(Tulisan ini dilengkapi dengan apa yang disebut ruwatan dan bahayanya bagi umat Islam)

Dahlan Iskan sebar kemusyrikan dengan mengadakan upacara ruwatan untuk mobilnya dan diduga mencuri hak cipta mobil listrik itu

Tidak selamatnya mobil yang habis diruwat kemudian justru mengalami kecelakaan adalah salah satu bukti batilnya kemusyrikan ruwatan yang  langsung diujudkan oleh Allah Ta’ala. Karena yang mampu menolak bala’ itu hanya Allah. Bukan Betoro Kolo yang diberi sesajen dengan upacara kemusyrikan ruwatan.

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [الأنعام : 17]

17. Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS Al-An’am: 17).

Namun belum tentu kejadian ini menjadi pelajaran bagi yang bebal hatinya

  • Mobil Dahlan Diruwat Dalang Setan
  • Danet Suryatama, pencipta mobil listrik Tucuxi, tidak tahu-menahu tentang agenda ruwat “ferari listrik” milik Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan di Solo. Danet merasa kecewa dengan Dahlan dan timnya karena merasa dicurangi terkait dengan pembongkaran mesin dan komponen lain tanpa sepengetahuannya.
  • Danet berencana melaporkan dugaan pencurian hak intelektual karena pembongkaran mesin “ferari listrik”. “Saya akan laporkan pencurian hak cipta atau teknologi ini.
  • Ruwatan dan aneka kemusyrikan (perbuatan dosa terbesar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam dan kekal di neraka bila sampai matinya tidak bertaubat) sampai kini dimuncul-munculkan oleh para perusak aqidah. Kadang bahkan diprakarsai oleh penguasa setempat. Lebih buruknya lagi, bahkan kadang pakai dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), yang pada dasarnya didapat dari masyarakat (Muslim).
  • Kesesatan dan penyesatan itu diberi nama macam-macam, dan atas nama tradisi. Sehingga masyarakat sangat tertipu dengannya namun tidak terasa.
  • Bila para ulama dan juru da’wah diam saja, maka terkena dosanya, dan akan dimintai tanggung jawabnya di akherat kelak. Lebih-lebih penguasa yang menyelenggarakan dan menghidup-hidupkan kemusyrikan yang sebenarnya sudah terkubur itu.
  • Berikut ini dua berita tentang acara kemusyrikan ruwatan mobil Dahlan Iskan kemudian kecelakaan, dan Dahlan diduga mencuri hak cipta mobil listrik itu. Kemudian di di bagian bawah ada sorotan tentang acara kemusyrikan ruwatan itu disertai penjelasan dan dalilnya, betapa bahayanya acara-acara kemusyrikan itu bagi manusia. Karena akan mengakibatkan haram masuk surga dan kekal di neraka.

***

 Mobil Tuxuci_832573432423

Kondisi Mobil Tuxuci Milik Dahlan Iskan Setelah Kecelakaan/modifikasi.com

 Mobil Tuxuci_832573432422

Foto antara/ lptn6

Mobil dahlan Iskan diruwat: Dahlan Iskan menyiram mobilnya dengan air kembang dalam prosesi apa yang disebut ruwatan (buang sial, keyakinan batil di luar Islam) yang dilakukan dalang setan Ki Manteb (kiri baju hitam) di Solo Jawa Tengah, Sabtu 05 Januari 2013.

Usai dimandikan dengan air kembang (diruwat) di Solo, mobil listrik Tucuxi merah milik Dahlan Iskan siap menjalani test ride 1.000 kilometer. Tes ini akan dimulai dari Kota Solo menuju Magetan dan berakhir di Kota Surabaya. / Liputan6.com, Jakarta : 05/01/2013 16:27

Dalam perjalanan ke Magetan, baru sampai jalanan menurun setelah Tawang Mangu, ternyata mobil yang telah diupacarai ruwatan dengan minta perlindungan kepada selain Allah Ta’ala, yakni Betoro Kolo dan sebangsanya ini ternyata kecelakaan, menabrak tebing dan tiang listrik hingga rusak.

