(Suara Pembaca)

Abu Nawfal 23 June 2013 at 14:46

Mereka para ahlul bid’ah selalu mencela sunnah, dan seolah “memelihara jenggot dan memakai celana cingkrang” adalah sebuah perbuatan yang tercela. Dan mereka selalu berusaha menyelisihi sunnah yang mulia ini, agar mereka tidak sama dengan orang2 yang mengamalkan sunnah. BID’AH DIANGGAP SUNNAH DAN SUNNAH DIANGGAP BIDAH.

Lebih mudah bagi seorang ahli maksiat untuk bertaubat daripada ahli bid’ah, karena mereka menganggap kebid’ahan yang mereka lakukan adalah amalan yang mulia.

Belum cukupkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membawakan risalah Islam kepada kita?

azzam 31 March 2013 at 20:25

Hampir hilang dari kita penjelasan dari para ulama tentang segala amalan ibadah, sehingga kaum kita awam akan ilmu, org cuman disibukkan oleh rutinitas tahlilan dan yasinan, nariyahan….sehingga lupa menuntut ilmu secara benar. Ibadahnya banyak…tapi tanpa didasari oleh dalil2 yg shahih, penjelasan dari ulama.

 Inilah realitanya….kebodohan akan agama Islam begitu merata…maka mereka pun bicara tanpa ilmu,,,sehingga ilmu yang shahih menjadi asing, aneh.

Coba kita tanya kepada mereka tentang apa itu sunnah….ndak tahu,,,,

Dimana Alloh?….juga ndak tahu., sedangkan para ulama telah menjelaskannya dalam kitab kitabnya. Maka tidak heran yang kita jumpai mereka mengedepankan akalnya dalam beragama ini,,,,kebaikan diukur oleh akalnya,,,,banyaknya pengamalnya; bukan lagi diukur oleh Al Qur’an dan hadist yang telah dijelaskan dan dipraktekan oleh para sahabat radhiallohu ‘anhum. Tidak ada yang menjelaskan apa isi kitab barjanji, nariyahan…..yang penting bacaannya ada dalam al qur’an…..maka bid’ah tersebar yang telah menjadi sunnah di masyarakat kita

wahyu 6 January 2012 at 14:02

Justru pelaku bid’ah itu suka memaksa kita mengikuti bid’ahnya… contohnya : kita akan dicap sesat kalau kita tidak melaksanakan tahlilan

Abu Taqi Mayestino 25 January 2012 at 23:15

Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Demi Allah, menganggap bahwa menggunakan website adalah satu BID’AH HASANAH DAN BAHWA ADA PEMBAGIAN BID’AH MENJADI BERMACAM-MACAM, termasuk BID’AH HASANAH, adalah KEBODOHAN, dan sebaiknya TIDAK antum pamerkan!

Bid’ah, seperti yang didefinisikan oleh Imam asy Syathibi’, adalah “cara beragama yang dibuat-buat, yang meniru syariat, yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu sebagai cara berlebihan dalam beribadah kepada Allah SWT”.[Asy-Syathibi, al-I’tishaam (Beirut: Darul Ma’rifah), juz 1, hlm. 37.] Ini merupakan definisi bid’ah yang paling tepat, mendetail, dan mencakup serta meliputi seluruh aspek bid’ah.

Dari definisi tadi dapat dipetakan bahwa medan operasional bid’ah adalah agama. Ia adalah “tindakan mengada-ada dalam beragama”. Dalil pernyataan ini adalah sabda Rasulullah saw., “Siapa yang menciptakan hal baru dalam ajaran agama kita yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.” (Hadits Muttafaq ‘alaih dari hadits riwayat Aisyah r.a.. Lihat: Syarh Sunnah, karya al-Baghawi, dengan tahqiq Zuhair asy-Syawisy dan Syu’ aib al-Arnauth, 1/211, hadits no: 103.)

Dengan demikian, perbuatan bid’ah hanya terjadi dalam bidang agama. Oleh karena itu, salah besar orang yang menyangka bahwa perbuatan bid’ah juga dapat terjadi dalam perkara-perkara adat kebiasaan sehari-hari. Karena, hal-hal yang biasa kita jalani dalam keseharian kita, tidak termasuk dalam medan operasional bid’ah. Sehingga, tidak mungkin dikatakan “masalah ini (salah satu masalah kehidupan sehari-hari) adalah bid’ah karena kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in tidak melakukannya”. Bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang baru, namun tidak dapat dinilai sebagai bid’ah dalam agama. Karena jika tidak demikian, niscaya kita akan memasukkan banyak sekali hal-hal baru yang kita pergunakan sekarang ini sebagai bid’ah: seperti mikropon, karpet, meja, Komputer, Internet dll, semua itu tidak dilakukan oleh generasi Islam yang pertama, juga tidak dilakukan oleh sahabat, apakah hal itu dapat dinilai sebagai bid’ah?

Maka TEKNOLOGI adalah netral! Itu hanya sarana! Apakah pantas ada ‘Ulama Salafus Sholih di masa kini, yang menulis dakwahnya dengan naik unta, menggunakan tinta di atas kulit, dan tidak menggunakan listrik???

