Masjid Dibakar Teroris, Densus 88 Dimana Ya?

“Banser Sibuk Jaga Gereja, Lupa Tugas Utama Jaga Masjid.”

Yang lebih mengecewakan lagi, di saat penduduk Tolikara Papua ketakutan dan berada di pengungsian, Presiden RI tidak mengambil langkah tegas dan malah memilih untuk nonton bioskop bersama keluarganya di Solo.

‎”Presiden Jokowi tak punya empati, disaat tragedi Tolikara Papua belum terselesaikan, dimana sebanyak 153 orang masih mengungsi setelah 38 rumah, 63 kios dan masjid dibakar Jumat yang lalu,” terang Ghandi Direktur Gaspol Indonesia.

“Harusnya Densus 88 dilibatkan dalam menangkap para pelaku. Karena ini sudah merupakan teror yang merugikan orang banyak,” tegas Endro Sekretaris ISAC (The Islamic Study and Action Center).

Namun dalam hal ini Endro berpendapat bahwa Kapolri terkesan diskriminatif.

“Ada perbedaan penangan ketika pelaku muslim disebut teroris, di sidang dengan Undang-Undang Pemberantasan Terorisme, sedangkan kali ini Kapolri justru mengedepankan mediasi. Ini sangat tidak adil dan menyakiti hati umat Islam” tegasnya.

Sementara itu mantan Ketua Umum GP Ansor (Banser NU), Khatibul Umam Wiranu menyatakan, Ansor dan Banser sibuk jaga gereja saat acara ritual dan kebaktian umat kristiani (mungkin ada bayarannya di dunia) sampai-sampai melupakan tugas utama menjaga ulama dan masjid (mungkin tidak ada bayarannya di dunia).

Inilah beritanya.

***

 

Minim Empati, Jokowi Pilih Nonton Bioskop Ketimbang ke Tolikara

Redaksi – Senin, 4 Syawwal 1436 H / 20 Juli 2015 17:57 WIB

Jokowi

Eramuslim.com – Insiden yang terjadi pada pelaksanaan shalat Idul Fitri 1436 Hijriah di Kabupaten Tolikara, Papua beberapa hari lalu, sangat memprihatinkan

Direktur Gaspol Indonesia, Virgandhi Prayudantoro mengatakan, kejadian tersebut membuat warga setempat jadi ketakutan.

“Kejadian itu juga merusak rasa kebhinnekaan di Indonesia serta kebebasan beribadah untuk seluruh rakyat Indonesia,” jelas dia dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Senin (20/7).

Nah, yang lebih mengecewakan lagi, lanjut dia, di saat penduduk Tolikara ketakutan dan berada di pengungsian, Presiden RI tidak mengambil langkah tegas dan malah memilih untuk nonton bioskop bersama keluarganya di Solo.

‎”Presiden Jokowi tak punya empati, disaat tragedi Tolikara Papua belum terselesaikan, dimana sebanyak 153 orang masih mengungsi setelah 38 rumah, 63 kios dan masjid dibakar Jumat yang lalu,” terang Ghandi.

Dia menambahkan, seharusnya Presiden Jokowi bisa turun langsung untuk melihat keadaan di Tolikara pasca kejadian pembakaran tersebut.

“Percuma dong  ada laporpresiden.org kalo pas lagi ada konflik presidennya tidak turun langsung untuk mengatasinya. Kami berharap Presiden Jokowi untuk memberikan contoh terhadap kita semuanya tentang solusi tepat mengatasi masalah ini bukan hanya menunggu laporan para pembantunya saja,” tandasnya.(rz/RMOL)

***

Masjid Dibakar Teroris, Densus 88 Dimana Ya?

Redaksi – Senin, 4 Syawwal 1436 H / 20 Juli 2015 13:00 WIB

Tolikora003

Eramuslim.com – Ketidakadilan Polri dalam menangani kasus semakin terlihat terutama dalam kasus Tolikara. Jika ada oknum orang Islam melakukan kesalahan sedikit saja langsung dikatakan radikal bahkan teroris. Tetapi saat ratusan orang Kristen melakukan hal demikian kepolisian terkesan lamban dan tidak tegas.

Menyikapi hal itulah Endro Sudarsono selaku Sekretaris ISAC (The Islamic Study and Action Center) berkata, “Dalam hal ini GIDI harus diberi sanksi, jika tidak akan menjadi ancaman serius bagi kerukunan umat beragama karena sudah mengambil alih kewenangan Kemenag, Polri, Kejaksaan, dan Kehakiman.”

