Meresahkan! Group Paduan Suara Diduga Dipimpin Tokoh Gereja Nyanyi di Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar Dipertanyakan Tanggung Jawabnya

Silakan simak ini.

***

Geger, Paduan Suara Diduga Non Muslim Nyanyi di Masjid Istiqlal, Habib Abubakar Murka: Meresahkan


Kelompok paduan suara di Masjid Istiqlal. Foto: Ist

“Dapat kabar bahwa: Pimpinan paduan suara di Masjid Istiqlal dalam video ini adalah Septo Adi Kristianto, non muslim, choir director Gereja Bethel Indonesia. Siapa yang ijinkan mereka? Kenapa pengurus Masjid Istiqlal biarkan?” tulis Habib Abubakar Assegar di Twitter-nya, Senin (17/5).

 

JAKARTA- Sebuah video viral memperlihatkan sekelompok paduan suara yang diduga berasal dari non muslim, menyanyikan Asmaul Husna di dalam Masjid Istiqlal Jakarta.

Video itu, pertamakali diunggah oleh akun Instagram milik Wakil Gubernur DKI Jakarta, Riza Patria @arizapatria. Namun tak lama kemudian video itu dihapusnya setelah mendapat protes dari warganet.

Video berdurasi 2 menit 20 detik itu, terlihat kelompok paduan suara tersebut mengenakan pakaian serba putih. Mereka bernyanyi asmaul husna dipandu oleh seorang pria. Video itu mendapat reaksi keras dari Habib Abubakar Assegar.

Menurut Habib, pimpinan paduan suara itu adalah seorang non muslim. Dia nampak gusar dengan beredarnya video itu.

“Dapat kabar bahwa: Pimpinan paduan suara di Masjid Istiqlal dalam video ini adalah Septo Adi Kristianto, non muslim, choir director Gereja Bethel Indonesia. Siapa yang ijinkan mereka? Kenapa pengurus Masjid Istiqlal biarkan?” tulis Habib Abubakar Assegar di Twitter-nya, Senin (17/5).

Dia menilai beredar video itu meresahkan umat Islam. Habib kemudian mention akun Twitter Anies Baswedan dam Menteri Agama.

“Menag @YaqutCQoumas @DPR_RI Gubernur DKI @aniesbaswedan Wagub DKI @ArizaPatria , mohon penjelasan, karena ini meresahkan kami ummat Islam Indonesia, apa lagi Masjid Istiqlal, masjid kebanggaan kami, mohon responnya demi merawat keutuhan kehidupan antar umat beragama,” katanya.

“Wallahu a’lam, apa ini ada hubungannya dengan terowongan yang dibuat antara Gereja Katedral dengan masjid Istiqlal?” pungkasnya. (dal/fin)

radarcirebon.com 22 jam lalu

***

Dibalik Heboh Nasaruddin Umar Diangkat Jadi Imam Besar Masjid Istiqlal

Posted on 25 Januari 2016

by Nahimunkar.org


Di saat dunia Islam sedang membendung Syiah Iran secara ramai-ramai, justru Indonesia tampak bersikap lain. Terutama yang kaitannya langsung dengan pusat ibadah umat Islam, tampaknya Kementerian Agama untuk kesekian kalinya menyakiti Umat Islam mayoritas penduduk Indonesia yang merupakan jumlah terbesar umat Islam sedunia. Sebalinya justru Kemenag tampak menjadikan gembiranya musuh-musuh Islam terutama syiah.

Kali ini kasus yang ramai dibicarakan di masyarakat adalah diangkatnya Nasaruddin Umar (tokoh feminisme liberal dan penyanjung Anand Krishna) jadi Imam Besar Masjid istiqlal.