LALU: Lihatlah: … Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim) … Dan lihatlah, “Tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka.” alias “Kullu bid’atin dlolalah wa kullu dholalatin fin naar” (HR Muslim) … Maka …Mengenai “Kullu bid’atin Dlolalah wa kullu dlolalatin fin naar”. Ini adalah sabda Nabi – sholollohu ‘alaihi wasallam – yang diriwatkan oleh Imam Muslim dan An-Nasa’i, yang artinya, semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan di neraka.

Kalimat “kullu bid’atin” = “Semua bid’ah” bersifat menyeluruh, yang didahului dengan kalimat yang bermakna menyeluruh dan meliputi segala aspeknya, yaitu “kullu”. Yang bersabda dengan kalimat ini adalah Rosululloh – sholollohu ‘alaihi wasallam – beliau memahami maksud dari kalimat ini, dan beliau adalah makhluk Allah yang paling fasih. Beliau adalah yang paling menunaikan nasihat untuk manusia, tidaklah beliau berkata-kata kecuali beliau memahami makna dari apa yang diucapkannya.

Tidakkah demikian?

Maka, ketika beliau bersabda, “Semua bid’ah itu sesat, dan semua kesesatan di neraka”, beliau benar-benar memahami maksud dari sabdanya. Beliau menyampaikan sabdanya ini sebagai bentuk kesempurnaan nasihat beliau kepada umat ini, termasuk kepada ana dan antum.

Jika telah jelas, bahwa sabda Nabi ini bersumber dari kesempurnaan nasihat dan kehendak, kesempurnaan penjelasan dan kefasihan, serta kesempurnaan ilmu dan pemahaman, maka maksud dari sabda beliau adalah seperti kandugnan dari ucapan beliau.

Maka, jika setelah penjelasan beliau – bahwa seluruh bid’ah itu sesat dan seluruh kesesatan itu di neraka- apakah boleh bagi kita untuk membagi-bagi bid’ah menjadi dua, tiga atau lima bagian?

Sama sekali hal ini tidak bisa diterima.

Adapun jika ada pembagian bid’ah yang bersumber dari ulama, maka hal itu tidak lepas dari dua kondisi, pertama:

(1) hal tersebut mungkin bukan bid’ah tapi ulama tersebut menganggapnya bid’ah, atau yang

(2) Kedua, hal itu adalah bid’ah namun ulama tsb tidak memahami akan kejelekan bid’ah yang ada pada amalan tsb.

Dengan demikian, maka tidak ada alasan bagi mereka yang beranggapan dengan adanya bid’ah hasanah, sedangkan Nabi telah menyampaikan sabdanya ini.

Sabda beliau ini ibarat pedang tajam yang bersumber dari sumber kenabian dan kerasulan, bukan dari sumber yang bersifat bimbang dan bingung. Sabda ini adalah sabda yang beliau sepuh dengan kebalaghah-an (kegamblangan) yang paling baligh.

Abu Taqi Mayestino25 January 2012 at 23:17

LANJUTAN:

Ada ulama yang membagi bid’ah menjadi dua macam, yaitu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang buruk’).[Syaikh Islam Ibnu Taimiyah telah menulis redaksinya yang amat bagus, yang meng-counter orang yang menganggap baik perbuatan bid’ah, seperti yang beliau tulis dalam kitabnya “Iqtidha shiiraathal-Mustaqim, Mukhalafatu Ashhabu al-Jahim”, (Beirut: Darul Ma’rifah), hlm. 270 dan seterusnya. Silakan dibaca kitab itu.]

Ada juga ulama yang membagi bid’ah menjadi lima macam, seperti halnya lima macam hukum syariat, yaitu bid’ah wajibah (bid’ah yang wajib dilakukan), bid’ah mustahabbah (bid’ah yang dianjurkan untuk dilakukan), bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh dilakukan), bid’ah muharramah (bid’ah yang haram dilakukan), dan bid’ah mubaahah (bid’ah yang boleh dilakukan).[Pendapat mereka ini telah dibahas dan didiskusikan oleh Imam asy-Syathibi secara mendetail. Pada akhirnya, ia berkesimpulan bahwa pembagian bid’ah seperti ini adalah suatu perbuatan mengada-ada yang sama sekali tidak didukung oleh syariat. Bahkan, ia bersifat kontradiktif dalam dirinya sendiri. Karena, hakikat suatu bid’ah adalah sesuatu yang sama sekali tidak mempunyai dalil, baik dari nash syariat maupun dari kaidah-kaidahnya. Seandainya di dalam syariat ada sesuatu dalil yang menunjukkan kewajiban, sunnah, atau bolehnya sesuatu (perbuatan bid’ah) itu, niscaya tidak ada bid’ah dan niscaya perbuatan itu masuk dalam kelompok perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan atau diberi kesempatan untuk dikerjakan. Lihat al-I’tishaam, (Beirut: Darul Ma’rifah), 1/188-211.]