Mobil Tuxuci_832573432424

Dahlan kecelakaan. ©2013 Merdeka.com/Idris Sabtu, 5 Januari 2013 16:56:52

Berikut ini  berita pelaksanaan upacara kemusyrikan yang disebut ruwatan atau murwat kolo, maksudnya membuang sial (tidak minta kepada Allah namun kepada Betoro Kolo agar tidak memangsanya atau agar sialnya hilang). Kemudian diberitakan tentang kasus kecelakaannya setelah diupacarai kemusyrikan dengan dimandikan pakai kembang itu. Mobil kok ya dimandiin kembang, ya. Namanya juga kepercayaan kemusyrikan, yang langsung dibuktikan oleh Allah Ta’ala batilnya keyakinan yang dapat menghancurkan iman itu. Di dunia saja sudah tidak selamat, apalagi di akherat kelak, bila sebelum sakaratul maut tidak bertaubat.

Inilah berita ruwatan dan kecelakaannya.

***

Setelah diruwat, mobil Dahlan kecelakaan

Sindonewws.com – Setelah melalui ritual “tolak bala” mobil listrik Tucuxi milik Menteri BUMN Dahlan Iskan malah kecelakaan karena mengalami rem blong sehingga menabrak tebing di Magetan.

Rencana menjalani tes ride sejauh 10.000 kilometer yang dimulai dari Solo yang rencananya akan berakhir di Kota Surabaya pupus setelah mengalami rem blong dan menabrak tebing di Magetan.

sebelum dilakukan ritual ‘tolak bala” Ki Manteb terlebih dahulu menjalani prosesi mendalang di depan mobil Tucuxi dengan memerankan dua wayang. Selanjutnya mobil yang berdesain futuristik berwarna merah mirip dengan mobil sport Ferrari karya Danet Suryatama dimandikan dengan air kembang. Airnya sendiri diambil dari sumber mata air, dari empat penjuru mata angin di Solo.

Dahlan berharap dengan ritual tolak bala ini, selama perjalanan test ride tidak ada halangan dan berjalan lancar. Selamatan yang dikenal dengan istilah ‘murwat kolo’ itu ditujukan agar mobil tucuxi terhindar dari segala musibah/ kendala dan fitnah.

Selesai menjalani prosesi ritual tolak bala, mobil listrik Tucuxi yang dikendarai oleh Dahlan Iskan kemudikan menuju Surabaya dengan melewati rute Tawangmangu, Sarangan, dan Magetan.

Namun ketika sampai di Plaosan Magetan, mobil yang dikemudian Dahlan ini mengalami rem blong dan mengakibatkan mobil menabrak tebing dan tiang listrik. KOndisi Dahlan baik-baik saja dan melanjutkan perjalanan dengan mobil lainnya.

(ysw) Septyantoro Aji Nugroho – Sindo TV

Sabtu,  5 Januari 2013  −  17:10 WIB

***

SABTU, 05 JANUARI 2013 | 12:17 WIB

Pencipta Mobil Dahlan Tak Tahu Tucuxi Diruwat

  • Danet berencana melaporkan dugaan pencurian hak intelektual karena pembongkaran mesin “ferari listrik”.

TEMPO.CO, Yogyakarta – Danet Suryatama, pencipta mobil listrik Tucuxi, tidak tahu-menahu tentang agenda ruwat “ferari listrik” milik Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskandi Solo. “Tidak masalah mobil itu mau dibawa ke mana pun. Lebih baik saya no comment kalau soal ruwatan,” kata dia saat dihubungi Tempo di Yogyakarta, Sabtu, 5 Januari 2013.

Seperti diketahui, mobil Tuxuci Dahlan Iskanakan diruwat oleh Dalang Ki Manteb Sudarsono di Solo, hari ini. Ruwatan itu dilakukan sebelum Tuxuci menjalani uji coba sejauh 1.000 kilometer. Rencananya Dahlan sendiri yang akan mengendarai mobil itu dari Solo ke Surabaya.

Danet mengatakan ia putus komunikasi denganDahlan Iskan sejak 21 Desember 2012. Saat itu Danet berada di Jakarta untuk melihat proses pengisian energi mobil listrik. “Sampai sekarang tidak ada komunikasi. Saya sempat e-mail PakDahlan untuk menyampaikan keberatan karena mobil itu dibongkar, diutak-atik, dan dijiplak teknologinya,” kata dia.

