• Bahaya “Islam Liberal” yang dijuluki sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) telah menimbulkan keresahan secara merata di kalangan Ummat Islam Indonesia
  •  Faham liberal (sepilis) itu telah diharamkan MUI dalam fatwanya, Juli 2005. Namun justru di perguruan tinggi Islam se-Indonesia, faham sepilis itu dikembang suburkan terutama setelah kurikulumnya se-Indonesia diganti oleh Harun Nasution dari madzhab Ahlus Sunnah diganti Mu’tazilah (faham sesat) sejak tahun 1980-an. Dan sejak tahun 2000-an apalagi ketika presidennya Gus Dur (Abdurrahman Wahid) maka faham liberal semakin mengganas. Di samping yang disuntikkan lewat pendidikan tinggi Islam, faham liberal yang membahayakan Islam itu diusung oleh kelompok-kelompok bentukan baru, dan jumlahnya banyak di berbagai kota di Indonesia. Yang pernah didanai lembaga kafir Amerika saja ada 44 kelompok di Indonesia, di antaranya yang terkenal adalah JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dikomandoi oleh Ulil Abshar Abdalla anak kyai namun didikan filsafat di perguruan katholik di Jakarta. Sehingga ketika Ummat Islam membenci faham liberal karena menyadari betapa bahayanya, cukup menyebutnya JIL, walaupun sebenarnya JIL hanyalah satu bagian dari aneka macam yang liberal.
  • Sebenarnya yang liberal itu bersembunyi di dua jalur. Jalur aman dan terlindungi dan bahkan merata se-Indonesia adalah yang menunggangi pendidikan tinggi Islam se-Indonesia di bawah Departemen Agama yang kini Kementerian Agama. Ini sangat berbahaya, karena tidak mudah diketahui oleh Ummat Islam umum, karena diajarkan di kelas-kelas dalam perkuliahan. Hanya tempo-tempo ketika ada dosen yang sengaja menginjak lafal Allah dengan sengaja, dan kemudian diberitakan di media massa, barulah Ummat Islam mendengarnya, lalu “pura-pura” pihak IAIN atau STAIN tempat kejadian itu memberikan sanksi, katanya. Makanya sampai ada buku karya Hartono Ahmad Jaiz berjudul Ada Pemurtadan di IAIN. Buku itu dibedah pula di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. Itu yang jalur perguruan tinggi Islam.
  • Satu lagi jalur luaran, seperti JIL bersama 44 kelompok yang pernah didanai lembaga kafir Amerika. Sepak terjang JIL dan lainnya itu meresahkan Ummat Islam, dan sering timbul polemic. Akibatnya, yang lembaga kafir dari Amerika itu tampaknya lebih memilih untuk tetap mendanai racun liberal yang disuntikkan lewat pendidikan tinggi Islam se-Indonesia. Makanya tiap tahun lewat Kementerian Agama dikumpulkanlah 160-an doctor dari UIN, IAIN, STAIN dan lainnya se-Indonesia untuk ditatar di antara yang ketahuan adalah yang penatarnya dedengkot murtad Dr Naser Hamid Abu Zaid yang murtadnya saja resmi atas vonis Mahkamah Agung Mesir 1996, diundang Departemen Agama untuk menatar para dosen se-Indonesia itu tahun 2007. Alhamdulillah, kehadiran dedengkot murtad itu ditolak oleh MUI Riau, karena ketahuan tersebut. Setelah itu khabarnya pertemuan-pertemuan tetap diadakan dan disponsori lembaga kafir dari Amerika, penyelenggaraannya dengan cara boleh dibilang tersembunyi, mungkin agar tidak diprotes seperti di Riau 2007.
  •  Karena selama ini yang dimengerti oleh Ummat Islam umum adalah kelompok liberal yang di luaran seperti JIL dan konco-konconya itu, maka ketika Ummat Islam resah sekarang yang ingin Ummat bubarkan adalah JIL alias kelompok liberal yang di luaran.
  • Berhasil atau tidak dalam upaya membersihkan Indonesia dari faham JIL alias faham sepilis, yang jelas keresahan Ummat Islam telah memuncak atas bahaya faham yang telah diharamkan MUI tahun 2005 itu. Oleh karena itu, kemungkinan besar setelah langkah ini diaksikan secara merata, nantinya akan diaksikan pula kepada liberal yang selama ini aman yakni Kementerian Agama (kementerian terkorup di Indonesia menurut KPK) dengan perguruan tinggi Islam se-Indonesia yang selama ini ada pemurtadan di sana, yakni menyuntikkan racun sepilis kepada para mahasiswanya.
  • Genderang aksi sudah ditabuh, dan tampaknya pantang mundur untuk memberantas faham liberal yang haram itu.

