Ilustrasi fb


Hari ini umat dikepung berbagai musuh. Mulai dari komunis, Syi’ah, kaum sekuler dan orang-orang munafik dari berbagai arah.

Suasana memang semakin panas. Meski konfrontasi fisik belum banyak terjadi, tetapi perseteruan pemikiran dan gesekannya bisa dirasakan. Sudah saatnya kita mengingat kembali berita Al-Qur’an, yang menyatakan bahwa orang-orang kafir ingin memadamkan cahaya Allah, dengan mulut-mulut mereka. Tetapi Allah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya walaupun mereka tidak suka. Allah berfirman;

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 7)

Ibnu katsir menjelaskan bahwa orang-orang kafir yaitu musyrikin dan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ingin memadamkan cahaya (agama) Allah SWT. Petunjuk dan agama yang haq (benar) yang dibawa utusan Allah ingin mereka padamkan dengan bantahan-bantahan dan kebohongan-kebohongan mereka. Maka perumpamaan upaya orang-orang kafir itu seperti orang yang ingin memadamkan sinar matahari atau cahaya rembulan dengan cara meniupnya. Ini tidak mungkin. Demikian pula Rasul yang Allah utus dengan agama-Nya pastilah akan sempurna dan tampak. Oleh karena itu dalam hal yang mereka lontarkan dan inginkan, Allah Ta’ala telah berfirman membantah mereka:

وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32)

Salah satu usaha untuk memadamkan cahaya Allah adalah membredel media-media Islam, terutama media online. Mereka blokir web-web Islam, sementara web-web yang notabene merusak generasi muda yang menyebar berita bohong dan pornografi dibiarkan. Mereka sampaikan bahwa media Islam sumber berita hoax. Memprovokasi umat dan media yang penuh dengan ketidakobyektifan. Hanya mengambil berita dari satu sisi saja.

Padahal semua orang tahu bahwa portal media Islam dan juga akun-akun media sosial lebih dekat dengan fakta. Mereka memberitakan kejadian langsung dari lapangan. Membimbing umat dengan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Membantah syubhat yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Justru media-media besar yang berada di bawah kendali orang-orang kafirlah yang menjadikan berita sebagai tunggangan politik. Mendiskreditkan para ulama dan kiyai dan memisahkan mereka dari umat.

Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya. Apapun tipudaya orang-orang yang tidak senang terhadap Islam, Allah pasti akan membalas dengan tipu daya yang lebih baik. Allah ta’ala berfirman;

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran: 54)

Ayat di atas juga mengandung ancaman bagi orang-orang kafir bahwa kelak mereka akan kalah. Yakinlah bahwa Islam akan menang karena janji Allah pasti terjadi. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda;

إِنَّهُ سَيُفْتَحُ لَكُمْ مَشَارِقُ اْلأَرْضِ وَمَغَارِبُهَا

“Sesungguhnya akan ditaklukkan untuk kalian timur dan barat bumi.” (HR Ahmad).

Maknanya bahwa belahan bumi barat dan timur akan menjadi tempat tegaknya kembali syari’at Islam/ www.an-najah.net, diringkas.

***

Jokowi: Jangan Sampai Pancasila Digeser Ideologi Impor

Presiden Jokowi meminta tak ada ideologi lain yang bisa menggantikan Pancasila. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)

Jakarta, CNN Indonesia — Presiden Joko Widodo menegaskan Pancasila sebagai ideologi Indonesia harus dijaga bersama seluruh anak bangsa. Presiden meminta jangan sampai Pancasila digeser dengan ideologi impor.

“Jangan sampai ideologi impor mendapat ruang, menggeser Pancasila yang pada akhirnya mengoyak NKRI, mengoyak Merah Putih,” kata Jokowi di Bumi Perkemahan Ragunan, Jumat (7/11).

Hal itu disampaikan Jokowi saat meresmikan pembukaan Jambore Kebangsaan Bela Negara Keluarga Besar Forum Komunikasi Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) 2018. Jokowi mengajak putra dan putri TNI dan Polri menjaga Pancasila. Jokowi menegaskan Pancasila menjadi dasar Indonesia tetap bersatu hingga kini, sejak merdeka 73 tahun lalu.

Pancasila, kata Jokowi, juga membuat Indonesia terus bergerak maju meski masyarakatnya sangat beragam mulai dari suku, agama, adat, tradisi, serta bahasa daerah.

Bela negara dan menjaga Pancasila, kata mantan gubernur DKI Jakarta itu, perlu dilakukan semua masyarakat terutama FKPPI.

Menurutnya, hal itu bisa dilakukan dengan banyak cara mulai dari dokter memberikan pelayanan maksimal di daerah terpencil serta turut serta membangun infrastruktur yang bersifat Indonesiasentris.

“Tugas saudara membela negara tidak mudah. Tidak cukup kumpulkan massa, tapi kerja nyata,” tutur mantan Wali Kota Solo ini.

Dalam kesempatan itu, Jokowi kembali menceritakan kinerja selama ini, yang terkait dengan semangat nasionalisme. Di antaranya seperti mengambil alih Blok Rokan dan Blok Mahakam dari asing kepada PT Pertamina, hingga mengambil 51 persen saham Freeport.

“Selama 40 tahun dapat sembilan persen diam saja. Ketika 51 persen malah bilang antek asing. Saya tak akan diam, akan saya jawab,” ucapnya. (chri/ain)

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 13:15 WIB

***

Islam Tidak Dapat Dibendung

Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. [at-Taubat/9:32].

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. [Ali ‘Imrân/3:120].

***

Berdasarkan kenyataan sejarah, gerakan Islam sebagai ideologi, tidak bisa dibendung dengan kedok Pancasila, aliran kepercayaan, bahkan sepilis (sekulerisme, pluraisme agama, dan liberalism alias kemusyrikan baru).

