• Surga termasuk perkara yang diimani. Perkara-perkara yang diimani itu tentu saja bukan sekadar dihormati atau dihargai, tetapi sampai diyakini, bahkan diperjuangkan dengan harta, jiwa atau nyawa. Dan itu adalah perintah agama.
  • Kenapa dihumorkan?
  • Sedangkan terhadap yang harus kita hormati saja bila kita tidak menghormatinya maka tidak termasuk golongan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • 9576 – « لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا » ( ت ) عن أنس . قال الشيخ الألباني : ( صحيح ) انظر حديث رقم : 5445 في صحيح الجامع
  • Tidak termasuk kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang (yang berumur) tua kami. (HR At-Tirmidzi dari Anas, dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ nomor 5445).
  • Kalau menghumorkan surga, akherat dan malaikat itu merupakan bentuk ejekan, maka Allah Ta’ala telah mengancamnya:
  • َيْحذَرُ ًالمُنَافِقُوْنَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُوْرَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فيِ قُلُوْبِهِمْ قُلِ اْستَهْزِءُوْا إِنَّ اللهَ مُخْرِجٌ ماَ تَحْذَرُوْنَ # وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِا للهِ وَآيَتِِهِ وَرَسُوْلِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ
  • 64. Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.
  • 65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS At-Taubah: 64, 65).

     

 

Yahya Cholil Ketua Umum PBNU abangnya Yaqut Cholil Menteri Agama. Tangkapan layar video di twitter

 


King Purwa

 


@BosPurwa

 

Nie gw posting ulang berdasarkan video dari akun

@Anak__Ogi

, kalimat yang jelas dan faktualnya yang disampaikan oleh Ketua PBNU KH

@YahyaCStaquf

, khas candaan ala-ala kyai NU sprt Gusdur dll, wlo bgtu keterangan yg gw terima, surga tidak akan pernah terlintas dlm pikiran manusia

5.068 tayangan

0:08 / 0:23

5.30 AM · 10 Nov 2022·Twitter Web App

***

Gus Dur Menghumorkan Akherat dan Malaikat (1)

Posted on 3 July 2009

by Nahimunkar.org

Gus Dur Menghumorkan Akherat dan Malaikat

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Akherat dan Malaikat adalah dua hal yang sifatnya ghaib dan wajib diimani (diyakini) bagi orang Muslim, dan bahkan merupakan pokok-pokok dalam rukun iman.

Mengenai hal ghaib itu sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak berani berbicara kecuali ada dalilnya (ayat Al-Qur’an ataupun hadits). Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mau berbicara, kecuali kalau ada wahyu dari Allah Ta’ala untuknya. Maka bagi setiap Muslim tidak boleh berbicara mengenai hal ghaib kecuali ada dalil yang menjelaskannya.Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ﴿٦٥﴾

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan(Qs An-Naml/ 27: 65).

Meskipun sudah ada ketentuan ayat yang jelas dari Allah Ta’ala seperti itu, namun ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mereka seenaknya mengemukakan hal-hal ghaib tanpa landasan dalil. Bahkan lebih buruk dari itu, ada yang menghumorkan Akherat dan Malaikat. Contohnya, dalam rubric Humor Gus Dur yang bertema Sopir Metromini dan Juru Dakwah, yang dimuat situs Okezone, Senin 22 Juni 2009 11:09 wib. Kutipan selengkapnya sebagai berikut:

Humor Gus Dur

Senin, 22 Juni 2009 11:09 wib

Sopir Metromini dan Juru Dakwah

Di pintu akherat seorang malaikat menanyai seorang sopir Metro Mini. “Apa kerjamu selama di dunia?” tanya malaikat itu.

“Saya sopir Metro Mini, Pak.” Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metro tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.

Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia. “Apa kerja kamu di dunia?” tanya malaikat kepada Gus Dur.

“Saya mantan presiden dan juga juru dakwah Pak…” lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Melihat itu Gus Dur protes.

“Pak kenapa kok saya yang mantan presiden sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang sopir Metro..?” Dengan tenang malaikat itu menjawab: “Begini Pak… Pada saat Bapak ceramah, Bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur… sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat sopir Metro Mini mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa ….” (mbs)

Sumber: http://news.okezone.com/GUSDUR/index.php/ReadStory/2009/06/22/64/231593/sopir-metromini-dan-juru-dakwah

Itulah kenyataan, Akherat dan Malaikat dihumorkan. Padahal kedua-duanya adalah hal ghaib, dan pokok-pokok dalam rukun iman yang 6:

1. Iman kepada Allah,

2. Malaikat-malaikat-Nya,

3. Kitab-kitab-Nya,

4. Rasul-rasul-Nya,

5. Hari Akhir –Akherat–,

6. dan Iman kepada qadha dan qadar –ketentuan/ taqdir– dari Allah Ta’ala.

