Yang berkuasa menurunkan hujan adalah Allah Ta’ala. Bila manusia minta agar diturunkan hujan pun sudah ada tuntunan dari Alah Ta’ala lewat Rasul-Nya, yaitu dengan shalat istisqa’, shalat minta hujan secara berjamaah disertai doa.
Shalat Istisqa
Jika hujan tidak turun, dan suatu daerah tertimpa kekeringan, maka disunnahkan keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa’ (memohon hujan). Kemudian seorang imam melakukan shalat dua raka’at bersama masyarakat. Setelah itu dia memperbanyak do’a dan istighfar sambil merubah letak syal (selendang)nya dan menjadikan bagian kanannya di atas bagian kirinya.

Dari ‘Abbad bin Tamim, dari pamannya, ‘Abdullah Zaid, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa’. Beliau menghadap ke kiblat lalu shalat dua raka’at dan membalik syalnya. Sufyan berkata, ‘Aku diberitahu al-Mas’udi dari Abu Bakr, dia berkata, ‘Beliau menjadikan bagian kanan dari syal tersebut di atas bagian kiri.’”[7]

Dan darinya, dia berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar untuk shalat Istisqa’. Dia berkata, ‘Beliau lalu menghadapkan punggungnya ke arah para penduduk dan menghadap ke kiblat sambil berdo’a. Kemudian beliau merubah letak syalnya lantas shalat dua raka’at bersama kami. Beliau mengeraskan bacaannya pada kedua raka’at tersebut.” [8]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]/almanhaj.or.id
_______
Footnote
[7]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/515 no. 1027)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (2)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/24 no. 1149), Sunan at-Tirmidzi (I/34 no. 553), Sunan an-Nasa-i (II/155) dengan lafazh hampir serupa.
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1029)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/514 no. 1025), ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (4)), dalam riwayatnya tidak terdapat kata: “mengeraskan.” Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/26 no. 1150).

Manusia tidak berhak membuat-buat ibadah

Cara minta hujan sudah ada syari’atnya yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian tidak perlu mengada-adakan aturan sendiri. Ketika manusia membuat aturan sendiri padahal menyangkut doa, sedang doa itu adalah ibadah, maka berarti membuat-buat ibadah yang manusia ini tidak diberi hak untuk membuatnya. Itulah yang disebut jalan syetan.
Biasanya, jalan syetan itu akan memayahkan dan merugikan manusia itu sendiri, di samping bertentangan dengan jalan Allah Ta’ala. Bayangkan, untuk ritual pernikahan kucing yang diada-adakan pun persiapannya sampai sebulan, pakai serah-serahan emas picis rojobrono segala.
Itu semua di samping mengada-ada, termasuk perbuatan mubadzir pula. Sedang mubadzir itu adalah teman syetan, menurut Al-Qur’an.

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦)

26. dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (٢٧)

27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al-Israa’/17: 26-27).
Tentang ritual pernikahan kucing untuk minta hujan, inilah beritanya. Dan di bagian bawah ada ulasannya, ditampilkan kembali tulisan masa lalu.
***

Ritual Unik Warga Malang Minta Hujan

278679_minta-hujan-warga-desa-sumberrejo-nikahkan-raden-mas-minto-tirto_663_382

Foto Viva News

Selasa, 11 November 2014, 10:21 Dedy Priatmojo, D.A. Pitaloka (Malang)

VIVAnews Warga Desa Sumberrejo Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang Jawa Timur sedang punya hajatan besar. Mereka akan menikahkan Raden Mas Minto Tirto , penduduk warga Desa Sumberrejo Dusun Krajan, dengan salah satu penduduk di Dusun Sumberwangi.

Uniknya, Raden Mas Minto Tirto adalah nama kucing jantan berusia satu tahun berwarna putih dan kuning yang diletakkan di dalam kandang terbuat dari bambu.

“Ini adalah salah satu adat kami untuk meminta hujan,” kata Kasmari, Kepala Desa Sumberrejo Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang, Selasa 11 November 2014.

Pengantin pria yang terlihat berada di dalam tandu akan diarak bersama warga desa ke tempat penganten wanita di Dusun Sumberwangi sekitar pukul 09:30 WIB.

Seperti layaknya pengantin sesungguhnya, dalam rombongan itu juga disertakan sepasang kembar mayang dan jodang bertulis emas picis rojo broto.

“Ini sesuai adat orang menikah, bawa jodang, atau peti yang isinya seserahan dari penganten pria ke wanita,” ujarnya.

Seluruh keperluan yang disiapkan sejak satu bulan lalu, kini mulai berdatangan di balai desa Sumberrejo. Iringan penganten akan diikuti sebagian besar masyarakat dan pelajar yang ada di lingkungan desa tersebut. Beberapa warga menggunakan blangkon dan baju lurik khas jawa.

“Kami akan berjalan sekitar 1,5 kilo ke mata air Kali Putih di Dusun Sumberwangi. Di sana kucing akan dimandikan dan dilepaskan,” terang Kasmari.

Ritual ini dilakukan turun temurun sebagai adat desa setempat, ketika meminta hujan. Pelaksanaan terakhir dilakukan pada tahun 1997 lalu. Minto Tirto sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti minta air. “Kucing yang dipakai ya, kucing milik warga sendiri,” katanya.