Inilah beritanya.       

***

Jangan Lewatkan Apel Siaga “Indonesia Tanpa JIL” Mulai Besok Jum’at

Kamis, 01 Mar 2012

JAKARTA (voa-islam.com) – Sepanjang bulan Maret 2012, Indonesia akan disemarakkan aksi damai di berbagai daerah yang mengusung tema “Apel Siaga Umat Islam: Indonesia Tanpa Liberal.” Aksi ini dilakukan menyusul aksi #Indonesia Tanpa FPI yang digelar oleh para aktivis liberal bersama kaum bencong, gerombolan gimbal bertato dan para wanita perokok, beberapa waktu lalu.

Tiga aksi damai akan tersaji di berbagai daerah mulai besok. Demo besar-besaran menuntut pembubaran Jaringan Islam Liberal (JIL) itu akan dimulai besok Jum’at (2/3/2012) di Medan, Sumatera Utara. Rencananya, aksi bertajuk “Hancurkan Kezaliman dengan Ketegasan dan Perlawanan Nyata” itu digelar usai shalat Jum’at di reruntuhan Masjid Al-Ikhlas, Jalan Timur Medan.

Dari masjid yang telah dihancurkan oleh kaum Liberalis dan Kapitalis ini, massa bergerak Ke kantor Wali Kota Medan dan Hotel Emerald Garde.

Sehari kemudian, umat Islam Tasikmalaya, Jawa Barat akan menggelar aksi demo pada Sabtu (3/3/2012). Aksi yang dimotori Aliansi Masyarakat Peduli Umat Tasikmalaya (AMPUTASI) akan mengusung tema “Indonesia Tanpa JIL: Menentang Liberalisme-Pluralisme.”

Berikutnya, di kawasan Bekasi, Jawa Barat akan digelar aksi menggemparkan: Perlawanan terhadap Liberalisme dan Kapitalisme bertema “We Want Syari’ah: Indonesia Damai Tanpa Liberal.” Aksi yang dimotori Serikat Barisan Pemersatu Umat (SPBU) pada Ahad (4/3/2012) digelar pukul 13.30 WIB. Usai shalat zuhur di Masjid Islamic Centre Bekasi, massa akan longmarch menuju  alun-alun Bekasi dan finish di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi.

Setelah aksi di tiga kawasan tersebut, aksi serupa juga akan digelar di berbagai daerah lainnya.

Puncaknya, Forum Umat Islam (FUI) akan menggelar aksi Apel Siaga Umat bertajuk:

”INDONESIA TANPA LIBERAL” di ibukota Jakarta. Rencananya, aksi besar-besaran ini dilakukan pada hari Jum’at, 30 Maret 2012
pukul 13.30 WIB. Aksi yang akan mengerahkan puluhan ribu massa ormas anggota FUI itu diisi dengan orasi berbagai tokoh ormas di  Bunderan HI. Dari Bunderan HI, massa akan melakukan longmarch menuju
Lapangan Monas

Jakarta Pusat.

Acara monumental di Jakarta ini dikoordinir oleh Ustadz Awit Masyhuri
dan Ustadz Bernard Abdul Jabbar. [taz]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.202 kali, 1 untuk hari ini)