Perkara-perkara yang diimani itu tentu saja bukan sekadar dihormati atau dihargai, tetapi sampai diyakini, bahkan diperjuangkan dengan harta, jiwa atau nyawa. Dan itu adalah perintah agama.

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١١﴾

011. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (QS As-Shaff/ 61: 11).

Sedangkan terhadap yang harus kita hormati saja bila kita tidak menghormatinya maka tidak termasuk golongan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

9576 – « لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا » ( ت ) عن أنس . قال الشيخ الألباني : ( صحيح ) انظر حديث رقم : 5445 في صحيح الجامع

Tidak termasuk kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang (yang berumur) tua kami. (HR At-Tirmidzi dari Anas, dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ nomor 5445).

Kepada orang yang lebih tua dari kita saja, mesti harus hormat. Lantas, bagaimana pula sikap kita terhadap perkara-perkara yang wajib diimani? Tentu saja dengan mengimaninya, memegang teguhnya, berbuat taat, menepati batasan-batasannya, tidak melanggarnya, bahkan memperjuangkannya dengan harta dan jiwa seperti dalam ayat tersebut di atas. Termasuk tidak mengada-ada, yang mungkin akan menjatuhkan ke arah meremehkan bahkan menepis keimanan. Sedangkan Akherat dan Malaikat itu kaitannya dengan surga dan neraka sebagai balasan akhir dari amal manusia di dunia. Sedang ketika di dunia ini sudah diingatkan oleh Allah Ta’ala:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6) }

006. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At-Tahrim: 6).

كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ ﴿٢٢﴾

022. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): “Rasailah azab yang membakar ini”. (QS Al-Hajj: 22).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوداً غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزاً حَكِيماً ﴿٥٦﴾

056. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nisaa’: 56).

Adapun kepada orang yang beriman dan beramal shalih lillahi Ta’ala maka balasannya surga:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً ﴿١٠٧﴾ خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلاً ﴿١٠٨﴾

107. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya. (Qs Al-Kahfi: 107, 108).

Itu semua bukan bahan humor atau lelucon untuk ditertawakan. Tetapi adalah hal-hal yang wajib diimani, diyakini dalam hati dengan membenarkannya dengan lisan serta mengamalkan apa yang diyakini itu dengan anggota badan serta membenarkan pasti adanya, bahkan mayakininya tanpa ragu sedikitpun.

Agama dijadikan bahan ejekan

Bila tidak mengimaninya berarti kufur. Dan bila memain-mainkannya maka termasuk orang yang menjadikan agamanya sebagai mainan. Allah Ta’ala telah memperingatkan;

يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَتَّخِذُوْا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُواً وَلَعِباَ مِنَ الذِّيْنَ أُوْتُوْا الْكِتاَبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَاْلكُفَّارُ أَوْلِياَءَ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

57. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS Al-Maaidah: 57).

Kalau menghumorkan akherat dan malaikat itu merupakan bentuk ejekan, maka Allah Ta’ala telah mengancamnya:

َيْحذَرُ ًالمُنَافِقُوْنَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُوْرَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فيِ قُلُوْبِهِمْ قُلِ اْستَهْزِءُوْا إِنَّ اللهَ مُخْرِجٌ ماَ تَحْذَرُوْنَ # وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِا للهِ وَآيَتِِهِ وَرَسُوْلِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ

64. Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.

65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS At-Taubah: 64, 65).

لاَتَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيْمَانِكُمْ ِإنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَاِئفَةً بِأَنَّهُمْ كاَنُوْا مُجْرِمِيْنَ# الْمُنَافِقُوْنَ وَاْلمُنَافِقَاتِ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُوْنَ باِلْمنُكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ أَيْدِيْهِمْ نَسُوْا اللهَ فَنَسِهُمْ إِنَّ اْلمُنَافِقِيْنَ هُمُ اْلفَاسِقُوْنَ

66. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (Qs At-taubah/ 9: 66, 67).

[648] Maksudnya: berlaku kikir

Hal ghaib untuk diimani bukan dihumorkan dan bukan untuk mendakwakan diri mengetahuinya

Tentang akherat, dahsyatnya akherat itu digambarkan dalam Al-Qur’an, sedang hal itu hanya pada sisi-Allah sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat.

يَأَيُّهاَ النَّاسُ اَّتقُوْا رَبُّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْماً لاَ يَجْزِى وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُوْدُ هُوَ حَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئاً إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنكُمُ اْلحَيَاةُ الدَُنْياً وَلاَ يَغُرَنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُوْرُ # إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ اْلغَيْثَ وَيَعْلَمُ ماَ فيِ اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بَأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرُ

33. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

34. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Luqman: 33, 34).

