Ilustrasi Foto/ edukasi.kompasiana.com

Jokowi melakukan upacara Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan KemusyrikanPemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan (selamatan) dan Jamasan (ritual memandikan) Mobil Esemka, malam Jum’at (23/02/2012). Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala’. (lihat artikel Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah  di nahimunkar.com)

Ketum Partai politik yang bersujud di depan makam Bung Karno di Blitar Jawa Timur/ foto ist

Oleh: Fadh ahmad Arifan

Pekan ini jagat dunia maya diramaikan dua isu penting. Kedua isu tersebut membanjiri beranda facebook saya. Pertama, pidato Pak jokowi tentang harga fantastis racun kalajengking, Kedua, Ketum Partai politik yang bersujud di depan makam Bung Karno. Terhadap isu pertama, semua mencerca dan mencemooh presiden. Semakin parah saja sindiran maupun kritik kepada beliau melalui meme, video parodi dan komik strip.

Salah satu komik strip yang beredar luas di instagram mengkritik bahwa Tenaga kerja asing digaji mahal, sementara rakyat disuruh cari racun kalajengking. Padahal ada pesan tersirat dari pidato beliau. Harga fantastis racun kalajengking tidak sepadan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengolah dan mengemas racun menjadi komoditi bernilai tinggi. Jadi, “waktu” jauh lebih berharga daripada “mengolah racun” kalajengking.

Jauh sebelum pidato tentang racun kalajengking, Presiden yang gemar menggelar kuis berhadiah ini pernah berpidato di Tanwir Muhammadiyah Ambon. Dalam acara yang disiarkan stasiun TVRI, presiden tidak mampu mengucap dengan benar lafadz “Laa hawla wala quwwata illa billah”. Akibatnya, dicemooh habis-habisan bahkan rekaman pidato tersebut disandingkan dengan orasi ilmiah ibu Megawati saat meraih doktor Kehormatan di UNP. Dalam orasi tersebut, beliau tidak bisa mengucap dengan benar “Shallallahu’alaihi wasallam”.

Beralih kepada isu yang melanda ketum Partai politik. Laman kompas.com (4 Mei 2018) memberitakan, “Di depan pusara Bung Karno, Prabowo langsung duduk berjongkok. Kedua telapak tangannya disatukan dan diangkat di atas kepala sambil membungkukkan badan seperti menyembah. Prabowo lalu membungkukkan badannya sampai kepalanya menempel pada pusara Bung Karno. Dia lalu terlihat mencium pusara Bung Karno”.

Apa yang dilakukan mantan menantu Pak Harto tersebut lebih parah dari Cak imin ketika berziarah ke makam Taufiq kiemas. Sambil menepuk nisan makam, beliau minta ijin menjadi Cawapres. “Pak Taufiq, saya izin jadi Cawapresnya Pak Jokowi,” Ujar Cak imin dalam pemberitaan laman kompas.com (25 Maret 2018). Dalam ajaran Islam, tiap Mukmin dilarang keras berbuat “ghuluw” terhadap makam. Menghias makam, menciumi makam apalagi sampai bersujud, jelas haram hukumnya. Pasalnya perbuatan seperti ini termasuk Syirik!.

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء: 116]

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang lebih rendah derajatnya dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisa’: 116).

Politikus mendadak religius dan tiba-tiba rajin ziarah ke makam tokoh ternama adalah fenomena tahunan. Umat Islam harus kritis dan adil dalam menilai akrobat politik seseorang. Jangan terhadap lawan politik terlebih ia tokoh yang bukan dipilih saat Pilkada dan Pilpres, kita berlomba-lomba mengejeknya habis-habisan. Sementara terhadap tokoh politik yang diidolakan menjadi bungkam.

Bagaimana sikap kita jika dihadapkan dengan politikus yang perbuatannya menyalahi aqidah Islam?. Tetap mencoblos mereka ataukah golput saja?. Bila yang ditanya adalah pengikut Hizbut tahrir, pasti golput. Golput karena mereka menganggap sistem Demokrasi sebagai sistem kufur. Bukan cuma masalah kepribadian dan kompetensi calon, melainkan sistem politiknya.

Lain jika yang ditanya adalah pengikut Nahdlatul ulama, Muhammadiyah dan gerakan keagamaan lainnya. Asumsi saya, sebagian besar pengikut NU akan memilih calon pemimpin berdasar instruksi/dawuh kyai. Sisanya bisa saja golput karena malas ke TPS dan punya kesibukan lain. Sementara Persyarikatan Muhammadiyah, membebaskan pengikutnya menentukan pilihan politik. Kalaupun ditemukan elit di level Pengurus wilayah (PW) dan pengurus daerah Muhammadiyah (PDM) yang meminta mencoblos calon tertentu, belum tentu akan dipatuhi pengikut Muhammadiyah yang mayoritas dari kalangan berpendidikan tinggi.

Wallahu a’lam

*Penulis adalah alumnus Fak Syariah UIN Malang

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.209 kali, 1 untuk hari ini)