Merusak Moral! Film Sin Propagandakan Inses, padahal dalam Islam Pelaku Inses Dihukum Bunuh

Inilah beritanya.

***

Kampanye Inses berbalut Film Sin


 
 

Oleh: Dian Puspita Sari 

 
 

 
 

Belum usai kontroversi film The Santri untuk merusak akidah kaum muslimin, kini muncul film Sin untuk merusak akhlak generasi muslim.

 
 

Film yang disutradarai Herwin Novianto, dibintangi Mawar de Jongh dan Bryan Domani tersebut mengisahkan kakak beradik yang terlibat cinta sedarah (inses). Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ternyata  sudah muncul beragam film bernuansa inses lainnya.

 
 

Belum dirilis saja, kasus kriminalitas akibat inses sudah banyak terjadi di tengah masyarakat. Tak terbayangkan jika film ini ditayangkan, entah berapa banyak lagi kejadian serupa yang terjadi. 

 
 

Seperti halnya di Sukabumi, seorang ibu bejat telah berzina dengan kedua putranya. Kemudian mereka bersama melakukan pembunuhan terhadap anak angkatnya yang berusia 5 tahun. Sebelum dibunuh, sang anak tadi diperkosa oleh putranya.

 
 

Inikah yang diinginkan sutradara kontroversial dengan film-film seronoknya? Film mereka nantinya akan menginspirasi jutaan orang untuk melakukan hal yang sama sebagaimana dalam film Sin. Bukankah ini sama halnya dengan melakukan dosa investasi? Na’udzubillah min dzaalik!

 
 

Prilaku menyimpang inses, sebagaimana prilaku-prilaku menyimpang lainnya, marak terjadi di akhir zaman. Inilah akibat penerapan sistem (aturan) hidup sekuler liberal yang jauh dari tuntunan ajaran Allah. Terbukti, sistem ini telah merusak akidah dan akhlak generasi bangsa. 

 
 

Inses adalah perbuatan zina. Dan zina adalah dosa yang keji. Allah sendiri sangat memurkainya. 

 
 

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu tindakan keji dan jalan yang buruk (TQS al-Isra’ [17]: 32).

 
 

Zina adalah dosa besar setelah syirik. Nabi bersabda:

 
 

مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ أعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ نُطْفَةٍ وَضَعَهَا رَجُلٌ فِي رَحِمٍ لاَ يَحِلُّ لَهُ

Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah, setelah syirik, kecuali dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya dalam rahim wanita yang tidak halal bagi dirinya (HR Ibnu Abi ad-Dunya’).

 
 

Keharaman zina telah nyata dijelaskan baik dalam kitabullah maupun sunnah Rasulullah . Di antaranya dalam TQS al-Isra’ (17) ayat 32 sebagaimana dinukil di atas.

 
 

Keharaman zina juga dipertegas dengan sabda Rasulullah Saw, 

 
 

«إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا والرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ»

 
 

“Jika perzinaan dan riba sudah merajalela di suatu negeri maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan azab Allah atas mereka.” (HR. Al-Thabrani dan Al-Hakim)

 
 

Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” 

Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,

 
 

ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ

“Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas. (HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86)

 
 

Islam telah menyatakan bahwa zina itu terlarang. Hukuman perbuatan zina amatlah berat karena zina telah merampas kehormatan dan merusak nasab. Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia. 

 
 

Oleh karena itu, sudah saatnya kita selamatkan akhlak generasi bangsa ini dari kerusakan dan kebejatan akhlak akibat maraknya zina dengan tidak memproduksi karya-karya pengundang syahwat. Kepedulian kita sungguh akan menyelamatkan generasi bangsa ini sekian tahun ke depan. Wallahu a’lam bishshawab. (rf/voa-islam.com)

Foto genpi.co

 

voa-islam.com, Jum’at, 12 Safar 1441 H / 11 Oktober 2019 22:19 wib

 

***

 

Hukum Bunuh bagi Orang yang Berzina dengan Mahramnya ( incest)

Posted on 12 Juli 2016

by Nahimunkar.com

 

Barangsiapa berzina dengan mahramnya, maka hukuman hadd atasnya adalah dibunuh, baik ia seorang yang sudah menikah maupun belum menikah. Apabila ia menikahinya, maka ia dibunuh dan diambil hartanya.

