• Sekjen MIUMI, Bahtiar Nasir mengatakan, tujuan berdirinya MIUMI justru untuk mempersatukan umat, bukan menciptakan kelompok baru.
  •  “MIUMI akan mengerjakan hal-hal yang sudah dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).”
  • Selain itu, kehadirannya diharapkan bisa ikut menyelesaikan permasalahan keumatan dan mencari jalan keluar dengan cara ilmiah tanpa meninggalkan basis-basis disiplin ilmu aqidah dan syariat Islam. Dan yang terpenting, menurut Bahtiar, kehadiran organisasi ini akan melakukan revitalisasi terhadap lembaga keulamaan yang sudah ada

Inilah beritanya.

***

MIUMI Akan Bantu Selesaikan Problem Keumatan Berbasis Ilmu

Diposting Rabu, 29-02-2012 | 10:09:26 WIB

Masa depan umat Islam mejadi hal yang perlu dipikirkan bersama. Berwal dari komunitas ke munitas, diskusi ke diskusi hingga akhirnya membentuk kajian ilmiah mengenai problematika umat dan kebangsaan.
Hari Selasa (28/02/2012) malam, bertempat di Hotel Grand Sahid Jakarta dideklarasikan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Majelis ini memilih Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menjadi Ketua dan Bahtiar Nasir, LC menjadi Sekjen.

Dr Hamid Fahmi yang juga merupakan putra pendiri Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo, KH. Imam Zarkasyi, menjelaskan, kehadiran MIUMI berkomitmen untuk membantu menyelesaikan problem keumatan dan kebangsaan yang ada di Indonesia.

“Fokus keberadaan MIUMI adalah menyelesaikan permasalahan keumatan dan kebangsaan berbasis keilmuan. Secara intelektual, MIUMI menyelesaikan setiap masalah tersebut dengan kajian ilmiah dan tidak menomor-duakan syariah dan disiplin ilmu keislaman,” ujarnya kepada pers.

Menurut Hamid, kehadiran organisasi ulama muda ini secara spesifik lebih berfokus pada pencarian solusi ketika terjadi perbedaan pendapat pada umat. Ia menyebut kasus-kasus keumatan seperti; perbedaan Idul Fitri, dan beberapa permasalahan yang melahirkan perbedaan pendapat pada diri umat, maka dibutuhkan sebuah kajian ilmiah yang melibatkan semua golongan dan akhirnya mampu melahirkan keputusan bersama demi kemaslahatan umat.

Sementara itu, Sekjen MIUMI, Bahtiar Nasir mengatakan, tujuan berdirinya MIUMI justru untuk mempersatukan umat, bukan menciptakan kelompok baru.

“MIUMI akan mengerjakan hal-hal yang sudah dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).”

Selain itu, kehadirannya diharapkan bisa ikut menyelesaikan permasalahan keumatan dan mencari jalan keluar dengan cara ilmiah tanpa meninggalkan basis-basis disiplin ilmu aqidah dan syariat Islam. Dan yang terpenting, menurut Bahtiar, kehadiran organisasi ini akan melakukan revitalisasi terhadap lembaga keulamaan yang sudah ada.

Acara deklarasi ini dihadiri banyak tokoh, di antaranya ada intelektual muda, Dr Adian Husaini,  Budayawan Taufiq Ismail, Dr. Din Syamsuddin, Fadhlan Garamatan, Dr Bambang Wijayanto (KPK), Dr Abraham Samad (KPK), Dr Yunahar Ilyas, MA (Muhammadiyah), KH. Cholil Ridwan (MUI), Dr Mahfudz MD (MK), Dr Fuad Bawazier,  Sekjen FUI, M Khatath, Farid Ogbah, Muhamamd Asmin (Wahdah Islamiyah), Fahmi Salim, MA, Asep Sobari, MA.

MUI Sambut Kehadiran MIUMI

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesa (MUI) Pusat, Dr Din Syamsuddin menyambut baik lahirnya organisasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Menurut Din, kehadairan organisasi bukan saingan MUI, sebab kehadirannya justru mengoptimalkan peran ulama dan membantu otoritas keulamaan.

“Tentu dalam hal ini, MUI sangat menyambut baik, “ujarnya, Selasa (28/02/2012) malam saat  deklarasi MIUMI di Hotel Grand Sahid Jakarta.

“Tahniah atas pendeklarasian MIUMI. Tak perlu ada perasaan tertandingi. Kami berterima kasih karena ada generasi muda yang menjadi penerus-penerus MUI,” tambah Din yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Sementara itu, Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) mengingatkan, agar kehadiran lembaga ulama muda ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas ulama.