Kucing jantan berusia satu tahun itu berwarna kuning dan putih. Menurutnya, dari beberapa kali ritual sebagian besar selalu diikuti dengan turunnya hujan.

“Semalam di sini sudah hujan. Tetapi, kegiatan ini tetap kami lakukan karena sudah hasil musyawarah satu bulan lalu. Biasanya, setelah ritual pasti hujan, mungkin karena sudah waktunya,” ujar dia. (asp)

© VIVA.co.id

***

Ibadah dan Minta kepada selain Allah.

By nahimunkar.com on 8 October 2011

buku_nm_83228003

Lingkar Pembodohan dan Penyesatan Ummat Islam, Pustaka Nahi Munkar Surabaya, 031 70595271, 5911584 atau 08123125427, dan Jakarta Toko Buku Fithrah 021 8655824, 71490693, HP. 081319510114.

Indonesia yang kini menyandang banyak musibah bencana atas dosa-dosa manusianya, tampaknya yang kasat mata, bukannya bertaubat di hari-hari baik yaitu Bulan Dzulhijjah (bulan haji) yang puluhan pertamanya merupakan hari-hari paling baik sepanjang tahun, malahan tambah-tambah kemusyrikannya. Sampai-sampai ada kelompok yang ramai-ramai menanam kepala kerbau di Gunung Merapi yang meletus. Padahal berqurban untuk selain Allah, baik itu disebut tumbal, sesaji ataupun apapun namanya, adalah upacara kemusyrikan, dosa paling besar, dapat menghapus keislaman, dan menjadikan kekal di neraka bila sampai matinya tidak bertaubat. Dan itu menjadikan murka Allah Ta’ala sehingga tidak mustahil menimpakan bencana.

Apalagi kenyataannya, para pelaku kemusyrikan dengan upacara-upacara yang mereka gelar itu justru mengikuti kemusyrikan yang dipegangi oleh penguasa yakni di antaranya Kraton setempat, sebagaimana di tempat-tempat lain adalah pemerintah daerah setempat masing-masing. Sehingga duit yang berasal dari rakyat (mayoritas Muslimin) justru untuk menentang Allah sedahsyat-dahsyatnya yakni upacara kemusyrikan.

Ketika amanah telah dikhianati, sedang keyakinan telah dinodai bahkan diberangus dengan kemusyrikan, maka apa lagikah yang masih tersisa?

Ada di mana-mana pemda yang menggalakkan kemusyrikan sampai aneka macam sesaji larung laut, labuh sesaji ke gunung, menanam kepala kerbau ke gunung dan sebagainya ditumbuh suburkan di daerah-daerah. Bahkan sampai festival menikahkan kucing dengan upacara manten kucing pakai biaya 30 juta rupiah dari APBD pun diselenggarakan di Tulungagung Jawa Timur oleh Bupatinya. Pagelaran melecehkan Islam berupa upacara manten kucing dengan ijab qabul sebagaimana menikahkan orang Islam itu disuguhkan pihak Bupati Tulungagung pada 22 November 2010. Edan tenan!

Ada yang lebih gila lagi, atas nama membangun satu kuburan tokoh sesat pro Yahudi di Jombang, dikuraslah dana Rp180 miliyar dari APBD Kabupaten Jombang, APBD Provinsi Jawa Timur dan APBN Pusat. Diberitakan, anggaran untuk perbaikan kompleks makam KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng Kec. Diwek Kab. Jombang sebesar Rp 180 miliar.

Dari jumlah itu Pemkab Jombang urunan dana Rp 9 miliar dari APBD 2010. Sisanya sebanyak Rp 171 miliar urunan APBD Jatim dan APBN. (lihat Surabayapost.co.id, Perluasan Makam Gus Dur Dimulai, Kamis, 12 Agustus 2010 | 21:24 WIB)

Dalam kasus bencana meletusnya Gunung Merapi, agaknya tidak terlalu berlebihan apabila ada yang mengatakan bahwa kemusyrikan di zaman kini kadang lebih dibanding kemusyrikan di zaman dahulu. Karena di zaman dahulu, orang-orang musyrik ketika tertimpa musibah maka mereka meminta kepada Allah Ta’ala untuk melepaskan dari musibahnya. Baru setelah lepas dari bencana kemudian mereka berbuat kemusyrikan lagi.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah Ta’ala

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ [الأنعام/41]

(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah). (QS Al-An’am/ 6: 41).

Artinya; di waktu darurat kamu sekalian tidak berdoa kepada satu pun selain-Nya, dan hilanglah dari kalian berhala-berhala kalian dan tandingan-tandingan kalian (terhadap Allah Ta’ala). Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا [الإسراء/67]

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. (QS al-Israa’/ 17: 67). (Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 256).

Coba kita bandingkan dengan kemusyrikan zaman kini, ketika tidak ada bencana, mereka menyembelih kerbau kemudian kepalanya disajikan kepada Merapi dan sebagainya. Begitu Merapi meletus, mereka menyembelih kerbau dan kepalanya disajikan pula ke Merapi dan sebagainya.

Jadi kemusyrikan zaman kini, saat gembira tidak ada musibah bencana, mereka berbuat kemusyrikan. Dan ketika tertimpa musibah pun tetap berbuat kemusyrikan pula. Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung dari hal yang demikian!

(Dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Lingkar pembodohan dan Penyesatan Ummat Islam, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta-Surabaya, 2011).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.363 kali, 1 untuk hari ini)