سنن ابن ماجه (2/ 869)

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: مَرَّ بِي خَالِي – سَمَّاهُ هُشَيْمٌ فِي حَدِيثِهِ الْحَارِثَ بْنَ عَمْرٍو – وَقَدْ عَقَدَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِوَاءً، فَقُلْتُ لَهُ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ فَقَالَ: «بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ مِنْ بَعْدِهِ، فَأَمَرَنِي أَنْ أَضْرِبَ عُنُقَهُ»

__________

 

[حكم الألباني]

صحيح

Dari al-Barra’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertemu pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Hendak ke mana engkau?’ Ia menjawab, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk mendatangi seorang laki-laki yang menikahi isteri ayahnya setelah kematiannya, agar aku memenggal lehernya dan mengambil hartanya.'” (Shahih: [Al-Irwaa’ (no. 2351)], [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2111)], Sunan Abi Dawud (XII/147, no. 4433), Sunan an-Nasa-i (VI/110), hadits ini pada riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah tidak memakai lafazh, “Dan aku ambil hartanya.” Sunan at-Tirmidzi (II/407, no. 1373), Sunan Ibni Majah (II/869, no. 2607).)


Hukuman Bunuh bagi Orang yang Menyetubuhi Binatang


Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيْمَةٍ فَاقْتُلُوْهُ، وَاقْتُلُوا الْبَهِيْمَةَ.

‘Siapa saja yang menyetubuhi binatang, maka bunuhlah ia, dan bunuh pula binatang tersebut.'” [17]

Hukuman Bunuh bagi Pelaku Sodomi

Apabila seorang laki-laki menyodomi dubur laki-laki lain, maka hukum hadd keduanya adalah dibunuh, baik keduanya muhshan (sudah pernah menikah) ataupun bukan.

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia menerangkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ.

“Siapa saja yang kalian melakukan perbuatan kaum Luth (sodomi), maka bunuhlah orang yang menyodomi dan orang yang disodomi.” [18]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

 

 

Mahram adalah…

Yang dimaksud mahrom adalah wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki. Mengenai mahrom ini telah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا (22) حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23) وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An Nisa’: 22-24)

Sumber: muslim.or.id

https://www.nahimunkar.org/hukum-orang-berzina-mahramnya-incest/

***

Definisi atau arti kata inses berdasarkan KBBI Online:

inses /in·ses/ /insés/ n hubungan seksual atau perkawinan antara dua orang yg bersaudara dekat yg dianggap melanggar adat, hukum, atau agama/ typoonline.com

Dalam Islam, inses adalah hubungan seks atau perkawinan dengan mahrom (wanita yang haram dinikahi -lihat QS An-Nisaa’ ayat 22-24 tersebut di atas–), maka itu adalah perbuatan haram, sedang pelakunya dihukum bunuh.

 

***

 


HUKUM BERZINA DENGAN MAHRAM (INCEST)

 


Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: telah bersabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ وَقَعَ عَلَى ذَاتِ مَحْرَمٍ فَاقْتُلُوهُ

“Siapa saja yang menyetubuhi mahramnya maka bunuhlah ia.”[1]

Pernah dilaporkan kepada Al-Hajjaj bahwa ada seorang lelaki yang memperkosa saudara perempuannya sendiri. Maka, beliau pun berkata,

اِحْبِسُوْهُ وَسَلُوْا مَنْ هَا هُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَسَأَلُوْا عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِيْ مُطَرِّفٍ” فَقَالَ : “سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : « مَنْ تُخْطِى حُرَمَ الْمُؤْمِنِيْنَ فَخُطُّوْا وَسَطَهُ بِالسَّيْفِ »”.