Lhah, sekarang ada orang yang menjadikan hal ghaib itu, bahkan dua hal ghaib (Akherat / Hari Qiyamat) dan Malaikat, sebagai bahan humor, lelucon. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja disuruh Allah untuk menyampaikan wahyu ini:

Bersambung ………….

***

Gus Dur Menghumorkan Akherat dan Malaikat (2)


Posted on 4 July 2009

by Nahimunkar.org

 

Sambungan dari Gus Dur Menghumorkan Akherat dan Malaikat (1)

{قُلْ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ لَقُضِيَ الْأَمْرُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالظَّالِمِينَ (58) وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [الأنعام: 58، 59]

58. Katakanlah: “Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kamu[480]. dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim.

59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS Al-An’am/ 6: 58, 59).

[480] Maksudnya: tentu Allah telah menurunkan azab kepadamu sampai kamu binasa.

Sayid Thanthawi dalam At-Tafsir Al-Wasith menjelaskan, dari ayat yang mulia ini diambil perkara-perkara yang terpenting adalah: bahwa ilmu Allah Ta’ala meliputi kulliyyat (garis besar) dan juz’iyyat (rincian), dan segala sesuatu di alam ini. Oleh karena itu jelaslah batilnya pendapat sebagian filosuf yang mengatakan bahwa Allah mengetahui kulliyat (garis besar) dan tidak mengetahui juz’iyyat (rincian). Bahwa ilmu ghaib itu kembalinya kepada Allah sendiri. Al-Hakim berkata, Firman Allah Ta’ala:

{ وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الغيب لاَ يَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ }

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri menunjukkan atas batilnya pendapat Syi’ah Imamiyah; bahwa Imam itu mengetahui sesuatu dari yang ghaib.

Al-Qasimi berkata: Penulis kitab Fat-hul Bayan berkata: Di dalam ayat yang mulia ini ada hal yang menolak kebatilan-kebatilan dukun-dukun, ahli nujum (peramal bintang), dan lainnya dari para pengaku-aku kasyf (tersingkapnya rahasia ghaib) dan ilham yang bukan termasuk urusan mereka dan tidak masuk di bawah kemampuan mereka, dan ilmu mereka tidak meliputinya.

Islam dan pengikutnya telah dicoba dengan kaum yang buruk dari jenis-jenis yang sesat dan macam-macam yang dihinakan ini, dan mereka itu tidak beruntung dari kebohongan-kebohongan dan kebatilan-kebatilan mereka selain garis buruk yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur dan diakui kejujurannya:

{مَنْ صَدَّقَ كَاهِنًا أَوْ مُنَجِّمًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ }

Barangsiapa membenarkan (meyakini) dukun (kahin) atau juru ramal bintang (munajjim) maka sungguh telah kafir dengan apa yang Allah turunkan atas Muhammad.

Ibnu Ma’sud berkata: Nabi kalian diberi segala sesuatu kecuali kunci-kunci ghaib. (Muhammad Sayyid Thanthawi, At-Tafsir Al-Wasith, dalam menafsiri ayat Al-An’am: 59, http://www.altafsircom).

Sahnun berkata: Barangsiapa membenarkan tukang ramal (‘arraf), dukun (kahin) atau juru ramal bintang (munajjim) dalam hal yang ia katakan, maka sungguh telah kafir dengan apa yang Allah turunkan atas Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia berkata: bagaimana halal bagi Muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk membenarkan mereka sedangkan firman Allah Ta’ala:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ﴿٦٥﴾

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan(Qs An-Naml/ 27: 65). (Ibnul Azraq, Badaai’us Suluk fi Thabaai’il Mulukhttp://www.alwarraqcom)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak mengetahui yang ghaib, kecuali apabila diberitahu oleh Allah Ta’ala. Maka Allah berfirman:

قُلْ لاَ أَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ اْلغَيْبَ وَلاَ أَقُوْلُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ ماَ يُوْحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي اْلأَعْمَى وَاْلبَصِيْرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُوْنَ

50. Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS Al-An’am/ 6: 50).

قَلْ لاَ أَمْلَكُ لِنَفْسِ نَفْعاً وَلاَ ضرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ اْلغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتَ مَنَ اْلخَيْرِ وَماَ مَسَّنِيَ السُّوْءَ إِنْ أَناَ إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

188. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS Al-A’raaf: 188).

Hal ghaib yang hanya diketahui oleh Allah tersebut telah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Apabila seseorang tidak mengimani secara utuh keseluruhannya maka batal keimanannya. Sebagaimana ketika tidak mengimani satu ayat atau bahkan sebagian dari ayat saja dari Kitab Allah yakni Al-Qur’an, maka batal keimanannya. Gugur keimanannya.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاء مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS Al-Baqarah: 85).