Modus terbaru yang kini sedang dilancarkan adalah bagaimana orang Islam tetap merasa Islam namun dengan tata cara yang tidak Islami. Atau bahkan seolah sangat Islami, namun bercampur bid’ah dan bahkan melindungi kemusyrikan (seperti sesajen, tumbal, sedekah bumi, ruwatan, mapag atau menjemput Dewi Sri yang dianggap dewa padi tapi dobolehkan oleh Said Aqil Siradj ketua umum NU – Nahdlatul Ulama yang agamanya Agama Islam Nusantara). (baca, Trend Muslim Bergaya Musyrik, https://www.nahimunkar.org/trend-muslim-bergaya-musyrik/#more-276, March 20, 2009 10:39 pm)

Misalnya, dalam berjilbab. Gencar dikatakan bahwa jilbab itu busana khas Arab (lihat Quraish Shihab Bukan Mufasir Al Quran! https://www.nahimunkar.org/quraish-shihab-bukan-mufasir-al-quran/ ).

 Tapi, arus jilbab terus deras mengalir. Berjilbab saat ini tidak seperti di awal 1980-an. Hanya karena berjilbab, cari kerja susah. Kini sudah banyak berubah, meski masih ditemui di sana-sini ada larangan berjilbab tanpa ada alasan yang jelas. Itu pun akan mendapat perlawanan luas dari masyarakat.

Setelah upaya menghambat laju jilbab melalui isu jilbab adalah busana Arab tidak begitu berhasil, maka dibuat modus baru. Misalnya, mensosialisasikan jilbab gaul: dengan jeans ketat bahkan celana legging –lengket mepet bokong, celana potlot–, kaus lengan panjang ketat, dengan tutup kepala sak imprit (ala kadarnya). Yang ini jilbab gaul khas ABG (anak baru gede). Paralel dengan itu ada jilbab gaul ala artis, sebagaimana dikenakan Marissa Haque dan sebagainya. Cirinya, penuh warna, ramai asesoris, dan kerudungnya (atau sesuatu yang disebut jilbab) dimasukkan ke dalam busana atau diikat ke belakang. Model ini dipelopori oleh Ratih Sanggarwati (mantan model) yang menjadi motor penggerak jilbab gaul untuk non ABG.

Kini, sedang trend busana gamis dari bahan kaus. Meski tidak transparan dan cukup panjang, namun bahan kaus itu begitu patuh kepada lekuk tubuh si pemakai. Sehingga paduan gamis berbahan kaus dengan jilbab sak imprit tadi, menghasilkan panorama pegunungan. Padahal, dalam kaidah Islam, berbusana yang Islami adalah tidak menghadirkan panorama pegunungan, dan panorama perbukitan di dekat anus.

Membenturkan Pancasila dengan Islam sudah tidak laku. Menjadikan Pancasila sebagai penghambat dakwah Islam, juga sudah tidak laku. Namun, masih ada saja yang melakukan hal itu. Misalnya, Agus Maftuh Abegebriel, salah satu tim penulis SR-Ins yang pernah menerbitkan buku berjudul Negara Tuhan: The Thematic Encyclopaedia di tahun 2004.

Pada berbagai kesempatan, Agus menakut-nakuti kita semua akan bahaya Islam garis keras trans nasional. Di bulan Juni saja, Agus setidaknya sudah nampang di dua stasiun televisi, yaitu Metro TV dan TVRI. Di Metro TV, karena pembawa acaranya cukup cerdas dan menguasai materi, dan mungkin juga sudah kenal cukup mendalam sosok Agus, maka sang pembawa acara (moderator) tidak terlalu memberikan lapak yang luas bagi Agus.

Berbeda dengan pembawa acara di TVRI, masih di bulan Juni, dengan tema Pancasila, Agus diberi lapak yang cukup luas untuk jualan. Masih seperti sebelum-sebelumnya, Agus menakut-nakuti kita dengan adanya bahaya ideologi import yang antara lain dibawa oleh sejumlah ormas tertentu. Ideologi import itu membolehkan kekerasan dan merasa paling benar di dalam memahami dan mempraktekkan agama (Islam). Begitu kata Agus.

Sementara itu, Agus pada saat yang sama sudah merasa paling benar di dalam menghayati agamanya (Islam), menghayati pancasila, dan sebagainya. Dan, jangan juga dilupakan, sebagaimana pendapat di atas, pancasila itu juga ideologi import yang dijajakan Bung Karno dengan kemasan seolah-olah lokal. Menurut Abdullah Patani dalam risalah kecil berjudul Freemasonry di Asia Tenggara, ada persamaan antara sila-sila Pancasila dengan Khams Qanun Zionis, dan azas-azas ideologi negara yang dikemukakan oleh Nehru di India, Dr. Sun Yat Sen di Cina, Pridi Banoyong di Thailand, dan Andres Bonivasio di Filipina. (http://lawalangy.wordpress.com/2007/07/22/asal-usul-pancasila/)

Islam akan terus didakwahkan, akan terus di-syi’ar-kan di mana-mana, termasuk di Amerika Serikat. Masalahnya, di Amerika Serikat boleh jadi tidak ada orang-orang “yang serba bukan” sehingga tidak perlu ideologi yang juga “serba bukan”. Di Indonesia, yang serba bukan justru laku. (haji/tede)

(Bagian akhir dari tulisan berjudul ‘Permainan Logika Bung Karno dan Islam yang Tak Dapat Dibendung’ Posted on 9 Juli 2009 by Nahimunkar.com, dengan sedikit tambahan)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.328 kali, 1 untuk hari ini)