Untuk kedua kalinya, situs berita milik stasiun televisi swasta Nasional kembali menggemparkan jagad maya dengan propaganda islamophobianya. Kali ini, isu antiislam dihembuskan redaktur Metro TV dengan menggiring opini publik bahwa masjid adalah sarang terorisme dan radikalisme. Secara tekstual Metro TV hanya menggunakan judul Anggota ISIS Gemar Berkumpul di Masjid. Pemilihan judul tersebut tentu saja multitafsir, apalagi isu kekejaman ISIS sedang hangat-hangatnya.
Berikut link berita Metro TV yang cukup tendensius tersebut.
http://news.metrotvnews.com/read/2014/08/14/277575/anggota-isis-gemar-berkumpul-di-masjid
Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengimbau masyarakat untuk memperketat penjagaan masjid di wilayah mereka. Soalnya, kuat dugaan masjid menjadi salah satu tempat berkumpulnya anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
“Tempat yang harus pertama dijaga itu masjid. Saya minta kepada pengurus masjid kalau ada gejala baru yang ditampilkan jemaah harus segera ditindak,” kata Nasaruddin dalam Diskusi The Nusa Institute, ‘Warning ISIS: Antara Ideologi Agama vs Gerakan Politik Global’ di Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/8/2014).
Nasaruddin tak menampik masjid menjadi tempat ideal bagi kelompok Islam radikal untuk berkumpul. Juga berkegiatan. “Karena masjid itu tempat yang paling strategis, berada di tengah umat, dan gratis lagi,” terang Nasaruddin.
Warga harus pasang mata dan telinga bila ada jemaah baru di masjid. Apalagi mereka bekelompok. Nasaruddin mengatakan, warga berhak menindak kalau ternyata mereka berbuat menyimpang. “Karena masjid milik lingkungan sekitar,” terang Nasaruddin.
Menurut Nasaruddin, ada benang merah antara kelompok radikal dengan globalisasi. Terorisme lahir dari arus globalisasi. “Liberalisme adalah anak kandung globalisme yang melahirkan teroris. Mereka adalah sekelompok masyarakat yang kecewa dengan mengklaim diri mereka benar,” jelas dia.
(Dapat disimak via http://www.muslimuna.com/2014/08/metrotv-sebar-paham-islamophobia.html edisi 15 Agustus 2014)
Kontan, berita tersebut mengundang komentar-komentar negatif, salah satunya seperti berikut.
Saya akan coba menjelaskan pesan tersirat dari berita metrotvnews.com ini:
Kalo anda ngeliat ada orang yg senengnya nongkrong n kumpul-kumpul di masjid, maka patut dicurigai sbg anggota ISIS (apalagi kalo didiri orang tsb melekat ciri khas Islam Ekstrem/Radikal/Garis Keras/Fundamental/Puritan (serta ungkapan2 ‘wow’ lainnya) seperti jenggotan, celana cingkrang, kalo yang cewek jilbabnya lebar2/cadaran, maka harus sangat lebih dicurigai sekali banget).
Jadi hemat kata supaya anda2 ga dituduh anggota/simpatisan ISIS maka jarang-jaranglah pergi ke masjid, atau kalo bisa ga usah sama sekali. Biar aman
Gitu kan maksudnya metrotvnews.com? hebat..hebat…! (y)
ayok dilanjut ‘goreng’ isunya….. 😉
#Sarcasm
Kita teringat dengan isu antiislam yang ditayangkan Metro TV secara Nasional. Dalam tayangannya, Metro TV menyebut Rohis sekolah sebagai sarang terorisme dan perekrutannya seringkali melalui masjid. Berikut kami kutipkan beritanya.
Merdeka.com – Dalam salah satu tayangannya, Metro TV menyebut bahwa organisasi Rohani Islam (Rohis) sebagai sarang teroris. Tayang ini pun segera menuai kecaman. Forum Komunikasi Alumni Rohis (FKAR) meminta Metro TV meminta maaf atas hal tersebut.
“Kami Forum Komunikasi Alumni Rohis, SMP dan SMA Jakarta menuntut Metro TV untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena telah memberitakan masjid-masjid sekolah sebagai tempat rekrutmen teroris,” ujar FKAR melalui broadcast BlackBerry, Sabtu (15/9).
FKAR meminta Metro TV untuk tidak mengulangi penyebutan masjid-masjid sekolah sebagai tempat rekrutmen teroris. Jika mengulanginya, FKAR akan tuntut Metro TV.
“Supaya dicabut hak siarnya karena melakukan keresahan dan pembohongan publik. Tidak layak menjadi lembaga penyiaran.”
Sebelumnya Metro TV menampilkan tayangan mengenai pola rekruitmen teroris muda. Dalam tayangan tersebut, Metro TV menyebut bahwa sasaran rekruitment teroris muda dari siswa SMP dan SMA di sekolah umum. Mereka yang masuk target rekruitmen adalah siswa yang masuk organisasi di masjid-masjid sekolah. Siswa yang tertarik kemudian diajak diskusi di luar sekolah.
Namun dalam running teksnya, Metro TV menyebut tayangannya tersebut bersumber dari penelitian Bambang Pranowo dari UIN Jakarta. Metro TV juga membantah telah menyebut bahwa Rohis sebagai sarang teroris.
Nahimunkar.com menyarankan kepada semua pihak agar tidak termakan arus islamophobia yang kerap kali dihembuskan oleh media-media tendensius sekuler pesanan pihak-pihak antiislam. Kita perlu menyimak pesan Mensos yang mengajak kita untuk jernih dan tidak memberikan stempel teroris pada Islam dan kaum muslimin.
Dakwatuna.com – Jepara. Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf al Jufri meminta berbagai pihak untuk lebih jernih melihat masalah terorisme dan umat Muslim. Di hadapan 10 ribu jamaah di Masjid Agung Jepara, Mensos mengingatkan, jangan mencap Islam identik dengan kejahatan.
“Jangan menjatuhkan stigma kekerasan atau terorisme kepada umat Islam,” kata Mensos, Jumat (24/9) malam, di acara halal bi halal Jami’yah Ahbabul Musthofa, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Republika. Hadir dalam halal bi halal ini Bupati Jepara Hendro Martojo dan Bupati Demak Tafta Zani.
Kepada jamaah, Mensos menegaskan bahwa Islam adalah agama kedamaian. Setiap Muslim sejatinya adalah juru damai. Dengan demikian, orang yang menimbulkan kekacauan dan permusuhan sesungguhnya jauh dari esensi Islam dan Muslim.
Mantan Dubes Arab Saudi ini lantas menelaah kata ‘iman’ yang asal katanya adalah kata ‘aman’. “Mukmin adalah orang yang menimbulkan rasa aman. Mereka yang menyebarkan ketakutan dan teror maka bertentangan dengan esensi iman,” jelasnya.
Terakhir, politisi PKS ini juga mengingatkan berbagai pihak bahwa setiap agama tidak mengajarkan paham kekerasan.
(BR/HAJ – Nahimunkar.com)

(Dibaca 1.853 kali, 1 untuk hari ini)