Ia kembali menegaskan merasa kecewa dengan Dahlan dan timnya karena merasa dicurangi terkait dengan pembongkaran mesin dan komponen lain tanpa sepengetahuannya. Danet menduga penjiplakan teknologi dilakukan untuk mengejar keuntungan lebih. “Teknologi mobil ditiru kemudian diproduksi sendiri. Kalau alasannya untuk perbaikan kenapa tidak tanya saya? Kenapa harus mengundang orang luar dari UGM,” kata dia.

Danet berencana melaporkan dugaan pencurian hak intelektual karena pembongkaran mesin “ferari listrik”. “Saya akan laporkan pencurian hak cipta atau teknologi ini ke pemerintahan Amerika Serikat. Saat ini saya dan tim sedang mempelajari mekanismenya,” katanya. Danet mengatakan telah mengantongi hak paten mobil Tucuxi.

SHINTA MAHARANI

***

Berikut ini penjelasan tentang ruwatan dan bahayanya bagi aqidah Islamiyah (keyakinan Islam):

Ruwatan, Kemusyrikan yang Dihidupkan Kembali Oleh Kiyai Liberal

Para ulama, muballigh dan tokoh Islam sudah berupaya meredam kemusyrikan, dosa terbesar berupa menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Di antara kemusyrikan yang sudah diredam adalah ruwatan, yaitu upacara kemusyrikan, percaya kepada Betoro Kolo, hingga meyakini dengan diadakan ruwatan maka terhindar dari dimangsa Betoro Kolo dan terbuanglah sialnya. Padahal sial ataupun beruntung itu datangnya hanya dari Allah Ta’ala, maka mestinya meminta hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya, dan bukan dengan cara-cara yang tidak diajarkan Allah Ta’ala.

Terus terang ketika di tahun 2000 ada berita bahwa Presiden Abdurrahman Wahid akan diruwat, saya langsung teringat zaman PKI (Partai Komunis Indonesia) sebelum peristiwa pemberontakan G30S/PKI 1965. Karena setahu saya adanya ruwatan itu hanya di daerah-daerah PKI atau kalangan orang abangan (Islam tak shalat) di Jawa. Sedang desa-desa yang masyarakatnya Islam tidak pernah melaksanakan ruwatan.

Meskipun tidak otomatis ruwatan itu identik dengan PKI, namun timbul pertanyaan, apakah Gus Dur mewarisi ajaran ruwatan itu dari gurunya, Ibu Rubiyah yang memang Gerwani/PKI perempuan? Wallahu a’lam. (Tentang guru Gus Dur di antaranya orang Gerwani itu lihat buku Bahaya Pemikirian Gus Dur II, Menyakiti Hati Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2000).

Ruwatan itu sendiri tidak terdengar di masyarakat sejak dilarangnya PKI tahun 1965. Namun mulai terdengar lagi sejak 1990-an, setelah dukun-dukun berani muncul terang-terangan bahkan praktek di mall-mall atau pusat-pusat perbelanjaan dan membuat paguyuban yang mereka sebut PPI (Paguyuban Paranormal Indonesia).

Konon anggota paguyuban “wali syetan” (istilah hadits Nabi Muhammad SAW untuk dukun) itu 60.000 dukun. Meskipun demikian, istilah ruwatan tidak begitu terdengar luas, dan baru sangat terdengar ketika ada khabar bahwa Gus Dur, Presiden Indonesia ke-4 yang bekas ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, satu organisasi yang berdiri sejak zaman Belanda 1926) akan diruwat, dan kemudian dia benar-benar hadir dalam acara ruwatan di UGM (Universitas Gajah Mada) Yogya, 18/8/2000.

Apa itu ruwatan?

