Oknum MUI ada yang cemas dengan lahirnya MIUMI yang sejak semula menghantam syiah, bahkan ulama yang mengaku sunni dari Iran datang ke MUI pun oleh anggota MIUMI diberi bukti-bukti kedhaliman syiah Iran terhadap Sunni.

Keruan saja oknum MUI, Muhyiddin Junaidi yang bekerjasama dengan lembaga syiah di Irak langsung mengemukakan kekhawatirannya dengan hadirnya MIUMI. Demikian pula Tutty Alawiyah yang ikut menandatangani deklarasi Amman yang sering dijadikan tameng oleh orang-orang Syi’ah pun ikut menyuara sebagaimana Muhyiddin Junaidi.

Secara jelas, kiprah oknum ini dalam upayanya menyeret MUI ke Syiah dia kemukakan sendiri, di antaranya ada sorotan sebagai berikut:

Yang lebih menyedihkan terutama bagi Ummat Islam Indonesia, di saat Ummat Islam (Sunni) dimusuhi oleh syi’ah di pusatnya di dunia yakni Iran, justru oknum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat berbangga bekerjasama dengan Iran dalam bidang riset/ penelitian (agama). Surat kabar yang mewawancarainya (Republika) pun tampak membeberkan dengan lantangnya.

Sebagian wawancara Republika dengan orang MUI sebagai berikut:

MUI telah mencoba melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan organisasi-organisasi Islam di luar negeri.

Beberapa waktu lalu, kami diundang ke Irak dan telah menandatangani kerja sama dengan Pusat Kajian Alquran di Irak yang berpusat di Karbala. Walaupun berbeda mazhab, kita ingin sama-sama sharing untuk meningkatkan metodologi hafalan Alquran. Kami bertemu dengan tokoh di Irak, baik Suni maupun Syiah. Bahkan, mereka sangat mengapresiasi kunjungan kita ke Irak di tengah-tengah situasi kemanan yang menurut berita internasional kurang kondusif.

Kita ingin menjalin kerja sama dengan umat Islam walaupun berbeda aliran/mazhab. Kita sadar bahwa musuh-musuh Islam selalu berupaya melemahkan Islam dengan mengadu domba antara Syiah dan Sunni. Kita tak mau itu terjadi. Syiah itu tak seperti Ahmadiyah karena Syiah adalah mazhab yang diakui dunia Islam.

(Pada bagian lain dikemukakan):

MUI juga akan melakukan riset bersama di Iran tentang peradaban Islam. Mereka bisa melakukan riset mengenai peran MUI dalam merekatkan ukhuwah Islamiyah dan ormas-ormas Islam di Indonesia. (Republika, KH Muhyiddin Junaidi MA, Umat Harus Waspadai Konspirasi Musuh

Minggu, 13 Februari 2011 pukul 11:47:00). (https://www.nahimunkar.org/10522/syiah-memusuhi-islam-bersekongkol-dengan-para-pengkhianat/ ).

Oleh karena itu, pantaslah ketika MIUMI bertandang ke MUI, oknum itu mengemukakan resah gelisahnya.

Iniliah beritanya.

***

Segelintir anggota MUI Pusat Cemas dengan Kehadiran MIUMI

Sejumlah delegasi dari Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Kemarin, Selasa (27/3) menyambangi sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jl. Proklamasi No.51, Jakarta Pusat.

Dari pihak MIUMI, delegasi dipimpin oleh Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi. Beberapa delegasi lainnya antara lain:  Fahmi Salim, Farid Ahmad Okbah, Muhammad Rasmin Zaytun, Fadzlan Garamatan, Henri Shalahudin, Zaenal Najah, Ust Jeje Zainuddin.

Delegasi MIUMI diterima oleh Ketua MUI Pusat KH. Ma’ruf Amin dan anggota MUI lainnya, diantaranya:  Ichwan Sam, KH. Muhyiddin Junaidi, Umar Shihab, Nasir Zubaidi, Anwar Abas, Nadratudzzaman, Sinanseri Encip, Tuty Alawiyah, Amidhan, Teuku Zulkarnaen, Hasanuddin AF.

Dalam pertemuan kedua lembaga ulama itu, MIUMI memperkenalkan organisasinya yang baru dan menjelaskan kembali visi-misi dan sejumlah programnya. Sebagian besar anggota MUI menyambut gembira dengan kehadiran MIUMI, kendati sebagai anggota MUI lainnya terkesan cemas jika MIUMI akan menandingi keberadaan MUI.

KH. Maruf Amin menyambut gembira dengan kehadiran MIUMI. Ia mengatakan, pendukung MUI kini bertambah satu. Hal senada dikatakan Ichwan Sam mengatakan, MUI ikut gembira dan ikut mendorong MIUMI untuk saling melengkapi ulama yang terhimpun di MUI. Ke depan MIUMI diharapkan sebagai pelanjut untuk meneruskan perjuangan ulama di masa yang akan datang.

Anggota MUI lainnya, seperti Nasir Zubaidi merasa gembira dengan kehadiran MIUMI. Sekjen  PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu mengibaratkan MIUMI dan MUI itu seperti sparing partner dalam dunia bertinju.

Anwar Abbas juga menyatakan kegembiraannya dengan munculnya lembaga baru seperti MIUMI. Ia bahkan mengaku kagum dengan kader ulama muda di MIUMI yang memiliki keahlian dalam menulis. “Sejujurnya, di MUI lemah dalam hal menulis. Kami berharap, kader-kader penulis muda perlu ditingkatkan,” ujar Anwar yang juga kader Muhammadiyah.

Hendaknya, lanjut Anwar Abas, MUI perlu membuat database bidang kelimuan, sehingga kita mengetahui siapa yang ahli tafsir, hadits, hukum dan sebagainya. Suatu ketika, kita adakan konsorsium keilmuan yang tujuannya untuk melindungi umat dari arus liberalisme, syiah dan aliran sesat lainnya.

MUI Cemas Terjadi Bentruran

Sementara itu, H. Amidhan terlihat cemas dengan keberadaan MIUMI. Ia khawatir, ada yang membenturkan MIUMI dengan MUI. Bukan tidak mungkin, jika terjadi perbedaan pendapat, akan terjadi benturan-benturan. Tuty Alawiyah menambahkan, kehadiran MIUMI hendaknya dapat saling memperkuat, bukan sebaliknya.

Anggota MUI lain, KH. Muhyiddin Junaidi juga terkesan cemas, jika MIUMI sampai mengeluarkan fatwa. Tapi ia yakin, Fatwa MUI lebih didengar ketimbang fatwa MIUMI. “Terlebih MIUMI kan lembaga baru, belum dikenal banyak orang,” katanya.

Ketua Umum MIUMI Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi menegaskan, tentu saja benturan yang dikhawatirkan itu harus dihindari. Yang pasti, sebelum MUI mengeluarkan fatwanya, MIUMI akan memberi masukan-masukan kepada MUI, sehingga diharapkan fatwa yang dihasilkan MUI betul-betul ditegakkan dan tersosialisasi.  Desastian Rabu, 28 Mar 2012 JAKARTA (VoA-Islam) –  

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.159 kali, 1 untuk hari ini)