Ilustrasi Ahok dan Yaqut ketua GP Ansor / foto Wahyu Aji/Tribunnews.com. Kanan Ma’ruf Amin tegaskan Ahok Menista agama./ Ilustrasi/ foto Linkis.com


Inilah beritanya

***

Mirip Ahok Dulu, GP Ansor Hanya Minta Maaf telah Membuat Kegaduhan

Jakarta– Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) melayangkan permintaan maaf atas peristiwa pembakaran bendera Tauhid di Limbangan, Garut, Jawa Barat, Senin (22/10) lalu. Tapi, permintaan maaf itu bukan atas tindak pembakarannya, melainkan karena efek peristiwa itu yang membuat gaduh masyarakat.

“Saya atas nama GP Ansor dan mewakili kader, meminta maaf kepada seluruh masyarakat, seluruh masyarakat ya, jika apa yang dilakukan kader kami menimbulkan kegaduhan dan ketidaknyamanan. Atas kegaduhannya, bukan pembakaran bendera HTI,” ujar Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas dalam konferensi pers di kantor PP GP Ansor, kawasan Senen, Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2018), seperti dilansir Viva.co.id.

Pernyataan maaf model Yaqut ini pernah dilakukan oleh bekas Gubernur DKI Jakarta Ahok. Ahok, saat kasus penistaan agama merebak dan menjadi sorotan masyarakat, menyampaikan permintaan maaf. Tetapi permintaan maafnya bukan atas tindak penistaan agama yang telah dilakukan terkait penistaan Surat Al Maidah ayat 51, melainkan karena telah membuat kegaduhan.

Yaqut menyebut, bendera yang dibakar anggota Banser di Garut merupakan bendera milik ormas HTI yang telah dibubarkan pemerintah. Alasannya, lanjut dia, karena pernyataan Kapolda Jawa Barat di media massa yang menegaskan telah melakukan pemeriksaan dan menyatakan bendera tersebut adalah bendera HTI.

“Untuk itu, perlu kami sampaikan bahwa kami menolak secara tegas bahwa bendera HTI tersebut
diidentikkan atau dinyatakan seakan-akan sebagai bendera tauhid milik umat Islam,” kata Sekretaris Jenderal GP Ansor Abdul Rochman dalam kesempatan yang sama.

Ia menjelaskan, beberapa oknum Banser secara spontan melakukan pembakaran HTI. Sebab, pihak
penyelenggara peringatan Hari Santri Nasional 2018 di Garut telah melarang kepada seluruh peserta agar tidak membawa bendera apa pun kecuali bendera Merah Putih.

“Pada saat pelaksanaan upacara peringatan Hari Santri Nasional, tiba-tiba ada oknum peserta mengibarkan bendera HTI,” tutur Abdul.

Ia menegaskan, oknum yang membawa bendera tersebut sama sekali tidak mengalami penganiayaan atau persekusi dari Banser. Kendati demikian, tindakan pembakaran bendera itu bertentangan dengan prosedur operasional standar (SOP) dan instruksi Ketua Umum GP Ansor. Dengan begitu, pimpinan pusat GP Ansor akan memberikan peringatan kepada Banser yang secara sepihak membakar bendera HTI.

“Atas tindakan oknum Banser tersebut, pimpinan pusat GP Ansor akan memberikan peringatan karena telah menimbulkan kegaduhan publik dan persepsi yang tidak seimbang sehingga banyak pihak mendapatkan kesan yang tidak objektif,” kata Abdul menjelaskan.

red: A Syakira

sumber : suara-islam.com, (SI Online) –24 Oktober 2018

***

Penjelasan MUI Terang, Bendera yang Dibakar bukan Bendera HTI

 Puluhan ribu umat Islam di Jakarta menggelar Aksi Bela Tauhid, Jumat siang (26/10).

Jakarta (SI Online) – Pengacara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yusril Ihza Mehendra menegaskan, terkait pembakaran bendera tauhid di Garut, penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah cukup terang.Menurut MUI, Kata Yusril, bendera yang dibakar itua dalah bendera tauhid bukan bendera HTI sebab tidak ada tulisan HTI-nya.

Selain penjelesan MUI, kata Yusril, penjelasan mantan Sekum dan Jubir HTI Ismail Yusanto juga sudah sangat jelas bahwa HTI tidak punya bendera. Bendera bertuliskan kalimat tauhid di atas kain hitam yang biasa digunakan HTI itu dianggap sebagai bendera yang dulu digunakan Rasulullah Saw sehingga bisa digunakan umat Islam di mana saja./ https://suara-islam.com

***

Polri Didesak agar Pembakar Bendera Tauhid Ditetapkan sebagai Tersangka Penodaan Agama, Banser NU Pernah Usung Bendera Tauhid Juga

Posted on 30 Oktober 2018 – by Nahimunkar.com

Banser NU/ GP Ansor Usung Bendera Tauhid 2017, Bakar Bendera Tauhid 2018/ foto Maia

Banser NU/ GP Ansor bakar bendera Tauhid di Hari Santri Nasional 3, Senin 22 Oktober 2018 di Garut Jawa Barat.