Surat dari GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) menunjukan sikap resmi yang telah mengganggu hak asasi manusia yang paling hakiki yaitu hak melaksanakan ibadah dan keyakinan. Selain itu surat tersebut sudah melampaui kewenangan negara, negara yang harusnya menjamin kebebasan justru institusi swasta dengan arogan melarang dan membubarkan

Aksi pembubaran Sholat Idul Fitri dan pembakaran kios, rumah dan Masjid Baitul Muttaqin merupakan implementasi dari hakekat dan pelarangan dari isi surat GIDI, nampak pada hadirnya sekertaris GIDI Pendeta Marthin Jingga berada di lokasi kerusuhan.

Ia menambahkan, ini adalah sebuah skernario sebelumnya, awalnya dari surat GIDI menurut info resmi dari Kapolda Papua, bahwa pelaku pembubaran sholat Idul Fitri dan pembakaran musholla sejumlah 150 orang, artinya tidak terlalu sulit untuk mengidentifikasi pelaku.

“Harusnya Densus 88 dilibatkan dalam menangkap para pelaku. Karena ini sudah merupakan teror yang merugikan orang banyak”

Namun dalam hal ini Endro berpendapat bahwa Kapolri terkesan diskriminatif.

“Ada perbedaan penangan ketika pelaku muslim disebut teroris, di sidang dengan Undang-Undang Pemberantasan Terorisme, sedangkan kali ini Kapolri justru mengedepankan mediasi. Ini sangat tidak adil dan menyakiti hati umat Islam” tegasnya.

Jika demikan adanya, bisa dikatakan Densus 88 hanya diperalat untuk kepentingan memusuhi aktivis muslim, bahkan baru terduga saja sudah di tembak mati. Tapi bila terorisnya bukan orang Islam, maka itu tidak menjadi target Densus 88. Jika demikian, bagusnya diberi moto: Berani Bela Yang Bayar! (rz)

***

“Banser Sibuk Jaga Gereja, Lupa Tugas Utama Jaga Masjid.”

Redaksi – Senin, 4 Syawwal 1436 H / 20 Juli 2015 12:00 WIB

Khatibul Umam Wiranu

Eramuslim.com – Serangan terhadap umat Islam saat shalat Id dan pembakaran Masjid Baitul Muttaqin di Tolikara, Papua, saat hari raya Idul Fitri 1436 H (17/7/2015) menyentak semua pihak. Atas tragedi pembakaran masjid ini, mantan Ketua Umum GP Ansor, Khatibul Umam Wiranu menyayangkan Ansor dan Banser yang dinilainya melupakan tugas utama menjaga masjid.

“Ansor dan Banser sibuk jaga gereja saat acara ritual dan kebaktian umat kristiani sampai-sampai melupakan tugas utama menjaga ulama dan masjid,” kata Khatibul Umam.

“Peristiwa pembakaran tempat shalat idhul fitri oleh siapapun harus jadi introspeksi pemimpin ansor dan banser agar tidak lupa akan tujuan pendirian ansor dan banser,” lanjutnya.

Berikut selengkapnya pernyataan dan seruan mantan Ketua Umum GP Ansor, Khatibul Umam Wiranu, sebelum era Nusron Wahid yang dilansir nugarislurus (19/7):

Seruan untuk para pimpinan GP Ansor dan Banser atas peristiwa pembakaran tempat ibadah umat Islam oleh orang-orang yang tidak senang terhadap Islam:

Ansor dan Banser sibuk jaga gereja saat acara ritual dan kebaktian umat kristiani (mungkin ada bayarannya di dunia) sampai-sampai melupakan tugas utama menjaga ulama dan masjid (mungkin tidak ada bayarannya di dunia).


Peristiwa pembakaran tempat shalat idhul fitri oleh siapapun harus jadi introspeksi pemimpin ansor dan banser agar tidak lupa akan tujuan pendirian ansor dan banser.


Saya sama sekali tidak keberatan Banser menjaga tempat-tempat ibadah non-Muslim saat mereka menjalankan ibadah dan ritual menurut keyakinannya, tentu tanpa melupakan penjagaan terhadap tempat-tempat ibadah umat Islam.


Islam ahlussunah waljamaah telah mengajarkan kepada kita bagaimana seorang Muslim bersikap terhadap sesama manusia (ukhuwah basyariyah), sesama orang Islam (ukhuwah Islamiyah), dan dan sesama warga bangsa (ukhuwah wathoniyah).


Saya berharap Ansor dan Banser harus tetap mendahulukan tugas utama dan semangat dasar pendirian Banser.


Demikian sekadar mengingatkan bagian akhir surat al-‘Ashr.


Khatibul Umam Wiranu (Ketua PP GP Ansor 2005-2010)


InnaaIillaahi wa Innaa Ilaihirooji’uun.


Wallahul Mustaa’an
.(rz/nugarislurus)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.082 kali, 1 untuk hari ini)