• “Apalagi saat ini banyak pegusaha etnis China yang semena-mena ingin menghancurkan masjid di Medan dan diganti dengan pusat bisnis dan properti yang terkesan di-back uo oleh aparat kepolisian Sumatera Utara.”
  • Selain itu Timsar Zubil pemimpin Delegasi FUI Sumut juga melaporkan adanya diskriminasi hukum yang dilakukan oleh pihak kepolisian di Sumatera Utara. Sebagai contoh pihaknya telah melaporkan perbuatan teror, penganiayaan serta pembakaran tujuh rumah umat Islam di kampong Melayu Selambo Amplas, namun sampai saat ini pihak polisi juga tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap pelaku, padahal sudah dilaporkan oleh korban dan Forum Ummat Islam Sumut.
  • “Termasuk juga masalah penghancuran masjid-masjid. Terkesan aparat dan pejabat di Sumatera Utara turut membiarkan dan tidak perduli,” kata Timsar.
    Di samping itu ada upaya kriminalisasi aktivis dakwah. Kriminalisasi tokoh agama dan aktivis dakwah ini untuk membungkam gerak dakwah Islam di Sumatera Utara.

Jakarta (SI Online) – Forum Umat Islam Sumatera Utara (FUI-SUMUT) mendatangi kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) di Jakarta, Rabu (08/10) guna mengadukan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi di Sumatera Utara. Pelanggaran HAM yang dimaksudkan antara lain penggusuran dan penghancuran Masjid-Masjid oleh pengusaha kapitalis non Muslim dari keturunan China, upaya kriminalisasi Kepolisian Polda Sumatera Utara terhadap ustaz dan aktivis dakwah Islam, penistaan/penodaan agama serta tindakan asusila yang dilakukan oleh Akhmad Arifin yang mengaku sebagai tuan guru tharekat yang telah dinyatakan sesat ajarannya oleh Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI-SUMUT).

Delegasi FUI Sumut yang dipimpin oleh Ustaz Timsar Zubil, terdiri atas Sekretaris Umum Ustaz Leo Imsar Adnan, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak Hj. Roni Lubis, Ketua Forum Masyarakat Muslim Sumut Anti Aliran Sesat Ustaz Shaukani, Aktivis Aliansi Ormas Islam Sumatera Pembela Masjid, seorang ibu korban pelecehan seksual dan asulisa dari tuan guru sesat Akhmad Arifin. Mereka datang ke Jakarta dengan didampingi Koordinator Tim Pembela Muslim (TPM) Sumut Mahmud Irsyad Lubis, SH dan Akhmad Sukri, SH.

Delegasi diterima oleh komisioner Komnas Ham Maneger Nasution. Kepada Komnas HAM Timsar Zubil menyampaikan tentang dugaan adanya skenario secara sistematis upaya kriminalisasi dari pihak tertentu terhadap para ustaz dan aktivis Islam yang selama ini aktif melakukan berbagai advokasi dan pembelaan terhadap masalah keumatan dan keagamaan di Sumatera Utara. Mereka dijadikan saksi atau tersangka oleh pihak Kepolisian Sumatera Utara.

Selain itu Timsar juga melaporkan adanya diskriminasi hukum yang dilakukan oleh pihak kepolisian di Sumatera Utara. Sebagai contoh pihaknya telah melaporkan perbuatan teror, penganiayaan serta pembakaran tujuh rumah umat Islam di kampong Melayu Selambo Amplas, namun sampai saat ini pihak polisi juga tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap pelaku, padahal sudah dilaporkan oleh korban dan Forum Ummat Islam Sumut.

Ilustrasi: ketika Masjid Dihancurkan/ foto waspada.co.id

Ilustrasi: ketika Masjid Dihancurkan/ foto waspada.co.id

“Termasuk juga masalah penghancuran masjid-masjid. Terkesan aparat dan pejabat di Sumatera Utara turut membiarkan dan tidak perduli,” kata Timsar.

Sekretaris FUI-SUMUT yang juga Ketua Aliansi Ormas Islam Sumatera Utara Ustaz Leo Imsar Adnan menambahkan, upaya kriminalisasi oleh pihak kepolisian sangat terasa sekali karena banyak ustaz-ustaz yang berjuang membela kemurnian agama Islam dan pembela masjid yang dipanggil oleh pihak Kepolisian Sumatera Utara untuk dijadikan tersangka maupun saksi, sehingga upaya kriminalisasi ini untuk membungkam gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar yang dilakukan oleh para ustaz dan aktifis Islam di Sumatera Utara dalam membela kebenaran dan keadilan.

“Kita tidak mau umat Islam jadi marah dan kehilangan kesabaran dalam menyikapi masalah ini, kami berharap pihak Komnas HAM bisa berkoordinasi dengan pihak Presiden maupun Kapolri terhadap masalah ini,” kata Leo.

Umat Islam Sumut, lanjut Leo, juga kami tidak mau Sumatera Utara menjadi tindak kondusif akibat dari upaya-upaya secara sistematis membungkam gerakan dakwah Islam dengan jalan kriminalisasi karena dapat menimbulkan keresahan dan kekecewaan umat Islam di Sumatera Utara,.

“Apalagi saat ini banyak pegusaha etnis China yang semena-mena ingin menghancurkan masjid di Medan dan diganti dengan pusat bisnis dan properti yang terkesan di-back up oleh aparat kepolisian Sumatera Utara,” tambahnya.

red: abu faza/ Kamis, 10/10/2014 12:56:14

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.740 kali, 1 untuk hari ini)