Ruwatan adalah satu upacara kepercayaan yang diyakini sebagai ritual membuang sial yang disebutsukerto alias penderitaan. Istilah ruwatan, artinya membebaskan ancaman dari marabahaya yang datangnya dari Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak raja para dewa yakni Batoro Guru. Batoro Kolo, menurut kepercayaan kemusyrikan ini, adalah raksasa buruk jelmaan dari mani (sperma) Batoro Guru yang berceceran di laut, ketika gagal bersenggama dengan permaisurinya, Batari Uma, ketika bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan, karena Batari Uma belum siap. Karena Batoro Gurugagal mengendalikan diri “dengan sang waktu” (kolo) maka mani yang tercecer di laut dan menjadiraksasa buruk itu disebut Batoro Kolo, pemakan manusia. Lalu Batoro Guru berjanji akan memberi makan enak yaitu manusia yang dilahirkan dalam kondisi tertentu. Seperti kelahiran tanggal sekian yangmenurut perhitungan klenik (tathoyyur) akan mengalami sukerto alias penderitaan. Juga yang lahir dalamkeadaan ontang-anting (tunggal), kembang sepasang (dua anak lelaki semua atau perempuan semua),sendang apit pancuran (pria, wanita, pria), pendowo limo (5 anak pria semua). Dll. (Lihat AMSaefuddin, Ruwatan dalam Perspektif Islam, Harian Terbit, Jum’at 11 Agustus 2000, hal 6).

Itulah orang-orang yang harus diruwat menurut kepercayaan dari cerita wayang. Padahal, cerita wayang itu semodel juga dengan cerita tentang Pendeta Durno yang menyetubuhi kuda lantas lahirlah Aswotomo. Konon Durno diartikan mundur-mundur keno/ kena, jadi dia naik kuda betina lantas mundur-mundur maka kenalah ke kemaluan kuda, akhirnya kuda itu melahirkan anak manusia. Hanya saja anak yang lahir dari kuda ini diceritakan tidak jadi raksasa dan tidak memakan manusia. Jadi, nilai cerita ruwatan itu sebenarnya juga hanya seperti nilai cerita yang dari segi mutunya saja sangat tidak bermutu, seperti anak lahir dari rahim kuda itu tadi. Upacara ruwatan itu bermacam-macam. Ada yang dengan mengubur seluruh tubuh orang/ anak yang diruwat kecuali kepalanya, ada yang disembunyikan di tempat tertentu dsb.

Adapun Ruwatan yang dilakukan di depan Gedung Balairung Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jum’at malam 18/8 2000 itu dihadiri Presiden Abdurrahman Wahid didampingi isterinya Ny Nuriyah dan putri sulungnya Alissa Qatrunnada Munawaroh. Selain itu tampakhadir pula Kapolri Jenderal Rusdihardjo (belakangan, 3 bulan kemudian Rusdihardjo dipecat dari jabatannya sebagai Kapolri oleh Gus Dur, konon karena ada berita bocor yang menyebutkan hasil penyidikan kasus Bruneigate yang diduga menyangkut Presiden Gus Dur), Rektor UGM Ichlasul Amal, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sri Edi Swasono, dan Frans Seda.

Ruwatan itu dilaksanakan terhadap 11 orang akademisi disebut ruwatan bangsa, penyelenggaraannya diketuai Mayjen (purnawirawan) Hariyadi Darmawan. Mereka yang diruwat itu adalah Prof. Sayogya, Prof Kunto Wibisono, Dr Hariadi Darmawan, Tjuk Sukiadi, Prof Sri Edi Swasono, Ny Mubyarto,Bambang Ismawan, Nanik Zaenudin, Ken Sularto, Amir Sidharta, dan Wirawanto.

Sebelas orang yang diruwat itu bersarung putih. Kumis dan jenggotnya dicukur bersih, kemudian tubuhnya disiram dengan air kembang. (lihat Rakyat Merdeka, 19/8 2000).

Sementara itu di luar Gedung UGM telah berlangsung demonstrasi mahasiswa yang menentang ruwatan tersebut.

Itulah acara ruwatan untuk menghindari Batoro Kolo dengan upacara seperti itu dan wayangan. Biasanya wayangan itu untuk memuji-muji Batoro Kolo, agar terhanyut dengan pujian itu, dan lupamemangsa. Di UGM itu wayangan dengan lakon Murwokolo dan Sesaji Rojo Suryo oleh dalang Ki Timbul Hadiprayitno.

Kemusyrikan

Ruwatan itu ada yang menyebutnya adat, ada pula yang menilainya sebagai kepercayaan. Islam memandang, adat itu ada dua macam, adat yang mubah (boleh) dan adat yang haram. Sedang mengenaikepercayaan, itu sudah langsung haram apabila bukan termasuk dalam Islam.

