Ma’ruf Amin. Foto/ dok ist


Diakui atau tidak, mereka telah keliru memilih Ma’ruf Amin sebagai jagoannya.

Kenapa?

Pertama, sudah tua. Mau ikut goyang joget pun ga’ becus lagi ikuti irama dangdut goyang yang diharamkan Islam itu. Hingga hanya becus tepuk tangan.

Kedua, tidak jago pidato. Diplomasinya pun ngalor ngidul. Hingga hanya menimbulkan kegaduhan. Misalnya, ada berita, Ma’ruf Amin ditolak di satu pesantren di Jawa Barat. Lalu pihak yang mendukung Ma’ruf Amin harus bertungkus lumus (berpayah-payah) menepis berita itu, namun tidak tuntas pula.

Ketiga, kurang korek. Hanya karena dengar-dengar, langsung mengemukakan pernyataan. Contohnya, dia katakan, mobil esemka akan diluncurkan… bla bla bla… ternyata tidak. Gaduh lah masyarakat dibuatnya

Keempat, memuji atau menyanjung tanpa landasan. Misal, Jokowi itu santri, karena pernah nyantri, ungkap Ma’ruf Amin. Ributlah komentar orang, karena tidak sesuai kenyataan, akibatnya, dia sendiri (Ma’ruf Amin) kesulitan untuk ngeles.

Kelima, ada segi emosionalnya dan tak menguntungkan. Contoh, ketika ada yang menyebut Ma’ruf Amin ikut joget goyang dangdut, serta merta Ma’ruf Amin melontarkan kata-kata kasar, karena dia tepuk tangan tapi dibilang joget. Ungkapan kasar itu dilontarkan pula sesudahnya, dialamatkan kepada orang yang tidak melihat prestasi Jokowi dia sebut budeg buta. Parahnya, Ma’ruf Amin masih berkilah dengan ayat pula, shummun bukmun. Padahal ayat itu merupakan kecaman terhadap orang-orang munafik. Sehingga ributlah jadinya.

Keenam, akibat dari rentetan itu, kabarnya ada hasil survey, Ma’ruf Amin keok di tanah kelahirannya, Banten, secara perkiraan elektabilitas.

Ketujuh, pihak keturunan pendiri NU ada yang marah karena Ma’ruf Amin telah mempermainkan dua ayat. (lihat Ma’ruf Amin Dua Kali Mempermainkan Ayat Al-Qur’an, Keturunan KH Wahab Hasbullah Jombang Marah ). Pertama, dia bilang Lakum capresikum (bagimu capresmu), walana capresuna (bagi kami capres kami) dikaitkan dengan ayat  لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ lakum dinukum waliadin, bagimu agamamu, bagi kami agama kami.

Kedua, menyebut orang budek, buta karena tidak tahu prestasi Jokowi menggunakan Alquran ṣummum, bukmun, ‘umyun صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ .

“Menggunakan shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ untuk membela Jokowi, sangatlah naïf. Saya tidak habis pikir, bagaimana kalau hal tersebut dilakukan yang lain? Pasti sudah turun jalan, demo. Kalau mau membela Jokowi, mau menunjukkan sukses Jokowi, pakai data Yi  (Pak Kyai, red NM) . Jangan mainin Ayat Alquran. Bahaya,” tegas Gus A’am (Keturunan KH Wahab Hasbullah Jombang).

Mereka (keturunan pendiri NU) ini pun menggalang kekuatan untuk menyalurkan suaranya bukan ke pihak Ma’ruf Amin. Sehingga, apa yang diinginkan untuk teraihnya suara dari kaum nahdliyin alias NU, belum tentu tercapai.

Ketika habitat Ma’ruf Amin dari segi tanah kelahirannya Banten saja elektabilitas Ma’ruf Amin sudah dikabarkan keok menurut hasil survey, sedang suara dari NU belum tentu tersalur ke pihak Ma’ruf Amin, maka hal itu menunjukkan bahwa para pihak pendukung penista Islam yang telah mendudukkan Ma’ruf Amin sebagai jago mereka itu dapat dinilai sebagai keblejok (tertipu dan salah pilih) atau keblondrok (ibarat dibeli dengan harga mahal padahal barang murah dan belum tentu berguna, menurut orang Jawa).

Kojur tenan, kata orang Jawa lagi, yang maknanya: alat yang diharapkan sukses untuk dipakai sampai akhir acara, tahu-tahu justru bikin repot di tengah jalan  dan menyusahkan.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.034 kali, 1 untuk hari ini)