“Semoga bisa meningkatkan kualitas ulama, terutama dari sisi kredibilitasnya ketika menghadapi fatwa-fatwa pesanan, “ ujarnya.

[muslimdaily.net/hidayatullah]

***

Telah Lahir, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia

Memulai kegiatan awal tahun 2012, sejumlah intelektual dan ulama muda dari berbagai organisasi masa (ormas) Islam membentuk Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di Jakarta, pada 3 Januari 2012 lalu.

Pembentukan wadah ini dilatarabelakangi oleh satu tuntutan dakwah yang sangat mendesak dari problematika umat yang menuntut jawaban konkrit di tingkat bawah.

Khususnya, jawaban dari kalangan intelektual dan ulama muda, yang sekarang ini potensinya sangat besar dan tersebar di dalam dan luar negeri, yang secara individu maupun kolektif sudah memiliki agenda kegiatan serta aktif di berbagai ormas Islam di Indonesia.

Mencermati tantangan besar yang terus berkembang di tengah masyarakat yang kian modern itu, akhirnya beberapa aktivis dakwah, kalangan intelektual serta ulama muda ini, bertekad mengkonsentrasikan diri, menyatukan potensi untuk membangun kekuatan bersama.

Karena istilahnya, “sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi tantangan umat yang begitu kuat, apalagi berjalan sendiri-sendiri,” tandas Ustadz Adian Husaini, Ketua Prodi Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor, Jawa Barat.

Dengan latar belakang keilmuan, keorganisasian, dan aktivitas yang begitu beragam, lanjut Adian, para intelektual dan ulama muda ini bersepakat untuk membangun kekuatan berasama guna menyatukan potensi yang ada.

“Sangat indah, berbagai latar belakang ini bersepakat untuk bersilaturahim dengan mengedepankan ukhuwah Islamiyah, menyatukan wawasan, serta mengkonsentrasikan diri pada masalah-masalah besar umat yang disepakati,” ujarnya seraya menmbahkan bahwa 15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat untuk tidak mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau zhaniyah.

Mereka, para intelektual dan ulama muda yang memprakarsai berdirinya MIUMI ini, selain Adian Husaini yaitu, Muchlis M. Hanafi (Manager Program Pusat Studi Al-Aqur’an), M. Idrus Ramli (Pengurus NU Jember), Muh. Zaitun R (Wahdah Islamiyah-Makassar), Nashruddin Syarief dan Jeje Zaenuddin (PP Pemuda Persis), Fahmi Salim (Komisi Kajian & Penelitian MUI), Ahmad Sarwat (Rumah Fiqih Indonesia), Farid A. Okbah (Yayasan Al Islam), Fadzlan Garamatan (Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara), Henri Shalahuddin (Peneliti & Sekretaris Insists), Asep Sobari (Redaktur Majalah Gontor), M. Khudori (Alumnus Univ. Islam Madinah) serta Hamid Fahmy Zarkasyi (Direktur Insists) yang secara aklamasi ditunjuk sebagai Ketua Majelis Pimpinan MIUMI, dan Bachtiar Nasir sebagai Sekjend MIUMI.

Ingin Memberi Harapan Baru

Para pendiri MIUMI ini meyakini wadah yang baru dibentuknya ini dapat memberikan harapan yang besar pada dunia dakwah Islam di Indonesia. Karena mereka sepakat kita tidak ingin menyaingi lembaga Islam atau ormas Islam yang sudah ada. Sebaliknya, justru MIUMI ini didirikan dengan semangat untuk memperkuat dan mendorong peran-peran dakwah yang telah ada, dengan penekanan basis ilmu dan riset yang kuat dalam upaya mengefektifkan peran amar makruf nahy munkar guna mewujudkan kebangkitan Islam di tanah air.

“Kita sepakat untuk memberikan yang terbaik untuk membantu ormas-ormas atau lembaga-lembaga yang sudah ada. Jadi keberdaan kami ini tidak untuk mempertajam perbedaan yang ada, tetapi kita ingin memberikan kontribusi yang yang nyata yang dibutuhklan oleh umat,” ungkap Bachtiar Nasir, yang ditunjuk sebagai Sekjend MIUMI karena dikenal sebagai ustadz non-partisan partai atau ormas Islam tertentu.

Kebangkitan Islam harus dimulai dari kebangkitan ulama yang berorientasi hanya kepada Allah dan bukan kepada materi. “Sebab dalam sejarahnya, kemunculan tokoh-tokoh besar seperti Shalahuddin Al-Ayyubi dalam pentas sejarah yang mengembalikan izzah umat Islam, tak lepas dari peran dan pengaruh program dan peta jalan kebangkitan yang dirumuskan oleh para Ulama besar seperti Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan ‘Abdul Qadir Al-Jilani.