Ungkapan yang paling tepat dalam masalah ini adalah bahwa pendapat tadi pada akhirnya bertemu pada muara yang sama dan sampai pada kesimpulan yang sama pula. Karena, mereka — misalnya — memasukkan masalah pencatatan Al-Qur’an dan pengkompilasiannya dalam satu mushaf, juga masalah pengkodifikasian ilmu nahwu, ilmu ushul fiqih, dan pengkodifikasian ilmu-ilmu keislaman yang lain, dalam kategori bid’ah yang wajib dan sebagai bagian dari fardhu kifayah (kewajiban kolektif).

Ulama yang lain menggugat penamaan perbuatan tadi sebagai bagian dari bid’ah. Menurut mereka, pengklasifikasian bid’ah semacam itu adalah pengklasifikasian bid’ah berdasarkan pengertian lughawi ‘etimologis’, sedangkan pengertian kata bid’ah yang kami gunakan adalah pengertian secara terminologis syar’i. Sedangkan, hal-hal tadi (seperti pencatatan Al-Qur’an dan pengkompilasiannya) tidak kami masukkan dalam kategori bid’ah. Adalah suatu inisiatif yang tidak tetap memasukkan hal-hal semacam tadi dalam kelompok bid’ah.

Yang terbaik adalah kita berpedoman pada pengertian bid’ah yang dipergunakan oleh hadits syarif. Karena, dalam hadits syarif diungkapkan redaksi yang demikian jelas ini, “Karena setiap bid’ah adalah sesat,” dengan pengertian yang general (umum). Jika dalam hadits itu diungkapkan, “Karena setiap bid’ah adalah sesat,” maka tidak tepat kiranya jika kita kemudian berkata bahwa di antara bid’ah ada yang baik dan ada yang buruk, atau ada bid’ah wajib dan ada bid’ah yang dianjurkan, dan sebagainya. Kita tidak patut melakukan pembagian bid’ah seperti ini. Yang tepat adalah jika kita mengatakan seperti yang diungkapkan oleh hadits, “Karena setiap bid’ah adalah sesat.” Dan, kata bid’ah yang kami pergunakan itu adalah kata bid’ah dengan definisi yang diucapkan oleh Imam asy-Syathibi, “Bid’ah adalah suatu cara beragama yang dibuat-buat,” yang tidak mempunyai dasar dan landasan, baik dari Al-Qur’an, sunnah Nabi saw., ijma’, qiyas, maupun maslahat mursalah, dan tidak juga dari salah satu dalil yang dipakai oleh para fuqaha.

Abo Yaman27 March 2013 at 07:19

Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan tempatnya di neraka. (HR. Muslim)

Maka sangat jelas bahwa Bid’ah adalah mengada-ada atau bisa juga disebut innovasi dalam hal urusan agama dan Ibadah dan ritualnya.
Bukan menyangkut urusan Benda seperti: website,computer, mikrofone, mobil, dlsbg, maka benda boleh dipergunakan dan dimanfaatkan.

Salah besar jika Bid’ah dianggap sepele atau masalah ringan apalagi tidak perlu sering2 untuk di ingatkan pada ummat.
Karena ada banyak hadist yg menjelaskan mengenai bid;ah, menandakan pentingnya ummat ini selalu dan tdk boleh bosan untuk di ingatkan masalah bid’ah.

Sungguh sangat di sayangkan Jika ritual2 atau Ibadah bid’ah ini dibela dengan berbagai macam alasan sebagi pembelaan, Misal: maulid itu kita bersholawat, membaca sirah nabi, kok dilarang, bukankah itu kebaikan ???
Jawabnya simple, mengapa sebelum sholat Idul fitri, sholat idul adha, sholat jenazah tidak pake Adzan???
Bukankah Adzan adalah kebaikan ???
Apakah kalian mau melakukan adzan sebelum melakukan sholat2 tsb ???
Tentu jawaban nya, tidak Bro..

In syaa Allah Bagi yg ikut2an Bid’ah bisa lebih mudah memahaminya…
Kalo Ustadz bid’ah siiih udah ngerti dan ngga usah di jelaskan lagi, tapi pura2 aja ngeles karena takut hilang kepentingan dunia nya !!!
Na’udzubillah…

rohana hussain 4 June 2012 at 15:33

Semoga Allah permudahkan jalan admin untuk berdakwah dengan fahaman Islam yg tulen dan betul ini. Memang ramai umat Islam sudah lama di buaian dgn tradisi nenek moyang kita, sehingga tidak boleh menerima sebarang tegoran walaupun itu satu yang haq.

Dakwah Islam mengikuti manhaj para Sahabat, memang akan mendapat tentangan dan tantangan dari ramai manusia, ttpi jgn itu menjadi semangat anda lemah.

Teruskan berjuang Sunnah, yang (tampaknya telah) lama di tinggalkan.

Bid’ah (dianggap) perkataan senstitif hanya pada pelaku bid’ah saja.

***

Demikian di antara suara para pembaca mengenai soal bid’ah. Masih banyak saran yang lain, namun semoga yang ini sudah mewakili.

Terimakasih.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.542 kali, 1 untuk hari ini)