Persoalannya jadi ramai bukan sekadar sosok Nasaruddin Umar yang ditengarai mendukung kemusyrikan dengan memberi kata pengantar buku orang kafir Anand Krishna yang mengacak-acak Islam (lihat  https://www.nahimunkar.org/innaa-lillaahi-menag-lukman-angkat-nasaruddin-umar-penyanjung-anand-krishna-jadi-imam-besar-masjid-istiqlal/) namun lebih dari itu, Kemenag mencopot Ali Mustafa Yaqub yang dikenal bersuara tegas terhadap sesatnya syiah dan liberal, diganti Nasaruddin Umar yang feminis, liberalis, dan merestui berdirinya perguruan tinggi syiah, Sadra, di Jakrta. Sedang perguruan tinggi syiah Sadra itulah yang telah berkali-kali bertingkah dengan kongkalikong bersama Kementerian Agama hingga sering diadakan ceramah pentolan-pentolan Syiah dari Iran dan lainnya di Masjid Istiqlal. Walaupun ditolak oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yaqub, ternyata ceramah-ceramah pentolan syiah Iran telah berlangsung di Istiqlal beberapa kali atas kongkalikong Kemenag dan perguruan syiah tersebut. Justru kemudian Ali Mustafa dicopot.

Para perusak aqidah Umat Islam yang telah lama diwaspadai oleh Umat Islam itu kini lebih bertingkah lagi dengan wujud didudukkannya Nasaruddin Umar jadi Imam Besar Masjid Istiqlal, di saat dunia Islam sedang ramai berjamaah untuk menghadapi bahaya syiah Iran.

Untuk mengetahui kaitan kaitan Nasaruddin Umar yang Diangkat Jadi Imam Besar Masjid Istiqlal, Kemenag, Sekolah Tinggi Syiah Sadra, dan Seringnya Pentolan Syiah Iran Ceramah di Masjid Istiqlal; mari kita simak berita-berita berkut ini.

Selengkapnya silakan buka link ini: https://www.nahimunkar.org/dibalik-heboh-nasaruddin-umar-diangkat-jadi-imam-besar-masjid-istiqlal/

***

Group Paduan Suara dengan Irama Gerejani Nyanyi di Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar Harus Tanggung Jawab

Posted on 17 Mei 2021

by Nahimunkar.org

 

Group Paduan Suara dengan Irama Gerejani Nyanyi di Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar Harus Tanggung Jawab

  • Nasaruddin Umar Samakan Asmaul Husna dengan Trinitas, Kini Group Paduan Suara dengan Irama Gerejani Nyanyi Asmaul Husna di Masjid Istiqlal

Video:

https://youtu.be/GAWooo2e8CQ

 
 

Inilah beritanya.

***

Nyanyian Asmaul Husna di Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar Harus Tanggung Jawab

Ibnu MaksumPolitik

Group Paduan Suara dengan Irama Gerejani Nyanyikan Asmaul Husna di Masjid Istiqlal (IST)

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar harus mempertanggungjawabkan nyanyian asmaul husna di masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara itu.

“Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal patut untuk mengklarifikasi dan mempertanggungjawabkan kegiatan yang tak pantas ini,” kata Pemerhati Politik dan Keagamaan M Rizal Fadillah dalam artikel “Toleransi yang Menghancurkan”.

Kata Rizal, paduan suara di Masjid Istiqlal itu jangan terkesan sebagai balasan dari santri-santri yang ikut menyanyikan “Merry Christmas” atau “Haleluya” di gereja. “Kalau sudah begini maka namanya adalah “toleransi yang menghancurkan”,” jelasnya.

Jika dilihat dari keperluan sekedar nyanyi-nyanyi nampaknya tidak masuk dalam kategori uzur syar’i. Apalagi dengan irama gerejani yang di luar budaya Islami.

“Karenanya masuknya group paduan suara Jakarta Youth Choir (JYC) bernyanyi di Masjid Istiqlal pantas menjadi kontroversi. Sebenarnya jika hanya untuk memeriahkan lebaran, cukup shooting dilakukan di halaman dengan latarbelakang Masjid Istiqlal. Aman,” paparnya.