Adat yang boleh contohnya blangkon (tutup kepala) untuk orang Jawa. Itu tidak dilarang dalam Islam.Tetapi kemben, pakaian wanita yang hanya sampai dada bawah leher, itu haram, karena tidak menutupaurat. Tetapi kalau dilengkapi dengan kerudung, menutup seluruh tubuh dan juga menutup rambut kepala, maka tidak haram lagi, jadi boleh. Hanya saja namanya bukan kemben lagi tapi busana Muslimah atau jilbab, kalau jelas-jelas sudah menutup aurat secara Islam.

Adat yang boleh, seperti blangkon tersebut pun, kalau disamping sebagai adat masih pula diyakinibahwa akan terkena bahaya apabila tidak memakai blangkon (yang kaitannya dengan kekuatan ghaib)maka sudah menyangkut keyakinan/ kepercayaan, hingga hukumnya dilarang atau haram, karena tidak sesuai dengan Islam. Keyakinan yang dibolehkan hanyalah yang diajarkan oleh Islam.

Demikian pula ruwatan, sekalipun ada yang mengatakan bahwa itu merupakan adat, namun karena menyangkut hal ghaib, berkaitan dengan nasib sial, bahaya dan sebagainya; maka jelas merupakan keyakinan batil, karena Islam tidak mengajarkan seperti itu.

Sedang keyakinan adanya bala’ akibat kondisi dilahirkannya seseorang itupun sudah merupakan pelanggaran dalam hal keyakinan, yang dalam Islam terhitung syirik, menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang orangnya disebut musyrik, pelaku durhaka terbesar dosanya. Tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya keyakinan itu, namun justru ada ketegasan bahwa meyakini nasib sial dengan alamat-alamat seperti itu adalah termasuk tathoyyur, yang hukumnya syirik, menyekutukan Allah SWT; dosa terbesar.

Tathoyyur atau Thiyaroh adalah merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.

Abu Dawud meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud ra:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْك،ٌ وَمَا مِنَّا إِلاَّ ، وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“At-thiyarotu syirkun, at-thiyarotu syirkun wamaa minnaa illa, walaakinnallooha yudzhibuhu bittawakkuli.”

Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, dan tiada seorangpun dari antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (Hadits Riwayat Abu Daud). Hadits ini diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dengan dinyatakan shahih, dan kalimat terakhir tersebut dijadikannya sebagai ucapan dari Ibnu Mas’ud. (Lihat Kitab Tauhid oleh Syaikh Muhammad At-Tamimi, terjemahan Muhammad Yusuf Harun, cetakan I, 1416H/ 1995, halaman 150).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ « أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ».

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Amr bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya: ”Lalu apakah sebagai tebusannya?” Beliau menjawab:”Supaya mengucapkan:

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

Allahumma laa khoiro illaa khoiruka walaa thoiro illaa thoiruka walaa ilaaha ghoiruka.

Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiada kesialan kecuali kesialan dari Engkau, dan tiada sembahan yang haq selain Engkau.” (H R Ahmad). (Syaikh Muhammad At-Tamimi, Kitab Tauhid, hal 151). Sedangkan meminta perlindungan kepada Batoro Kolo agar tidak dimangsa dengan upacara ruwatan dan wayangan itu termasuk kemusyrikan yang dilarang dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)

”Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu,jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” (Yunus/ 10:106).

{ إنك إذاً من الظالمين } : أي إنك إذا دعوتها من المشركين الظالمين لأنفسهم .

“…maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” Artinya sesungguhnya kamu apabila mendoa kepada selain-Nya adalah termasuk orang-orang musyrik yang mendhalimi kepada diri-diri mereka sendiri. [1]

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(107)

”Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; sedang jika Allah menghendaki untukmu sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia- Nya…”( Yunus: 107).