“Tahanlah ia dan tanyakanlah oleh kalian kepada para shahabat Rasulullah tentang perkara ini!” Kemudian, mereka bertanya kepada Abdullah bin Mutharrif, lalu beliau berkata: aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang melangkahi kehormatan kaum mukminin maka langkahilah bagian tengah (tubuhnya) dengan pedang”.[2]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَفِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى الْقَتْلِ بِالتَّوْسِيْطِ وَهَذَا دَلِيْلٌ مُسْتَقَلٌّ فِيْ الْمَسْأَلَةِ وَأَنَّ مَنْ لا يُبَاحُ وَطْؤُهُ بِحَالٍ فَحَدُّ وَطْئِهِ الْقَتْلُ، دَلِيْلُهُ مَنْ وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ أَوِ ابْنَتِهِ، كَذَلِكَ يُقَالُ فِيْ وَطْءِ ذَوَاتِ الْمَحَارِمِ وَ وَطْءِ مَنْ لا يُبَاحُ وَطْؤُهُ بِحَالٍ، فَكَانَ حَدُّهُ الْقَتْلُ كَاللُّوْطِيِّ“.

“Dalam hadits ini terdapat dalil tentang hukuman bunuh dengan cara memotong bagian tengah (tubuh). Ini sebagai tersendiri dalam permasalahan tersebut. Sesungguhnya siapa saja yang menyetubuhi seseorang yang tidak diperbolehkan hal itu dilakukan kepadanya secara hukum asal maka hukuman baginya ialah dibunuh. Dalilnya sebagaimana orang yang menyetubuhi ibu atau anak perempuannya sendiri, seperti itu pulalah yang dikatakan dalam permasalahan menyetubuhi mahram dan menyetubuhi seseorang yang tidak diperbolehkan. Hal itu dilakukan kepadanya secara hukum asal maka hukuman bagi pelakunya ialah dibunuh sebagaimana pelaku homoseksual.”

Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam melanjutkan,

وَقَدْ إِتَّفَقَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنْ زَنَا بِذَاتِ مَحْرَمٍ فَعَلَيْهِ الْحَدُّ وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوْا فِيْ صِفَةِ الْحَدِّ هَلْ هُوَ الْقَتْلُ بِكُلِّ حَالٍ أَوْ حَدُّهُ حَدُّ الزَّانِيْ“.

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa seseorang yang berzina dengan mahramnya harus dihukum. Akan tetapi, mereka berselisih mengenai tata caranya, apakah dibunuh (bagaimanapun keadaannya) atau dihukum sesuai dengan hukuman bagi pelaku zina.”[3]

Telah diketahui bahwa yang disebut mahram ialah setiap orang yang diharamkan  bagi seorang lelaki untuk menikahinya dengan keharaman yang bersifat selama-lamanya, tidak halal sesuatu pun atasnya.

sumber :

Buku  Seks Bebas Undercover (Halaman 35-37), Penulis Asy-Syaikh Jamal Bin Abdurrahman Ismail dan dr.Ahmad Nida, Penerjemah Syuhada abu Syakir Al-Iskandar As-Salafi, Editor Medis dr.Abu Hana, Penerbit Toobagus Publishing, Bandung. Diposting kembali untuk http://damatun-nurul-ikhlas.blogspot.com


[1] Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah (2564) dalam kitab Al-Huduud. Di dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Ismail bin Abi Habibah Al-Anshari, dia seorang yang dha’if (lemah). Akan tetapi, ada yang menguatkannya, yaitu hadits Ibnu Abi Khaitsamah dalam Tarikhnya dari hadits Mu’awiah bin Qurrah, dari bapaknya, dari kakeknya, “Bahwasanya Rasulullah mengutusnya kepada seorang lelaki yang menyetubuhi istri ayahnya, lalu ia memenggal lehernya dan mengambil 1/5 hartanya.” Yahya bin Ma’in berkata, “Hadits ini shahih.”

[2] Hadits ini dimaksudkan oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 6/269, dan ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalamnya terdapat Rifdah bin Qudha’ah. Hisyam bin ‘Ammar menguatkannya dan jumhur ulama mendha’ifkannya.”

[3] Al-Jawaab Al-Akaafii, hlm. 199-200.

http://damatun-nurul-ikhlas.blogspot.com

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.200 kali, 1 untuk hari ini)