Selain itu, ia mengatakan, ketika kegiatan ibadah di Masjid Istiqlal dilakukan secara terbatas dan ketat sebagai efek pandemi, justru kegiatan nyanyi-nyanyi paduan suara dilaksanakan di dalam Masjid. “Meskipun lagunya Asmaul Husna namun sangat terasa tak pantas,” pungkas Rizal.

suaranasional.com, 17/05/2021ByIbnu Maksum

***

Astaghfirullah…  Na’udzubillah… Nasaruddin Umar  Imam Besar Masjid Istiqlal Samakan 99 Asmaul Husna dengan Trinitas

 

Posted on 8 Oktober 2017

by Nahimunkar.org

  •  


/foto anand ashram foundation


Nasaruddin Umar (baju batik) dengan Anand Krishna, wong Hindu yang mngacak-acak Islam dengan menulis buku. Nasaruddin Umar adalah orang yang menyanjung Anand Krishna (orang bukan Islam) lewat kata pengantar buku  Anand berjudul Surah-Surah Terakhir Al-Quranul Karim bagi Orang Modern, sebuah apresiasi, dengan kata pengantar Dr Nasaruddin Umar MA pembantu rektor IV IAIN Jakarta (sekarang UIN –Universitas Islam Negeri), terbitan PT GramediaPustaka Utama, Jakarta.  Padahal buku Anand Krishna itu menuduh Nabi Muhammad mengajarkan kemusyrikan, dengan ditulis: Nabi Muhammad pun pernah mengatakan, Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! ((halaman 43).

Kekurangajaran Nasaruddin Umar rupanya kini diulangi lagi dengan menyamakan asmaul husna dengan trinitas.

Nasaruddin Umar  Imam Besar Masjid Istiqlal menyamakan Asmaul Husna 99 dengan trinitas. Penyamaan itu sengaja dia kemukakan, padahal landasannya hanya perkataan pendeta.

Entah dari mana sumbernya, Nasaruddin Umar mengemukakan cerita begini:

Suatu saat seorang muslim mendebat seorang pendeta dengan mempertanyakan konsep keesaan Tuhan dengan kehadiran Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Sang pendeta mengatakan, kami masih mending karena hanya tiga. Bagaimana dengan Islam Tuhannya berjumlah 99. Dengan tegas dijawab bahwa 99 nama itu tetap Tuhan Yang Maha Ahad itu. Lalu dijawab, apa bedanya dengan agama kami. Yang tiga itu tetap yang satu itu.

Cerita entah dari mana itu tentunya secara ilmu bukan merupakan dalil, walaupun yang mengemukakan cerita itu seorang professor doktor bahkan imam besar masjid nasional, Masjid Istiqlal di Jakarta. Apalagi masalah ini masalah sangat prinsipil dalam agama, menyamakan Tauhid (Keesaan Allah Ta’ala) dengan kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan lain-Nya, bahkan dianggap punya anak).

Berbicara agama Islam, landasan utamanya adalah Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Al-Qur’an, perkataan Allah punya anak itu sangat dikecam:

{ وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا} [مريم: 88 – 93]

88. Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”, 89. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, 90. hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, 91. karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak,92. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak,93. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba [Maryam,88-93]

{ لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [المائدة: 72، 73]

72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun, 73. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih [Al Ma”idah,72-73]

{لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لَاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ (17) بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ (18) وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ (19) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ (20) أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنْشِرُونَ (21) لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ} [الأنبياء: 17 – 22]

17. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, (isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya), 18. Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya), 19. Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih, 20. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya, 21. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati), 22. Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ´Arsy daripada apa yang mereka sifatkan [Al Anbiya”,17-22]

Kepada kaum Muslimin, hendaknya jangan sampai tertipu oleh penipu ulung dalam merusak aqidah yang telah nyata sangat bertentangan dengan firman-firman Allah Ta’ala dalam kitab suci Al-Qur’an itu. Dan Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam juga sudah sangat wanti-wanti.

Haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.(رواه مسلم).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa shallallahu ‘alaihi wa sallam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Berikut ini pemahaman Nasaruddin Umar yang sangat merusak Islam. Silakan dibaca.

***

Imam Besar Istiqlal: Trinitas Tidak Berbenturan Dengan Ketuhanan Yang Maha Esa (!?)

Redaksi – Minggu, 8 Oktober 2017 05:11 WIB


Eramuslim.com – DOKTRIN Trinitas atau Tritunggal dalam agama Kristen sama sekali tidak berbenturan dengan Ketuhanan YME. Doktrin Trinitas menggambarkan Satu Tuhan dalam tiga pribadi (one God in three Divine Personsthree), yaitu Bapa, Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus. Tiga konsubstansi tersebut dapat dibedakan, namun tetap merupakan satu substansi.