Kesimpulan:

1. Ruwatan Mendatangkan Dosa Terbesar.

2. Ruwatan itu kepercayaan non Islam berlandaskan cerita wayang. Ruwatan artinya upacara membebaskan ancaman Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak Batoro Guru/ raja para dewa. Batoro Kolo adalah raksasa buruk jelmaan dari sperma Batoro Guru yang berceceran dilaut, setelah gagal bersenggama

dengan permaisurinya, Batari Uma, ketika bercumbu di langitsambil menikmati terang bulan.

Itulah kepercayaan musyrik/ menyekutukan Allah SWT yang berlandaskan cerita wayangpenuh takhayyul, khurofat, dan tathoyyur (menganggap sesuatu sebagai alamat sial dsb). Upacara ruwatan itu bermacam-macam:

ada yang dengan mengubur sekujur tubuh selain kepala,

atau menyembunyikan anak/ orang yang diruwat,

ada yang dimandikan dengan air kembang dan sebagainya.

Biasanya ruwatan itu disertai sesaji dan wayangan untuk menghindarkan agar Betoro Kolo tidak memangsa.

3. Ruwatan itu dari segi keyakinannya termasuk tathoyyur, satu jenis kemusyrikan yang sangat dilarang Islam, dosa terbesar. Sedang dari segi upacaranya termasuk menyembah/ memohon perlindungan kepada selain Allah, yaitu ke Betoro Kolo, satu jenis upacara kemusyrikan, dosa terbesar pula. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Thiyaroh (tathoyyur) adalah syirik/ menyekutukan Allah, thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik , (diucapkan) tiga kali. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah dari hadits Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah saw).

4. Merasa sial karena sesuatu atau alamat-alamat yang dianggap mendatangkan sial, termasuk perbuatan kemusyrikan. Kata Nabi SAW:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ قَالُوا : وَمَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ ؟ قَالَ : أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إلَّا خَيْرُك وَلَا طَيْرَ إلَّا طَيْرُك , وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ (رواه ِأَحْمَدَ عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ. قال الشيخ الألباني : ( صحيح ) انظر حديث رقم : 6264 في صحيح الجامع)

“Barangsiapa yang tidak jadi melakukan keperluannya karena merasa sial, maka ia telah syirik.Maka para sahabat RA bertanya, Lalu bagaimana kafarat dari hal tersebut wahai Rasulullah? Maka jawab Nabi SAW, Katakanlah : Allahumma laa khaira illaa khairaka walaa thiyara illa thiyaraka walaa ilaha ghairaka.” Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tidak ada kesialan kecuali kesialan (dari)Mu, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Mu. (HR.Ahmad dari Abdullah bin Umar dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)

“Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak dapat pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik)”. (QS Yunus/ 10:106).

5. Sudah jelas, Al-Qur’an dan Al-Hadits sangat melarang kemusyrikan. Dan bahkan mengancam dengan adzab, baik di dunia maupun di akherat. namun kini kemusyrikan itu justru dinasionalkan. Maka perlu dibisikkan ke telinga-telinga mereka, bahwa sebenarnya lakon mereka tu menghadang/ menantang datangnya adzab dan murka Allah SWT, di dunia maupun di akherat.

Masyarakat pun sebenarnya sudah dijelaskan bahwa ruwatan itu adalah kemusyrikan, di antaranya ada media yang memuat wawancara sebagai berikut:

Ustadz H. Hartono Ahmad Jaiz: RUWATAN ITU MUSYRIK

Fiqih Quran & Hadist Oleh : Redaksi 14 Aug, 06 – 5:39 pm

Bencana dan musibah yang bertubi-tubi datang merupakan adzab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada bangsa Indonesia. Mengapa ini terjadi? Karena bangsa yang mayoritas muslim ini masih mempraktekkan kemusyrikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bentuk kemusyrikan itu di antaranya adalah ruwatan, sedekah bumi, dan larung laut.

Semua ini merupakan bentuk kemusyrikan.

Berikut petikan wawancara Tabloid Jum’at dengan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, seorang pengamat pemikiran Islam dan aliran sesat serta penulis buku produktif.:

Bagaimana pendapat Ustadz soal bencana dan musibah yang bertubi-tubi menimpa bangsa ini?

Pertama-tama yang harus diketahui, Allah Subhanahu wa Ta’ala itu tidak dzalim. Dan Dia tidak suka kepada kedzaliman. Kedzaliman yang paling tidak disukai dan tertinggi adalah kemusyrikan.