Advokat Muslim Indonesia menuntut dan mendesak kepada POLRI untuk melakukan penyidikan secara profesional, proporsional, transparan, egaliter, imparsial dan akuntable, serta agar segera menetapkan pelaku pembakaran bendera tauhid sebagai Tersangka berdasarkan ketentuan pasal 156a tentang penistaan  terhadap agama. Polri harus terbebas dari intervensi dari pihak manapun dalam menangani perkara, berpegang teguh pada kaidah dan asas-asas hukum pidana serta mekanisme dan prosedur hukum sebagaimana telah diatur didalam KUHAP.

***

Foto-foto menunjukkan bahwa Banser NU/ GP Ansor membawa bendera ormasnya disertai bendera Tauhid bertulisan Laa ilaaha Illallah ketika berdemo di Kedutaan Amerika di Jakarta, mengutuk Amerika dan Israel dalam kasus ambil alih Yerussalem. Demo Banser itu dilakukan di Jakarta, 8 Desember 2017.

Anehnya, ketika Banser NU/ GP Ansor membakar bendera Tauhid di acara Hari Santri Nasional di garut Jawa Barat, 22 Oktober 2018, mereka dan para pembelanya ngotot, yang dibakar itu bendera HTI. Padahal tidak ada lambang HTI, hanya bertuliskan Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullaah, sebagaimana bendera yang Banser usung waktu demo ke kedutaan Amerika 2017 tersebut.

Oleh karena itu Advokat Muslim Indonesia menuntut dan mendesak kepada POLRI untuk melakukan penyidikan secara profesional, proporsional, transparan, egaliter, imparsial dan akuntable, serta agar segera menetapkan pelaku pembakaran bendera tauhid sebagai Tersangka berdasarkan ketentuan pasal 156a tentang penistaan  terhadap agama.

Pakar hukum pidana memperingatkan, Harus berhati-hati bila di bendera itu ada tulisan kalimat ‘tauhidnya’, tandas Pakar Hukum Pidana Prof DR Mudzakkir.

Dikatakannya, kalimat tauhid itu adalah kalimat yang ‘netral dan suci’. Kalimat ini berlaku umum karena diyakni semua umat Islam sebagai bagian asasi ajaran agamanya. Maka apa pun adanya, keberadaan kalimat tauhid itu harus dihormati karena dilindungi aturan norma hukum. Konsekuensinya bila ada pihak yang membakar, merobek, hingga merusaknya, maka dapat punya arti sebagai tindakan penghinaan terhadap sebuah ajaran agama. Demikian pernyataan pakar pidana itu yang dikutip republikaonline.

***

Yang Satu (Ahok) Penista Islam, yang Satunya Lagi (Ma’ruf Amin) Kyai NU Akan Gabung… Kok Bisa Ya

Posted on 12 Agustus 2018 – by Nahimunkar.com

Ilustrasi/ foto Linkis.com

Surat dari Ahok untuk Presiden Jokowi beredar di medsos / Tribunnews.com – Kolase/Instagram/@fifiletytjahajapurnama/Kompas.com/garry andrew lotulung

Ahok Penista Islam Akan Bergabung dalam Tim Jokowi-Ma’ruf Amin

Luhut Binsar Pandjaitan Berkata:

“Beliau (Ahok) tulis surat ke saya (Luhut) bilang setelah saya (Ahok) keluar penjara saya (Ahok) pengin ikut kampanye capres-cawapres,” kata Luhut seperti dilansir Kumparan pada Ahad (12/8/18) siang.

Luhut menegaskan, setelah keluar penjara, Ahok akan bergabung dalam tim Jokowi-Ma’ruf Amin.

***

Di samping kasus penistaan terhadap Islam oleh Ahok yang beragama Kristen, sejatinya Allah Ta’ala telah memperingatkan. Namun boleh jadi ayat Al-Qur’an pun dapat tersingkirkan sama sekali ketika manusianya sudah hubbud dun-ya (cinta dunia). Ini di anara ayatnya:

﴿بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا  (١٣٨)

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا  (١٣٩) ﴾ [ النساء:138-139]

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, [An Nisa”:138]

(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. [An Nisa”:139]

﴿وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ  (١٢٠) ﴾ [ البقرة:120-120]

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [Al Baqarah:120]

Ketika orang Nashoro justru kirim surat untuk bergabung dengan tim yang diawaki Kyai NU, berarti pihak Nashoro itu sudah menilai bahwa Kyai NU itu sudah (sempurna ?) تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ mengikuti agama mereka.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 690 kali, 1 untuk hari ini)