Doktrin Trinitas tidak secara eksplisit dalam Kitab Suci tetapi Kitab Suci memberikan kesaksian tentang kegiatan suatu pribadi yang hanya dapat dipahami dari segi Trinitaris. Tidak heran jika doktrin ini memiliki bentuk pembenarannya lebih luas pada akhir abad ke-4.

Dalam Konsili Lateran IV dijelaskan: “Allah yang memperanakkan, Anak yang diperanakkan, dan Roh Kudus yang dihembuskan”. Meskipun memiliki “tiga pribadi” tetapi tetap satu.

Logika Doktrin trinitas sesungguhnya bisa dijelaskan melalui logika Ahadiyah-Wahidiyah dalam teosofi Islam, Ein Sof-Sefirod dalam Kabbala Yahudi, Atma-Brahma dalam agama Hindu, Yang-Yin dalam teologi Taoisme. Sesuatu yang berganda atau berbilang tidak mesti harus dipertentangkan dengan konsep keesaan. Konsep Asma’ al-Husna berjumlah 99 tidak mesti bertentangan dengan keesaan Allah Swt.

Suatu saat seorang muslim mendebat seorang pendeta dengan mempertanyakan konsep keesaan Tuhan dengan kehadiran Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Sang pendeta mengatakan, kami masih mending karena hanya tiga. Bagaimana dengan Islam Tuhannya berjumlah 99. Dengan tegas dijawab bahwa 99 nama itu tetap Tuhan Yang Maha Ahad itu. Lalu dijawab, apa bedanya dengan agama kami. Yang tiga itu tetap yang satu itu.

Dalam diskusi lain, seorang murid mengadu ke mursyid (guru spiritual), bagaimana saudara kita yang beragama Kristen mengaku berketuhanan YME tetapi memiliki doktrin Trinitas, atau saudara kita yang beragama Hindu memiliki doktrin Trimurti? Sang mursyid menjawab, di situlah kelirunya mereka karena membatasi Tuhan hanya tiga, padahal semua yang ada adalah Dia, tidak ada yang ada (maujud) selain Dia.

Sang mursyid mengutip sebuak ayat: Wa lillah al-masyriq wa al-magrib fa ainama tuwallu fa tsamma wajh Allah (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al- Baqarah/2:115).

Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan mursyid barulah murid itu lega. Akan tetapi kembali bertanya, kalau saudara kita tadi keliru karena hanya membatasi Tuhan hanya tiga, bagaimana dengan saya yang hanya membatasi Tuhan hanya satu.

Sang mursyid menjawab: Sesungguhnya mungkin tidak ada yang salah, termasuk anda, karena yang banyak itu ialah yang satu itu dan yang satu itulah yang memiliki wajah yang banyak (al-wahdah fi al-katsrah wa al-katysrah fi al-wahdah/the one in te many and the many in the one).

Bagi umat Kristiani doktrin Trinitas sama sekali tidak mengganggu konsep kemahaesaan Tuhan dan Ketuhanan YME. Hanya orang-orang luar Kristen sering sulit memahami Tuhan mempunyai anak, karena dalam benak masyarakat kata “Anak” masih selalui dihubungkan dengan anak biologis. Padahal dalam Bahasa Arab kata “Ibn” atau “Son” dalam Bahasa Inggris tidak selamanya berarti anak biologis. Kata “anak” bisa berarti simbol kedekatan atau representatif, seperti kata “anak-anak Indonesia di luar negeri” berarti anak-anak yang menampilkan ciri khas dan karakteristik bangsa Indonesia.

Seorang anak lebih mencirikan karakter bapaknya sering diistilahkan “anak bapaknya”. Begitu dekatnya hubungan dan banyaknya persamaan sifat dan karakter seseorang dengan sesuatu sering diistilahkan anak dari sesuatu itu. Persoalan semantik sering kali menjadi faktor penyebab terjadinya perbedaan mendasar, bahkan menjadi sumber konflik.

Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal

(dz/rmol/suaraislam)

Berarti semua agama benar menurut anda, pak Nasar !?

Sumber : eramuslim.com

(nahimunkar.org)

 

 

 

 


 

(Dibaca 1.079 kali, 1 untuk hari ini)