Ketika kita sudah tahu seperti itu, yang paling tidak disukai Allah adalah kemusyrikan, tetapi di balik itu Allah tidak dzali; ketika musibah bertubi-tubi menghampiri tanah air Indonesia berarti manusia ini yang dzalim. Kedzaliman yang paling puncak dan paling tidak disukai oleh Allah adalah kemusyrikan.

Nah, mari kita lihat apakah sebenarnya kemusyrikan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia itu. Sangat banyak. Kemusyrikan itu tidak mesti dilakukan oleh orang-orang kafir saja, tetapi juga dilakukan oleh orang Islam sendiri. Mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi juga meminta pertolongan kepada selain Allah. Ini bentuk kemusyrikannya.

Padahal kalau mereka tahu, kemusyrikan yang mereka lakukan itu sebenarnya bentuk kedzaliman yang paling tinggi dan besar serta sangat tidak disukai oleh Allah.

Kemusyrikan yang dilakukan manusia Indonesia dapat dilihat dengan gencarnya otonomi daerah, pemerintah daerah melalui dinas pariwisata menghidupkan kembali bentuk kemusyrikan yang sebenarnya oleh para ulama sudah diredam.

Seperti apa bentuk kemusyrikan itu?

Misalnya, kemusyrikan yang sudah diredam itu adalah ruwatan. Sebelum tahun 1990- an, kegiatan ruwatan jarang sekali terdengar dan sudah terkubur. Tetapi sejak tahun 2000, terutama pada saat pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, acara ruwatan muncul kembali. Konon menurut informasi yang beredar, Gus Dur pun diruwat oleh seorang paranormal bernama Romo. Bahkan di universitas ternama, seperti Universitas Gajah Mada pun melakukan ritual ruwat yang diberi nama Ruwatan Bangsa.

Hadir dalam acara ritual tersebut Presiden Gus Dur, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rektor UGM Ichlasul Amal dengan tontonan wayang kulit berlakon Murwokolo dan Sesaji Rojo Suryo oleh Dalang Ki Timbul Hadiprayitno di Balairung UGM, Jum’at malam 18 Agustus 2000.

Di situ berarti, kemusyrikan yang sudah terpendam itu dihidupkan kembali.

Ruwatan itu sebenarnya salah satu bentuk kemusyrikan. Sebab dalam ruwatan tersebut terdapat bentuk perdukunan, klenik, takhayyul, bid’ah, khurafat dan keyakinan- keyakinan sesat lainnya.

Sejak itu dilakukan, maka ruwatan kembali semarak dan dihidup-hidupkan secara nasional. Bahkan saat ini acara semacam itu didukung oleh berbagai instansi pemerintah. Kalau mau tahu lebih banyak bukalah situs-situs di internet. Di sana terlihat beberapa instansi pemerintah mengadakan berbagai ruwatan.

Dengan adanya otonomi daerah maka bermunculan berbagai bentuk kemusyrikan yang dikemas dengan unsur pariwiasata dan budaya.

Selain ruwatan, bentuk kemusyrikan lainnya adalah upacara larung laut. Kegiatan seperti itu sama seperti ruwatan, penuh dengan kemusyrikan. Bahkan pada bulan Juli

2004 lalu di Bantul (selatan Jogjakarta) acara larung laut juga dilakukan oleh para anggota DPRD Bantul hasil pemilu 2004. Sebagai bentuk syukur mereka mengadakan upacara larung laut yang diberi nama dengan Larung Buto ke Laut Kidul. Upacara yang penuh dengan kemusyrikan itu juga diikuti oleh beberapa partai Islam. Mereka menganggap bahwa kesialan harus dibuang ke laut dan meminta berkah kepada Nyai Roro Kidul.

Apa yang dilakukan oleh para anggota dewan itu jelas bentuk kemusyrikan. Bila hal seperti ini terus dilakukan dan dihidupkan kembali, maka tidak mustahil Allah murka dengan berbagai bencana dan musibah atas bangsa ini.

Bentuk kemusyrikan lainnya adalah upacara sedekah bumi yang marak dilakukan di berbagai pelosok desa. Dalam upacara itu juga digelar [b]sesaji untuk arwah leluhur. Ini jelas-jelas bentuk kemusyrikan.