Oleh sebab itu, untuk kebangkitan umat mutlak diperlukan kembalinya wibawa dan otoritas ulama di mata public dan mengefektifkan peran amar makruf nahy munkar yang berbasis ilmu dan riset yang kuat”, sehingga menjadi panduan para pengambil kebijakan dan umat di tanah air. Demikian papar Fahmi Salim, yang aktif di kepengurusan MUI Pusat Komisi Kajian dan Penelitian.

Ia juga menilai problem kebingungan umat di arus bawah saat ini terjadi disebabkan ambiguitas pernyataan para pemimpin umat dalam menyikapi isu-isu umat yang berkembang, seperti kasus Syiah yang muncul belakangan ini.

Ustadz M. Idrus Ramli dari NU Jember, menilai terbentuknya wadah ini sangat penting, untuk mengakomodasi kalangan intelektual dan ulama muda, yang memang sangat potensial dalam menggerakkan dakwah Islam di Tanah Air. “Karena di tangan kalangan mudalah dakwah Islam ini akan lebih efektif dan efisien di kemudian hari dalam menjawab tantangan zaman,” tegasnya.

Menurutnya, pada masa sekarang peran kaum inteletual dan ulama muda sangat dibutuhkan ketika para ulama senior yang sudah sepuh, banyak disibukkan dengan aktivitas keumatan yang besifat lokal dan nasional.

Ia melihat, akhir-akhir ini banyak ruangan kosong di tengah umat yang membutuhkan sentuhan para da’i, khususnya oleh kalangan intelektual dan ulama muda. “Seperti umat di kalangan mahasiswa, sekolah-sekolah menengah dan masyarakat pada umumnya,” ungkap M. Idrus.

Dalam diskusi diawal pertemuan pembentukan MIUMI ini, Ustadz M. Khudori dari Jakarta, menyatakan ormas dan lembaga Islam di Indonesia sangat banyak, tetapi tidak berwibawa. Setiap lembaga mengeluarkan fatwa, tapi persoalannya pada rendahnya tingkat penerimaan atau respon masyarakat terhadap fatwa tersebut.

“Respons kita selama ini terhadap persoalan-persoalan umat tidak orisinal, karena fatwa tersebut tidak didasari oleh basis penelitian yang kuat. Sehingga solusi yang kita sodorkan bersifat permukaan,” tandasnya.

Sehingga ia mengharapakan keberadaan MIUMI ini, dapat berfungsi sebagai penyalur bahan-bahan observasi berdasarkan penelitian kepada institusi-institusi yang sudah ada, yang lebih berkompoten mengeluarkan fatwa. “Produk-produk maupun kebijakan majelis ini harus menyentuh segmentasi yang jelas, yakni pada aplikasi umat di lapangan” tambahnya.

Berkaitan dengan sosialisasi fatwa, ustadz M. Idrus menegaskan sudah begitu banyak keputusan fatwa yang dikeluarkan oleh ormas Islam dan MUI, namun sosialisasinya masih terasa kurang efektif.

“Insya Allah melalui forum ini, fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan berbagai ormas, akan dapat diakses oleh kalangan yang lebih luas dan isosialisasikan lebih merata di berbagai lapisan kalangan masyarakat,” tutur ustadz yang tengah meneliti kasus Syiah di Sampang, Madura, baru-baru ini.

Sehingga, menurut M . Idrus, fungsi majelis MIUMI ini lebih pada aksi, yang harus menjadi solusi bagi persoalan yang selama ini dihadapi umat Islam.

“Dan tidak akan menajdi problem bagi ormas-ormas Islam yang sudah ada. Karena memang forum ini telah menjadi wadah bagi seluruh ormas Islam yang ada, khususnya bagi kaum intelektual dan ulama muda. Sama halnya dengan MUI yang menjadi wadah berbagai ormas Islam yang ada dari kalangan ulama senior,” tambahnya.

Ustadz kelahiran Papua, Fadzlan Gamaratan menegaskan bahwa wadah ulama muda ini harus sungguh-sungguh dan hanya berorientasi pada Allah untuk kemanangan Islam dan kejayaan umat Islam. “Bukan mementingkan kepentingan kelompoknya masing-masing,” ungkapnya. (Agus Soelarto)

ERAMUSLIM > INFO UMAT

http://www.eramuslim.com/berita/info-umat/telah-lahir-majelis-intelektual-dan-ulama-muda-indonesia.htm
Publikasi: Senin, 09/01/2012 09:24 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 807 kali, 1 untuk hari ini)