Celaka bagi pembuat cerita dusta untuk mencari tertawanya orang

عن بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ (الترمذي وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

Dari Bahz bin Hakim, bahwa bapaknya telah bercerita kepadanya dari kakeknya, ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan tertawanya kaum, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya.” (HR At-Tirmidzi, hadits hasan).

Satu perkataan saja kalau itu sesuatu yang tidak diridhai Allah Ta’ala bisa mengakibatkan tercemplung ke neraka. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits:

1721 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ *

1721 Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat . (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Humor Gus Dur itu mengandung aneka masalah:

1. Menghumorkan Akherat dan Malaikat berarti menjadikan simbol-simbol pokok keimanan dan keislaman sebagai bahan lawakan. Ini bukan perkara kecil, tetapi amat dahsyat.

2. Menghumorkan Akherat itu mengandung pengakuan seakan pelakunya tahu tentang hal ghaib. Sedangkan mengatakan tentang Akherat tanpa dalil yang benar saja sudah tidak boleh dalam Islam, apalagi menghumorkannya.

3. Menghumorkan Malaikat itu mempersonifikasikan Malaikat, makhluq ghaib. Padahal berbicara tentang malaikat yang ghaib itu tanpa dalil saja sudah tidak dibolehkan dalam Islam, karena berbicara atas nama Allah (yang berhak menjelaskan tentang hal ghaib) tanpa mandat dari Allah Ta’ala. Apalagi menghumorkannya. Maka kelakuan itu berarti telah menjadikan simbol-simbol pokok agama ini sebagai bahan mainan tertawaan.

4. Humor itu sendiri kalau berupa cerita yang diada-adakan (membuat dusta) agar ditertawakan orang, maka dikecam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang celaka baginya. Apalagi bila cerita yang diada-adakan itu menyangkut agama, bahkan hal ghaib, dalam hal ini Akherat dan Malaikat serta balasan amal manusia di Akherat, maka tentu kecamannya bagi pembuat cerita humor itu lebih dahsyat lagi.

5. Menghumorkan Akherat dan Malaikat dengan disebarkan kepada umum itu menyesatkan manusia dan memprovokasi agar manusia tidak menghargai lagi simbol-simbol keimanan, apalagi mengimaninya.

6. Menghumorkan Akherat dan Malaikat yang isinya putar balik: Sopir (entah beriman atau tidak, dan bahkan ngebut) ditempatkan di akherat oleh Malaikat pada tempat yang jauh lebih baik dengan alasan karena perbuatan ngebutnya itu mengakibatkan orang-orang berdoa. Kata Gus Dur: Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metro tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.
Ini memutar balikkan norma-norma. Bahkan menjadikan yang munkar (keburukan), yaitu menyopir Metro Mini, bus umum, dengan ngebut sebagai ma’ruf (kebaikan) yang tinggi dan dibalas di akherat dengan balasan yang sangat baik. Betapa beraninya dalam memorak porandakan pengertian pahala atau balasan di Akherat kelak.

7. Merusak tatanan masyarakat. Karena memberi pengertian, sopir Metro Mini (bus umum) yang ngebut justru di Akherat malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metro tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.
Ini sama dengan memengaruhi masyarakat agar menghargai setinggi-tingginya terhadap sopir yang ngebut alias ugal-ugalan, dan diiming-imingi balasan di akherat kelak berupa sebaik-baiknya tempat, melebihi tempat juru da’wah yang dia sebut mengakibatkan orang ngantuk. Hal semacam itu tidak akan dilontarkan kecuali oleh orang yang merusak tatanan masyarakat.

8. Mungkin Gus Dur dan para pendukungnya akan beralasan, bahwa itu hanya humor. Perlu ditanya: Apakah mengenai hal yang sangat prinsipil, balasan di akherat kelak, yang sangat menentukan tentang Surga dan Neraka itu hanya humor? Benar-benar kena batunya: Ketika ia dan seluruh yang terlibat dalam perkara ini beralasan bahwa itu hanya humor, berarti telah menjadikan sesuatu yang sangat prinsipil, mengenai keadilan Allah, yakni keputusan terakhir di Akherat kelak, apakah seseorang itu ditempatkan di Neraka atau di Surga itu hanya bahan humor. Itu pada dasarnya adalah menganggap agama Islam ini hanya humor. Apakah tingkah orang ini bersama seluruh yang terlibat dalam penyebaran hal ini bukan penodaan agama yang sangat kurangajar, sekaligus memprovokasi untuk merusak tatanan masyarakat? Dan apakah masyarakat dan penguasa akan diam saja? Padahal mendiamkan sesuatu yang merusak agama dan tatanan masyarakat itu hampir sama bahayanya dengan yang merusak itu sendiri, karena memberi peluang akan terus-terus berlanjutnya pengrusakan!

Apakah memang akan dibiarkan agar rusak semua?!!

(nahimunkar.org)