Miris, 3 Nelayan Aceh Menolong Muslim Rohingya yang Terdampar di Laut, Dihukum Lima Tahun Penjara dan Didenda Rp.500 juta


 

Oleh: Abu Muas T. (Pemerhati Masalah Sosial)

Sungguh miris, membaca dan menyimak pemberitaan tentang nasib tiga nelayan gegara menolong warga etnis Rohingya yang terdampar di laut Aceh dijerat kurungan lima tahun penjara karena menurut hakim telah melanggar Pasal 120 ayat (1) Undang-undang Nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian Juncto Pasal 55 KUHP, dan tiga terdakwa dikenakan denda sebesar Rp.500 juta, subsider satu bulan kurungan, sebagaimana dilansir panjimas.com.

Sungguh menyesakkan, tindakan nelayan menolong sesama yang didasari nilai-nilai kemanusiaan, alih-alih mendapatkan apresiasi malah kini mereka harus menerima hukuman penjara. Jika hal demikian adanya, layaklah timbul pertanyaan, masih pantaskah Pancasila dijadikan momok menjadi landasan dasar negeri ini minimal yang terkait dengan sila kedua, Kemanusian yang adil dan beradab?

Jiwa kemanusiaan yang melekat dalam diri seorang nelayan tatkala melihat pengungsi yang terombang-ambing di tengah lautan, tentu bangkit nurani kemanusiaannya untuk segera bertindak memberikan pertolongan. Mereka tidak terbesit sedikit pun soal adanya Undang-undang Keimigrasian, yang ada saat itu mereka hanya berfikir bagaimana caranya dapat berbuat sesuatu untuk dapat berupaya menyelamatkan pengungsi yang sedang membutuhkan pertolongan.

Situasi dan kondisi para pengungsi yang sedang tersesat dan terombang-ambing di tengah lautan, memang hanya bisa dilihat dengan kacamata naluri kemanusiaan oleh manusia-manusia yang masih layak disebut manusia. Hanyalah manusia-manusia yang telah mati jiwa kemanusiaannya pasti tak akan punya empati sedikit pun terhadap penderitaan sesamanya.

Kini dengan segala keterbasannya dan yang tersisa dalam dirinya hanya jiwa kemanusiaannya, ketiga nelayan ini harus rela menjalani hukuman selama lima tahun penjara dan denda Rp.500 juta.

Pertanyaannya, masihkah ada di negeri ini manusia-manusia yang masih berhati manusia mau membela dan menolong ketiga nelayan ini sebagaimana mereka menolong pengungsi?

Redaksi ANNAS Indonesia

19 Juni 2021 10:31

***

Penting diperhatikan

 
 

Penting diperhatikan, ada peringatan langsung dari Allah Ta’ala:

{وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا } [النساء: 105]

dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat [An Nisa”105]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan para penyelenggara negara yang telah menyengsarakan rakyatnya. Hadits dari ‘Aisyah RA, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa :

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)
“Ya Allah, barang siapa yang diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia mempersulit mereka maka persulitlah dia, dan barang siapa yang diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia berlaku baik kepada mereka, maka, perlakukanllah dia dengan baik pula.” (HR. Muslim No. 1828, Ahmad No. 24622, Ibnu Hibban No. 553, Abu ‘Uwanah No. 7025, dll)
 

Penguasa Yang Penipu.
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
«
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara” Ditanyakan : “Apakah Ar-Ruwaibidhah ?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul At Taafih) tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.” (HR. Ibnu MAjah No. 4036. Ahmad No. 7912. Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad No. 7912. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Sanadnya jayyid. Lihat Fathul Bari,13/84).
 

Penjaga Keamanan Yang Tidak Taat Kepada Allah subhanahu wa ta’ala .
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ“.

“Akan datang di akhir zaman adanya petugas keamanan yang di pagi hari di bawah kemurkaan Allah, dan sore harinya di bawah kebencian Allah. Hati-hatilah kamu menjadi bagian dari mereka.”
(HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 7616. Imam Al Munawi mengatakan: shahih. Lihat _At Taisir bi Syarh Al Jaami’ Ash Shaghiir,_2/192).

Larangan Membenci Arab.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يا سلمان لا تبغضنى فتفارق دينك. قلت يارسول الله كيف ابغضك وبك هدانا الله. قال تبغض العرب فتبغضني
“Wahai Salman. Janganlah kamu membenciku. Hal itu akan berdampak engkau akan terlepas dari Agamamu. Salman bertanya : Bagaimana aku membencimu. Padahal kami mendapat Hidayah karena keberadaanmu ? Engkau membenci Arab maka engkau telah membenciku.”
(HR. At Tirmidzi No. 3927, katanya: Hasan. Ahmad No. 23731, Al Hakim dalam _Al Mustadrak_ No. 6995, katanya : shahih. Sebagian Ulama yang lain menilai hadits ini doif).
Penguasa Yang Sufaha.
«لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ سُفَهَاءُ يُقَدِّمُونَ شِرَارَ النَّاسِ، وَيَظْهَرُونَ بِخِيَارِهِمْ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ، فَلَا يَكُونَنَّ عَرِيفًا وَلَا شُرْطِيًّا وَلَا جَابِيًا وَلَا خَازِنًا»


“Akan datang suatu masa kepada umat manusia, pemimpinnya adalah Sufaha, lebih mengutamakan orang – orang jahat sebagai pembantunya namun mereka mencitrakannya sebagai orang-orang baik. Mereka selalu mengakhirkan shalat. Barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi menterinya, polisinya, pemungut pajaknya dan bendaharanya.”
(Hadits Shohih menurut ibnu Hibban. Dan Hasan Menurut Al Albani).


Sufaha asal artinya orang-orang yang kurang waras. Al Qur’an menyebut 3 golongan manusia sebagai sufaha’ :


Dalam hadits:

Dari Abu Buraidah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:


اَلْقُضَاةُ ثَلاَثَةٌ اثْنَانِ فِي النَّارِ وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ رَجُلٌ عَلِمَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ جَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ.

“Hakim itu ada tiga macam, dua di Neraka dan satu masuk Surga; (1) seorang hakim yang mengetahui kebenaran lalu memberi keputusan dengannya, maka ia di Surga, (2) seorang hakim yang mengadili manusia dengan kebodohannya, maka ia di Neraka, dan (3) seorang hakim yang menyimpang dalam memutuskan hukuman, maka ia pun di Neraka.” {Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4446)], Sunan Abi Dawud (IX/487, no. 3556), Sunan Ibni Majah (II/776, no. 2315).}/ almanhaj.or.id

 (nahimunkar.org)

(Dibaca 106 kali, 1 untuk hari ini)