Di samping itu juga marak praktek-prektek perdukunan. Masyarakat negeri ini memang mayoritas Muslim, tapi ada sebagian dari mereka yang senang mengikuti perintah yang diberikan oleh dukun-dukun. Padahal mereka itu muslim, tetapi meminta sesuatu itu melalui dukun bukan langsung kepada Allah. Perdukunan itu juga termasuk bentuk kemusyrikan.

Jadi bencana dan musibah ini adzab Allah?

Ya. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan azab kepada kaum yang tidak mengikuti ajaran yang dibawa para Nabi dan Rasul Allah.

Ada yang diazab dengan hujan batu, banjir, gempa dan aneka macam azab lainnya.

Bahkan Bani Israel pun dirubah menjadi monyet dan babi karena mereka melanggar perintah Allah yang disampaikan oleh Nabi Musa Alaihis Salam.

Jadi, musibah dan bencana akhir-akhir ini terjadi merupakan azab dari Allah kepada bangsa ini. Sebab saya melihat banyak masyarakat, terutama umat Islam percaya kepada dukun-dukun, klenik dan jimat-jimat. Bahkan ramai-ramai membesar-besarkan acara ruwatan yang jelas-jelas sangat penuh dengan kemusyrikan.

Ruwatan itu kan sebenarnya upacara adat. Bagaimana tanggapan Ustadz?

Ruwatan itu sebenarnya kepercayaan non-Islam yang berlandaskan cerita wayang.

Ruwatan artinya upacara membebaskan ancaman Batoro Kolo—raksasa pemakan manusia, anak Batoro Guru atau raja para dewa. Batoro Kolo adalah raksasa buruk rupa jelmaan dari sperma Batoro Guru yang berceceran di laut setelah gagal bersenggama dengan permaisurinya, Batari Uma, ketika bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan. Makanan Batoro Kolo adalah manusia yang dilahirkan dalam kondisi tertentu, seperti kelahiran yang menurut perhitungan klenik akan mengalami menderita (sukerto), juga yang lahir dalam keadaan tunggal (ontang-anting), kembang sepasang (kembar), sendang apit pancuran (laki, perempuan, laki) dan lain-lain.

Itu kepercayaan musyrik, menyekutukan Allah yang berlandaskan cerita wayang penuh takhayyul, khurofat dan tathoyyur atau menganggap sesuatu sebagai alamat sial dan sebagainya. Biasanya ruwatan disertai dengan sesaji dan wayangan untuk menghindarkan diri agar Botor Kolo tidak memangsa.

Apa yang harus dilakukan umat agar bencana ini tidak terus terjadi?

Hal pertama yang dilakukan adalah menyadarkan umat Islam bahwa bencana dan musibah ini benar-benar azab dari Allah atas maraknya kemusyrikan dan kemaksiatan di tengah-tengah kehidupan mereka.Itu yang harus dilakukan dahulu. Setelah itu, umat harus melakukan tobat nasuha, tobat yang sebenar-benarnya tobat. Masyarakat harus meninggalkan segera hal-hal yang berbau musyrik. Sebab kemusyrikan itu merupakan puncak dari kedzaliman.

Kemudian para ulama harus berani bicara bahwa bencana yang bertubi-tubi ini merupakan adzab dari Allah kepada manusia. Sayangnya para ulama tidak ada yang berani bicara, padahal ayatnya sangat banyak dalam Al-Qur’an.

Para ulama juga harus berani menegur umat dan pemerintah. Sebab pemerintah secara khusus memberikan lampu hijau maraknya kemaksiatan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pemerintah lewat Dinas Pariwisata dibantu dengan media massa membesar-besarkan upacara adat yang jelas-jelas penuh dengan kemusyrikan. ( maulana, Tabloid Jum’at, Dewan Masjid Indonesia, Jakarta, No. 743 Thn XVII, 9 Rajab/ 4 Agustus 2006, halaman 5)/ sm.

(haji)

(nahimunkar.com)


[1] أيسر التفاسير للجزائري – (ج 2 / ص 153)

(Dibaca 2.360 kali, 1 untuk hari ini)