ke masjid pula membawa anak kecilnya, jadi kurban diinjak-injak org2 berseragam pula, kemarin pagi saat penggusuran. Tadi pagi ia mengaku sekujur tubuhnya masih ngilu-ngilu, entah luka di dalam atau tidak belum tahu, karena lagi sedih lagi sedih dan repot menghadapi kenyataan pahitnya derita penggusuran paksa, dan jadi korban diinjak-injak orang-orang berseragam pula.

***

Status Mendoakan Keburukan terhadap Orang Zalim

do'a org teraniyaya

ilustrasi/ panduanmlys

Pada dasarnya, dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nisa’: 148)

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: “Allah tidak suka seseorang mendoakan keburukan untuk selainnya, kacuali ia dalam keadaan dizalimi. Allah memberikan keringanan baginya untuk mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.dan itu ditunjukkan oleh firman-Nya, “Kecuali oleh orang yang dianiaya.” (namun), jika bersabar maka itu lebih baik baginya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat di atas)

Firman Allah yang lain,

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka.(QS. Al-Syuura: 41)

. . . dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya. . .

Namun, apakah ini yang terbaik baginya? Tidak. Jika ia membalas kepada orang yang menzaliminya dengan doa keburukan, maka ia tidak mendapat apa-apa karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan (kepuasan).

Berbeda jika doanya dengan niatan agar orang-orang tidak lagi menderita akibat kejahatannya, maka ia mendapat pahala dengannya. Terlebih jika niatnya untuk menghilangkan kezaliman, menegakkan syariat Allah dan hukum-Nya, maka pahala yang didapatkannya lebih banyak./ voa-islam.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 739 kali, 1 untuk hari ini)